17-10

1176 Words
?? "Lo mau ajak gue kemana, Dem?" tanya Alee, saat nangkring manis di atas sepeda motor Demian. "Enaknya kemana? Lo pengennya kemana?" Demian malah balik nanya. "Emh ... ada pasar malem gak?" "Apa? Pasar malem? Oke," Demian langsung mengiyakan tanpa tahu berada di mana pasar malam kali ini, karena suka berpindah-pindah tempat. Tapi Alee mencoba googling, cari info di mana kiranya pasar malem itu di gelar saat ini. "Demi, ada di daerah Utara. Kita ke sana aja, yuk?" "Yakin di sana?" "Kata Mbah Google sih ada di sana." "Siap bos!" Alee tersenyum, orang lain mungkin manggil dia 'princess' kek, 'tuan putri' kek, eh..ini malah 'bos'! Tanpa sungkan Alee melingkarkan kedua tangannya di perut Demian. Agak kaget juga cowok itu dapat perlakuan agresif dari Alee. Secara mereka nggak terlalu dekat sebelumnya. Namun Demian positif aja. Mungkin Alee nyaman bareng gue. Sampai di tempat yang dituju, benar aja, ada pasar malam yang terdiri dari beberapa wahana, ada korsel, bianglala, pancing ikan, adu tembak, dan masih banyak lainnya. "Seruan mainan arcade gitu atau kayak gini?" tanya Demian. "Sama aja sih. Cuma kalo pengen fokus main ya arcade lah! Tapi kalo kayak gini, suasananya beda Dem. Alami aja, point plusnya banyak jajanan kampung yang gak ada di mall. Gue bisa beli cilok atau es goyang," sahut Alee. Demian senyum, dia nggak ngira kalau cewek se-cool Alee suka jajanan murmer gitu dan pastinya nggak jaga image kayak cewek kebanyakan. Saat ini aja, pipinya sampai penuh, mirip hamster sedang ngemil. Sungguh gemesin! Sejak tadi Alee banyak ngemil, gorengan sudah pasti, cilok favoritnya juga. "Eh, elo belum makan apa-apa ya? Mau gak? 'Aaa..." Alee menyuapkan baso Aci ke mulut Demian. Raut Demian langsung memerah sampai ke kuping-kuping. "Eoh? Lo gak suka pedes ya? S-sori, minum dulu Dem!" Alee auto panik. Dia mengulurkan air mineralnya pada Demian. "Sori," mimiknya memelas merasa bersalah. Demian tersenyum,"Gak papa kali. Santai. Emang gue gak terlalu suka pedes sih, ya yang biasa-biasa aja." "Gue gak enak nih. Lo mau makan apa? Gue traktir deh ya?" "Gak usah," tolak Demian. "Gak bisa gitu Dem, yuk. Lo pilih pengen makan apa?" Alee menarik tangan Demian. "Baso tahu aja deh!" "Bener nih?" Demian mengangguk,"Tapi kita sambil duduk di sini ya?" Alee mengiyakan. Dia duduk sebelahan Demian. Ternyata Alee pesan dua porsi baso tahu. "Bumbu kacangnya cuma segitu doang, Dem?" Alee melotot saat lihat bumbunya hanya sesendok. "Cukup segini juga. Makanya nanti kalo pengen masakin buat gue, jangan yang pedes-pedes ya?" "Iya, telor ceplok sama tahu tempe!" cebik Alee, disambut kekehan cowok kurus di sebelahnya. "Bunda jago masak tuh. Si Winky sampe ketagihan," komentar Demian. "Iya. Tapi sayang gak nurun ke gue bakatnya," sahut Alee membenarkan. "Belajar aja, masak gak perlu bakat. Asal tahu bumbu dapur, udah!" balas Demian. Alee cuma senyum. "Demian, lo suka gue ya?" Uhuk! Uhuk! "S-sori, gak maksud bikin lo keselek!" Alee mendorong teh tawarnya ke arah Demian. "I-itu cuma tebakan gue aja. Udah, gak usah dipikirin..." imbuhnya mengibaskan tangannya. Demian meminum tehnya hingga setengahnya. Dia menatap cewek di depannya. Ya, gue suka sama lo. Tapi kalo lo sendiri gak suka, gue gak masalah. Tapi senggaknya biarin gue berjuang. "Demi, lo tahu kan kalo gue--" "Tahu. Lo suka Pak Naufal, om lo itu kan?" Maunya Alee Demian nggak terlalu buru-buru berasumsi kalau dirinya menyukai Naufal. Dia butuh waktu untuk mengerti perasaannya, apakah cinta, suka atau sebatas kagum saja? "Buat seorang anak gadis, cinta pertamanya adalah ayahnya. Yang gue tahu sejak kecil dan dikenalin sebagai ayah itu, ya Ayah Nunu. Lalu di usia TK, Bunda mulai ngasih tahu, kalo gue punya Papa. Dari situ Bunda sama Ayah sering cerita tentang Papa Norman. Banyak foto-foto Papa. Jadi kalo mereka cerita, pasti ada foto Papa. Papa Norman emang ganteng. Gue suka dan gue ngerasa gue udah jatuh hati sama Papa sendiri. Gila ya? Abnormal gue," paparnya. Demian menanggapinya dengan senyuman. "Lalu, begitu gue ketemu Om Naufal, dan wajahnya sangat mirip Papa, otomatis dong perasaan gue kayak gimana? Lo paham kan, Dem? Gue dulu pengen banget meluk Papa Norman. Lalu apa salah, kalo sekarang gue pengen meluk cowok yang wajahnya mirip banget Papa? Gue cuma pengen ngerasain dipeluk papa Norman, Dem." "Tapi perasaan lo sendiri ke dia, gimana? Bener cuma sebatas om dan keponakan? Trus, Om lo gimana? Apa dia punya perasaan yang sama?" "Itu gue gak tahu. Tapi dari cerita papi Genk mantan, Om Naufal itu ngejar Bunda. Dia cinta mati sama Bunda. Sampe bela-belain di oplas segala biar mirip Papa Norman. Lihat dia begitu bertekad ya gue jadi gak yakin sama perasaan dia ke gue. Secara selama ini, perlakuan dia ke gue manis banget, Dem. Siapa yang gak baper coba?" Baso tahu di kedua piring udah tandas. Obrolan yang sempat serius tadi seolah dilupakan. Demian ngajak Alee menaiki korsel. Mereka duduk di kuda-kudaan. Demian menatap cewe yang tengah tertawa lepas itu. Dia berharap salah satu alasan tawa itu hadir adalah dirinya. Semoga. * Pagi. Alee menggeliat. Untung dia sedang dapat. Untung hari Minggu. Ah ya, semalem. Alee termangu. Sikap Demian sungguh manis. Sesaat seudah naik korsel, Demian mengikatkan sweater yang dia pakai ke pinggang Alee. ~ "Demi! Ngapain?!" sewot Alee. "Ada bendera Jepangnya," bisik Demian. Alee mengernyit,"Bendera Jepang?" "Gue kutip dari novel Moo's Heart. Lucu aja bilang gitu pake istilah bendera Jepang hehe..." "Kita beli popoknya yuk, trus kita cari WC umum." Seketika Alee membelalak. "Tembus?" tanyanya tanpa suara. Dan Demian menjawabnya dengan anggukan. ~ "Ngapain tuh anak bilangnya popok? b**o gitu?" Alee garuk tengkuknya. "Whoaaa! Muka gue! Muka gue mau di taro di manaaaaa?!" Alee tutupi wajahnya pake bantal sambil guling-guling di kasur. "Woyyy! Ngapa lo?" Azril berhambur masuk. "Pe'ak! Ketok pintu dulu kek. Apaan?!" "Dih! Lo yang apaan? Pagi-pagi teriak, bangun tuh jam 5, trus jogging kek, apaan kek. Buru bangun! Ayah sama Bunda mau ngomong," kata Azril sambil berlalu. "Kancilll!! Tutup lagi b**o!" "Alee, apaan sih? Cepet mandi, ganti baju trus sarapan. Kita pergi," Bunda menyembulkan kepalanya. "Shopping Nda?" "Nggak usah banyak tanya, cepet!" "Wokeee, Ndaaa!" Setelahnya Alee ke kamar mandi. Bersenandung. Berharap Ayahnya akan membelikan ponsel baru. Tapi beres dandan cantik, tampil all out, Alee bukannya diajak ke mall, melainkan ke sebuah rumah yang Alee pun nggak tahu ke rumah siapa. "Nda, ini rumah siapa?" tanya Alee setengah berbisik. "Kakek kamu," yang jawab Keanu. "Kakek?" "Papanya Papa Norman," bisik Keanu. Seketika Alee membatu. Ke rumah Papa Norman? Rumah Om Naufal? "Ayo, Lee." Keanu gandeng tangan Alee. Jantungnya berdegub kencang. Semakin dekat, semakin kencang degubannya. Genggaman tangannya mengerat. Keanu memijit bel rumah itu. Atha mengedarkan pandangannya ke penjuru halaman dan rumah itu. "Masih kayak dulu," gumamnya. Nggak lama pintu terbuka dan seseorang tergopoh menghampiri. "Ya?" "Pak Rasyid, ada? Tolong beritahu, ada Atha bertamu," kata Atha. "Baik, non." "Siapa Bi?" Naufal. Cowok itu langsung membukakan pagar dan menyunggingkan senyuman terbaiknya. "Silahkan masuk," ucapnya terdengar riang. Alee memandangnya sekilas. Naufal terlihat charming dan ganteng dimata Alee. Ruangan tamu bernuansa minimalis menyapa mereka. Atha tersenyum kecil. Dia pikir ini pasti kerjaan Naufal yang membiarkan semua detail, ornamen hingga perabotan, masih sama seperti 18 tahun yang lalu. Setelah mereka duduk, Teungku Rasyid muncul dengan senyum sumringahnya. "Selamat datang, cucuku, Alee..." ** tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD