Setelah kejadian semalam ditambah mimpi itu, aku jadi sedikit canggung untuk menatap mata Easton.
"Semua yang kulakukan hanyalah untuk membuatmu terus baik-baik saja."
Kata-kata Easton di mimpiku semalam terus saja menciptakan pertanyaan. Aku belum berani beramsusi apa pun untuk memaknainya. Terlalu buram dan aneh. Hal terakhir yang kuingat adalah ketika punggung tegapnya mulai menjauh lantas menghilang.
Aku terlonjak dari lamunan ketika Martha menjatuhkan garpu di dekat kakiku. Wanita itu meminta maaf (dengan wajah dan nada yang datar) lantas mengambilnya. Aku sebenarnya heran, Martha sangat kaku dan agak aneh. Ia jarang bicara jika memang tidak diperlukan. Saat berbicara pun ia hanya mengeluarkannya tanpa nada. Aku bahkan belum pernah melihatnya tersenyum, apalagi tertawa. Sangat berkebalikan dengan Paula yang senyumnya hampir dapat merobekkan mulut.
"Kau benar-benar sudah siap, Sweety?"
"Ya," jawabku dengan ekspresi yang kubuat seceria mungkin. Berharap Sierra tahu bahwa aku sudah sangat baik.
Omong-omong, hari ini adalah saatnya bagiku untuk mulai sekolah lagi. Di tempat yang baru tentu saja. Sierra bilang, Easton yang akan mengantarku sekolah setiap pagi bersamaan dengan dirinya bekerja. Jadi, kali ini pria itu juga yang akan menemaniku menemui kepala sekolah.
Sierra mengecup puncak kepalaku sebelum melepasku pergi bersama Easton. Jujur saja, aku merasa sedikit gugup. Walaupun aku senang akan kembali bersekolah, tapi menjadi murid baru sepertinya tidak begitu menyenangkan di awal-awal.
"Mungkin hari ini aku akan pulang lebih awal. Dengan begitu, aku bisa menjemputmu," ucap Easton. Mendengar nada bicaranya yang sudah biasa, sepertinya hanya aku yang terlalu memikirkan tentang semalam. Kejadian dia menciumku pun sekedar mimpi, tentu saja hanya aku yang ingat. "Aku akan mengabari Sierra jika ada sesuatu."
"Ba-baiklah."
"Ada apa? Mengapa tergagap?"
"Ti-tidak ada. Hanya sedikit gugup karena ini hari pertamaku sekolah lagi," jawabku. Tidak sepenuhnya berbohong sebenarnya.
"Kau akan baik-baik saja."
Aku mengangguk. "Omong-omong, kapan kau mengurus kepindahanku dari sekolah yang lama?"
"Sudah cukup lama sebenarnya. Tiga hari setelah kau sadar, aku pergi ke sekolahmu yang lama dan menyelesaikan semuanya."
"Mengapa tidak mengajakku? Aku 'kan ingin menemui mendiang keluargaku."
Jeda beberapa detik sebelum Easton menjawab, "Saat itu kau belum pulih."
"Kapan kita akan ke sana lagi?" Aku bertanya hati-hati. Agar tidak terlalu tampak sedang menuntut.
"Saat kita semua sama-sama libur nanti."
Aku diam sejenak. Hari itu sangat sulit ditemukan. Mengingat bahwa Sierra bekerja di rumah sakit, sementara sampai sekarang pun aku tak tahu apa profesi Easton. Namun, sesuatu yang pasti adalah pria itu belum pernah bersantai di rumah saat siang hari. Embusan napas lolos dari bibirku. Ini benar-benar sulit. Aku pun tak bisa pergi sendiri karena tempatnya juga sangat jauh, apalagi umurku yang masih enam belas tahun.
Easton meminggirkan mobil di depan sebuah sekolah yang cukup besar. Pria berpakaian petugas segera mengizinkan kami masuk setelah Easton bilang bahwa aku adalah murid baru di sini. Pria bersurai ikal tersebut memandu kami menuju ruang kepala sekolah dan langsung pamit setelah menyuruh kami untuk mengetuk pintu.
"Masuk!" Suara dari dalam sana menginterupsi.
Tanganku digenggam erat oleh Easton. Sepertinya ia tahu bahwa aku semakin gugup. "Tenang saja, okay?"
"Oh, Anda, Mr. Brie." Seorang wanita berkacamata yang duduk di balik meja langsung mengenali wajah Easton. Rupanya dia telah ke sini juga. "Silakan duduk."
"Terima kasih," ujar Easton dengan tersenyum. Kami duduk di sofa melingkar berwarna ungu kemerahan. Wanita itu mengambil sebuah map lantas ikut bergabung dengan kami.
"Apakah ini Presley Brie? Gadis yang akan menjadi siswi baru di sekolah kami?" Ia bertanya sambil menatapku. Aku mengangguk dengan senyum canggung. "Saya kepala sekolah di sini. Panggil saja Mrs. Moore."
Mrs. Moore membuka map lalu melihatku sebelum kembali berpaling lagi ke kertas-kertas itu. Sepertinya menyocokkan wajahku dengan foto yang tertempel di sana. Jemarinya bergerak perlahan dari sisi atas kertas ke bawah.
"Jadi, ada pergantian wali di sini?" Mrs. Moore bertanya seraya menaikkan kacamata kotaknya yang melorot.
"Benar. Seperti yang saya bicarakan kemarin lusa."
Tepat sekali dugaanku. Easton sudah ke sini sebelumnya. Dia telah menyiapkan semuanya.
"Saya turut berduka atas keluargamu, Presley Brie. Kuharap itu tidak terlalu mengganggu proses belajarmu. Mengingat bahwa kau juga sudah jeda beberapa minggu."
"Terima kasih," gumamku pelan.
"Di sini ada jadwal pelajaran. Tentu saja ada mandatory subjects dan beberapa electives. Di sekolah yang lama, kau mengambil elective apa?"
"Publishing."
"Bagus. Aku akan meminta salah satu siswa untuk memandumu nanti. Ini jadwal dan beberapa perlengkapanmu."
Aku mengambil stopmap yang Mrs. Moore ulurkan. Sepertinya berisi beberapa buku paket. "Terimakasih."
Terdengar suara ketukan pintu dua kali dari belakangku. Disusul dengan munculnya seoarang wanita muda seumuran Easton yang memiliki tipe wajah menyenangkan.
"Ya, Miss. Adams?"
"Mrs. Moore, ini adalah proposal pengajuan mengenai pameran yang saya bicarakan kemarin." Wanita yang dipanggil Miss. Adams itu menyerahkan map tipis yang sejak tadi dibawanya.
"Akan saya pelajari nanti. Apakah Anda sedang sibuk, Miss?" tanya Mrs. Moore. Miss Adams menggeleng, lantas berkata bahwa ia sedang longgar. "Tolong antarkan gadis ini ke kelas Fisika."
Miss Adams mengangguk patuh. Ia menanyakan namaku sebelum menggiring kami keluar ruangan. Dan saat itu pula aku baru sadar telah menggenggam erat tangan Easton sejak tadi.
Easton menarikku mendekat, lantas memeluk dengan hangat. Ia tahu betul bahwa aku sedang gugup. "Jangan gugup, Presley. Kau akan baik-baik saja." Diakhiri dengan usapan lembut di puncak kepalaku.
Aku berdeham pelan dan buru-buru menjauh dari Easton ketika menyadari Miss. Adams memperhatikan kami.
"Selamat pagi, Miss.," pamit Easton setelah mengucapkan sampai jumpa padaku dan menghilang di belokan.
"Dia saudaramu?" tanya Miss Adams.
"Ya."
Walaupun samar dan dengan suara yang kecil, aku memdengar Miss Adams menggumamkan sesuatu yang membuatku langsung berkernyit.
"Sungguh tampan."
Mengabaikan komentar Miss. Adams tadi, aku mulai memerhatikan sekitar. Bangunan ini tidak begitu spesial. Tak jauh berbeda dari sekolahku yang dulu. Kami melewati koridor yang di sisi kanan dan kirinya berjejer loker berwarna biru lembut.
Kami sampai di depan suatu kelas. Di atasnya terdapat sebuah papan berlapis kaca yang di permukaannya tertulis Frank Lee - Fisika.
"Nah, di sini kelas pertamamu. Untuk kelas berikutnya, bertanyalah pada siswa yang lain. Kau mengerti?" Miss Adams berkata. Aku mengangguk dan berterimakasih saja karena tak tahu harus menjawab apa lagi.
Beberapa orang yang menyadari kedatanganku langsung menatap dengan penuh tanya. Bahkan ada yang berbisik hingga ketiga temannya ikut menatap. Langsung saja aku mengambil tempat duduk di dekat tembok. Menurut jadwal yang tadi diberikan Mrs. Moore, kelas kali ini akan dimulai sekitar lima menit lagi.
"Hey," tegur seorang gadis berambut ikal. Dia mendatangiku bersama temannya yang berkacamata bulat, "murid baru?"
Aku mengangguk. "Presley Brie."
Dia menyambut uluran tanganku sambil menyebutkan nama, "Hannah Brooklyn, dan temanku, Cara Osterfeld."
Cara bergantian menyalami lalu duduk di bangku depanku. "Kau berasal dari mana?"
"Nashville," jawabku. Mereka berdua sama-sama mengerutkan kening. "Tennessee."
"Mengapa pindah?"
"Keadaan yang sedikit rumit," ungkapku. Tak sepenuhnya berbohong juga. Aku hanya tak ingin kabar tentang keluargaku diketahui oleh orang banyak. Rupanya mereka paham dan tak mengungkit lagi.
Kami saling bertukar pertanyaan, tentu saja dengan aku yang menanyakan tentang seluk beluk sekolah ini. Di sekolah ini ada beberapa club, antara lain interact, menari, paduan suara, cheerleader, jurnalistik, thespian, anonym actor, dan masih banyak lagi. Namun, juga ada beberapa club buatan sendiri. Biasanya terdiri dari kelompok orang-orang keturunan suatu negara lain.
Aku ingin bertanya lebih, tapi bel telah berbunyi disusul oleh seorang pria berdasi dan memakai kacamata yang gagangnya sangat tipis. Hannah langsung menempati tempat duduk di belakangku.
"I pledge allegiance to The Flag, of the United States of America, and to the republic for which it stands, one nation, under God, indivisible, with Liberty and justice for all." Semua murid melafalkannya dengan tangan yang menyilang di depan d**a.
Sebelum memulai pelajaran, Mr. Lee memanggilku agar maju. "Tolong ceritakan hal-hal tentang dirimu." Aku sedikit kikuk, namun Cara dan Hannah memberiku semangat melalui cengirannya.
***
Bel terakhir sudah berbunyi. Aku keluar dari kelas Mrs. Miller dan hampir bertabrakan dengan seorang gadis yang wajahnya sangat familier. Di detik terakhir sebelum ia melenggang pergi, aku berhasil mengingatnya.
"Maggie?" cetusku semangat. Gadis itu terdiam sejenak seraya memandangiku dengan wajah datarnya. "Aku tetangga barumu, Presley Brie."
Ia tersenyum sangat tipis (bahkan tak akan sadar jika tak menatap wajahnya dengan benar-benar serius), lantas meninggalkanku. Dia bahkan tidak berkata apa pun. Apa yang salah?
Mengabaikannya, aku segera saja mengikuti murid-murid lain supaya tahu ke mana hendaknya aku akan menemukan jalan untuk keluar dari sekolah ini. Aku terlonjak sedikit ketika sebuah mobil membunyikan klakson dua kali. Di sana ada Eston yang melambaikan tangan.
"Bagaimana harimu?" tanya Easton ketika aku sudah duduk di mobil.
"Tidak begitu buruk. Maggie McCain juga bersekolah di sini."
"Itu bagus," komentarnya. Easton mulai menjalankan mobil. "Kau ingin makan dulu?"
Aku menggeleng. Tangan kanan Easton menjulur ke jok belakang. Ia memberikan paper bag kecil padaku.
"Apa ini?" gumamku seraya membukanya. Terdapat kotak bergambar benda persegi panjang. "Ponsel? Untukku?"
"Yah, ini cukup terlambat. Di dalamnya sudah ada nomorku, Sierra, dan Martha, " tuturnya. Aku membongkar isinya dengan senyum yang tak bisa ditahan. "Kau suka?"
"Tentu saja! Terimakasih banyak!"
Pria itu membalasnya dengan mengusap kepalaku. Tawa kecil keluar begitu saja karena begitu senang. Aku memang tidak meminta ponsel sebelumnya, tapi bukan berarti aku tak menginginkan benda itu.
Senyuman lebar masih tercetak jelas saat sudah sampai di rumah. Begitu sepi. Pasti Sierra sedang tidur di kamarnya. Aku langsung saja ganti baju dan mengambil makan siang untuk menyantapnya sambil menonton televisi.
"Masih dengan berita tentang ditemukannya mayat bernama Camila Simpson. Menurut hasil otopsi, kematian Korban disebabkan oleh sesak napas. Salah satu pendapat menyatakan bahwa ini adalah pembunuhan yang sama seperti kasus Roxy Whasington. Sampai diturunkannya berita ini, polisi belum bisa memastikan bahwa keduanya berhubungan. Polisi juga--"
"Ya ampun, Easton!"
Siaran televisi berganti menjadi acara berita olahraga. Easton duduk di sampingku dengan wajah tak bersalah. "Aku ketinggalan siaran softball semalam."
Membiarkan saja apa yang dia lakukan, aku mulai berpikir sejenak. Yakin betul bahwa siaran tadi memberitakan kecelakaan di tepi jalan semalam. Ah, bukan kecelakaan, tapi pembunuhan.
"Apa bulan lalu ada kasus seperti ini juga?" tanyaku.
"Ya, dan penjahatnya belum diketahui."
Wajahku langsung pucat. "Bagaimana jika selanjutnya aku?"
"Jangan berpikiran yang tidak-tidak." Easton menatapku sangat lekat. Rautnya mengatakan bahwa ia tidak suka dan seharusnya aku tak mengatakan hal demikian. "Tidak ada hal buruk yang akan terjadi lagi padamu. Kau akan baik-baik saja."
Kau akan baik-baik saja.
Kau akan baik-baik saja.
Kalimat itu terus keluar dari mulut Easton. Aku tak tahu ia hanya berusaha membuatku merasa tenang atau benar-benar mengatakannya. Namun, dari caranya melafalkan kata-kata tersebut seolah bahwa ia sedang berjanji. Bersumpah agar tak ada hal-hal buruk yang bisa menyentuhku.