17-07

1186 Words
Dua gadis itu dengan mengendap ke perpus, kebetulan tempat itu lagi sepi. Keduanya leluasa mojok di lorong  paling ujung. Lalu Alee menodong Uthe untuk bercerita yang ia tahu. Ya udah, Uthe akhirnya cerita. Walaupunpada akhirnya dia tahu ceritanya nggak akan muasin seorang Alee. "Trus  lo mau ngapain? Mau gimana? Info yang gue dapet dari nyokap cuma segitu," kata Uthe. "Kalo yang itu gue juga tau, The. Bunda sih main rahasia-rahasiaan segala! Gak faedah banget, ck!" sahut Alee. Intinya, info yang di dapat mereka sama. Nggak jauh-jauh. Fakta tentang ketidak-harmonisan keluarga besar Papanya dengan keluarga kecil barunya itu, tetap samar. "Tapi beneran deh, wajah Om Naufal mirip banget sama almarhum Papa lo, Lee..." komen Uthe. "Iya, gue juga kayak liat foto Papa. Apalagi kayak tadi, doi pake kacamata gitu. Aura Papa banget!" Alee tampak semangat. "Waktu kita ketemu sama dia, kayak bukan om-om. Bener gak sih?" Alee mengangguk, setengah melamun. "Lalu kita tanya siapa lagi?" "Ayah Nunu?" ide Uthe. "Ayah?" Alee diam. "Ho-oh, daripada kita nanya ke Bunda. Gak bakalan dapet info apa-apa, yang ada kita kena hukuman," celoteh Uthe. "Iya sih. Tapi sekarang kita berdua bolos gini trus dateng ke kantor Ayah, bisa batal nonton konser BTS gue Theeee!" "Tanya Om Yan yuk!" Uthe merasa ada ide lainnya. "Tanya ke dia sama kayak kita nanya ke Bunda. Bunda sama Om Yan itu sebelas-duabelas. Kayak kembar!" Alee menendang-nendang kerikil. "Papi Caesar!" serentak Alee dan Uthe menyebut nama sosok lelaki jangkung itu. Dan di sinilah mereka, duduk di hadapan Caesar yang masih sibuk dengan printilan mainan rakitannya. Caesar seorang desainer mainan otomotif. Sedang Yura, menjadi desainer muda yang kondang yang selalu bolak-balik bikin event fashion. Bakat desain keduanya malah nggak nurun ke Nazrael. Nana malah suka bermusik. Mungkin hobi Papinya yang malah nurun. "Kalian serius amat dah!" usainya saat menyimpan peralatan dan hasil rakitannya. "Pi, ya Pi.. ceritain dong soal keluarganya Papa Norman..." mohon Alee. "Emang apaan yang pengen kalian tau?" Caesar nyerah. "Tapi please... Jangan kasih tau Ayah sama Bunda. Ya Pi?" Caesar mengangguk kalah. "Emh... Papa Norman emang punya adik yang namanya Naufal?" tanya Alee. "Hm ... yup!" Caesar mengangguk. Alee ikutan mengangguk. "Apa yang bikin Bunda gak suka sama keluarga Papa?" Caesar garuk-garuk kepala sambil berlagak mikir. "Bukan keluarga sih tepatnya. Tapi cuma sama kakek dan Om-mu itu," "Emang kenapa?" "Kakek sama Om kamu pernah nyulik Bunda. Eh, tapi bukan diculik paksa gitu sih. Intinya Bunda gak dikasih pulang aja, mana lagi hamil kamu..." "Hah? Serius, Pi?" "Serius. Papa kamu sama Ayah Nunu yang nolongin Bunda," Caesar nunjuk Uthe dan Alee. "Pokoknya si Naufal itu nyebelin! Kalo Papi ketemu nih, Papi gorok dia!  Masak Bunda mau dinikahin sama tuh bocah? Gak masuk akal..." Caesar geleng-geleng kepala. "Nikah? Maksud Papi, Om Naufal pengen nikahin Bunda, gitu?" alis Alee mengernyit. "Yup!" "Gila!" Uthe nyikut Alee. "Ya dengan alasan kalo trah keluarga Teungku Rasyid jangan sampai tercampur dengan darah lain level. Pokoknya gitulah, Papi juga gak terlalu paham maksudnya apa." Caesar menyeruput kopi di mugnya itu. "Tapi masak sih Pi, Om Naufal keliatannya baik kok!" sanggah Alee. "Emang kamu ketemu Naufal? Dimana? Tak' pites-pites kayak kerupuk!" Horor banget si Papi. Kelar idup gue! "E-eh, gak gitu Pi. Bukan. Aku gak ketemu. Cuma aku pengen tau aja, gak lebih." Uthe natap Alee kuatir. Gimana nih? Mungkin itu yang akan terluncur dari bibir Uthe. Apa lagi dengan mereka tahu latar belakang masalahnya. Alee masih mencoba nyadarin dirinya sendiri, kayak bingung bin linglung gitu. Nggak percaya Naufal yang terlihat charming dan gemesin itu pengen menikahi bundanya. "Itu artinya, Om Naufal suka sama Bunda, The?" "Ya gak tau. Bisa iya bisa gak," sahut Uthe. "Lo kenapa? Potek?" Uthe memutar lehernya ke arah sang sahabat yang tertunduk. "Gimana gak potek gue, The. Om Naufal kayak gitu, tadi dia perhatian banget. Tiap sentuhan dia--" "Apa?! Lo disentuh dia? Apanya yang dia sentuh? Bilang gue! Bakal gue rauk tuh mukanya, biar gak usah sok kecakepan!" potong Uthe. Alee berdecak,"Bukan gitu, Ruth Ananda Mikaila! Nyentuh gue, ngusap kepala gue, genggam jemari gue. Gitu! Gila aja, lo pikir gue disentuh kayak  gimana?!" "Lah? Ngapain dia gituin lo? Yang ada lo makin-makin baper sama dia kan? Cowo kerdus, emang!" Uthe menggeram. Alee menepuk-nepuk bahu sahabatnya. "Janji juga lo gak bilang Papa Dilan. Awas aja. Papa suka ember. Ntar beliau bilang sama Bunda, tamat gue!" Uthe meringis, dalam hati dia nggak janji. Karena ini kalo dibiarin, bahaya. Apalagi begitu denger track record-nya Naufal. Bikin Uthe meriang! * Seperti ibu rumah tangga biasa lainnya, Atha suka belanja harian ke mall. Orang-orang yang liat nggak akan ada nyangka kalo Atha seorang ibu dari dua anak remaja. Karena dari penampilannya dia begitu bersahaja, fresh, kayak anak kuliahan. Apalagi dengan dandanan minimalis, rambut dicepol, sepatu flatshoes, jins dan kaos gombrong biru. Sambil mendorong trolly, dia melihat-lihat barang yang bakal dibelinya sesuai catatan. Sesekali wajahnya merengut saat barang yang dicarinya nggak ada atau nggak sesuai harapannya. "Tumben banget jeruk sunkistnya abis," monolognya. Mendorong lagi. Kali ini ke bagian perdagingan. Keanu pengen rendang katanya. Dipikir suaminya kayak yang lagi ngidam. Ada aja yang dimauinya. Minggu lalu pengen tempe mendoan sama sop buah. Jangan-jangan dirinya tengah berbadan dua tapi nggak nyadar? Saat tengah memilih-milih daging untuk rendang, Atha mendengar orang berdehem. Begitu menoleh, Atha terpaku, matanya membulat, mulutnya auto terbuka dan segera dia menutupnya dengan sebelah telapak tangannya. "Siapa kamu? Gak mungkin kamu Norman kan?" tanyanya penuh selidik. Atha berhasil melampaui rasa terkejutnya agar nggak berlarut dan membuatnya nampak bodoh. Cowo itu terkekeh,"Mirip banget ya?" "Kau? Jangan bilang kau melakukan oplas demi aku," sungut Atha. "Tepat! Semua ini demi kamu, untuk kamu," sahutnya. "Jangan macam-macam, Naufal." geram Atha. "Naufal? Kamu gak mau manggil nama kecilku lagi? Aku kangen kamu manggil aku, O-pang." Nggak beres. Atha beranjak tapi Naufal membuntutinya. Mengekor kemana pun Atha pergi. Atha merasa risih dan terganggu. Dia harap ketemu salah satu Genk mantannya agar terhindar dari makhluk psiko macam Naufal. Saat di kasir pun, Naufal berlaku layaknya seorang suami yang membantu istrinya. "Maaf, ibu sakit? Ibu tampak pucat sekali," sapa sang kasir. "Oh, istri saya sedang hamil. Tuh kan Yang, kubilang juga apa. Udah diem di rumah, biar aku yang belanja. Makasih ya mbak..." sela Naufal. Atha mendelik marah. Kedua tangannya mengepal. Atha keluar dan mendorong trolly itu sampai ke tempat parkir. Dan Naufal masih mengikutinya. "Tha..." "Apa maumu?!" "Kamu dan Alee. Tinggalin Keanu," Naufal melesakkan kedua tangannya ke saku celananya. "Kamu sakit, Naufal!" Naufal tersenyum miring,"Ya, aku sakit, karenamu. Aku bertekad merebutmu dari Keanu." "Emang gak ada stok cewe lain apa?! Kamu gila! Itu obsesi, bukan cinta!" "Terserah! Mau obsesi atau bukan, yang penting kamu bisa kumiliki!" tekad Naufal sambil mendekat. Atha makin memundurkan langkahnya. Naufal menyeringai. "Alee mirip sekali denganmu dan bang Norman. Cantik dan baik hati." Atha melotot. Darimana Naufal tahu Alee? "Aku pernah ketemu dengannya." Atha mengerjap. Dia ingat saat pulang konser waktu itu. Alee dan Uthe diantar seorang lelaki. Lalu, cowo itu Naufal?! "Jangan ganggu Alee," suaranya bergetar. "Itu terserah kamu. Kalo kamu baik dan menurut padaku dan mau ninggalin Keanu, aku dengan rela hati melepas keponakanku yang cantik itu. Gimana?" "Gak ada dalam kamus gue!!" DUAGH!! Naufal terhuyung saat mendapat tonjokan telak di rahangnya. "Caesar?!"  ⭐⭐
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD