TIGA

1083 Words
Abimanyu semakin merapatkan dirinya saat mendapatkan penolakan dari Cempaka, murka. Ya, itu yang dirasakan oleh Abimanyu saat ini dan menangkup sisi wajah Cempaka dengan kedua tangannya. "Percuma kamu menangis dan menolakku. Kau harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah kau perbuat tadi," ujar Abimanyu dengan suara parau, pandangan matanya sayu dan ia pun kembali menundukkan kepalanya serta melumat bibir Cempaka. "Jangan ngawur kamu!" bentak Cempaka begitu Abimanyu melepaskan pagutan bibirnya seraya menarik napas, menghirup sebanyak mungkin udara untuk mengisi kekosongan paru-parunya. Abimanyu menahan Cempaka, yang berusaha melepaskan diri dari pelukannya. Abimanyu sudah terbakar amarah jelas ia tidak terima penolakan dari Cempaka, walaupun selama ini dirinyalah yang selalu mengabaikan keberadaan gadis itu. Dalam keadaan berdiri, Abimanyu dengan sebelah tangannya yang menahan satu kaki Cempaka yang sudah tersampir di lengannya dan mengunci pergerakan gadis itu. Ia yang sudah membuka celananya kemudian menembus pertahanan inti Cempaka. "Mas Abi, berhenti. Ini sakit!" Cempaka meraung, kepalanya menggeleng ke kiri dan kanan kedua tangannya meremas kain kemeja lengan atas Abimanyu. Cempaka berusaha menghirup nafas sebanyak mungkin dan menahan laju air matanya yang sudah berderai. Intinya terasa penuh sesak dan terbelah karena juga belum keluar cairan pelumas. Cempaka menyandarkan dahinya pada bahu Abimanyu, saat usahanya untuk melepaskan diri tampak sia-sia karena Abimanyu yang kembali melesakkan miliknya utuh, jauh menelusup ke dalam. Abimanyu merasakan miliknya terasa ngilu, karena cengkeraman milik Cempaka yang terbukti masih perawan berapa saat yang lalu. Ternyata dugaan Abimanyu tentang kehidupan liar Cempaka di negeri Paman Sam tidak benar. Kaki Cempaka yang masih menumpu di lantai tampak bergetar itu pasti karena nyeri yang dirasakan oleh gadis itu. Namun jelas Abimanyu tidak mau berhenti. Miliknya terasa pas menyatu bersama dengan milik Cempaka. Abimanyu memilih untuk menjadi egois saat ini. "Nikmat sekali, Sayang," erang Abimanyu. Biadab memang apa yang ia perbuat, hal itu bisa dikategorikan sebagai pemerkosaan. Abimanyu melucuti gaun Cempaka melewati atas kepalanya. Gadis itu tidak bergeming karena tubuhnya terasa lemas. Abimanyu mengangkat Cempaka dengan masih menyatukan tubuh mereka. Kemudian Abimanyu membawa tubuh Cempaka dan menidurkan pada sofa, yang lumayan lebar bisa menampung tubuh mereka berdua. Abimanyu duduk di antara paha Cempaka dan melepaskan kemeja kerjanya, memperlihatkan tubuhnya yang terbentuk sempurna. Kemudian ia merunduk dan melumat puncak d**a Cempaka dan mulai menggerakkan pinggulnya. "Mas, berhenti Mas. Sakit," rintih Cempaka. Kedua tangannya kembali mencoba mendorong tubuh Abimanyu, kedua pahanya juga bergerak untuk merapat yang kemudian ditahan oleh kedua paha kekar Abimanyu. Abimanyu dengan gemas juga menggigit puncak d**a Cempaka. Cempaka memekik terkejut dengan napas yang tersengal. Abimanyu kembali menegakkan kepalanya dan melumat bibir Cempaka kedua tangan Cempaka dicekal serta diikat menjadi satu di puncak kepalanya. Ditahan dengan satu tangan Abimanyu, sedang tangannya yang lain menangkup satu p******a Cempaka dan meremasnya gemas. Gerakan Abimanyu semakin cepat dan itu membuat rasa sakit di inti Cempaka semakin menjadi. Hancur sudah hidupku! Kamu yang membenciku malah semakin menghancurkanku. Abimanyu membalikkan badan Cempaka menjadi tertelungkup. Ia memberikan banyak sekali tanda merah di punggung mulus Cempaka. Kembali Abimanyu menghujam ke dalam inti Cempaka yang sudah merintih dengan lirih Abimanyu seolah menulikan dirinya dan mengejar kenikmatannya sendiri, sampai tidak menyadari jika Cempaka sampai pingsan. Setelah pelepasannya usai, Abimanyu baru menyadari apa yang terjadi. Kepanikan mulai merasuki hatinya, dengan dahi yang