17-14

1204 Words

Alee memandang tiap penjuru dengan takjub. Ruangan itu cukup besar untuk ukuran sebuah studio. "Di ruang ini kalian bisa mengevaluasi hasil latihan atau apa kek. Nah, kalo di sini, barulah... Ta-raa!" Naufal membuka pintu dan kedua mata Alee melotot sempurna dengan mulut ternganga. Sadar akan rasa kaget, Alee ngebekap mulutnya sendiri. "I-ini... It's amazing, Om! Ini beneran buat aku?" Alee masuk dan mengitari drum yang bertengger di sana, alat musik favoritnya. Lalu mengusap gitar listrik yang terpajang juga di sana. "Bukan mimpi kan?" racaunya sembari menoleh. "Bukanlah, nih coba." Naufal nyubit pipi Alee. "Aww!" "Gimana?" matanya mengerling jenaka. Alee ketawa, iya, dia nggak mimpi. Ini nyata! Alat musik itu nyata! "Makasih..." "Kembali kasih, sayang." "Eh?" Alee mengerja

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD