Keanu mengeratkan rahangnya. Amarahnya hampir meluap kalau saja dia nggak inget sekitar. Saat ini para anggota Genk mantan hadir plus sepaket dengan pasangan dan anak-anaknya.
"Udah gak bisa dibiarin, Ke'. Ngelunjak tuh anak!" cetus Jody.
"Kalo hal beberapa tahun lalu itu kejadian lagi, gimana? Dia udah main ancem loh Bang!" lanjut Dilan.
Keanu mengangguk. Yan menepuk bahu Keanu, tersenyum bijak. Cuma bapak satu ini yang keliatan kalem dari yang lainnya.
"Panas jangan dibalas panas. Emang itu tujuan Naufal. Memperkeruh suasana. Yang penting kita waspada, terlebih buat Alee," ujar Yan.
Semua memandang ke arah Alee yang tengah dipeluk Atha. Wanita itu cukup syok saat tahu bahwa Naufal ternyata sudah berani mendekati putrinya. Bahkan Uthe menambahi bahwa lelaki itu menjadi guru SBK di sekolahnya. Maka makin paniklah Atha.
Sedang Alee sendiri pun masih bingung dengan semua kenyataan di hadapannya. Dia masih nggak paham, apa yang bikin Naufal begitu terobsesi pada bundanya.
"Kamu beneran, gak diapa-apain sama Naufal?" tanya Atha sangsi, sampai-sampai meneliti tiap jengkal tubuhnya.
"Gak Ndaa, Om Naufal baik kok."
"Kamu--" Atha siap dengan gelegarnya karena Alee bilang kalau Naufal adalah orang baik.
"Tha, biar aku aja..."
Keanu membimbing Alee, mengajaknya ke taman samping, duduk di ayunan rotan. Favorit Alee kecil.
"Maafin Ayah sama Bunda ya? Mungkin seharusnya kami mengenalkanmu sama keluarga Papa Norman. Hanya karena kami ketakutan yang mungkin menurutmu gak masuk akal dan menganggapnya cuma alasan kami saja," Keanu memulai obrolan dari hati ke hatinya.
"Tapi, kami emang bener-bener takut kehilangan kamu, Lee."
"Kenapa? Takut Alee di culik kayak Bunda?" Alee menoleh.
Keanu tersenyum, menyampirkan rambut Alee.
"Mungkin. Karena kami yakin Kakek sebenarnya gak maksud kayak gitu. Bunda, sama Kakek ada perjanjian. Nanti kalo kamu udah tujuh belas tahun, kamu harus milih, mau tinggal sama Ayah Bunda atau tinggal sama keluarga besar Papa Norman? Perjanjian itu dilakukan agar Bunda gak nikah sama Naufal. Karena pihak sana bersikukuh ingin Bunda sama Naufal menikah," jelas Keanu.
"Kok gitu sih?"
"Ya, Ayah juga gak tahu alasan pastinya." Keanu menggendikkan bahunya.
"Jadi Om Naufal itu, jahat?"
"Ya gak juga. Mungkin terlalu naif, obsesinya salah kaprah. Naufal itu terlalu menyayangi Papa Norman dan Bunda," argumen Keanu. Dia tahu kalau bicara dengan anak gadisnya itu harus serba jelas.
"Ya kalo sayang gak sampe gitu juga. Trus, Ayah pengen aku gimana?"
Mata bulat Alee menari-nari.
"Ayah pengen kamu hati-hati. Kami sangat menyayangimu Alee. Papi Caesar malah sampe usul buat gantian jadi bodyguard kamu sama Bunda," ujar Keanu.
Alee tergelak,"Papi ... Papi, ada-ada aja. Tenang Yah, Om Naufal selama ini gak jahat kok sama aku. Dia gak akan berani kalo emang bener sayang,"
"Tapi tetep kamu harus hati-hati ya..."
Alee mengangguk kencang, hanya ingin meyakinkan ayahnya. Walau terbersit ragu di hatinya. Ragu kalau dia bisa menepati janjinya. Ragu karena hatinya mulai menjeritkan perasaan lain.
Tapi dia takut. Takut apa yang dikuatirkan ayah bundanya terjadi. Takut kalau Naufal memang nggak sebaik dugaannya.
Alee yang diam-diam mengagumi ketampanan papanya, yang kini malah bisa dia lihat di diri Omnya, tentu nggak bisa dienyahkan gitu aja. Dengan lesung pipi yang menghiasi wajahnya, bibir bawah yang agak menebal dari bibir atasnya, dan bila tersenyum membuat darah gadis itu berdesir.
Cinta pertama seorang anak gadis itu adalah ayahnya. Lalu bagaimana dengan cinta pertama Alee? Norman kah? Atau Keanu?
Untuk sesaat, Alee tercekat menyadari satu hal yang ngehempasnya kembali pada realita. Kalo dia hanya punya Keanu, sebagai cinta pertama. Tapi Norman? Perasaan terpendam lama, yang merindukan sosok seorang Papa, rasa penasaran, seperti apa papanya bila saja dia masih ada?
Apa dia memiliki cinta pertama pada keduanya?
*
Bener aja, Caesar merealisasikan usulannya. Tentang bodyguard buat Atha dan Alee. Kalau para Genk mantan sibuk, maka Caesar dan Dilan menyuruh beberapa anak buahnya menjaga kedua perempuan itu. Baik Alee maupun Atha merasa jengah dengan perlakuan lebay dua lelaki matang itu.
Bahkan Atha melayangkan protesnya, tapi Keanu dan Yan tetap bergeming. Mereka tetap pada rencananya.
Hal ini membuat dua perempuan, ibu dan anak itu nggak bisa bebas melakukan aktivitas di luar rumah. Apalagi Alee yang termasuk hiperaktif. Walaupun sang bodyguard nggak sampai masuk kelas, tapi tetap aja hal itu membuatnya nggak nyaman.
"Gila! Selebgram aja gak sampe gini-gini amat!"
"Lebay!"
"Sok iye!"
"Pansos deh kayaknya!"
Masih banyak lagi celotehan anak-anak di sekolah, yang memang nggak tahu-menahu asal muasal suatu persoalan yang menimpa Alee. Coba mereka tahu...
Mereka mungkin malah bilang,
"Emang gue pikirin?"
Ya begitu. Alee makin kesel. Naufal juga mulai jaga jarak. Di kelas pun dia pure hanya melaksanakan PBM. Nggak ada sesi menggoda atau sekedar memanggil Alee ke ruang guru kayak kemaren-kemaren. Ini bikin Alee bertanya-tanya.
Semenarik itukah Bunda? Hingga Bunda mampu menyedot segala atensi Naufal?
Gila kali gue saingan sama nyokap sendiri?!
Saat Alee menuju toilet dan yakin nggak ada yang mengikutinya, Alee berharap bisa bertemu Naufal. Walau pun itu mustahil, karena mana mungkin Naufal ke toilet siswa? Tapi pemikiran Alee ternyata meleset. Guru muda plus ganteng itu ada di sana. Menyandarkan tubuhnya di dinding, seraya matanya menatap langit-langit.
Alee terpaku. Makhluk tampan itukah yang berstatus Omnya? Tubuh proporsional, tinggi dengan bentuk pinggang tipis, terbalut kemeja blue dark dan rambut berponi acak. Mirip banget oppa-oppa Korea, favorit Alee.
Pelan Alee melangkah ke sana. Seolah sadar Alee tengah menghampirinya, Naufal menegakkan tubuhnya dan rautnya kelihatan ceria. Senyum tersungging hingga menerbitkan lesung di pipinya.
Ciptaan Tuhan yang nggak mungkin Alee sanggah. Walau Alee tahu, cowok di depannya kini adalah Naufal, yang merekonstruksi wajahnya biar mirip dengan Norman, Papanya. Tapi Alee berpendapat kalo Naufal sebelum itu adalah sosok lelaki tampan. Dan ternyata papanya mungkin lebih tampan dari Naufal.
"Alee..." sapanya.
Semakin Alee terpaku seolah terkena mantra untuk bungkam. Begitu mendengar suaranya merdu, yang Alee kangenin...
"Alee, aku kangen..." Naufal beranjak mendekat dan hendak memeluk gadis itu.
"Bapak lagi ngapain di sini?"
Alee dan Naufal noleh ke sumber suara. Dua cowo, melangkah tergesa namun pasti dengan aura yang nggak terbaca. Nazrael dan Demian.
Naufal tentu saja gugup. Namun bukan Naydmfal namanya bila nggak bisa mengatasi dua remaja itu.
"Bapak ngapain ada di toilet siswa?" ulang Nazrael.
"Pak Naufal udah nolongin gue yang terpeleset. Kalo gak ada dia, gue bisa aja gegar otak," dusta Alee.
"Ohya?"
Smirk andalan Nazrael sangat-sangat mirip Caesar.
"Bapak pernah ditonjok sama Papi saya. Dan jangan sampai, saya ikutan nonjok Bapak juga!" imbuhnya.
"Na!" Alee melotot.
Naufal senyum miring,"Baik. Walau pun saya kurang yakin akan kemampuan kamu bisa membuat saya sedikitnya terhuyung. Saat itu saya sedang lengah saja. Jelas Papi kamu bukan tandingan saya," sombong Naufal.
"Tapi, next time... Gak ada kata mengalah." Naufal menatap keduanya dingin.
"Aku pergi dulu, Lee..." tangannya terulur mengusak kepala Alee.
Nazrael makin kesal dengan ulah seenaknya guru SBK itu.
Maka seberlalunya Naufal, Nazrael menarik lengan Alee diikuti Demian. Alee meringis, pergelangan tangannya terasa sakit. Nggak biasanya Nazrael semarah ini padanya.
"Apaan sih lo, Na?!" hempas Alee, langkahnya menyurut.
"Lo yang kenapa? Udah tahu siapa Naufal itu, masih aja 'pala batu! Kalo Bunda tahu, dia pasti sakit hati, Alee!!" sergah Nazrael.
"Mungkin aja dia udah berubah, lo tahu apa soal Naufal?" kilah Alee.
Nazrael geram bukan kepalang. Kalau Alee itu cowo sudah diajaknya tonjok-tonjokan, biar kelar masalah.
"Jadi, lo lebih percaya sama Naufal, orang yang pernah nyulik Bunda, ketimbang orangtua lo sendiri, dan kami?" Nazrael menatap Alee nanar.
Perlahan cekalan di tangan Alee terlepas.
"Dia itu orang asing di antara kita, Lee. Dan lo lebih percaya sama dia. Fine, gue udah tahu jawabannya. Berarti lo matahin hati kedua orangtua lo. Dan lo bakal nyesel Lee," tegasnya sebelum pergi.
Demian menatap punggung Nazrael. Lalu beralih pada Alee, gadis yang ingin dia rengkuh, yang saat ini tengah tergugu.
"Lo udah matahin hati Nana, dan kita Lee. Tapi gue gak nge-judge perasaan lo. Mungkin sekarang lo lagi bingung aja dan nyari arah yang bener. Gue harap, arah itu kita. Orang tua lo. Tapi gue bakal di sini, buat mastiin lo baik-baik aja," kata Demian, yang sedari tadi diam seribu bahasa.
Alee sesegukan dalam rengkuhan Demian. Nazrael yang menyaksikan di kejauhan, mengangguk lalu tersenyum.
Itu lebih baik, Dem. Jaga Alee-nya gue.

⭐⭐