Kiandra terbangun dengan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya. Dia bahkan tidak mengerti bagaimana bisa dirinya merasakan rasa sakit seperti. Kejadian semalam terlupakan begitu saja.
Tapi, hal tersebut tidak berlangsung lama, karena begitu Kiandra mengalihkan perhatiannya pada suara mendengkur halus dari samping tubuhnya, dia dapat melihat wajah David yang begitu dekat dengannya, dengan tangannya yang kekar dan dihiasi tato melingkar di sekitar tubuh Kiandra.
Dan bersamaan dengan wajah David yang terlihat olehnya, pada saat itu jugalah semua ingatan mengenai apa yang terjadi semalam kembali menikamnya dengan tajam.
David melakukannya lagi padanya, dan semalam dengan diselimuti perasaan penuh amarah dan rasa kesal, bisa dibayangkan bagaimana Kiandra menerima semua itu dan rasa sakit ini mengukuhkan seberapa kasarnya kejadian semalam.
Kiandra bahkan tidak lagi dapat mengingat setelah waktu berlalu yang terasa begitu lama dan David melakukannya berkali- kali, dia bahkan tidak dapat mengingat bagaimana semua itu berakhir.
Dan mengetahui hal itu, membuat Kiandra tidak dapat menahan dirinya lebih lama lagi. Tubuhnya terasa remuk, begitu pula hatinya dan hal ini membuat perasaannya sangat tidak nyaman, sebuah isakan menyeruak di kerongkongannya, membuatnya mual.
Kiandra lalu menyingkirkan tangan David yang masih melingkar dengan possessive di sekeliling pinggangnya yang ramping dan segera turun dari ranjang.
Kiandra bahkan tidak repot- repot untuk menutupi ketelanjangannya dan segera berlalu ke arah bathroom tanpa mengenakan apapun.
Namun, begitu kakinya menyentuh lantai yang dingin, tubuhnya terjatuh, kehilangan keseimbangan, seolah kakinya tidak lagi mampu untuk menopang tubuhnya dan hatinya yang berat.
Dengan bertumpu pada sisi ranjang, Kiandra mencoba untuk mengangkat tubuhnya, memaksakan dirinya untuk mencapai Bathroom yang berjarak sekitar sepuluh langkah dari tempatnya bersimpung, sebelum rasa pahit di kerongkongannya dapat dia lepaskan.
Kiandra tidak mau mencari masalah dengan mengotori tempat ini dan membuat David lebih marah lagi.
Maka dari itu, dengan mengerahkan sisa- sisa tenaga yang dirinya miliki dan mengabaikan rasa sakit yang menusuk- nusuk seperti kawat berduri di sekujur tubuhnya, Kiandra bangkit berdiri, lalu berjalan dengan limbung ke arah bathroom.
Hanya ketika dia sampai di toilet lah dirinya dapat mengenyahkan rasa mual yang dia rasakan.
Dadanya terasa panas dan lidahnya terasa kebas dengan rasa pahit yang dia rasakan di puncak tenggorokkannya, yang seperti terbakar.
Nafas Kiandra menderu setelah menghabiskan waktu lebih dari lima menit untuk mengeluarkan semua yang telah dia makan dan belum tercerna dengan baik. Air mata yang jatuh di pipinya sudah tidak terasa lagi ketika itu bercampur dengan keringat yang membercak di sekitar wajah dan lehernya.
Tubuhnya gemetar, begitupun jarinya ketika dia menekan tombol flush and berjalan tertatih- tatih menuju wastafe untuk membersihkan mulutnya.
Untuk sesaat, Kiandra tidak berani untuk melihat bayangan dirinya di kaca, di hadapannya, tapi setelah dia menepuk- nepukkan air ke wajahnya dan menghilangkan keringat di pelipisnya, rasa penasaran membuat Kiandra akhirnya mendongakkan kepalanya sedikit, ingin melihat seperti apa penampilannya saat ini.
Dan apa yang menatapnya kembali dari balik cermin adalah sosok wanita dengan bibir bergetar dan wajah yang pucat, tapi yang paling membuat Kiandra tidak bisa melepaskan tatapannya dari cermin tersebut adalah sorot matanya.
Kiandra menatap sorot matanya yang kosong, seperti seseorang yang telah kehilangan semua harapan.
