Chapter 09 : Ahlak minus manusia dakjal
Alasan utama Hana masuk jurusan IPS karena dia enggak suka matematika, menurutnya pelajaran merepotkan itu enggak begitu berguna di kehidupan sehari-hari. Di bangkunya beberapa kali Hana merasa mengantuk karena harus memperhatikan guru matematikanya yang sedang mengajarkan bab terakhir. Ah entah bab apa ini, gaje banget.
Berbanding terbalik dengan Hana, Joel menyukai matematika dibanding pelajaran lainnya. Menurut Joel pelajaran matematika memiliki tantangannya sendiri, membuat gregretan dan hasilnya pasti. Sementara pelajaran sosial lainnya kurang gereget dan hasilnya enggak begitu pasti. Sejarah banyak pendapat yang beda, sosiologi merupakan ilmu buatan manusia, paling yang hasilnya cukup pasti cuman geografi dan ekonomi.
Joel terlihat enggak mengantuk, berbeda dengan Hana yang sedari tadi hampir saja tertidur kemakan bosan. Air minumnya sudah habis karena dia enggak mau ngantuk keterusan. Tapi efeknya sekarang Hana jadi kebelet.
Ini seharusnya udah jam istirahat, tapi Pa Urman dengan nyebelinnya memotong waktu istirahat demi menyelesaikan materi, terus 1 jam pelajarannya dipake buat istirahat.
Tapi jujur saja Hana enggak tahan, ingin pipiss! Lagian dari tadi Hana cuman memindahkan apa yang di tulis pa Urman, dia enggak memperhatikan benar-benar karena dia sudah merekam suara Pa Urman, Hana rasa itu juga cukup untuk mengerti dan agar bisa didengarkan berulang-ulang.
Hana kemudian berdiri. Joel menatapnga bingung. "Mau kemana?"
Hana menjawab, "Toilet." Lalu pergu meminta izin ke Pa Urman, setelah mendapatkannya Hana lalu pergi ke toilet. Yah bentar lagi juga masuk, bablas ke kantin sebentar mah ga apa-apa kali?
"Ikann, Ilang!" Hana melambaikan tangannya kepada kedua sahabatnya yang sudah beristirahat duluan dan sedang mengobrol di dekat kelas Imma. Seperti biasa Ical selalu mambawa gitar dan sepertinya mereka habis latihan untuk test musik besok.
Imma menoleh, walaupun wajahnya judes, dia masih tersenyum ketika melihat Hana. Dan Ical memasang wajah masamnya.
Hana menatap Ical polos. "Kenapa lo? Pms?" Ical enggak menjawab. Dia malah berdiri dan pergi gitu aja.
"Im gue ke kelas dulu, gurunya cepet," kata Ical tanpa melirik Hana sama sekali. Wajah Hana datar seperti biasa, walaupun nyesek banget panggilannya ga ditanggapin sama Ical. Ini orang beneran marah sama Hana?
"Im, dia beneran?" Hana duduk lemas di samping Imma.
Imma menghela napasnya. "Gue udah nelpon dia kemarin, pas gue nanya dia malah ngalihin pembicaraan," dia menepuk pundak Hana. "gue kira beneran."
"Gue salah apa?" tanya Hana bingung. "kenapa sih itu anak ga bisa ngertiin posisi gue Im? Dia egois amat. Si Jojo tuh titipan Ibu, ga mungkin gue jauhin Jojo sementara Ibu gue nyuruh gue buat temenan dan ngejagain Jojo."
Imma menggelengkan kepalanya, enggak tau dia juga kenapa Ical ngedadak kaya bocah gitu. Namun tiba-tiba bel berbunyi. Ah sialan banget, Hana masih pengen ngobrol sama Imma atuh lah. "Gue padahal udah nelpon Ibu lo, udah nanya tentang si Joe—"
Hana memotongnya. "Jojo please." Hana enggak mau kedengeran sama satu sekolah kalo dia ngomongin Joel, jadi pas ngomongin Joel diganti jadi Jojo—panggilan terkhusus dari Hana buat Joel.
Imma mengangguk, lalu melanjutkan. "Oke, si Jojo. Gue udah ngerekamin itu dan ngasihin itu ke Ical, tapi tu anak kaya ga percaya."
"Lu dapet alesan ga kenapa dia gitu?" tanya Hana.
"Kalau itu dia cuman bilang takut lo kenapa-kenapa."
Hana menatap Imma enggak percaya. Takut dia kenapa-kenapa ceunah? Heloww. "Gue bukan bocah," kata Hana sedikit kesel. "dan gue ga akan kenapa-kenapa."
Imma mengangkat bahunya. "Ya ga tau. A-aw, siapa lagi in—" pengennya sih Imma ngebentak orang yang tiba-tiba menjewernya. Tapi enggak jadi karena ternyata yang ngejewernya itu Pak Deni.
"Masuk Imma, jangan ngerumpi mulu!" katanya. Wanjing ketauan Imma abis ngerumpi.
"Siap pak!"
Serelah Imma dipaksa masuk oleh guru berjidat terang itu, terpaksa Hana pergi dari depan kelas Imma. Tadinya mau balik ke kelas namun rasa kebeletnya kambuh lagi, sehingga Hana terpaksa mampir ke toilet dulu sebelum balik ke kelasnya.
Toilet cewek ga jauh dari kelas 10 IPA 7, kalo toilet cowok agak lebih jauh. Untungnya toilet enggak begitu ramai, jadi Hana enggak begitu lama mengantri saat disana.
"Tau ga sih di Ips 2 ada murid baru dari Korea lohh. Gile, ganteng benerr!" Hana bisa menebak orang-orang yang ada diluar toilet yang didekat cermin itu sedang membicarakan Joel.
Ah bosen, Joel mulu, Mawang kek kali-kali.
"Iya emang. Tapi masih gantengan my Hwang Arthur dong."
"Jeny lu mah ga asik. Hwang Arthur mulu."
"Cinta pertama gue itu."
"Btw katanya sih ya, cowok Korea yang bernama Joel itu deket sama Hana."
Anjir! Hana menelan ludahnya. Mampus! Kenapa namanya dibawa-bawa?
"Hah? Hana lagi? Omg! Dia ga bosen-bosennya jadi jable."
"Si Jihan aja sampe gagal jadian sama Joel gara-gara Hana."
"Wah parah. l***e amat."
"Ical gimana?"
"Udah Arthur, Benben, Ical, sekarang anak baru?"
"Gila gais."
"Parah emang."
Hana sebenarnya enggak pernah masalah dengan cacian-cacian cewek s***p itu. Toh Hana merasa dirinya bukan jable ataupun l***e, jadi yah cacian itu enggak dianggap olehnya. Cuman masalahnya, pasti cewek-cewek di deket cermin itu ngehalangin pintu. Dan Hana ga mau berurusan langsung, apalagi ngedenger dari suaranya aja sepertinya ada sekitar 5 orangan.
Tapi, euh, perutnya lapar.
Jadi yah mau ga mau Hana keluar dari tempat persembunyiannya. Berlagak ga kenal sama orang yang ngomonginnya.
Hanya saja. "Mau kemana lo?"
Padahal udah didepan pintu keluar dan ada Jeny yang menghalangi langkah Hana. "Mau kabur? Lo pikir kita ga tau kalau lo ada disini hah?"
"Em ga juga sih," jawab Hana. "gue tau kalian sadar, cuman yah sekarang kan udah masuk daripada kalah adu bacot sama gue mendingan balik ke kelas kalian tuh."
Putri melotot. "Lu berani nyeramahin kita?"
Hana memutar matanya. "Kita seangkatan b**o, ga seangkatan juga gua mah berani. Udah-udah minggir kalian."
Namun sepertinya Dewi Fortuna sedang enggak berpihak kepada Hana pemirsa sehingga tau-tau dari belakang Lalice menjambak rambut pendek Hana. "Jangan rese lu sama kita, miskin!"
Tapi itu cuman memberi efek kejut. Dah biasa dijambak Hanif kalo ngeganguin dia maen dota.
"Hajar aja Jen," Putri, Yuki dan Lucy ikutan memanasi suasana. "dia udah pernah ngambil Arthur lo Jen!"
"Benben gue juga!"
"Ical juga."
"Sekarang Joel, kan ga kurang jalang apa lagi dia?"
Jeny yang dipanasi begitu sekarang memelototi Hana. Tangannya terangkat menunjuk pangkal hidung Hana. "Heh jalang, gue perintahin elu buat tobat! Jangan ganjen sama cowok!"
Putri menambahkan, "Jangan ganjen sama Joel!"
"Yah pokoknya ke semua cowok jangan ganjen. Dimana harga diri elu sebagai cewek ha?!" bentak Yuki.
Setelah Hana berdiri tegak, dia menatap mereka dengan tatapan datar yang menyebalkan. "Iya, saya Hana Ayanna Zein ga janji buat enggak ganjen, karena yah cowoknya yang ganjen ke saya." sekata-kata sih, tapi emang kenyataannya gitu. Cowoknya yang nyamperin, bukan sebaliknya. Hana ogah banget ganjen ke semua cowok yang cewek-cewek itu sebut.
"Mimpi kali lo!" kata Lucy geram.
"Udah gengs hajar aja!" Putri memprovokasi.
Lalice dan Lucy enggak tanggung-tanggung lagi, keduanya kembali menjambak Hana. Putri menahan tangan Hana supaya ga berontak. Sekementara itu Jeny, Putri dan Yuki mengambil parfum ghaib mereka yang Hana sendiri bingung, SEJAK KAPAN MEREKA BAWA PARFUM ANYING?! AH GAWAT. HANA GA SUKA PARFUM!
Sepertinya mereka hatam kelemahan Hana.
Jeny mulai menyiramkan isi Parfumnya diatas kepala Hana. "Ini buat lo yang ganjen sama Kak Arthur."
'KAPAN AING GANJEN SAMA ARTHUR GUSTIII?' batin Hana berteriak nista.
Putri mengikuti jejaknya. "Ini buat lo yang ganjen ke Ical dan Joel!"
'MEREKA YANG GANJEN SAMA AING!'
Terakhir Yuki menyiramkan isi dari 3 botol parfum sekaligus, bukan diatas kepala melainkan di depan wajah Hana. Jahara emang. "Dan ini buat LO selaku jable yang sukanya jadi PELAKOR ALIAS PEREBUT LAKI ORANG!"
'NIKAH AJA BELUM k*****t! MASA UDAH DIKATAIN PELAKOR!' lagi-lai Hana cuman bisa ngebatin, enggak kuat teriak, idungnya sakit.
Melihat Hana yang wajahnya udah memerah karena Parfum kelima cewek itu tertawa keras. "Kan biar syantik jadi pake parfum 5 botol, hahahah!" kata Lalice.
Lucy menambahkan. "Yah biar lo makin di illfeelin sama cowok, juga sih. Eh siram dia coba gais!"
"Ide bagus tuh!" Jeny menyetujui.
"Siram-siram!"
Putri mengambil segayung air dari toilet, bersiap menyiramnya ke Hana tapi ada sebuah suaran yang menghentikannya. "Woah, keren, lanjutin dong ngebullynya, biar ga tanggung nih. Dilaporinnya langsung ke Indung aing."
Mereka menoleh ke arah tangga. Disana ada Ical yang sudah memegang ponselnya. Memang toilet yang Hana kunjungi ada di bawah tangga. Hana bersyukur orang yang membullynya itu bukan psikopat yang merencanakan secara matang, yang ngebullynya cuman orang b**o yang mudah kepancing emosi.
Kalo yang ngebullynya psikopat ya mampus Hana, dah mati dia sebelum cerita ini kelar.
"Kalian tuh kan udah gede ya, udah belajar PKN juga, tau kan pembullyan itu ada dipasal berapa?" kata Ical lagi. Lelaki itu mengibaskan tangannya seraya berkata. "gue sih ga mau repot-repot ngebully balik kalian ya, ngapain juga kan? Nambah dosa yang ada. Gue mah sebagai sesama manusia cuman mau mengingatkan bully itu ga baik, lu udah mah penuh dosa terus ngebully, auto masuk neraka jalur undangan tau!”
Telinga Jeny dan kawan-kawan yang mendengar ceramahan Ical mendadak panas, mau lanjut ngebully Hana tapi pawangnya keburu datang. Akhirnya dengan wajah kesal berlapis-lapis seperti tanggo mereka keluar dari toilet.
"Anggap aja kali ini lu selamat, Hana," kata Jeny setengah berbisik, sebelum pergi meninggalkan Hana yang udah duduk di lantai itu.
Setelah mereka semua pergi Ical baru menolong Hana, ia membawa jaket dan celana olahraga miliknya. "Ayo ganti baju dulu, kalo bisa lo mandi aja. Badan elo terlalu wangi," kata Ical.
"Ga usah, gue mau pulang aja," tolak Hana kesal karena moodnya yang absurd. Ya kali dia mandi disini anjir. Suka ada-ada aja ini si Ical.
"Abis ini lo kan pelajaran Bahasa Indonesia, mau dimarahin Bu Sifa?" tanya Ical. Bisa-bisanya Ical hafal jawalnya Hana. "presentasi kan? Ntar presentas—"
Karena enggak mau ngedenger Ical ceramah, Hana akhirnya mengambil celana olahraga dan jaket dari Ical. "Keluar sana, gue mau ganti baju. Jangan ngintip! Kalo ngintip auto bisul lo!"
Ical berbalik natap Hana. "Iya, gue tunggu di luar."
"Balik aja ke kelas, gue bisa sendiri." Sumpah mood Hana sekarang enggak jelas banget gara-gara disiram parfum dan Ical. Hana bingung, sebenernya Ical ini kenapa sih? Tadi bilangnya Hana bukan sahabat dia, terus sekrang nolongin. GA JELAS!
"Ga mau." Ical menggelengkan kepalanya
"Katanya lo bukan sahabat gue lagi kan Cal? Kenapa ga balik ke kelas aja sih?"
"Ya lu bukan sahabat gue, tapi gue masih anggap lu adik gue Han, adik kesayangan gue berhubung di rumah gue jadi anak bungsu," jawab Ical dengan santainya. " makannya buruan gantinya."
"Iya sistah."
Hana masuk ke salah satu bilik yang ada di toiler cewek ini, sedangkan Ical berjaga di depan kamar toilet. Sebernya alesan Ical enggak mau pergi tuh karena dia enggak mau Hana ngalamin hal yang sama lagi. Biarin lah dia bolos bentar demi sahabatnya.
"Hana, kamu kenapa?" guru piket yang berjaga di dekat ruang guru bertanya ketika melihat Hana yang agak kacau. Rambutnya basah karena habis di guyur, memakai celana olahraga dan jaket milik Ical dan membawa baju basah.
"Biasa Bu, dibully dia," malah Ical yang menjawab. "jadi tolong bikinin surat ijin kalau Hana enggak pake seragam saat pelajaran ya Bu?" diakiri dengan kedipan manja khas Ical sang kerdus tingkat dewa.
Akhirnya guru Sosiologi yang kebetulan sering curhat dengan Hana ketika presentasi itu memberikan selembar surat ijin yang bisa Hana pegang jika ditanya kenapa pakaiannya begitu.
Walaupun sekokah swasta, SMA Yudhigraha itu ribet, disliplin banget! Kalo enggak ada surat ijin seperti ini Hana bisa saja kena poin-poin berhadiah dari kesiswaan botak bernama Pa Rukmana. Makannya untuk berjaga-jaga, mending bikin surat ijin aja.
Setelah mendapatkan surat Ijin Ical mengantarkan Hana ke kelas. Awalnya enggak ada pembicaraan karena keadaan canggung.
Tapi akhirnya Ical duluan bersuara. "Oke sorry buat kemarin, gue tau lu pasti bingung kenapa gue gitu, tapi gue pikir itu semua demi kebaikan lo. Nama lo udah terlanjur jelek di mata cewek Han, lu bisa aja dibully kaya tadi kalo masih deket sama Joel. Dan keliatannya cowok itu cuman bikin sial, b*****g, dia lebih ngerepotin dari si Hanif."
Hana berhenti berjalan dan menatap Ical. "Cal, gue tau lu khawatir sama gue tapi gimana ya, dia amanat Ibu gue, ga bisa dong gue nelantarin dia gitu aja," kata Hana menjelaskan. "lagipula ya menurut gue semua hal yang terjadi itu punya efek baik dan buruknya. Mungkin lu ngeliat Joel kaya lu mikir tawuran itu cuman bawa hasil yang buruk, padahal kan masih ada sisi baiknya juga yaitu meningkatkan solidaritas antar temen. Ya jadi gue harap elu enggak ngeliat Joel dari sisi buruknya aja."
Ical lalu bertanya. "Emang apa sisi baiknya? Bikin lu sial?"
Skatmat! Hana enggak tau mau ngejawab apaan lagi. Joel emang belum ada feedback baik buat kehidupan Hana sih. Jadinya Hana enggak bisa jawab. "Yah pokoknya pasti ada, yaudah gue ke kelas dulu."
Ical kembali merangkul Hana. "Ayo gue anter, kelas kita searah."
Hana mengangguk aja, pasrah dia mah. Udah di tolongin sama dipinjemin baju masa mau nolak juga. Untungnya kelas Hana enggak ada guru, jadi enggak akan di interogasi macem-macem.
"Makasih Cal," kata Hana dengan tulus. Gini-gini jug Ical masih peduli pada Hana jadi Hana harus berterimakasih kan?.
Ical mengangukan kepalanya sambil menepuk-nepuk kepala Hana, "Iya. Sok masuk." Hana lalu masuk kelas.
Seperti biasa, enggak ada yang mempedulikannya, karena anak laki-laki sedang bermain game dibelakang, di depan cuman ada anak cewek yang lagi ngerumpi pelajaran ada juga anak cewek yang beneran ngerumpi.
Hana kembali duduk di bangkunya. Tiba-tiba saja Joel bertanya. "Hana kamu enggak apa-apa?" ia bertanya khawatir dengan nada yang cukup keras, cukup menarik perhatian anak-anak lain. "kenapa bajunya jadi beda?"
Hana menjawab jujur. "Tadi aku disiram parfum. Tapi ga apa-apa kok." Mulut Hana emang diseting buat jujur kayanya.
Joel mengusap pipi Hana. "Makannya lain kali jangan keluar sendirian. Biar ga gini lagi. Lain kali kalo pergi bareng aku aja."
Hana cuman menganggukkan kepalanya, menganggap perhatian Joel biasa aja. Tapi anak penggosip lain menyalah artikan perhatian Joel. "Kayanya si Hana beneran pake pelet deh." Kenapa ya perempuan di kelas Hana soudzon mulu?