Ra

1849 Words
"Ra, kamu pagi ini di antar sama Gagat ya. Om Ari nggak bisa ngantar karena istrinya sakit." Seperti biasa, Hira tak diperbolehkan berangkat sekolah sendiri. Selalu di antar oleh salah satu ajudan ayahnya. Alasannya selalu sama, Semarang di pagi hari itu macet dan nggak safety nyetir sendiri apalagi Hira panikan kalau udah mepet masuk jam sekolah. "Iya Ayah. Nanti Hira pulang malam dan jemput aja di Gramedia." Ayahnya mengangguk dan mengusap kepala Hira serta mencium sang anak. Mereka biasanya hanya bertemu di waktu sarapan, dan makan malam belum tentu bisa bertemu. "Nanti mama yang jemput kamu, sekalian mama pulangnya." Damar yang hendak berpamitan, langsung mengangguk setuju. Setelah itu, Damar langsung berangkat kerja.  "Mah," "Hmmm,,." "Apa Ayah nggak capek ya kerja kayak gitu? Kalau nggak lawatan ya dikirim operasi, sampai jarang ada waktu buat kita, walau setiap hari mungkin di rumah tetapi nggak 24 jam." Kencana kemudian mendekat, ia tahu apa yang diharapkan sang putri. Diam-diam putrinya kesepian di rumah. Putrinya itu menginginkan perhatian lebih tetapi apa daya, ia dan suami punya tanggung jawab masing-masing. Apalagi dirinya juga sama sibuknya dengan sang suami sehingga jarang bisa ada waktu dengan anak-anaknya. Oleh karena itu, Hira lebih memilih ikut kegiatan di luar ekstrakurikuler seperti les-les untuk mengisi waktunya. Selain itu, dengan begitu Hira tak kesepian dan bisa berbaur dengan teman-temannya walau sifat protektif Damar masih sangat kental. "Maafin Mama sama Ayah ya nak, nggak bisa kasih kamu waktu yang cukup. Maaf selama ini Mama belum jadi mama impian kamu tapi kami usahakan akan ada waktu buat kamu dan Abangmu." Hira menggeleng pelan, "bukan begitu Ma. Apa kalian nggak capek kerja terus Hira saja sekolah kadang capek terus kalian yang weekend saja kadang masih kerja? Sekali-kali kalian istirahat," Kencana tersenyum mendengar penuturan polos sang anak. Dibalik Hira yang jahil dan berani beradu argumen, terdapat Hira yang polos, pemikirannya kadang susah di tebak dan membuat orang-orang disekitarnya kadang takjub dengan ucapan gadis itu. "Iya pasti mama istirahat kok. Terimakasih ya Hiranya mama yang selalu perhatian. Oke sekarang kamu berangkat dan have a nice day." Kemudian Hira mencium pipi sang mama dan mencium tangan kanannya. "Assalamu'alaikum," "Wa'alaikumussalam," Sementara di depan Hira sudah ditunggu oleh Gagat. Laki-laki berpangkat Serda itu sudah menunggu di dalam mobil yang sudah menjadi mobil antar jemput Hira. Hira yang tak biasa di antar oleh orang baru sehingga agak canggung nampaknya. "Selamat pagi mbak." "Pagi Pak." Lantas laki-laki itu justru tertawa, "jangan panggil saya pak, mbak. Saya masih lajang dan belum menikah," Hira meringis, tak tahu panggilan apa yang pantas untuk disematkan ke laki-laki yang berwajah good looking itu. "Kak?" Gagat mengangguk, "iya boleh saja. Ayo saya antar mbak." Kemudian Hira masuk dan di antar menuju sekolahnya. Selama perjalanan suasana hening menyelimuti. Hira memilih bungkam begitupun Gagat. Laki-laki berusia 22 tahun itu pun juga memilih bungkam. Dirinya fokus menyetir karena belum terlalu hafal dengan jalanan kota Semarang. Ia terhitung baru dipindah ke Kodam IV/Diponegoro. "Kelas berapa