Cempaka menjauh dari Abimanyu saat ponselnya bergetar dan muncul nama Yora pengasuh buah hatinya saat ini menghubunginya.
"Cantik, masih lama? Jangan lupa popok Casta tinggal dua," ujar Yora pengasuh bayi Casta, bahkan sebelum Cempaka mengucapkan kata 'halo'.
"Iya, Mama ini, Cempaka sudah mau kembali sekarang," jawab Cempaka.
Abimanyu semakin penasaran dan curiga sepertinya ada yang disembunyikan oleh Cempaka. Abimanyu kemudian menyeringai licik, bukan Abimanyu jika tidak bisa mengungkap yang dirahasiakan oleh Cempaka.
Cempaka mendesah begitu kembali memasukkan ponselnya ke dalam tasnya. Ia sudah berjanji pada orang tuanya hanya kembali selama satu minggu saja. Ia tidak mau ambil resiko Abimanyu mengetahui apa yang ia coba sembunyikan. Pria itu sungguh tidak berhak, walaupun sebenarnya dalam hatinya bertentangan. Ingin rasanya ia berteriak di depan wajah Abimanyu, jika hasil darinya memperkosa Cempaka dahulu terlahir bayi tampan yang bahkan wajahnya serupa dengan pria tersebut.
Pria itu hanya tertarik secara fisik kepadanya bukan cinta dan Cempaka tidak mau, jika sampai Abimanyu bertanggung jawab hanya karena adanya Casta di antara mereka.
Abimanyu bergegas mengendarai motor besarnya begitu mobil yang ditumpangi Cempaka melaju membelah jalanan di depannya.
Notifikasi dari Marco masuk ke dalam ponsel Cempaka mengabarkan jika ia langsung saja kembali ke apartemen karena keperluan Casta sudah belikan olehnya. Bahkan istri Marco juga sudah menyiapkan makan malam untuk mereka.
Cempaka sampai di lobby apartemen dan disambut pelukan oleh Marco. Sedangkan Abimanyu mengurungkan niatnya untuk memarkirkan sepeda motornya saat melihat pemandangan yang menghujam sengit di hatinya. Satu alisnya terangkat menatap pria paruh baya yang memeluk mesra dan mencium kening Cempaka, sedangkan Cempaka sendiri tertawa ceria menanggapi ucapan pria itu yang tidak bisa didengar oleh Abimanyu.
Panas d**a Abimanyu dibuatnya, tetapi apa daya dirinya bukan siapa-siapa untuk Cempaka. Di antara mereka tidak ada hubungan apa-apa, bahkan sejak gadis itu berusia sepuluh tahun. Bagi Abimanyu gadis itu hanya seorang pengganggu, yang terlalu ingin tahu dengan kehidupannya. Namun sekuat apapun Abimanyu menolak keberadaan Cempaka, gadis itu seolah tertanam kuat dalam benak dan alam bawah sadarnya. Abimanyu mengegas sepeda motornya dan pergi dari sana. Ia bersumpah akan mencari tahu siapa pria yang bersama dengan Cempaka. Kemudian ia teringat pembicaraan Cempaka dengan Alma tadi menyebut nama Marco. Abimanyu bertekad mencari tahu dengan bertanya kepada David.
Abimanyu menuju garasi keluarga Atmaja dan mendekati David yang sedang memeriksa mobil sedannya, begitu ia memarkirkan sepeda motornya. Suara riuh tawa bahagia membahana di dalam semua orang sedang sibuk membuka oleh-oleh dari Cempaka tampaknya.
Abimanyu segera mendekati David dan berdiri bersandar pada tiang garasi dengan kedua tangannya berada dalam saku celananya.
"Kamu nggak ikut buka oleh-oleh?" tanya Abimanyu.
David menghentikan kegiatannya dan menoleh menatap Abimanyu seraya menegakkan badannya dan menutup kap mobilnya.
"Aku lebih antusias ketemu sama yang bawain oleh-oleh. Kakak itu memang tidak bisa ditebak sekarang. Gila kerja, bahkan sudah sampai di sini saja, langsung lanjut kerja. Apalagi cuma sebentar dia di sini," terang David.
"Cuma sebentar?" tanya Abimanyu.
"Iya, cuma satu minggu katanya. Tapi nggak apa juga sih bulan depan David juga sudah di sana," jawab David santai seraya tersenyum.
Abimanyu menunduk dan tampak berpikir, kemudian ia menegakkan kepalanya dan bertanya, "Kamu tahu siapa itu Marco?"
"Marco? Marco Wijaya maksudnya?" David balik bertanya.
