Prolog
Aku membuka mata dengan cepat, terbangun karena keterkejutan. Tubuhku terasa sangat ringan, bahkan ragu kalau saat ini sedang bersentuhan dengan tanah. Dengan hamparan rumput hijau yang sangat luas, tempat ini benar-benar terasa asing.
Suara-suara yang tertata dengan lembut menggodaku untuk mencari asalnya. Belakangan aku tahu bahwa alunan itu tidak berasal dari suatu tempat, tetapi menyebar di keseluruhan. Sayup-sayup terdengar suara cekikikan yang amat familiar. Itu tawa June, adikku! Lantas, terlihatlah tiga orang yang terdiri dari Papa, Mama, dan June yang tengah bermain dengan asyik.
“He!” seruku sambil melambaikan tangan, menghampiri mereka dengan senyuman yang merekah.
Langkahku terhenti ketika tawa itu berangsur-angsur memudar. Kebahagiaan yang tadi menguar lenyap seketika. Aku tak tahu pasti apa yang ada di pikiran mereka, tetapi cukup mengerti bahwa keberadaanku di sini seakan tak bisa dibenarkan.
Namun, mengapa?
“Pergilah, Presley,” ucap Mama dengan perlahan, seakan dia tak ingin menyakiti hatiku dengan ucapan yang memang menyinggung perasaan tersebut.
“Mama ...,” gumamku tertahan.
Seolah tak mau mendengar atau melihatku, mereka bertiga berbalik pergi. Aku termenung sesaat sebelum memutuskan untuk menyusul mereka.
Namun, tiba-tiba sekumpulan jemari mencekal pergelangan tanganku, menggenggamnya seperti tidak rela jika aku menyusul mereka.
Aku berbalik demi mendapati lengan kokoh yang menarikku hingga terpental ke d**a bidangnya. Ia—yang kuperkirakan adalah seorang pria—melingkarkan tangan di pinggangku. Aku mendongak, mencari tahu siapa gerangan yang memeluk seerat ini seolah aku akan lenyap jika dia melepaskannya.
Sepasang mata abu-abu yang indah menyambut, membuatku merasa tenggelam hanya dengan melihatnya saja. “Kau siapa?” tanyaku ragu-ragu.
Alih-alih menjawab pertanyaan, ia malah mengusap pipiku dengan amat lembut. Dengan suara yang memesona, pria itu berujar, “Selalu ingatlah bahwa apa pun yang terjadi, mulai sekarang kau akan selalu bersamaku.”
~o0o~
Prolog
Zane Azdar