“Ada hubungan apa di antara kalian berdua?” David bertanya sambil memicingkan matanya. Dia ingat betul dirinya melihat ketertarikan di mata Jayden ketika melihat Kiandra.
Walaupun sebenarnya David tahu apa rahasia yang Kiandra dan Jayden simpan. Tapi, dia tidak yakin kalau Kiandra mengetahui hal ini, karena David tidak tahu kalau Jayden telah memberitahu tahu Kiandra mengenai dirinya.
Ya, sebelum Kiandra tahu kalau Jayden adalah pria yang telah membakar rumah orang tua angkatnya dan menyebabkan luka di pinggang sebelah kirinya, David telah tahu lebih dulu.
David sendiri pun tahu kalau selama ini Jayden telah mencari gadis kecil yang telah menjadi korban dari kebrutalannya ketika itu.
Hanya saja, David adalah pemilik Kiandra sekarang, dan dia tidak akan menyerahkan wanita ini pada siapapun, terutama pada Jayden. Apapun alasannya.
Karena David ingin membuat Jayden menderita, seperti apa yang telah Jayden lakukan padanya. Pria itu berhutang banyak hal pada dirinya.
Terutama ketika Jayden mengambil Mila dari sisi David… kali ini, David lah yang akan mengambil sesuatu yang berharga bagi Jayden.
“Aku tidak tahu apa yang kau maksudkan…” suara Kiandra terlalu bergetar untuk dapat meyakinkan pria yang menuntut jawaban dihadapannya ini.
Apakah David mengetahui sesuatu?
“Jangan berbohong padaku Kiandra,” David berkata dengan nada sinis, dia meletakkan jarinya di bawah dagu Kiandra sehingga wanita itu dapat menatap langsung ke matanya. Mata yang menyimpan kebencian yang dalam. “Katakan dengan jujur. Apa yang terjadi antara dirimu dan Jayden.”
Kiandra benar- benar tidak bisa berkutik di bawah tatapan intense milik David dan dia seolah merasakan udara di sekitarnya menjadi berat.
“Tidak terjadi apa- apa di antara kami berdua,” Kiandra berkata dengan suara gemetar. Dia tidak menyukai David ketika sisi gelapnya mempengaruhinya seperti ini…
Di hari- hari biasanya, ketika dia bertindak normal, David bisa menjadi sosok pria yang humoris dan menyenangkan, tapi di saat yang lain, ketika sisi gelapnya menghantuinya, David bisa menjadi pria asing yang sama sekali jauh dari kata ‘menyenangkan’.
Dan setiap kali itu terjadi, Kiandra akan berakhir tersakiti dan kebenciannya pada David akan muncul, menggantikan perasaannya yang tulus pada pria ini.
“Apa kau berpikir aku akan mempercayai itu?” Jari David yang menjepit dagu Kiandra semakin terasa menyakitkan dan Kiandra harus mengatupkan bibirnya agar tidak mengeluarkan suara protes yang dapat membuat pria ini semakin gusar.
“Aku tidak pernah bertemu dengannya selama lima hari ini…” Mila mengerang, lehernya terasa kaku, karena David memaksa dirinya untuk menengadah menatapnya.
Untuk sesaat, David tidak mengatakan apapun, tapi kemudian suaranya terdengar lebih menakutkan. “Kau tahu apa yang Jayden katakan padaku?”
Ketika mendengar itulah, jantung Kiandra seperti melompat dari rongga dadanya bersamaan dengan rasa takut yang merayapi permukaan kulitnya.
Apa?
Apa yang David katakan?
Apakah dia memberitahu David mengenai kejadian sepuluh tahun lalu?
Kiandra tidak bisa membayangkan hal buruk lainnya. Tapi, David seolah mengulur waktu, menatap Kiandra dengan sorot matanya yang tidak bersahabat dan menikmati setiap detik ketakutan yang dia ciptakan dalam diri wanita di hadapannya.
Isterinya.
Wanita yang dia telah nikahi kurang dari tiga bulan lalu karena beberapa alasan yang menurutnya dapat menguntungkan dirinya.
Hell.
Alasan sebenarnya kenapa David menikahi Kiandra adalah karena dirinya tahu wanita ini lah yang selama ini Jayden cari dan David hanya ingin mengambil apa yang Jayden inginkan.
Apapun itu.
Semua itu terasa benar kalau David mengingat apa yang telah Jayden lakukan pada hubungannya dan Flora.
“Kau masih tidak ingin mengakuinya?” Suara David semakin dalam dan menuntut jawaban Kiandra saat itu juga.
Tatapan mata David yang begitu menusuk seolah dapat melihat ke dalam pikiran Kiandra membuat gadis itu buka suara.
“Dia mengatakan mengenai sesuatu… sepuluh tahun yang lalu…” Kiandra berkata dengan suara pelan. Dia tidak tahu kenapa hal ini membuat David marah, tapi ini bukanlah waktu yang tepat untuk bertanya.
David memicingkan matanya, memaksa Kiandra untuk melanjutkan penjelasannya itu.
Sementara itu, tubuh Kiandra kembali gemetar. Dia tidak ingin berada dalam kemarahan David yang begitu menakutkan, maka dari itu, Kiandra mengatakan semuanya dengan jujur, dengan suara yang terbata- bata.
Mengenai kejadian sepuluh tahun lalu, mengenai pria yang menyelamatkannya dari kebakaran rumah tersebut. Tapi, Jayden juga adalah pria yang sama, yang telah menyulut api dan membakar habis bangunan yang telah Kiandra tinggali selama satu tahun bersama kedua orang tua angkatnya.
Dan bagaimana Kiandra tidak ingin berada di dekat Jayden karena pria itu telah membuat hidupnya jauh lebih buruk dan membuat dirinya harus berakhir di tangan Miller.
“…sungguh, aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Jayden.” Kiandra menatap David dengan ragu- ragu. Ini juga alasan kenapa Kiandra tidak ingin keluar dari kamar ini, karena dia tidak ingin menemui Jayden.
Pria itu gila saat memintanya untuk lepas dari David dan berada di sisinya.
Tapi, untuk kalimat itu, Kiandra tidak mengatakannya pada David, karena dia tahu apa yang akan terjadi setelahnya, dan Kiandra tidak sanggup untuk menghadapi konsekuensi dari kecemburuan pria ini.
David memang bukanlah pasangan yang setia. Kiandra tahu itu sejak dari awal dia memutuskan untuk menikahi pria ini untuk menghindari Miller. Walaupun, perlakuan David tidak bisa dikatakan menyenangkan, tapi setidaknya Kiandra jauh lebih baik bersamanya ketimbang bersama Miller.
Bahkan mendengar namanya saja, dapat membuat Kiandra ketakutan. Trauma yang ditinggalkan pria itu cukup dalam. Dan Kiandra tidak sanggup untuk mengingat setiap hal buruk yang telah dia lakukan.
Sementara itu, setelah mendengar penjelasan Kiandra, David tidak langsung menanggapi, tapi jarinya yang kasar di dagu Kiandra mengendur dan dia akhirnya melepaskan gadis itu.
Kiandra dapat merasakan otot lehernya yang menegang kembali rileks. Matanya tidak berani menatap David yang masih terlihat marah, maka dari itu, dia memfokuskan pada selimut yang berada di pangkuannya.
“Kiandra, kau harus ingat.” Suara David hampir sama seperti sebuah Es yang, begitu dingin dan tidak memiliki kehangatan sama sekali. “Kau adalah milikku. Sejak saat aku menyelamatkanmu dari Miller, kau adalah milikku.”
Ya, itu adalah kalimat yang selalu David katakan pada Kiandra.
“Jawab aku.”
Kiandra mengangguk pelan sebagai jawaban. Barulah setelahnya dia dapat mendengar suara David yang menarik nafas dalam, mengindikasikan kalau akhirnya pria itu bersedia untuk mengontrol emosinya yang tidak terkendali.
“Bagus,” gumam David.
Namun, kemudian dirinya mendorong Kiandra hingga tubuhnya terjatuh dengan lembut di atas kasur, dan Kiandra tidak perlu berpikir keras untuk mengetahui apa yang akan terjadi setelahnya.
“Kau adalah milikku sampai aku mengatakan sebaliknya, yang mana tidak akan pernah terjadi.”