mbak?" tanya Gagat untuk memecah keheningan yang ada. Gagat juga bukan tipe tentara yang kaku, laki-laki itu cukup ramah dan mudah dalam beradaptasi dengan lingkungan yang baru. "Eh, jangan panggil saya mbak kak. Panggil Hira saja. Saya kelas 12." Gagat di balik kemudinya mengangguk, "oh, rencana mau lanjut kemana?" Hira lantas tak menjawab dan tersenyum tipis. Begitupun Gagat juga tak bertanya lagi, mungkin itu menjadi privasi gadis di sampingnya. Pukul setengah 7 lebih 10 menit akhirnya Hira sampai di sekolahnya. Kemudian mengucapkan terima kasih kepada Gagat dan bergegas menyebrang dengan di bantu satpam sekolah yang siap sedia menyeberangkan karena  memang jalanan yang ramai di pagi hari. Apalagi di sekitaran jalan tersebut merupakan bagian dari jantung Kota Semarang. "Ra!" Hira menoleh ke arah belakang dan ternyata ada Gaby dengan senyuman paginya yang amat cerah. Gadis blasteran itu memakai cardigan warna coklat yang akhirnya di lepas karena sudah aturan sekolah untuk tidak memakai jaket dan sejenisnya ketika di lingkungan sekolah kecuali ada alasan tertentu. "Nanti jadi kan?" "Iya jadi. Aku udah bawa uang cukup nih, jaga-jaga kalau kalap liat buku." Lantas mereka berdua tertawa. Mereka berdua memang suka sekali pergi ke took buku, entah sekedar ngadem, ataupun membeli jenis novel baru dengan uang saku yang sebelumnya mereka sisihkan terlebih dahulu. "Njir, anak Sultan emang beda." "Ck apaan sih, bukannya kamu yang anaknya Sultan? Tiap tahun ke Belanda sama keliling Eropa. Lah aku? Paling mentok Jogja Bandung, gitu aja terus." Menjadi anak petinggi negara bukan berarti menjadikan Hira anak yang manja dan mudah di turuti permintaannya. Hira juga sama yang lain, mendapat jatah bulanan dan menabung sendiri ketika ingin membeli sesuatu diluar kebutuhan pokoknya. Justru Hira mendapat didikan keras untuk selalu berhemat dan tidak bertingkah secara berlebihan serta lebih ke menghormati orang lain dan orang yang lebih tua. Gaby tertawa keras, "njir, emang itu rumahnya eyang kamu semua Ra, jadi nikmati saja lah." ejek Gaby, setidaknya ia tidak semengenaskan nasib Hira yang apa-apa kadang masih di batasi. Tak terasa mereka sampai di kelas mereka yang berada di lantai dua. Mereka terlalu asik mengobrolkan sesuatu yang penting sampai tidak penting. Hira hendak mendudukkan dirinya, namun dicegah oleh seseorang, "Ra, kita perlu bicara." Hira menatap Barata sebentar, lalu menganggukkan kepalanya. Ia juga tak mau kucing-kucingan lagi dengan Barata, ia harus menyelesaikan masalahnya secepat mungkin. Ia juga harus berdamai dengan masa lalunya. Tuhan saja maha pemaaf, mengapa ia tidak? Setidaknya ia sudah berusaha untuk menjadi manusia yang berlapang d**a. ***** Di kantin yang penuh dengan manusia yang hendak mengisi perut, Hira dan Barata sudah duduk bersama dengan jus yang sudah di persiapkan oleh Barata untuk Hira. Barata agak berdehem, menetralkan rasa gugup karena takut Hira tak bisa memaafkan dirinya. "Ra, aku minta maaf. Mungkin aku adalah laki-laki bodoh yang membuat kamu kecewa. Mungkin maaf saja tak cukup setelah aku bertingkah layaknya orang yang nggak ada dosa sama kamu. Tapi aku mohon, tolong maafin aku. Aku bener-bener nyesel." Ucap Barata dengan nada pelan karena situasi yang tak memungkinkan