17-06
"KYAAA! KAGET GUE!"
Hampir Alee terjengkang begitu ia buka mata. Kedua tangannya reflek menutup mulut.
"O-Om? Om Naufal ngapain disini?"
Tatapan jenaka Naufal membuat jantung Alee mereda dari deg-degannya. Senyumnya menerbitkan dimple di pipinya terlihat ingin disapa.
"Sudah masuk semua?" Naufal nggak menghiraukan pertanyaan kaget Alee. Lelaki itu menegakkan tubuhnya kembali. Lalu ia bergerak mundur dan berdiri di depan kelas.
"Attentions please!" serunya sambil bertepuk tangan.
Anak-anak langsung diam yang tadinya gaduh dan heboh. Alee masih melongo, sepertinya belum sadar diri.
Uthe menyikut lengannya.
"Itu Om lo kenapa di sini?"
"Mene ketehe!"
"Ok, class... Pelajaran apa hari ini?"
"SBK, Pak! Eh, Om!" sahut Uthe.
"Class, perkenalkan saya guru bidang untuk mata pelajaran SBK. Nama saya Naufal Rahadian Rasyid. Saya sarjana seni musik. Selain itu saya punya usaha kecil-kecilan di bidang entertain," kata Naufal.
Rubby angkat tangan,"Pak! Boleh tanya?"
"Silahkan."
"Bapak udah ada calon belum?" tanya Rubby.
"Sayang sekali hati saya udah ada yang ngisi," jawabnya tegas, nggak ada nada bercanda.
"Yaaa..."
"Udah taken, cuy!"
"Potek, potek nih!"
"Wassalam deh! Ada pawangnya!"
Cuitan anak-anak perawan di sana membuat rungu Naufal memerah. Tapi dia harus mampu mengayomi, mengarahkan. Akhirnya si bapak guru ini cuma tersenyum.
"Oya, di kelas ini pun kedatangan siswi baru. Masuk!"
Seorang gadis masuk. Cantik. Anak cowo udah pada blingsatan liat yang bening-bening. Maklum ... hormon remaja terlalu berlebih.
"Perkenalkan dirimu," titah Naufal.
"Hallo, aku Yuna. Pindahan dari Manado. Aku suka menyanyi dan menari. Mohon kerjasamanya ya teman-teman..." kata Yuna.
Ryuji menepuk bahu Alee,"Dia cocok tuh. Ajak gabung yuk,"
"Oke, berarti lo yang maju. Gimana?" Alee menoleh.
Ryuji dan Rubby mengangkat dua jempol mereka. Pandangan Alee tertuju pada Uthe.
"Dia bisa pegang almus gak? Gak mah percuma," ujar Uthe.
"Oke, class! Atensinya tolong ya," Naufal kembali ke sisi mejanya.
"Silahkan Yuna kamu duduk."
Yuna menghampiri bangku di sebrang Alee. Yuna duduk sebangku dengan Febri.
"Hai, kamu Alee ya?" sapa Yuna.
Alee bengong, dari mana nih anak tau nama gue?
Dia tersenyum lalu ngulurin tangannya,"Aku fans kamu."
Lebih nggak masuk akal lagi nih. Alee senyum kikuk. Uthe merhatiin Yuna penuh selidik.
Lalu Naufal memberi materi dan nggak tanggung-tanggung, langsung ngasih tugas kelompok. Alee malah nggak sangka Omnya bakal se-killer itu. Belum apa-apa udah kasih tugas. Materi, siswa sama gurunya belum ada kolaborasi yang baik eh udah main nugas aja.
Maka, begitu bel pergantian pelajaran, Alee mengembuskan napas lega. Tumben perasaannya nggak nyaman. Alee sadar kok, Omnya itu masih penuh pesona walau udah mateng. Tapi kayak ada sesuatu. Dan Alee frustasi karena nggak tau apa itu.
.
.
.
Dua gerombolan cowok-cewek berjalan di koridor kelas. Mereka ada yang cekikikan. Ngobrol atau sekedar gombalin sang gebetan. Seperti Duta, yang nggak patah semangat sekadar mencuri perhatian Rubby. Berbeda dengan Toro dan Ryuji. Mereka jalan bareng, saling pegangan tangan. Seantero sekolah udah tau malah kalo mereka pacaran.
"Lee! Lee!" Azril menerobos kumpulan segerombolan cowok di sana.
"Apaan sih, berisik, Kancil!"
"Lo dipanggil Pak Naufal,"
"Gue? Mau ngapain katanya Cil?"
Azril mengangkat bahunya tanda nggak tahu.
"Hari pertama ngajar udah ngundang masuk kandang singa..."gumamku.
Demian dan Nazrael memperhatikan dari kejauhan. Nazrael termenung.
Si Om itu ngapain tetiba jadi guru? Bukan kebetulan...
Nazrael menggeleng, menampik pikiran rancunya. Dia pengen ngikutin kemana Alee pergi dan apa saja yang bakal diomongin guru baru itu.
Tapi,
"Ikut," tepukan yang mampir di bahunya hampir saja membuatnya terbentur.
"Mau ngapain?" Nazrael memandang cowok di belakangnya.
"Lo mau ngikutin Alee kan?" Demian menyorot ke arah Alee yang telah menghilang di belokan menuju ruang guru.
"Ck, ayo!"
Dengan langkah cepat keduanya mengikuti jejak Alee. Benar saja, Alee masuk ke ruang guru. Demian dan Nazrael merapatkan punggung mereka ke dinding. Mengendap-endap takut ketahuan.
Demian melihat dari jendela berkirei itu, Alee duduk di hadapan Naufal. Entah apa yang mereka bicarakan, Demian nggak bisa memastikan apapun.
"Kayaknya mereka ngomong serius," gumam Nazrael.
"Lo kenal guru baru itu, Na?" tanya Demian.
"Cuma tau, Alee bilang sih tuh orang Omnya," jawab Nazrael.
"Om?" dahi Demian berkerut.
Syukurlah... Demian mengurut d**a. Lega.
"Heh! Kalian lagi ngapain?"
*
Alee memainkan bollpoint yang kebetulan terbawa saat dia dipanggil untuk menghadap Naufal. Dia pikir guru baru selevel Naufal, apa iya punya kuasa sejauh ini?
"Iya, Pak?"
Didengarnya Naufal mendengkus.
"Aku bukan kejam atau apa memberi kalian tugas. Untuk kemajuan kalian sendiri kok," kata Naufal.
Alee mengangguk.
Lah, terus? Hubungannya sama gue, apa? Perasaan gue gak protes apa-apa deh soal tugas.
"Alee," panggilnya.
Alee tengadah,"I-iya Pak?"
"Kapan ulangtahunmu?"
"Dua bulan lagi, Pak!" sahut Alee.
Ngapain dia nanyain ultah gue? Oh, I see...
"Emang Om jadi ngado studio?"
Naufal mengulum senyum,"Tentu saja."
Studio cuy!
Alee melotot. Nggak salah denger kan? Sebuah studio lengkap tempat nanti dirinya dan teman-temannya berlatih band. Mantap di jiwa tuh!
"Eh, tunggu Om. Maksud Om jadi guru ngapain dong? Bukannya Om udah enak, punya studio rekaman, dan usaha lainnya..." Alee takut aja semua ini cuma prank atau siasat tertentu, mungkin.
"Kamu. Kamu yang jadi alasannya," Naufal bersidekap.
Jawaban Naufal yang meyakinkan itu mau nggak mau membuat Alee bungkam.
Gue? Maksudnya?
Mata bulat Alee mengerjap. Nggak paham dengan ucapan Naufal. Kenapa dirinya yang jadi alasan cowok perlente itu menjadi guru di sekolahnya?
"Lucu deh. Udah, kembali ke kelas. Btw, tugasnya tetep kerjain ya? Kalo ada yang perlu ditanyain, tanya aja. Oke?" jemari Naufal mendarat di puncak kepala Alee dan mengusak rambut gadis itu.
Alee makin bengong dengan perlakuan nggak biasa dari orang asing semacam Naufal, yang ngakui diri Omnya.
Lalu Alee beranjak keluar tanpa ekspresi. Menatapi langkah kakinya kembali menuju kelasnya.
"Lee, Lee! Tunggu!" panggilan Nazrael nggak dihiraukan.
Dikepalanya terus berputar-putar beribu pertanyaan dan kelebatan perlakuan manis seorang Naufal.
Apa yang terjadi?
Kenapa Om Naufal semanis itu?
Apa ada hubungannya perlakuan Om Naufal sama Bunda?
Kenapa gue jadi alasan Om Naufal jadi guru?
"Lee, lo kenapa? Lo diapain sama guru baru itu?" Nazrael menepuk bahu Alee dan sorotnya menelisik keadaan gadis itu, dari kepala sampai kaki.
Tapi gadis itu tetap diam. Alee malah menatap ke arah Uthe.
Bunda dan Genk mantan...
"The, ikut gue!" Alee menarik lengan Uthe.
"Ryu! Titip absen sama tas gue!" Alee dan Uthe keluar.
"Eh? Ngapain? Mau kemana lo pada?!" seru Ryuji.
⭐⭐