Sama seperti orang yang telah kehilangan segalanya dan kalah pada kehidupan. Mungkin, hidup bersama David tidak seberuntung yang dirinya pikirkan, walaupun hidup bersama Miller sudah bisa dikatakan seperti hidup di neraka, tapi akhir- akhir ini David membuat segalanya kembali lagi…
Butuh waktu beberapa saat lamanya bagi Kiandra agar dirinya bisa terlihat lebih seperti ‘manusia’ dan berhenti gemetar.
Namun, pada saat Kiandra keluar dari bathroom, dia mendapati David masih tertidur dengan lelap. Hanya pada saat seperti inilah, Kiandra dapat mengingat kebaikan- kebaikan yang pernah David tunjukkan padanya.
Dan hal paling utama yang telah pria ini lakukan untuknya adalah; membebaskan dirinya dari belenggu Miller.
Hanya saja, rasa sakit di butuh Kiandra kembali mengingatkan wanita muda itu, kembali mempertanyakan, apakah ini adalah sebuah keberuntungan baginya? Atau ini hanyalah malapetaka lain yang menunggunya?
Kiandra tidak mau memikirkan hal tersebut dan memilih untuk mengenakan pakaiannya dan keluar dari kamar.
Dari jendela yang tirainya terbuka, dia dapat melihat kalau matahari bahkan masih belum terbit, rasanya akan aman kalau dirinya berjalan- jalan sebentar, menikmati udara pagi yang segar.
Ini pasti terlalu pagi bagi kebanyakan orang untuk mendapatkan sarapan mereka dan Kiandra bisa mendesah dengan tenang karena tidak perlu bertemu dengan kolega- kolega bisnis David ataupun Jayden yang sama sekali tidak dia kenali.
Obrolan basa- basi dengan orang- orang seperti tidak pernah membuatnya tenang.
Maka dari itu, setelah mengenakan sweater cokelatnya dan celana jean biru tua, Kiandra melangkah ke luar kamar, memastikan kalau dia tidak menimbulkan suara berisik yang dapat membangunkan David dan setelah itu pergi menjauh darinya menuju dining hall.
Di jam seperti ini, hanya ada pelayan yang berlalu lalang di koridor dan berpakaian sangat rapih, siap memulai hari mereka lebih dulu.
Kiandra tersenyum simpul ketika beberapa pelayan menganggukkan kepalanya dengan sopan padanya, tapi selebihnya, dia hanya berjalan dalam diam, sampai langkahnya terhenti ketika matanya mendapati sosok yang selama ini dia hindari.
Jayden.
Pria itu tengah menyandarkan punggungnya ke selasar besi dibelakangnya, menatap langit yang masih gelap dan angin laut memainkan rambutnya.
Namun, seolah menyadari kehadiran Kiandra, fokusnya teralih dan dia menelengkan kepalanya, hanya untuk mendapati Kiandra telah berbalik, berusaha untuk pergi.
“Sampai kapan kau akan menghindariku?” tanya suara itu dengan nada berat, bersamaan dengan pertanyaan yang terlempar di udara, Kiandra mendengar langkah Jayden yang mendekat.
“Aku tidak ada urusan apapun lagi denganmu,” tukas Kiandra dengan suara yang dirinya asumsikan sebagai nada yang kasar, tapi sepertinya Jayden tidak menangkapnya seperti itu.
Terbukti ketika dia berhasil mensejajari langkah Kiandra dan menarik tangannya, memaksa wanita muda tersebut untuk berhenti berjalan.
“Aku sudah mengatakan pada David kalau aku menginginkanmu,” Jayden berkata langsung ke inti permasalahan yang ingin dia katakan pada Kiandra.
“Apa?” Kiandra setengah memekik, matanya menyipit dengan tajam. “Aku adalah isterinya.” Kata- kata itu terdengar seperti desisan dari mulut Kiandra.
Namun, mendengar pembenaran itu, Jayden justru tertawa pelan. “Berhenti mengatakan hal itu saat kau tahu bagaimana David memandangmu sebenarnya. Pernikahan kalian bukanlah hal yang seharusnya terjadi dan David hanya menuruti egonya.”
Kiandra dapat merasakan wajahnya memanas dan jantungya berdegup cepat ketika dia menyadari kalau apa yang Jayden katakan adalah benar.