Ca

1719 Words
Nampaknya kali ini langit sedang bermuram durja. Air hujan  turun deras mengguyur kota Semarang yang terkenal panas itu. Beberapa orang berlarian mencari perlindungan agar tidak basah kuyup terguyur air hujan. Beberapa diantara mereka memilih masuk di salah satu pusat perbelanjaan elit di kawasan Jalan Pemuda. Hira nampak berdecak ketika hujan semakin menunjukkan eksistensinya. Hari semakin sore dan tak mungkin ia menerobos hujan untuk sampai ke halte bus. Lagipula ia tak bilang akan di jemput Om Ari karena Hira mengatakan akan pulang sendiri saja. Jika mau pesan ojek online, mana mungkin hujan begini ada driver yang bersedia mengantar cepat? Alhasil Hira hanya mampu ngejugruk dulu di dalam gedung tersebut. "Nanti aku antar pulang Ra. Nunggu agak redaan dulu." Hira menatap ragu ke arah Bara. Mereka berdua terjebak hujan karena sibuk membahas acara akhir tahun dan mirisnya hanya mereka berdua yang tersisa sedangkan yang lainnya sudah pulang terlebih dahulu karena suatu hal. "Ya terserah kamu. Yang penting aku sampai rumah." Sahut Hira yang kemudian memilih bermain gawai, mengabaikan Barata yang nampak ragu untuk sekedar berbicara ringan dengan Hira. "Kamu kenapa sih kok semenjak kelas 12 dingin sama aku Ra? Aku ada salah ya sama kamu?" Bara yang sudah lama memendam perasaan pada gadis di depannya itu memberanikan diri bertanya perihal perubahan Hira yang mendadak menjauh darinya. Padahal dulu sewaktu kelas 10 dan 11 mereka dekat bahkan sempat dikira menjalin hubungan spesial. "Menjauh? huh, perasaanmu saja mungkin." Sahut Hira tanpa menoleh. Gadis itu terlalu lelah untuk mendebat panjang. Biasanya ia akan memberikan tatapan sengit jika tak suka pada sesuatu. "Hira, tolong lihat aku. Kita perlu menyelesaikan ini sekarang juga!" ucapan Bara naik satu oktaf, membuat Hira mendongakkan kepalanya dengan wajah yang datar. "Apa yang perlu di jelaskan Bar? aku nggak pernah menjauh dari kamu. Kita selama ini masih satu organisasi kan? apa kamu aja yang merasa janggal sama dirimu sendiri setelah berhasil membuat satu perempuan kecewa berat? hmm... jawab kalau kamu bisa." Hira tidak pergi. Justru gadis itu diam sambil melipat tangannya di atas meja dan menatap Bara seakan menginterogasi laki-laki itu. Tak peduli lagi ia berhadapan dengan siapa, tetapi sudah cukup lama ia memendam rasanya sendiri. Sekali-kali ia harus meluapkan pada orang yang tepat, bukan bertindak layaknya anak kecil yang berbicara di belakang saja. "Nah kan kamu nggak bisa jawab aku! kamu jadi cowok selama ini ternyata pengecut ya Bar. Mungkin jika orang lain sudah nangis kejer gara-gara kamu sakitin. Emang kamu nggak nyakitin secara langsung, tetapi ada perasaan yang terluka. Bagaimana bisa kamu hidup tenang kalau ternyata selama ini kamu pernah mematahkan hati perempuan dengan menjadikan dia sebagai objek taruhan? hmm,, kamu masih bisa ketawa? kamu masih yakin buat naklukin aku di depan temen-temen? hebat! aku aja udah muak 6 bulan diam padahal aku tahu segalanya. Kamu bungkam seakan nggak ada apa-apa. Bertingkah layaknya kamu peduli sama aku." "Kamu nggak pernah mikir ya? aku tahu kamu jadiin aku objek taruhan walau akhirnya kalian gagal semua. Perempuan nggak serendah itu Bar, perempuan patut dihormati. Selama ini aku diam nggak ada yang tau bahkan abangku yang selalu jadi tempat sampah ku. Beruntung kamu, jika saja aku cerita, mungkin ini bakal tranding di sekolah." "Terima kasih kamu udah kasih aku perhatian selama ini. Tapi bulshit banget jadinya ketika kamu deketin aku karena taruhan. Semuanya terasa kayak sampah. Aku kayak nggak ada harga dirinya sebagai perempuan. Dan aku berharap semoga adik, kakak maupun anak perempuanmu kelak nggak di jadikan bahan taruhan kayak aku." Hira merapikan semua barangnya di meja. Hujan nampak sudah mulai mereda dan ia sepertinya lebih memilih untuk memesan ojek online karena bus kota sudah tidak menunjukkan eksistensinya. Namun sebelum beranjak, Bara dengan cepat mencekal, "apa aku