Aku hampir saja terlonjak dari tempat tidur jika tidak segera menyadari bahwa sosok yang tengah berdiri mematung di ujung ranjang adalah manusia biasa. Wania itu terus menatap dengan datar bahkan ketika aku menunjukkan reaksi seperti melihat hantu. Ia nampaknya dalam kisaran umur lima puluh tahun. Rambut hitamnya yang sudah beruban digelung erat ke belakang.
"Si-si ...."
"Dua puluh menit untuk bersiap sebelum sarapan."
Aku hanya dapat menurut layaknya anjing ketika wanita itu memaksa untuk membantuku membersihkan diri. Namun, aku memprotes keras saat ia memaksa untuk memberiku model rambut dikucir dua. Akhirnya keputusan diambil dengan mengikat rambut rendah, berjumlah dua.
"Selamat pagi," sapa Sierra ketika aku sudah sampai di meja makan.
Aku menjawab sambil tersenyum kecil. Masih asing dengan "keluarga" baru ini. Sierra menceritakan bahwa wanita berwajah datar itu adalah Martha, yang bertugas untuk membantu segala keperluan di rumah ini. Dia hanya akan ada di rumah dari jam tujuh hingga jam dua belas siang.
"Apakah ide yang bagus jika kau mulai sekolah lagi, Presley?" tanya Sierra. Ia mengambilkanku empat tumpuk panekuk yang diolesi selai cokelat.
Aku mengangguk setuju. "Namun, pasti sudah tertinggal banyak pelajaran."
Wanita itu tampak berpikir sejenak. Mungkin sekitar setengah menit. "Itu bisa diatur. Jika kau setuju, aku atau Easton akan mendaftarkanmu sekolah segera setelah kau siap."
"Aku apa?" Easton tiba-tiba muncul dengan tangannya yang sibuk mengotak-atik dasi. "Bisa bantu?"
"Presley akan mulai sekolah lagi," Sierra menarik kemeja Easton hingga pria itu membungkuk di depannya, lantas membenarkan dasi sambil menggerutu tentang bagaimana pria itu yang tak pernah belajar mengenakan dasi dengan benar. Mereka tampak seperti pasangan menikah yang manis.
"Aku juga sempat memikirkan hal yang sama." Easton mengambil tempat duduk di depanku. "Kapan?"
"Mungkin seminggu ke depan. Ia akan segera pulih dalam waktu dekat ini."
Aku hanya tersenyum kecil ketika Easton manggut-manggut dengan lucu. Pembicaraan ini berlangsung hingga keputusan untuk tempatku bersekolah telah diambil. Sekolah negeri yang jaraknya dekat dengan rumah. Bukan hanya karena jaraknya yang tidak terlalu jauh, tapi juga karena sistem Zoned Schools yang sedikit banyak menguntungkan.
Hari-hari yang kulalui semenjak sadar memang begitu monoton. Menonton televisi, membaca buku di bawah pohon, dan beberapa hal membosankan lainnya. Akan tetapi, setelah tiga hari yang lalu, aku sudah dapat berjalan dengan normal. Yah, setidaknya tak perlu menggunakan kursi roda untuk ke mana-mana. Omong-omong, sudah dua kali aku dan Sierra membuat kue. Wanita itu memintaku membagikannya pada tetangga sekaligus untuk memperkenalkan diri.
"Kau gadis kecil yang sangat beruntung," ucap wanita yang belakangan kutahu sebagai Nyonya Liz Crumple. Beberapa dari orang-orang yang kutemui juga mengatakan hal yang hampir sama. "Bries adalah orang-orang yang baik."
Aku mengangguk, mengiakan. Setelah hampir seminggu bersama mereka, pikiran tentang betapa beruntungnya aku karena mereka mengadopsiku adalah hal yang terus kusyukuri. "Senang bertemu denganmu, Mrs. Crumple. Kuharap kita bisa menjadi tetangga yang baik!"
Wanita bersurai cokelat gelap tersebut tersenyum manis ketika aku pamit untuk pergi. Ia juga mengucap terima kasih untuk kue yang telah kubawakan. Ini sungguh menyenangkan. Tetangga-tetangga di sini begitu baik dan ramah.
Sekarang tinggal satu kotak terakhir. Aku menuju rumah berpagar kayu yang tingginya mungkin sepinggang Easton. Suara engsel berkarat menyapa ketika kubuka pagar bercat putih tersebut. Aku menutupnya kembali, lalu hampir saja terjengkang saat tiba-tiba nenek tua berkursi roda telah berada di teras saat aku berbalik.
"Selamat sore," sapaku.
Wanita yang rambutnya hampir putih semua itu bahkan tidak mengubah ekspresi datarnya. Tatapannya seakan menusuk hingga ke pembuluh darahku. "Mayat hidup."
Aku mengernyitkan kening. "Maaf?"
"Mayat hidup! Mayat hidup! Kau mayat hidup!" Wanita itu menunjukku dengan tajam. Ia mendelik lebar dan mengentak-entakkan tubuhnya seakan ingin bangkit dari kursi tersebut.
Aku meringis ngeri, sekaligus khawatir. Hampir saja aku akan pergi dari tempat ini sebelum seorang wanita muncul dengan langkah tergopoh-gopoh. Di belakangnya ada gadis seumuranku yang turut menenangkan si nenek. Gadis bersurai merah itu mendorong kursinya masuk ke dalam rumah.
"Maafkan ibuku, ia sedikit sakit," ujar si wanita yang baru datang tadi. Di dahi dan ujung rambut ikalnya ada olesan tepung yang hampir mengering. "Ada yang bisa kubantu, Sayang?"
"Ah, ya." Aku sedikit kikuk. "Aku Presley, tetangga baru di sini. Sierra dan aku baru saja membuat kue. Kuharap kau mau mencicipinya."
"Sierra Brie?" tanyanya memastikan. Aku mengangguk dan mengatakan hal-hal tentang Bries yang mengadopsiku. "Pantas saja."
"Apa?"
"Bukan apa-apa. Omong-omong, aku Paula McCain,panggil Paula saja biar akrab. Putriku Maggie, dia seumuranmu. Sering-seringlah ajak bermain, tapi dia agak pemalu sih."
Aku tersenyum tipis dan menjawab seadanya. Sepertinya Paula adalah tipe orang yang tidak kaku. Ia bahkan berbicara dengan gaya bahasa yang tidak formal kepada orang yang baru ditemuinya. Itu cukup bagus sebenarnya, jadi aku akan lebih nyaman.
"Aku pulang dulu," pamitku.
Paula melambaikan tangan dengan senyum yang sangat lebar. Aku bahkan khawatir jika mulutnya akan robek dengan senyuman itu. "Terima kasih untuk kuenya, ya!"
Aku tersenyum sekali lagi setelah menutup pagar, sebenarnya masih ngeri dengan nenek tadi, kuharap dia baik-baik saja. Ia menuding dan mengatai bahwa aku adalah mayat hidup. Tunggu, mayat hidup? Zombie? Apa aku terlihat seperti makhluk pemakan otak?
"Ada yang mengganggumu?"
Aku menengadah. Easton muncul dari mobil dengan wajah yang sedikit lelah. "Tidak, aku baik."
Pria itu menggiringku untuk masuk ke dalam rumah. "Kau benar-benar sudah merasa sehat?"
Aku mengangguk mantap. "Sangat sehat."
"Setelah makan malam, kita akan keluar," putusnya lalu melangkah meninggalkanku.
Aku ingin bertanya kemana ia akan membawaku pergi, tapi tak punya kesempatan karena Easton sudah masuk ke kamarnya. Omong-omong, sekarang aku sudah pindah ke kamar yang berada di lantai atas. Dua hari yang lalu Sierra dan aku mendekor ruangan itu dan menatanya dengan instruksi dari Sierra. Wanita itu benar-benar tahu caranya membuat kamar menjadi indah dan sederhana dalam satu waktu. Perpaduan warna ungu lembut dengan putih membuatku betah berada di sini.
Makan malam sudah lewat. Karena akan keluar, aku memilih untuk memakai cowl neck sweater berwarna abu-abu ditambah beanie dan bot yang tingginya sampai betisku. Kurasa ini cukup hangat untuk mencegah omelan Sierra.
Seperti biasanya, Sierra akan pergi bekerja setelah makan malam dan tahu-tahu sudah tidur di kamar saat aku bangun keesokan harinya. Dia sempat menggerutu pada Easton karena mengajakku keluar malam lagi.
"Saat siang, aku bekerja," bela Easton seraya membereskan piring. Mereka memang sering bertengkar. Akan tetapi, aku malah menganggapnya lucu karena mereka mempermasalahkan hal-hal yang sebetulnya tidak perlu. Sungguh manis.
"Pastikan Presley tetap hangat!" seru Sierra saat aku dan Easton beranjak pergi.
"Aku mengerti." Easton menarik tanganku menuju mobilnya. Ia juga memasangkan sabuk pengaman dan membenarkan beanie-ku. Entah perasaanku saja atau memang dia suka melakukan itu.
"Kita akan ke mana?" tanyaku.
"Besok kau akan sekolah, bukan? Aku akan mengantarmu memilih peralatan yang kauperlukan."
"Oh," sahutku.
"Apakah ada masalah sore tadi? Kau pulang dengan wajah yang sedikit aneh," ungkapnya. Ekspresi mukanya menunjukkan betapa Easton begitu peduli. Aku diam. Kejadian saat nenek tua tadi meneriakiku berputar kembali. "Aku tidak membicarakannya di rumah karena tahu bahwa Sierra pasti akan sangat khawatir."
Aku masih saja bergeming, lalu memutuskan untuk berpaling dari Easton. "Apa aku mirip zombie?" tanyaku tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan di depan.
"Aku tak menemukan bagian mana pun dari tubuhmu yang mirip zombie. Ada apa?"
"Nenek dari keluarga McCain mengataiku mayat hidup."
Dia langsung menatapku. Walaupun hanya sepersekian detik, tapi aku sempat menangkap ekspresi kaget di wajahnya---sebelum berubah normal kembali. "Oh, dia memang sedikit sakit. Tak perlu kaucemaskan."
Sebetulnya itu tidak cukup untuk membuatku tenang. Namun, aku hanya dapat membalasnya dengan senyum simpul.
"Apakah dia mengatakan sesuatu yang lain?" Easton bertanya kembali. Aku mengatupkan bibir dengan rapat lantas menggeleng.
Tidak ada percakapan yang berarti lagi sampai kami masuk dan keluar dari toko. Saat belanja pun, aku hanya memilih barang seadanya, tidak terlalu peduli dengan merk atau warna-warna yang cerah.
Mataku menyipit ketika mendapati lampu berkedip-kedip di depan sana. Semakin dekat, kian jelas bahwa itu adalah sirine mobil polisi. Beberapa pria dengan seragam khas dan orang-orang awam---yang berdiri di belakang garis kuning---berkumpul seperti sedang mengepung sesuatu.
"Ada apa itu?" tanyaku, lebih pada diriku sendiri.
"Sepertinya kecelakaan." Easton memelankan laju mobil ketika melewati sekumpulan orang-orang itu. Aku tidak bisa melihat dengan jelas apa yang mereka lakukan. Dan, di sedikit celah yang ada, tampak seseorang tergeletak dengan gaun berwarna merah. "Ingin lihat?"
Aku menggeleng cepat. "Tidak, takut."
"Takut melihat orang berdarah?"
Setelah beberapa detik menelan keheningan, aku menjawab, "Bukan. Hanya saja kematian selalu ada di mana-mana. Mengingatkan bahwa aku juga pernah hampir mengalaminya."
Easton menatapku tidak suka. Ia menggenggam tangan kiriku. "Kau masih hidup, oke?"
Dua anggukan kecil kuberikan untuknya. Easton sepertinya tidak suka jika aku mengungkit masalah itu. Ini pertama kalinya pria itu memandangku dengan ekspresi tidak senang. Setelah menghela napas panjang, akhirnya ia melepaskan tanganku dan kembali memacu mobil dengan kecepatan seperti semula.
Sesampainya di rumah, aku membawa barang-barang belanjaan dan langsung masuk ke kamar. Bahkan, Easton tidak mengucapkan selamat malam seperti yang ia lakukan setiap akan pergi tidur.
Malamnya, aku tidur dengan mimpi yang sungguh aneh. Di mimpi tersebut, Easton datang lantas mencium bibirku.