mengkerut ia kemudian membalikkan tubuh Cempaka. Melepaskan ikatan tangan Cempaka yang tadi ia ikat dengan kemejanya. "Adek, Cempaka bangun sayang. Maaf mas khilaf, Dek," ujar Abimanyu, seraya memeluk tubuh telanjang Cempaka yang saat ini dalam pangkuannya. Cempaka merintih tetapi tidak membuka matanya. Hati Abimanyu seperti dihantam palu, sakit dan sesak ia rasa saat melihat gadis dalam pelukannya yang biasanya sangat energik saat ini terkulai tidak berdaya karena ulahnya. Abimanyu menggendong Cempaka dan menidurkannya di ranjang. Ia juga segera memakai celananya dan masuk ke dalam kamar mandi mengambil air hangat dengan satu handuk kecil guna membasuh tubuh lemah Cempaka. Abimanyu juga sudah mengambilkan air putih dan ia taruh di atas nakas di samping ranjang. Abimanyu duduk di tepi ranjang mendorong bahu Cempaka agar tidur terlentang, ia kemudian dengan hati-hati dan penuh kelembutan membasuh tubuh Cempaka dengan air hangat kemudian menutupi tubuh gadis itu dengan selimut. Bersama dengan ia yang ikut berbaring dan memeluk Cempaka. Ώ Abimanyu menghela napas berat mengingat perlakuan bejatnya tersebut. Abimanyu kemudian mengusap wajahnya kasar, seraya tidak melepaskan pandangannya dari Cempaka yang masih asik berbincang dengan kedua orangtuanya, tampak gadis itu tertawa menimpali candaan dari sang ayah. Abimanyu mendengkus saat merasakan isi celananya menegang melihat senyuman dan tawa gadis itu, satu kata cantik. Ia mengernyit penasaran dengan sikap Cempaka yang tidak mengacuhkannya hari ini, lagi-lagi hal itu yang membebani dirinya. Sejak kejadian dua tahun yang lalu itu, tak bisa dipungkiri setiap malam Abimanyu selalu teringat kehalusan tubuh Cempaka. Rasa hangat yang ditimbulkan saat mereka menyatu, terasa seperti baru kemarin itu semua terjadi. Abimanyu patut bersyukur, bahwasanya Cempaka tidak mengadukannya kepada orangtuanya. Bisa dibayangkan jika itu terjadi, bisa saja ia sudah berada di dalam penjara saat ini. Sejak Mbah Sri meninggal ia kemudian tinggal bersama dengan keluarga Jovan Atmaja walaupun ia tinggal di paviliun samping sampai saat ini dan Cempaka juga tidak pernah kembali ke rumah bahkan ke tanah air ini. Apakah karena ada aku di sana? Abimanyu bangkit berdiri bermaksud ke kamar mandi tetapi saat ia akan mencapai pintu suara Jovan menahannya. "Abi, bisa antar Cempaka kembali ke apartemen?" tanya Jovan. Abimanyu seketika tersenyum dan mengangguk antusias. "Bisa Pi," jawabnya. "Eh, nggak usah deh repot amat sih. Biar Cempaka pulang sendiri aja," tolak Cempaka. Raut wajah Abimanyu berubah kecewa, tetapi kemudian ia tutupi dengan raut datarnya. Walaupun satu telapak tangannya sudah mengepal di sisi tubuhnya. "Lho kok gitu? Itu koperku juga gimana, repot lho Nak bawa koper ke apartemen," ujar Alma. "Ck ... itu koper isi oleh-oleh buat kalian," jawab Cempaka. Cempaka bangkit berdiri, ia harus segera pergi dari sini sebelum sang ayah mendesak ia harus menerima Abimanyu mengantarnya pulang. "Udah ya Cempaka pergi sekarang dan sendiri," ujarnya, berpamitan sekaligus menegaskan kepada sang ayah seraya menatapnya lembut. Sang ayah Jovan teringat dengan nasehat Bunga beberapa hari yang lalu. Jangan paksa Cempaka, jika kamu nggak ingin kehilangan dia kembali. Begitulah kurang lebih pesan dari Bunga adik bungsunya. "Iya deh. Tapi hati-hati ya Kak." Jovan mengalah untuk sekarang. Pandangan Cempaka beralih pada Abimanyu seraya mengulum senyumnya. "Oh ya Mas, di koper juga ada oleh-oleh untukmu. Semua sudah Cempaka kasih nama biar nggak tertukar," ujar Cempaka lagi. Ia segera meraih tasnya dan berlalu dari sana. Aku mau kamu! jerit hati Abimanyu. Abimanyu mengikutinya setelah berpamitan kepada Jovan dan Alma. Sesampainya di depan showroom, Abimanyu kembali mencekal siku tangan Cempaka yang sedang fokus pada ponselnya untuk memesan taksi online.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD