Alee memaku di tempatnya demi mendengar sapaan dari yang disebut 'kakek' yang di memorinya begitu asing. Lelaki tua itu tersenyum sambil duduk mendekat. "Matanya Norman... Kamu persis papamu," ucapnya sambil meluk Alee. Alee terdiam, kaku. Nggak tahu mesti apa. Mungkin karena kurangnya interaksi di antara mereka. "Kabarmu baik?" Rasyid mengalihkan atensinya pada Atha selepas memeluk Alee. Sedang gadis itu diam-diam menatap omnya yang duduk berseberangan dengannya. "Baik Pa." Atha mengangguk. Rasyid mengangguk-angguk,"Papa mulai menua. Perusahaan tak ada yang pegang. Naufal malah pengen jadi guru. Andai Norman..--" "Pa, biarkan Mas Norman tenang," sela Atha cepat "Ya. Setelah uwakmu meninggal, Papa bolak-balik Pekan Baru-Bandung. Bujuklah adikmu itu untuk segera menikah. Membu