ini. Hira menatap datar Barata yang begitu menyesali perbuatannya. Wajah Barata tak seangkuh dan setegas ketika laki-laki itu berdiri sebagai anak organisasi. "Nyesel? kenapa nggak dari dulu kamu langsung inisiatif jujur sama aku? setidaknya hatiku nggak sakit Bar, nggak sesakit ini. Aku salah anggap kamu orang yang spesial yang nyatanya justru buat aku kecewa seberat-beratnya. Kenapa harus taruhan sih?” sampai sekarang Hira masih tak habis piker dengan pikiran Barata dan teman-temannya yang menjadikan taruhan perempuan itu sebuah lelucon yang sama sekali nggak bisa di nalar dengan baik. "Yah mungkin jalannya sudah begini. Setidaknya aku nggak sempat jadi bahan taruhan yang sebenarnya." Hira tersenyum miring, seakan mengejek Barata yang gagal dengan taruhan tersebut. "Jangan meminta maaf sama aku, minta maaf sama Tuhan yang telah kau kecewakan karena merendahkan makhluk ciptaannya yang seharusnya kamu hormati." Kemudian Hira memilih bangkit dan meninggalkan Barata yang terdiam di tempatnya. Kembali ia tak bisa berkutik. Rasanya ia kembali tertampar oleh ucapan Hira yang langsung begitu menghujam kedalam hatinya terdalam. Namun rasa kecewanya kembali ia rasakan, rasanya lebih dalam lagi karena telah menyia-nyiakan gadis yang begitu spesial. Sampai saat ini perasaan yang dulunya hanya main-main saja kini bersemu semakin mekar. Bahkan rasanya tak rela bila Hira harus memusuhinya. Maka Barata bertekad ia akan memperbaiki dirinya dan menebus kesalahannya itu bagaimanapun itu caranya. Ia tak akan melepas gadis yang telah  mencuri hatinya, bahkan sebelum taruhan itu terjadi, tetapi ia ternyata belum menyadarinya. Sementara itu Hira masuk ke dalam kelas dengan wajah yang bisa di bilang tak baik-baik saja. Gadis itu memilih tak menunjukkan wajah yang sedap dipandangnya. "Mukamu kenapa Ra? Asem bener." Sementara Hira memilih bermain gawainya. Tak menjawab pertanyaan Gaby.  "Yah ni bocah diam-diam bae. Ada masalah apa sih Ra? Uring-uringan mulu dari kemarin." "Gimana nggak uring-uringan coba? Bayangin kamu di khianati sama orang yang kamu anggap spesial, apa itu nggak nyakitin Gab? Udah ah aku bete, daripada satu kelas kena batunya." "Ya deh iya, terserah kowe. Ojo suwe-suwe anggonmu nesu, aku gak kuat lur." Hira menatap Gaby jengkel, "Halah dapuramu!" ***** Hujan kembali menyelimuti kota Semarang di malam hari. padahal siang tadi cuacanya terik, nampaknya memang perubahan iklim terjadi secara ekstrim dan menggeser iklim di dunia. Hira, Gaby dan beberapa temannya kembali terjebak hujan  di salah satu kafe di sekitaran jalan Pemuda. Rencananya Hira akan pulang selepas shalat maghrib, namun nampaknya rencana itu gagal dan ia harus menunggu hujan agak reda.  Setelah mencari buku dan sedikit review materi, mereka malah terjebak hujan  di dalam kafe yang sudah menjadi langganan mereka. "Ra, kayaknya ada yang cari kamu tuh. Di depan, om-om pake celana loreng." Rania, salah satu temannya yang sudah pamit duluan karena dijemput kembali masuk ke dalam kafe dan mengatakan bahwa Hira di jemput. "Siapa?" Rania menggeleng, "Nggak tau, bukan om Ari yang biasanya antar kamu kok. Ini lebih muda dan ganteng." Hira tambah mengernyitkan dahinya kalau Rania bilang agak muda dan ganteng, siapa?  Lalu Hira memilih keluar dan menemui orang yang menjemputnya. "Eh kak Gagat?" Ternyata, ia kembali di jemput oleh Gagat. Serda Gagat tersenyum ramah, "Iya, tadi komandan nyuruh saya jemput mbaknya di kafe ini. Ibu Damar katanya nggak bisa jemput gara-gara ada tugas dadakan." Kencana tadi sudah memberitahu Hira bahwa ada tugas dadakan dan tak bisa menjemput gadis itu. Hira ingat dia juga di WA oleh ayahnya setengah jam yang lalu dan kemungkinan ayahnya langsung menyuruh ajudannya untuk menjemput Hira. Hira mengangguk dan masuk ke dalam lagi untuk berpamitan kepada teman-temannya yang lain.  "Aku pulang dulu ya. Kalian hati-hati pulangnya nanti." "Iya hati-hati Ra. Eh jangan lupa kenalin dong ajudan ayahmu itu. Ganteng juga, pengen punya suami tentara." Celetuk Vina. Lalu Hira mendelik, "Kenalan sendiri sono, mumpung masih disini." Lalu Hira menggerutu, "Dikira punya suami tentara enak ya. Sering ditinggal mulu, aku mah ogah," "Yee lu mah dari nenek moyang udah keturunan tentara, makanya bosen." Sahut Gaby. Lalu Hira keluar kafe dan menemui Gagat yang masih setia menunggu. "Maaf lama kak." "Eh iya nggak papa." Gagat hendak membukakan pintunya namun langsung di cegah Hira. Hira tak suka di perlakukan seperti itu. Ia berdalih jika masih bisa membuka pintu mobil sendiri mengapa harus dibukakan. Oleh karena itu, Hira selalu membuka maupun menutup pintu mobil sendiri. "Eh kak, jangan panggil aku mbak, panggil Hira ya." Gagat yang sedang menyetir langsung terkekeh, "Eh iya, maaf." "Em, Hira mau tanya, kak Gagat ini baru pindah ke sini ya?" Gagat mengangguk, "Iya, kemarin tugasnya di Sulawesi, masih di pindah-pindah dik." "Eh saya panggil dik nggak papa kan? Nggak sopan saya panggil namanya juga." Hira mengangguk mengiyakan, daripada ia dipanggil mbak ataupun nona mending di panggil dik. "Asal mana kak?" Seperti biasanya, Hira dapat berbaur dengan banyak orang termasuk ajudan ayahnya sekalipun. Hira buka  tipe yang cuek, gadis itu akan ramah dengan orang-orang di sekitarnya. Lagipula ia berpendapat jika sekalipun ajudan ayahnya tetapi mereka sangat berjasa bagi dirinya. "Saya asli Cilacap, tapi semenjak SMA tinggalnya di Kendal." "Weleri?" "Iya," "Deket dong kak dari Semarang." Gagat terkekeh pelan, "Iya alhamdulillah, kalau ada cuti bisa langsung pulang ke Weleri." "Kapan-kapan aku ikut boleh ndak?" "Hah?" Gagat Barusaha menajamkan pendengarannya. Apa ia tak salah dengar? "Iya kak, aku ikut. Nanti aku tanya sama ayah deh, sekalian aku pengen main ke sana." Gagat hanya meringis. Mana mungkin ia menolak keinginan putri atasannya itu. Apalagi jika komandan memberikan izinnya. Apapun itu, Gagat akan patuh melaksanakan tugasnya. Diam-diam Gagat melirik Hira yang nampak menikmati perjalanannya. Gadis polos dengan tatapan yakinnya itu seakan memiliki magnet tersendiri sehingga berulang kali Gagat melirik dan berulang kali ia menyadarkan dirinya jika itu tak pantas ia lakukan. 'Ingat Gat, dia itu anaknya komandan lo. Ada banyak pagar di depan gadis itu sekalipun kalian saling suka misalnya. Kubur dalam-dalam lebih baik daripada harga diri lo nggak ada nantinya.' Memang kadang cinta itu kejam, terbatasi hanya karena tradisi dan gengsi yang saling mengisi dan meracuni. .  .  . 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD