Kristian tidak bodoh. Justru itu masalahnya. Ia tahu sesuatu berubah. Bukan cuma Sisil yang menghindar. Bukan cuma pesan yang makin singkat. Bukan cuma alasan sibuk yang terdengar dibuat-buat. Namun Lucas, Om-nya. Pria yang biasanya dingin, stabil dan nyaris tidak tersentuh emosi. Semalam, bibirnya bengkak. Tadi pagi, Lucas keluar kamar dengan mata panda. Jelas sekali, pria yang biasanya tidur setiap jam sebelas malam itu, tiba-tiba kurang tidur. Jelas, itu aneh. Kristian juga melihat tatapan itu. Tatapan seseorang yang baru saja mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Kristian mengepalkan rahangnya. “Om sengaja,” gumamnya pelan di dalam mobil menuju kantor. Lucas memang tidak mengatakan apa-apa, tapi justru itu. Pria matang itu seolah mengejeknya akan kemenangan yang dipamerkan tanpa pe

