Sekarang adalah hari keempatku masuk sekolah sekaligus kali pertama mengikuti kelas Publishing. Guru pembimbingnya yaitu Mr. Dawson, pria seumuran Easton yang memiliki lesung pipi termanis selama aku hidup. Tidak heran jika banyak siswi yang terkadang bersikap sedikit genit padanya. Bahkan Hannah (yang ternyata juga sama-sama mengambil Publishing) adalah salah satu di antaranya.
"Kau tahu? Ada rumor bahwa dia menyukai Miss Adams," bisik Hannah. Aku hanya manggut-manggut mendengarkannya. "Yah, aku merasa sedikit kasihan karena Miss Adams tidak menghiraukannya."
Saat akan memulai kelas, lagi-lagi aku diminta untuk memperkenalkan diri di depan kelas. Ini sudah yang ketiga kalinya, beruntung beberapa guru tidak melakukan hal yang sama.
"Maaf, aku sedikit terlambat, Mr. Dawson." Seseorang menyela dari arah pintu. Ia adalah laki-laki kurus bersurai acak-acakan yang menggendong tas punggung hanya pada satu lengan.
Entah perasaanku saja atau memang dia terlihat sangat terkejut ketika melihatku. Bahkan tak berlebihan jika kukatakan wajahnya sampai sedikit pucat. Ia berdehem dan langsung mengambil tempat duduk ketika Mr. Dawson menegurnya. Ia terus mengamati dengan wajah yang tak biasa selama aku di depan kelas. Bahkan beberapa kali ketahuan mencuri pandang padaku ketika kegiatan belajar berlangsung. Oke, ini terdengar terlalu percaya diri, tapi memang begitu yang terjadi.
"Hey, tunggu!" Lelaki itu menghampiriku saat keluar kelas. Seperti saat datang tadi, ranselnya hanya ia sampirkan pada satu lengan.
Aku menanggapinya dengan senyum tipis. "Ya?"
"Kau benar bahwa namamu Presley Brie?" tanyanya hati-hati, tapi penuh selidik. "Bukan Esme?"
"Iya, namaku Presley. Memang mengapa?"
Ia malah balik bertanya, "Apa kau merasa telah bertemu denganku sebelumnya?"
Aku mengernyit lalu tertawa pelan. "Kurasa tidak. Kau salah Esme."
Dia seperti ingin mengelak lagi. Akan tetapi, ucapan itu tidak jadi keluar dari mulutnya.
"Ingin ke kantin?" tawarnya ramah. "Ah, aku Cole August. Sampai lupa mengenalkan diri," kekehnya kecil seraya menggaruk kepala.
"Aku membawa bekal."
"Tak masalah, di kantin tidak tertera peraturan bahwa tidak boleh membawa makanan dari luar." Dia menatap seolah memaksa agar aku mau ikut bersamanya.
"Baiklah."
Cole terkikik pelan lalu menggiringku menuju kantin. Beberapa kali ia menggumamkan sesuatu tentang betapa miripnya aku dengan Esme. Entah siapa itu, tapi kelihatannya mereka cukup dekat. Lelaki itu memintaku menunggu di salah satu bangku selagi ia mengambil makanan. Seorang laki-laki menggoda Cole sambil melirikku. Ia hanya merespon dengan pelototan mata, membuat temannya tadi tertawa lepas.
"Rob memang suka membuat orang kesal," gerutunya sambil geleng-geleng kepala. Ia duduk berhadapan denganku lalu memberi sekotak jus apel.
"Terimakasih," balasku singkat.
"Kau memang lebih suka membawa bekal, ya?" Cole menengok ke dalam kotak makanku. "Woah, apa itu crostini? Boleh kucicipi?"
Aku mengangguk dan menyodorkan kotak makan siangku padanya. Ia tampak menikmati masakan Martha, bahkan terang-terangan memujinya. "Yah, kupikir ini lebih sehat dan hemat."
Cole manggut-manggut sambil mengunyah sandwich-nya. "Kau sungguh-sungguh mirip dengan Esme." Entah sudah beberapa kali ia bilang seperti itu.
"Sepertinya kalian sangat dekat. Apa kau dulu pernah mengencaninya?"
Ia malah tertawa aneh. "Tidak. Hubunganku dengannya hanya teman satu sekolah. Kabar buruknya, Esme sudah meninggal."
Aku sangat terkejut. "Ya ampun, kasihan sekali. Jadi dia juga bersekolah di sini?"
"Tidak... tidak." Jeda sebentar, ia menelan makanannya. "Aku juga murid baru. Pindah dari Washington sekitar satu bulan lalu."
"Ah, lebih jelas lagi kami beda orang. Aku dari Tennessee, bukan Washington," jelasku. Cole hanya manggut-manggut.
"Apa aku sangat mirip dengannya?" tanyaku lagi, mulai tertarik dengan Esme ini.
"Ya, hanya saja ia pemurung dan aneh. Tidak pernah tertawa atau bercanda. Juga antisosial. Kupikir hanya itu perbedaan yang jelas."
Aku meringis sedikit. "Dia meninggal karena apa?"
"Bunuh diri," jawabnya langsung. Aku terkejut sampai-sampai menutup mulut dengan tangan. "Perkiraan dia merasa depresi dengan lingkungan—teman-teman dan keluarganya—yang yang kacau."
"Sungguh malang," komentarku. Ia mengangguk-angguk dengan raut sedih. Matanya yang hitam seperti jelaga tenggelam dalam kemirisan.
Aku belum pernah mendengar cerita nyata seperti itu sebelumnya. Seorang gadis yang seharusnya bisa bermain dengan teman-teman sebaya dan mendapat kasih sayang dari keluarganya harus mengakhiri hidupnya sendiri karena tak bisa merasakan itu semua.
Bel tanda istirahat usai telah berbunyi. Tepat waktu karena makanan kami juga sudah habis. Cole menanyakan jadwalku selanjutnya. Aku membuka ponsel untuk mengeceknya.
"Pre-calculus." Mataku beralih menatap Cole. "Kau tau tempatnya?"
Cole tampak sumringah. "Kebetulan sekali, kelas kita bersebelahan."
"Bagus kalau begitu," ucapku lalu tertawa pelan sambil membereskan kotak makan siang.
***
Beberapa hari berlalu. Semua tampak normal dan sedikit monoton. Perlu kuakui bahwa pelototan dan tuduhan Nenek McCain tentang "mayat hidup" adalah suatu hal yang normal. Ia selalu begitu jika aku muncul di hadapannya. Maggie juga tak kunjung mau berteman denganku. Ia selalu menghindar bahkan pura-pura tak mendengar atau melihat jika aku memanggilnya.
Besok hari sabtu, malam ini Easton mengajakku keluar. Ini sebenarnya sudah rencana sejak lama karena ada karnaval di alun-alun kota. Mereka merayakan hari ulang tahun Wimberg, kota tempat kami tinggal. Sierra bilang bahwa aku akan suka suasanya, tapi dia maupun Easton tidak bilang akan ada apa di acara tersebut.
Setelah berbelok di salah satu tikungan, aku melihat banyak lampu yang berpendar di kegelapan malam. Jauh di depan sana tampak bagaimana meriahnya acara tersebut. Bahkan suara bising kian terdengar seiring mobil ini mendekat ke sumber bunyi. Easton tertawa kecil saat aku bersorak kagum.
Easton parkir agak jauh dari tempat, supaya tidak ramai katanya. Ia memegangi pergelangan tanganku selama perjalanan ke karnaval. Suasananya begitu bising hingga kami harus berteriak jika ingin berbicara. Berbagai stand makanan dan pernak-pernik berjejer rapi di sepanjang jalan yang kami lewati. Kami berhenti di depan panggung yang masih lumayan sepi, belum ada pentas seni karena memang acara utamanya belum dimulai.
Aku memekik tatkala melihat spanduk besar di tengah panggung, "Apakah itu The Mystboys?"
"Sepertinya memang begitu. Kau suka mereka?"
"Astaga, tentu saja! Banyak yang mengidolakan mereka!" Aku memekik sekali lagi sambil meremas lengan Easton. Dia tak mengeluh kesakitan, tapi malah tertawa senang.
Beberapa jam kami habiskan untuk menonton pentas seni, makan camilan, dan terkadang memotret berbagai momen. Aku bahkan harus memaksa Easton agar mau diambil gambarnya. Ini sudah hampir tengah malam dan saatnya The Mystboys akan tampil. Sekitar panggung sudah sangat ramai, beruntung tadi kami tidak pergi dari tempat.