"Bisa jadi, aku tidak tahu nama belakangnya," jawab Abimanyu jujur.
David tampak menaikkan satu alisnya menatap geli pada Abimanyu.
"Kenapa emangnya, kamu cemburu lihat kakak dengan yang bernama Marco itu?" tanya David. David mencium adanya ketertarikan Abimanyu kepada Kakaknya, Cempaka yang memang terlihat sangat menawan sekarang.
Nyesel-nyesel deh loe. Dulu dikejar-kejar kakak, ke mana aja?!
"Ck ... bukan begitu hanya penasaran saja."
"Buat apa penasaran? Toh, selama ini kan, kamu nggak pernah peduli sama kak Cempaka, dia kan cuma gadis kecil buatmu. Ingat usia kalian beda delapan tahun, nikah gih biar nggak penasaran sama kakak. Kakak cakep banget kan sekarang," ujar David seraya menyeringai dan meninggalkan Abimanyu untuk ke dalam rumah.
Abimanyu yang merasa tidak mendapat jawaban yang diinginkannya mendengkus dan mengikuti David ke dalam rumah. Namun memang benar apa yang dikatakan oleh David, Cempaka semakin cantik dan tampak keibuan. Ia tahu pasti sejak gadis itu menuntut ilmu di negeri Paman Sam tak sekalipun Jovan mengirimkan biaya hidup. Bagaimana Abimanyu tahu, karena Jovan selalu berkeluh kesah tentang Cempaka padanya. Jovan tidak habis pikir anak gadis satu-satunya itu tidak mau ia berikan uang, bahkan uang yang ia titipkan kepada Bunga juga dikembalikan oleh gadis itu. Sampai suatu hari Jovan mengancamnya tidak boleh pulang. Jika tidak mau menerima pemberian sang ayah, akhirnya gadis itu luluh.
Alma mengulurkan dua kaos berwarna putih dan kemeja berwarna hitam dan biru dongker kepada Abimanyu.
"Ini buat kamu. Itu juga sepatu koboi kulit buat kamu. Dicoba dulu mami penasaran," ujar Alma.
Abimanyu meraih sepatu koboi itu dan mencobanya. Sepatu boot berwarna coklat tua dengan motif unik tetapi simpel itu sangat pas membungkus kaki kekarnya.
Alma tersenyum senang menatap Abimanyu, begitu juga dengan David yang mendapatkan oleh-oleh yang sama dan langsung mencobanya.
"Kakak jago banget milihnya bisa pas ukuran sepatunya juga ya, Mi. Jadi mau buka outlet kayaknya nih," ujar David.
"Sepertinya begitu sih. Aduh bakalan tambah sibuk dia di Amerika bisa nggak pulang-pulang deh itu anak. Persis kayak Bunga semua-semua di pegang," kata Alma dengan menerawang.
"Hasil didikan Tante Bunga ya, begitu. Kakak memang dekat sekali dengan Tante Bunga juga sih," timpal Alvin.
"Tapi Mami tetap cemas Nak. Kakakmu sendiri hidup di sana, tante Bunga tinggal di Utah sedangkan Cempaka di San Antonio."
Deg ....
Abimanyu menghentikan kegiatannya melepaskan sepatu dan menatap Alma dan Alvin bergantian. San Antonio memiliki kenangan tidak mengenakkan untuk Abimanyu. Kenangan yang berusaha ia kubur dalam-dalam. Pria tersebut memang terlahir di Amerika sana dan saat ia kembali ke tanah air, kedua orang tuanya meninggalkan ia bersama dengan sang nenek, seorang penjual jamu yang berasal dari Jawa Timur.
"Mami nggak perlu khawatir, nanti David akan temani kakak di San Antonio," ujar David meyakinkan Alma.
"Kakak itu nggak tinggal di sana lho Mas, kalau nggak salah di salah satu ranch di kota kecil dekat San Antonio, mana banyak koboi di sana," ujar Alvin.
"Ck ... pantas aja kakakmu betah di sana bisa tiap hari cuci mata lihat koboi keren," ujar Alma.
Abimanyu mengetatkan rahangnya, ia menahan diri membayangkan Cempaka digoda atau mungkin tergoda oleh para koboi.
"Ganteng Papi juga lagi. Eh lihat Abi pake sepatu bot gitu, kamu mirip koboi juga lho Bi," ujar Jovan menatap Abimanyu yang masih setia dengan diamnya di sana.
Abimanyu urung melepaskan sepatu bot yang ia pakai, ia kemudian meraih topi koboi yang berwarna senada di sana dan memakainya seraya menatap pantulannya di cermin setinggi dua meter yang ada di ruang tamu itu.