ALEE menendang-nendang kerikil kesal. Tangisnya sudah reda sejak tadi. Jadilah Demian plus sang bodyguard yang menemaninya pulang. Kini mereka di dalam mobil Demian. Tanpa suara. Dua kulkas dipertemukan dalam satu mobil. Belum lagi kejadian 'pelukan' tadi yang membuat mereka makin canggung.
"Emh... Nana bilang kalo lo suka es krim. Kita beli di kedai sana ya? Mau gak?"
Akhirnya Demian yang mengalah yang membuka suara. Alee menoleh.
Lalu mengangguk. Sebenarnya Alee nggak berselera tapi daripada moodnya jatuh sejatuh-jatuhnya, mending dia ikut.
"Om, mau?" tawar Alee pada si om bodyguard.
"Tidak. Terima kasih."
"Capek loh Om ngintilin aku mulu. Secara aku tuh anaknya hiperaktif, gak mau diem," ujar Alee.
Demian yang malah tersenyum mendengar ujaran Alee. Ternyata Alee memang seperti dugaannya. Cewek baik. Walau tampilan pecicilan, jutek dan terkesan dingin.
Alee menjilati es krim coklat cone-nya.
"Kenapa ya kalo makan es krim malah bawaannya haus? Kadang nyebelin tau gak?" cetus Alee.
"Karena rasa manis di es krim itu yang bikin haus," sahut Demian.
Alee mengangguk-angguk.
"Mm... sori, gue gak sengaja denger masalah lo dan Bunda," katanya.
"Iya, gak pa-pa. Lo pernah ketemu bunda kan?"
"Hm," Demian mengangguk.
"Bunda cantik kan?"
"Hm, iya. Lo juga cantik. Kayak pinang kembar...hehe,"
"Cowok kulkas model lo bisa juga nge-gombal,"
Keduanya terbahak. Lalu mereka kembali masuk mobil.
"Boleh nanya?"
"Tanya aja," Alee menggendikkan bahunya.
"Hubungan lo sama om-om itu--"
"Gak tahu. Gue gak ngerti. Om Naufal baik, Dem. Sumpah! Mereka aja pada gak ngerti. Main salah-salahin gitu aja. Ayah juga sama. Bunda apalagi. Padahal apa susahnya sih ngasih waktu buat gue kenal lebih baik lagi sama keluarga besar Papa Norman?" cerocos Alee.
Demian sengaja diam dan cuma dengerin curhatan cewe itu.
"Nana ikutan ngehujat Om Naufal lagi. Nyebelin!"
"Tapi Lee, menurut gue, dia om lo kan? Apa iya, lo suka sama om sendiri? Lo cinta gitu?" desak Demian, ada rasa nggak suka mulai menyeruak.
Suka? Cinta? Sama Om Naufal?
Alee diam. Dia nggak bisa jawab. Dia bingung. Apa iya perasaan kagumnya itu cinta?
*

"Asli? Beneran?"
Keempat cowo itu membelalak. Azril mengangguk.
"Jadi, kalo kalian liat dia macem-macem sama kakak gue, kalian embat aja!" kata Azril.
"Euhhh... bocah! Bukan kayak gitu. Cukup kita waspada aja. Jangan sampe Alee atau Bunda di culik lagi," sela Nazrael ikut nimbrung.
"Kok bisa sampe segitunya sih, Na?" tanya Rexa.
"Gak tau. Mereka punya hubungan yang rumit. Orang dewasa kan emang kayak gitu. Masalah yang gampang malah diperumit. Aneh," jawab Nazrael.
"Jadi, Alee bakal tinggal sama keluarga dari Papanya itu?" Toro mengayun-ayunkan kakinya.
"Kayaknya, kalo liat Alee sebucin itu sama si Naufal..." geram Nazrael.
"Wesss, udah manggilnya pake imbuhan Si. Lo cemburu ya, Na?" Duta menimpali.
"Cemburu tuh kayaknya," sela Winky sambil terkekeh.
Nazrael menimpuk adik kelasnya yang asbun itu.
"Tapi, kalo Alee suka, kita gak bisa ngapa-ngapain Na. Lo pengen Alee jadi benci kita?" ujar Rexa.
"Tapi kalo udah dikasih peringatan, harusnya si Naufal itu tahu diri dong. Bokap sampe turun tangan gitu," sahut Nazrael.
Tiba-tiba Demian datang dan langsung duduk di antara mereka.
"Gimana?" tanya Nazrael antusias.
"Kita palingan jangan terlalu kentara ngeliatin rasa gak suka kita sama Naufal. Rancu nantinya. Urusannya bisa panjang. Alee merasa gak ada yang dukung dia," jawab Demian, terdengar putus asa.
"Jangan sampe desperate gitu dong Dem. Alee mungkin lagi nyari arah aja. Kita dukung aja dulu maunya apa," Rexa menepuk bahunya.
"Ya gak bisa gitu dong, Rex. Masa kita dukung kalo dia bikin salah? Bukannya kita ngingetin dia," kilah Nazrael cepat.
"Lo tahu sendiri kan gimana Alee? Keras kepala!" balas Rexa. "Batu banget!"
"Nah itu kalian tahu gimana kakak gue. Karena keras kepalanya itu dia suka salah langkah. Yang ujung-ujungnya bikin runyam semua masalah," Azril duduk bersila di sofa.
"Naufal itu sukanya sama Bunda. Apa gak sakit tuh orang?! Apa bakal kita biarin dia mengaruhin Alee? Gimana kalo dia cuma main-main? Gimana kalo itu cuma trik buat hancurin keluarga gue? Huh?"
"Cil! Ya maksud kita bukan ngebiarin gitu aja. Kita biarin Alee sadar dengan sendirinya. Kita kasih dia waktu buat berpikir. Menelaah masalah ini dari sisi pandangnya dia," tukas Demian.
"Trus udah gitu apa? Yang ada kakak gue keburu kehasut sama tuh orang. Kalo Alee diapa-apain, gimana? Lo mau tanggung-jawab?!" sergah Azril.
Rexa menenangkan Azril yang mulai emosi.
"Maksud Demi bukan gitu, Cil. Kita kan udah tahu watak keras kepala kakak lo itu. Gak bakalan menang kita," tukas Rexa.
Semua diam. Semua membenarkan adanya kenyataan itu. Alee kalo udah bilang A ya A. Nggak mungkin ganti jadi B apalagi Z.
"Lo harus lebih gencar deketin Alee, Dem!" putus Nazrael.
"Hah?" Demian melongo.
"Jadi serius kalo si Demi suka sama Alee?" Toro melotot.
"Udah ntar keluar tuh mata sapi lo, Tor!" Duta mengibaskan tangan didepan Toro.
"Udah jadi rahasia umum kali... Lo tinggal di belahan bumi mana sih, Tor?" sela Rexa.
"Ya gak ngeuh aja gue. Dipikir si Johnny tuh, dia kan ngebet banget sama Alee. Kirain tuh anak jadian," sahut Toro.
"Ck, kalian apaan sih?" Demian menghempaskan kepalanya ke bantal sofa.
"Asli, Kak. Gue lebih seneng lo yang jadi pacar Alee," Azril menyela.
Dan selaan Azril itu mendapat sambutan positif. Base camp itu jadi riuh.
"Semoga kapalku segera berlayar... Aamiin..." Winky menadahkan kedua tangannya, layaknya orang berdoa.
Semua tertawa, termasuk Demian.
"Wah, di dukung seratus persen sama calon adik ipar nih!" seru Duta.
"Pokoknya kita bantu. Intinya lo mesti saingan sama Naufal!" cetus Nazrael.
"Berat cuyy! Ibarat kata nih, Naufal itu Roll Royce, dan babang Demi itu Avanza... Jauh Brohh!"
Gelak tawa kembali begitu mereka dengar cuitan Winky barusan.
"Pengibaratan lo alay berikut penghinaan, Ky!"
"Iya nih, Ky, lo mihak siapa sih?" celetuk Azril.
"Ho-oh Dem, daripada dia jadian sama omnya sendiri. Mending sama lo lah!" timpal Toro.
"AKURRRR!!"
.
.
.
Jadilah misi tersembunyi mereka realisasikan. Demi kebahagiaan semua. Bahkan Toro yang biasanya perhitungan, mau-mau saja bantu pinjamkan satu motornya sama Demian.
Alee mematung di ambang pintu begitu lihat kedatangan Demian di depannya. Begitu juga Uthe, yang kebetulan ada di rumah Alee.
"Hai..."
"Hai, masuk Dem."
Cowo kurus itu pun masuk. Tampak kikuk, apalagi dipandangi penuh tanya oleh dua cewek ini.
"Eh, ini tuh emh ... Demian ya?" Atha muncul lalu duduk di sebelah Alee.
"Iya Tan eh, Bunda."
Atha terkekeh,"Iya, manggilnya Bunda aja. Semuanya juga gitu kok. Ini mau pada kemana, udah rapi? Ngajak Alee nge-date?"
Demian hanya tertunduk sambil tersenyum digoda Atha begitu.
"Ya udah, gih. Sana Lee, ganti baju. Masa iya jalan-jalan pake gituan. Kamu ikut, The?" Atha menoleh ke arah Uthe seberlalunya Alee.
Yang ditanya menggeleng. Atha mengalihkan atensinya kembali pada remaja di depannya.
"Ya udah. Tapi Bunda titip ya Demian, jangan main terlalu jauh, dan gak macem-macem," kata Atha.
"Iya, Bun." Demian mengangguk.
Emang gue bakal ngapain Alee?
Alee turun dari kamarnya dengan baju kasual. Memang sehari-harinya juga begitu. Setelahnya mereka pamitan.
"Bun, kok Bunda ijinin Alee pergi? Tanpa bodyguard lagi," Uthe memandang Atha.
"Kan bodyguardnya Demian. Lagian, Nana yang rekomen. Gak papa, Bunda tahu Nana kok. Kalo dia percaya sama seseorang, berarti orang itu emang bisa dipercaya," tukas Atha.
"Oh..."
Uthe manggut-manggut. Dia juga senang kalau memang Alee senang. Tapi Uthe tahu Alee suka sama Naufal.
Tapi hubungan mereka mustahil kan?
⭐⭐