ada kesempatan buat dapat maafmu Ra?" Hira menatap sekitarnya. Ia bernafas lega ketika orang-orang tak menyadari jika mereka sedang berdebat. Ia malas jika tiba-tiba viral hanya karena hal seperti ini. "Tanya pada dirimu sendiri. Apa kamu layak dapat maaf apa tidak. Selama masih ada waktu Tuhan nggak bakal nutup pintuNya. Yang pasti aku kecewa banget sama kamu.” Setelah itu Hira langsung bergegas keluar dan menemui sang driver ojol. Di tempatnya, Barata menyesal sedalam-dalamnya. Mengapa ia melupakan kenangan lama itu? mengapa tak terbesit di kepalanya kalau ternyata selama ini ia menyakiti gadis yang ia sukai. Ia tak sadar jika taruhan bodohnya hampir setahun yang lalu itu ternyata berdampak hingga sekarang. Tanpa mereka tahu, dengan sendirinya Hira mengetahui dengan mudah dan selama ini berlagak seperti tak ada apa-apa. Benar-benar bodoh dirinya, begitu Barata merutuki dirinya sendiri. Ia sendiri menyesal pernah menjadikan Hira sebagai taruhan bersama gengnya. Ia terlalu berambisi menjadi laki-laki terhebat dengan memegang jabatan tinggi dan memiliki gadis cantik. Namun perlahan ia sadar jika apa yang ia lakukan salah dan perilaku bentuk pedekate dalam rangka taruhan justru terjadi secara alami dan tanpa ia sadari ia tertarik lebih dalam dengan Hira. "Arghh sial! kenapa bisa bodoh sih gue!" Dan ternyata senjata makan tuan memang nyata adanya.  ***** Hira tidak menangis. Gadis itu terhitung jarang menangis malahan. Ia hanya sangat kecewa mengetahui fakta yang menyesakkan d**a itu. Hira diam sambil meratapi apa kesalahannya hingga Tuhan menghukumnya seperti itu. Sungguh hatinya terluka saat itu. Ia sudah larut dalam perhatian seorang Barata tetapi ternyata ia hanyalah objek taruhan yang tak jauh dari perempuan yang di rendahkan. Miris. Ingin mendapat perhatian dari orang yang di sukai ternyata hanya sebatas pengkhianatan saja. Tak lebih dari sebuah goresan luka. Begitupun ia hendak mencari pelampiasan lain di luar namun dirinya tak berdaya. Jiwanya terlalu terbelenggu oleh penjara tak kasat mata. Jiwanya memberontak, menginginkan sebuah kebahagiaan kecil dimana ia bisa merasakan hidup dalam kelengkapan yang ada. Jabatan? gadis kecil itu tak menginginkan jabatan, yang ia inginkan hanya sederhana. Ia bisa berekspresi selayaknya burung yang bebas terbang di angkasa. Bisa meraih apa yang ia impikan tanpa tertuntut oleh apapun. Ia bisa merasakan apa yang namanya di perhatikan dan di bebaskan untuk menetukan warnanya sendiri. Hira tak pernah mengadu. Gadis itu hanya tersenyum dan tertawa seperti biasa. Menyimpan itu rapat-rapat. Perasaanya yang tak enakan membuatnya selalu pada posisi yang tidak enak. Selalu memikirkan perasaan orang lain hingga perasannya perlahan terkikis sendiri. Ia hanya butuh tempat yang bisa dijadikan tempatnya mengadu. Sang mama? ia terlalu memahami sang mama yang tanggungjawabnya besar hingga sering kali mengurungkan niatnya hanya untuk sekedar mencurahkan hari-harinya. Ia hanya terlihat baik-baik saja, cukup. Sedangkan sang ayah adalah simbol kebanggaannya namun di sisi lain sebagai pemenjara jiwanya yang bebas. Kehidupannya terlalu di atur, bahkan sekedar untuk mencari bakatnya. Namun diam-diam Hira keluar dari zona yang diciptakan untuk kenyamanannya itu dengan berimajinasi dan berhalusinasi sendiri. Menciptakan kebebasannya sendiri lewat event yang ia ikuti diam-diam. Hira gadis yang cerdas, bahkan kerap mengikuti diskusi yang kebanyakan di hadiri para mahasiswa. Namun sayang, ternyata apa yang ia suka bukan apa yang ayahnya harapkan. Berulang kali gadis itu di doktrin untuk menjadi seorang dokter ataupun berkecimpung di dunia medis, namun jiwanya berontak. Tentu saja karena ia tak ada bakat di bidang tersebut. Keluarga mereka tak ada yang berada di tenaga medis. Oleh karena itu, Damar mengarahkan anaknya itu ke kedokteran. Namun nampaknya gadis kecil itu seperti sang mama, tidak tertarik dengan dunia medis namun justru lebih tertarik pada ilmu bumi dan seisinya. Rasanya bebas ketika ia mampu berpetualang menjelajah bumi beserta isinya. Bayangan ketika bisa sampai di puncak gunung dan menyelam di indahnya laut Karimunjawa selalu menjadi impiannya namun sampai sekarang ia belum bisa mewujudkannya bahkan mungkin tidak bisa selamanya. Semuanya hanya angan semata. Seperti layaknya sebuah doa yang selalu ia amini. Berharap Tuhan berbaik hati padanya. Akhirnya Hira sampai rumah azan maghrib sedang berkumandang. Hujan mulai reda bahkan sudah reda mungkin. Segera ia masuk ke dalam rumah dan mandi. "Baru pulang Ra? Kok nggak ngabari mama kalau pulang telat?" Seperti biasa, gadis itu menunjukkan cengiran khasnya. "hehe iya ma, aku lupa tadi soalnya kejebak hujan juga. Hira masuk dulu ya Ma." Kencana menggelengkan kepalanya. Lalu perempuan itu memilih melaksanakan shalat terlebih dahulu sebelum mempersiapkan makan malam. Kali ini ia sudah memasak banyak makanan untuk putri dan suaminya. "Haduh! aku kok kangen abang ya Ma? Padahal baru kemarin kita ketemu." Selorohnya ketika sampai di meja makan. "Nanti telpon aja kalau kangen." Ucap Damar. Laki-laki itu juga baru pulang sehabis maghrib tadi. "Nggak bisa yah. Abang lagi nggak megang hape, kan mau UAS." Damar mengangguk mengerti di tempatnya. Memang putranya itu agak susah untuk sekedar di hubungi. Peraturan asrama yang ketat, membuat siswa di batasi untuk menggunakan alat komunikasi. Hanya dihari tertentu saja Raksa bisa leluasa memegang gawai. Akhirnya mereka bisa makan malam bersama dengan suasana yang hangat. "Ma Yah, Hira pamit belajar dulu ya. Besok masih UAS." Kencana dan Damar yang sedang duduk di depan televisi mengangguk. "Iya, habis itu langsung tidur, jangan begadang." Kata Damar. Ia tahu dengan kebiasaan sang putri yang kadang lupa waktu jika sudah menemukan zona nyamannya ketika belajar. Namun juga paham dengan putrinya jika akan malas semalas-malasnya jika belajar yang bukan Hira sukai. Serentak Hira memberikan hormatnya, "siap Jendral!" "Eh kok jendral?" "Kan sebentar lagi kalau naik satu tingkat kan udah jendral yah. Aamiin." Selepas itu Hira tertawa kecil sambil meninggalkan mama dan ayahnya yang tertawa dengan tingkah sang putri.  "Mas," "Hmm…” "Nggak nyangka ya mereka udah besar. Sebentar lagi udah masuk kuliah. Padahal dulu Nana masih kerepotan ngurus dua bayi sekaligus. Apalagi mereka berdua nggak ada yang anteng. Sering berantem dan membuat eyang-eyangnya kerepotan juga. Inget perjuangan rumah tangga kita yang nggak mudah. Banyak cobaan hingga akhirnya kita bisa lalui bersama." Damar mengusap kepala sang istri dengan lembut, "iya, mas juga nggak nyangka bakal liat mereka cepat besar. Sebentar lagi mereka sudah dewasa dan kita akan purna tugas juga. Waktu terasa begitu cepat. Tapi, waktu kita untuk mereka sangat sedikit.” Kencana di tempatnya menghembuskan nafasnya panjang. Benar apa yang dikatakan oleh sang suami. Mereka sangat kekurangan waktu untuk putra putri mereka. Namun mereka juga tidak berdaya. Berbagai tuntutan wajib harus ia utamakan dan itu sebuah pilihan yang teramat sulit untuk di jalankan secara ikhlas dan mudah. "Sudah lama ya kita nggak bisa quality time kayak gini. Jadi-“ "Ehem! Kalau pacaran jangan disini, Hira masih kecil Yah,” Lantas mereka berdua menoleh ke arah biang suara dan gadis itu hanya bisa tersenyum lebar, "hehe maaf, Hira mau ambil buku yang ketinggalan. Sok lanjut lagi nggak apa-apa deh." Secepat kilat gadis itu kembali ke kamarnya sebelum mendapat hukuman dari sang ayah.  "Hira awas ya kamu! ayo sikap tobat sekarang!" "Nggak mau yah. Udah malam, sebaiknya kalian istirahat." Sahut Hira dengan nada jahilnya. Hal itu lantas membuat Kencana tertawa melihat sifat jahil sang putri. Memang Hira itu unik, dibalik wajah polosnya, Hira adalah simbol kejahilan di keluarga. "Dasar anak kamu tuh." Ucap Damar pada Kencana. "Hah? bukannya anakmu juga." Sahut Kencana tak Terima. "Yaudah anak kita berdua deh." "Yah garing Mas!" .  .  . 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD