Ethan tidak tahu kenapa tapi jantungnya terasa berdegup kencang ketika terpaksa membawa gadis yang berwajah mirip dengan Kattnes ini ke penthouse-nya.
Dengan cepat Ethan menurunkan wanita asing ini dari mobil di depan lobby apartemen sambil menggendongnya ala bridal style.
Ethan tak memungkiri bahwa seluruh baju wanita ini basah sekali dan membuat baju Ethan yang mendekapnya ikut basah.
"Ethan, ada apa? Mungkin aku bisa membantu." Seorang lelaki yang berpakaian pelayan yang berada di lobby apartemen langsung menghampiri Ethan dan mengikuti langkah Ethan ke lift. "Biar aku bantu."
"Thanks, Rey." Gumam Ethan sambil memasuki lift bersama dengan Rey—pelayan yang sudah Ethan kenal dengan baik.
"Siapa wanita itu? Kekasihmu?" Rey bertanya bingung sambil menatap Ethan penuh tanya.
Ethan hanya bergeming, berkali-kali menatap wajah wanita dalam dekapannya ini.
Wajah wanita ini begitu pucat dan bibirnya membiru. Kulitnya begitu terasa dingin sampai Ethan bisa merasakan dinginnya menembus sweater tebal yang dipakai Ethan.
"Sepertinya wanita ini terlalu lama di luar ruangan, Ethan. Hipotermia, mungkin?" Rey kembali berbicara ketika pintu lift terbuka dan langsung memasuki Penthouse Ethan.
"Terimakasih atas bantuanmu, Rey." Ethan berucap singkat, lalu langsung membuka pintu utama Penthouse dengan sidik jarinya.
Ethan panik, tapi dia berusaha untuk tetap tenang.
Rey benar. Wanita ini sepertinya mengalami hipotermia ringan karena terlalu lama di luar ruangan di musim dingin ini.
Berkali-kali Ethan berpikir, terlalu gila wanita ini untuk menunggu Ethan begitu lama di taman dan Ethan kali ini merasa bersalah? Oh benarkah ini? Untuk apa dia merasa bersalah untuk wanita asing yang malah merepotkannya hari ini?
Dan sekarang Ethan meletakkan wanita yang berwajah mirip Kattnes ini di kasur utama Ethan, lalu Ethan menyalakan pemanas ruangan menjadi lebih hangat dan perlahan mendekati wanita asing ini.
"Siapapun kau, dan entah apa tujuanmu, tapi maafkan aku saat ini." Ethan kemudian langsung melepas satu persatu kain yang melekat pada tubuh wanita itu.
Seluruh pakaian wanita ini basah karena salju dan Ethan berkali-kali menggumamkan maaf.
Jelas Ethan tak bermaksud dan tak tergoda melihat tubuh polos wanita ini yang selalu mengingatkannya pada Kattnes, tetapi tak memungkiri jika tangannya bergetar ketika tidak sengaja menyentuh kulit dingin ini.
Kemudian Ethan langsung menyelimuti wanita ini dengan selimut tebal tiga lapis, lalu Ethan perlahan-lahan menyeka wajah wanita ini dengan kain hangat-hangat kuku serta mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kering.
Dengan cepat Ethan menutupi bagian kepala wanita ini dengan handuk kering dan mengompres dahi wanita ini dengan kain hangat.
Ethan terdiam sebentar, menghela napas lelah sambil bersimpuh di samping wanita yang masih tak sadarkan diri.
Diam-diam Ethan tertawa kecil, "kenapa aku harus sepanik ini mengurusi wanita asing yang pingsan di hadapanku?"
Kemudian tangan Ethan terulur perlahan menggenggam wanita yang pingsan ini. Tangan wanita ini dingin, tapi perlahan menghangat ketika bertemu dengan telapak tangan Ethan.
"Kenapa bisa seperti ini? Dia mirip sepertimu, Kattnes."
• • •
Begitu mata Ethan terbuka, dirinya cukup tertegun ketika menatap mata Kattnes yang sudah menatapnya dengan hangat.
Ethan hanya terdiam, merasakan kulitnya menempel dengan kulit Kattnes pada saat mereka tertidur dalam posisi berpelukan.
Dalam sepersekian detik, Ethan merasakan hawa hangat menyentuh pipinya ketika telapak tangan Kattnes mengelus lembut pipinya.
"Good morning, Ethan."
Ethan terdiam, suaranya tercekat ketika mendengar suara Kattnes yang terasa begitu merdu dan terasa nyata.
Tunggu, Ethan melebarkan matanya dengan cepat seiring dengan ingatannya yang langsung menyatakan bahwa Kattnes-nya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.
Bruk!!!
“Aw!!! Ethan!"
Ethan tidak perduli dengan pekikan wanita yang terjatuh dari sofa ketika Ethan mendorongnya dengan cepat.
Pekikan wanita yang semalam pingsan dan tidur di kasur, lalu bagaimana wanita ini bisa tiba-tiba menyusul Ethan tidur di sofa dalam kamarnya.
Dan Ethan menatap horor wanita yang sedang mengaduh di lantainya ketika menyadari bahwa kini Ethan tidak memakai pakaian atasan dan hanya menyisakan celana bahan pendek.
Tapi tadi malam yang Ethan ingat adalah ia tertidur di sofa dengan celana panjang serta kemeja tipisnya yang berwarna hitam. Dan saat ini kemeja itu entah sudah ada dimana. Hilang begitu saja.
"Kau!" Ethan menunjuk wanita yang terduduk di hadapannya. "Apa yang kau lakukan padaku?!"
"Aku?" Wanita berwajah mirip Kattnes itu terlihat bodoh ketika menunjuk dirinya sendiri. "Tentu saja tidur dengan kau, suamiku."
"Apa?! Bicara apa kau ini? Tunggu! Kau... sudah sehat?" Ethan memelankan nada bicaranya ketika kembali menatap wanita dihadapannya dengan tubuh polos yang hanya terbalut selimut tebal yang membuatnya mirip seperti sosis sapi.
"Memangnya tadi malam aku kenapa?" Wanita itu makin terlihat bodoh ketika menatap Ethan sambil memiringkan kepalanya.
Ethan meremas kepalanya frustasi. "Kau yang kemarin seharian menghubungiku dan dengan bodohnya kau menungguku di taman pada saat hujan salju sedang lebat. Lalu kau pingsan saat aku datang, kau hampir saja hipotermia bila aku terlambat menolongmu. Kau ingat sekarang?!"
"Ah... itu," Wanita itu terlihat berpikir lagi. Membuat Ethan nyaris menendang mukanya yang terlihat makin bodoh. "Ah—iya!iya! Aku ingat."
Wanita dihadapannya ini bertepuk tangan dengan heboh dan pada saat itu juga Ethan memekik keras ketika selimut wanita itu turun ke bawah dengan sendirinya dan membuat Ethan gelagapan karena dengan jelas dapat melihat d**a wanita asing ini yang mencuat di hadapannya.
"Sialan!" Ethan memalingkan wajahnya dengan cepat, menghalau pandangan agar tidak melihat aset pribadi wanita itu.
"Astaga, ada apa denganmu, Ethan sayang?" Wanita dihadapannya ini tertawa keras. "Kau juga sering melihatku tubuhku secara langsung tanpa sehelai benangpun. Aku kan istrimu."
"Stop!" Ethan berteriak keras, membuat wanita dihadapannya berhenti berbicara. "Kau, pergi dari sini. Aku tidak tahu kau siapa, tapi yang aku mengerti bahwa kau adalah wanita gila, i***t!"
Ethan berdiri dan meloncat dari sofa untuk menghindari wanita gila yang anehnya mirip dengan wajah mending istri tercinta-nya itu.
"Tapi, Ethan—“
"Berhenti memanggil namaku dan oh astaga, bisakah kau tutupi dadamu terlebih dahulu?!"
"Kenapa? Kau tidak tahan, kan?" Wanita itu menggoda-nya lagi.
Ethan menyipitkan matanya, merasa jijik dengan wanita di hadapannya karena bertingkah seperti w************n.
"Berhentilah menyebut-nyebut namaku seolah kau memang mengenalku!"
"Aku memang mengenalmu, Ethan!"
Ethan yang sedang melangkah menuju ke kamar mandi langsung menghentikan langkahnya. "Berhenti memanggil namaku."
"Kenapa? Aku kan istri-mu."
Begitu mendengar ucapan itu, refleks Ethan langsung membalikkan tubuhnya dan untungnya wanita gila itu sudah kembali menutupi d**a-nya. Masih sambil terduduk di lantai, wanita itu tersenyum manis menatap Ethan.
"I'm Claire, your future wife." Ucap wanita itu dengan semangat.
Ethan melebarkan matanya, menatap wanita dihadapannya dengan marah. "Setelah aku keluar dari kamar mandi, pergi dari hadapanku dan jangan pernah muncul kembali!"
Ethan kemudian berbalik lagi, benar-benar menuju ke kamar mandi. "Dan satu lagi, bila kau masih ada di kamar ini, maka aku tak segan-segan untuk menghubungi polisi untuk menangkap wanita gila sepertimu."
Ethan merasakan kepalanya pening pada pagi hari ini, bertemu dengan wanita gila yang mengaku sebagai istri masa depannya? Oh yang benar saja.
Tidak akan ada seseorang yang datang dari masa depan dan tidak akan ada istri masa depan.