Kesadaran menepukku dengan perlahan. Cahaya yang menyilaukan di atas sana sungguh menggangu penglihatan. Setelah menang melawan lampu, mataku menelisik sekitar. Banyak kabel di sini dan belakangan aku sadar beberapa terpasang di tubuhku. Satu jawaban, aku berada di rumah sakit.
Suara dentingan sendok membuatku terkejut, lalu mendapati seorang pria tengah berkutat dengan sebuah tablet setelah meletakkan minumannya. Pandanganku atas kepalanya tertutupi pembatas tempat tidur, dan saat aku berusaha untuk melihat wajahnya, ia sudah menoleh ke arahku.
"Presley?" Ia buru-buru bangkit lalu menghampiriku. "Oh, syukurlah. Akhirnya kau sadar."
Terlihat guratan lega dan bahagia di wajahnya yang lelah. Ia tampak berusia 23 tahun. Pria itu berambut brunette bergelombang yang sedikit berjambul di depan.
Ia langsung menelepon seseorang dan mengatakan bahwa aku telah sadar. Pria itu sangat asing, tapi dia bersikap seolah telah mengenalku sangat lama.
Kejadian terakhir yang kuingat adalah bahwa aku dan keluargaku mengalami kecelakaan di perjalanan. Aku tak begitu yakin hendak ke mana saat itu, tapi jelas tahu mobil kami tergelincir di jalanan yang bersalju lantas bertabrakan dengan truk.
Sesuatu yang buruk menyadarkanku, di mana Papa, Mama, dan June? Aku hendak bertanya, tapi tak bisa menemukan suara. Tenggorokanku sangat gersang, hingga akhirnya aku malah menangis karena memikirkan berbagai hal negatif.
"Hey ...." Pria itu mengusap pipiku, menghapus air mata yang mengalir di permukaannya. "Jangan banyak berpikir, Presley."
Tepat setelah itu pintu dibuka, muncul seorang wanita yang sangat anggun lagi memesona, apalagi ketika tersenyum seperti ini. Usianya kuperkirakan di atas 30 tahun.
"Halo, Sweety," sapanya ramah. Ia menyingkirkan alat bantu napas dari wajahku. "Bagaimana perasaanmu?"
Sekuat tenaga aku mencoba untuk mengangguk dan tersenyum, tapi yang terjadi hanyalah kedipan lemah. Ia mengeluarkan senter kecil dari tas, lalu digunakan untuk memeriksa kedua pupilku. Ia juga memeriksa detak jantung dan ritme napasku.
"Tolong bantu aku, lihat ini, oke?" Wanita bersurai pirang bergelombang itu mengacungkan telunjuknya di depan wajahku, menggerakkannya ke samping kanan dan kiri dengan perlahan. "Bagus sekali."
"Semua baik-baik saja?" Si pria menginterupsi. Si wanita menjawab untuk menunggu sebentar lagi.
"Kau bisa mengatakan sesuatu?" tanya wanita anggun itu padaku. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menggapai suara, atau setidaknya hanya sekedar gumaman. Namun, tak bisa, rasanya tercekat dan sesak.
"Sudah cukup, terima kasih."
Wanita itu melakukan sesuatu yang tak kumengerti, lalu beralih pada si pria. "Dia belum dapat berbicara. Kau tak perlu khawatir, ini hanya beberapa saat. Jangan terlalu menekannya, oke?"
"Terima kasih, Sierra."
Wanita yang ternyata bernama Sierra itu mengangguk pelan sambil tersenyum. Ia lalu membereskan berberapa alat dan membawanya pergi dari ruangan ini. Omong-omong, tempat ini sepertinya bukan rumah sakit. Hanya kamar biasa yang diberi peralatan medis.
"Kau mungkin bertanya-tanya siapa aku," mulainya. Aku memperhatikan setiap ucapannya yang dibuat dengan intonasi hati-hati. "Namaku Easton. Kau mungkin akan terkejut kalau aku mengatakan bahwa kita punya nama belakang yang sama. Easton Brie. Ini membuat banyak hal jadi lebih mudah.
"Wanita tadi adalah Sierra. Dia saudaraku. Sierra-lah yang telah merawatmu selama hampir dua bulan mengalami koma, atau lebih tepatnya 54 hari."
Aku membasahi tenggorokan dan mencoba untuk berbicara. Namun, lagi-lagi pintu terbuka dan muncul Sierra dengan gelas berisi air. Easton mendudukkanku, sementara Sierra meminumkan air itu dengan hati-hati. Rasanya seperti air putih biasa, hanya saja sedikit aneh. Aku tidak tahu jenis air apa, tapi tak dapat kusangkal bahwa itu sangat membantu tubuhku menerima kebugaran.
"Merasa lebih baik?" tanyanya. Aku mengangguk untuk memberi jawaban. Wanita itu tersenyum lagi sebelum mengambil tempat duduk di samping Easton.
Tenggorokanku terasa lebih baik setelah dialiri cairan tadi, sepertinya sudah dapat berbicara. Aku berdeham pelan sebelum berujar, "Aku sangat bingung."
"Kami mengerti." Easton melirik Sierra sekilas. Wanita itu memberi tatapan yang seolah mengatakan bahwa belum saatnya bagiku untuk diberitahu---entah tentang apa.
Kutatap lekat-lekat pria itu, menyelami manik kelabunya yang memukau. Beberapa detik kuhabiskan untuk menemukan sesuatu yang tersembunyi di baliknya.
"Aku mengingatmu," ujarku pelan. Mataku tak bisa lepas memandangi dua titik abu-abu itu. Mereka seolah memancarkan sesuatu yang cukup aneh, ditambah sedikit misterius. "Kau pria yang ada di mimpiku."
Dan, di dalam detik yang sama, ia tersenyum.
***
Malam ini, Easton mengajakku keluar. Ia sudah berjanji untuk menceritakan semua padaku. Sebelum pergi, Sierra berpesan agar Easton memakaikanku mantel hangat dan beanie. Ia tidak bisa ikut dengan kami karena ada jam praktik di rumah sakit. Ya, wanita itu seorang dokter.
Easton mendorong kursi rodaku keluar dari rumah. Aku memang masih sulit untuk berjalan. Membersihkan diri dan berpakaian pun Sierra yang membantu.
Ini adalah kali pertama bagiku menghirup udara luar. Lingkungan di sini tidak begitu ramai pun tidak sepi. Perumahan yang tenang lagi nyaman. Kami mampir terlebih dahulu untuk membeli minuman hangat sebelum berhenti di bangku taman dekat air mancur kecil.
Setelah memastikan aku merasa nyaman dan siap, pria itu memulai ceritanya dengan sebuah pertanyaan, "Apa kau ingat jika pernah mengalami kecelakaan?"
Aku mengangguk. Walaupun tidak begitu jelas, tapi belakangan mampu mengingat bahwa saat itu---sehari menjelang tahun baru---aku, June, Papa, dan Mama berencana untuk pergi ke sebuah pertunjukan seni musik. Lalu, karena jalanannya bersalju, kami tergelincir dan kejadian yang menakutkan itu pun terjadi.
"Aku turut sedih karena keluargamu tidak ada yang selamat." Easton menenangkanku yang mulai meneteskan air mata. Sebenarnya aku sudah memikirkan kemungkinan bahwa ia akan mengatakan itu. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa hatiku tetap hancur ketika mendengarnya sebagai sebuah kenyataan.
Pria itu bertanya apakah ia harus melanjutkan ceritanya. Aku menghapus air mata lantas mengangguk pelan. "Aku baik-baik saja."
"Kerabatmu yang ada hanya ada dua. Adik tiri ibumu yang sekarang tinggal Hong Kong dan adik dari ayahmu. Namun ...."
"Aku tahu," kataku ketika Easton tak kunjung melanjutkan ucapannya. "Bibi Darla tidak mau merawatku." Dia memang tipe wanita yang tidak ingin memiliki komitmen. Bahkan, kalau tak salah ingat, dia pernah menggugurkan kandungannya tiga kali.
"Ya, seperti itu."
"Lalu?"
"Mereka memutuskan akan membawamu ke panti asuhan jika kau sudah pulih. Akan tetapi, Sierra malah memutuskan untuk mengadopsimu. Kata Sierra, anaknya pasti seumuran denganmu jika masih hidup sampai saat ini."
Aku mengernyit? "Sierra sudah menikah? Menikah muda?"
"Tidak," jawab Easton seraya tertawa samar, "pacarnya meninggalkan Sierra ketika tahu bahwa ia hamil. Sierra berniat untuk membesarkannya, tapi karena waktu itu dia masih remaja, bayinya lahir prematur dan tidak bisa diselamatkan. Beruntung Sierra dapat selamat."
Aku meringis pelan, tidak menyangka jika kematian selalu membayangi di mana pun kau berada. Tidak peduli rencana besar apa yang telah kaubuat, maut tak akan segan untuk menghancurkannya.
"Lalu, di mana makam keluargaku?"
Tiba-tiba, ekspresi Easton berubah. "Oh, maafkan aku. Karena pekerjaan, kami harus pindah."
"Jadi, saat ini aku tidak sedang berada di Nashville?"
Easton menggeleng setelah menyesap minumannya. "Bahkan, tidak di Tennessee. Kau ada di Montana, dan sekarang sudah resmi menjadi anggota keluarga kami.
"Bukankah hal ini jadi mudah? Sierra Brie, Easton Brie, dan Presley Brie. Kita jadi The Bries bersaudara."
Aku diam sesaat. Kenyataan tentang meninggalnya seluruh keluarga membuat hatiku teramat sesak. Ditambah dengan tidak seorang pun dari kerabat kami yang memedulikan diriku.
"Apakah selama ini ada yang mengunjungiku di sini?"
Mata pria itu terpejam, lantas mengembuskan napas dengan berat. "Aku sudah meninggalkan alamat dan nomor telepon, tapi..."
"Aku mengerti," potongku. Easton nampak tak ingin menyakitiku dengan kenyataan yang memang terjadi ini. "Bahkan, tak ada yang menanyakan kabar."
"Mungkin kartu namaku waktu itu tak sengaja ia hilangkan."
Ia berusaha menghibur, yang kujawab dengan senyum kecut. Jika pun Bibi Darla kehilangan informasi mengenai keberadaanku, ia bisa mencari tahu di rumah sakit tempat Sierra bekerja dulu. Itu pun kalau dia peduli. Bakal darah dagingnya pun tak dibiarkan untuk hidup, apalagi aku hanya puteri dari saudara yang tidak ia ajak bicara selama hampir satu tahun?
"Aku ingin ke makam keluargaku."
Hening sebentar. Easton menatapku yang sedang menggigit bibir. "Setelah kau pulih, oke?"
Aku mengangguk lemah. Easton segera mengajak pulang ketika aku mulai bersin. Tak bisa dipungkiri, udara di sini terlalu dingin untuk suhu di akhir Bulan Februari. Aku sedikit menghindar ketika Easton akan membenarkan kancing mantelku. Jika Sierra yang melakukannya, aku bisa membiarkan itu. Namun, untuk pria dewasa seperti Easton (walupun menurutnya kami sekarang sudah bersaudara), aku lebih memilih untuk melakukannya sendiri. Pria itu terlihat salah tingkah, tapi ia berusaha menutupinya dengan membenarkan beanie-ku.
Aku tidak bisa tidur semalaman. Kenyataan ini terlalu memukulku. Namun, terlepas dari itu semua, aku masih mengerti caranya bersyukur atas kebaikan Sierra dan Easton. Jika mereka tak mau menampungku, mungkin saat ini aku sudah tampak menyedihkan di panti asuhan.
Sebenarnya aku ingin menanyakan tentang orangtua Easton, tapi beberapa kali berhasil kutahan karena suatu alasan yang tidak pasti. Selama di sini, aku tidak melihat foto keluarga mereka, yang ada hanyalah beberapa gambar Easton dan Sierra yang—entah bagaimana caranya—tampak sangat memesona.
Mereka benar-benar memiliki aura yang begitu memikat, berwibawa dan anggun dalam sekali lihat. Untuk saat ini, aku menganggap bahwa mereka adalah dua malaikat yang dikirim Tuhan untuk menjagaku. Kemungkinan bahwa mereka akan menumbuhkan tanduk, aku tak ingin memikirkan dalam waktu dekat-dekat ini.