Easton melingkarkan tangannya ke pinggangku dengan posesif, kentara sekali dia melindungiku penuh. Orang-orang (termasuk aku juga sebenarnya) mulai bersorak menyebut The Mystboys berulang-ulang. Teriakan para gadis dan wanita kian menggelegar ketika personilnya muncul satu persatu.
Semuanya histeris, bersorak sorai. Sampai akhirnya aku sadar bahwa sebagian teriakan itu tak menunjukkan rasa senang, tapi ketakutan. Aku belum sempat menyerna apa yang terjadi sampai akhirnya sebuah poster besar rubuh mengenai panggung.
"Ayo lari, cepat!" Easton menarik pinggangku agar berlari berdampingan dengannya. "Membungkuk sedikit!"
"Apa yang terjadi?" tanyaku ketakutan.
"Lari saja dulu, cari tempat yang aman."
Aku masih belum tahu apa yang terjadi, campuran antara terlalu panik dan tak berani melihat selain ke bawah. Hanya saja, aku masih bisa mendengar jerit ketakutan yang bersahut-sahutan beserta suara gaduh lainnya.
"Easton!" Seseorang memanggil. Baru saat ini aku berani mendongak dan mencari suara itu. Easton buru-buru membawaku kepada tiga orang sepantarannya.
"Bawa dia pulang dan pastikan tak ada kekacauan," perintah Easton pada teman-temannya. Salah satu di antaranya adalah wanita yang langsung mengambilku. Sebelum wanita itu menarikku menjauh, Easton berpesan. "Ikutlah pulang bersamanya. Kau akan baik-baik saja."
Wanita itu mengajakku berlari lagi. Membelah keramaian dan tak mengijinkanku untuk mendongak. Ia membawaku ke mobilnya dengan gesit. "Masuklah, aku akan membawamu pulang."
Aku menengoknya sambil ketakutan. "Easton bagaimana?"
"Anak itu bisa menjaga dirinya sendiri. Pakai sabuk pengaman!"
Mobil ini sulit dikeluarkan karena banyaknya orang-orang yang berlarian. Klakson-klakson lain pun tak mau kalah ikut meramaikan acara. Dari sini, aku dapat melihat bagaimana kacaunya acara tadi. Suasana yang semula riuh karena kesenangan, terganti begitu saja dengan kepanikan. Belum tahu pasti apa yang terjadi, tapi apa pun itu yang pasti dia sangat jahat dan merusak.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kau siapa?"
"Simpan pertanyaanmu untuk nanti, Nak. Pegangan!" Wanita itu dengan sembarangan memacu mobil di tengah keramaian. Bahkan aku harus mencengkeram kuat kursi yang kududuki untuk memertahankan posisi.
Tong-tong sampah ia tabraki. Tak jarang juga hampir mencelakakan orang lain. Aku sangat ketakutan, tak ingin lagi mengalami kecelakaan. Ini sangat menyeramkan. Kematian seperti selalu mengikuti ke mana saja aku pergi.
Akhirnya kami tiba di jalanan yang cukup lengang. Kugunakan kesempatan ini untuk menengok ke belakang, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di alun-alun. Sesuatu seperti kilat berwarna biru menyerang tempat itu. Tak ada suara, hanya sinar yang turun dengan cepat ke tanah. Satu hal yang aneh adalah hanya tempat itu yang menjadi objek amukan. Semuanya berpusat di alun-alun, seolah itu adalah tempat yang telah dikutuk Tuhan.
Wanita itu terus mengemudi dengan cepat. Membawa kami sejauh mungkin dari alun-alun. Menembus kegelapan malam dan menyisir keramaian di jalan raya. Merasa bahwa kami sudah cukup jauh, ia menghela napas lega.
"Kita sudah aman."
Aku menengok ke wanita di sampingku. Ia bersurai pirang seperti Sierra, hanya saja lebih keemasan dan pendek. Wajahnya tegas dan seakan mencerminkan keberanian.
"Apa yang kaulihat, huh?"
Buru-buru aku menunduk. Tepat saat itu ponselku berdering. Nama Easton tertera di layarnya. Tanpa pikir-pikir, aku langsung menjawab.
"Easton, ka-"
"Berikan ponselnya pada Ivory!" perintah Easton langsung tanpa memberiku kesempatan untuk melanjutkan kalimat.
"Apa?"
"Berikan ponselnya pada wanita di sampingmu!"
Aku menjulurkan ponsel itu pada wanita yang disebut Ivory oleh Easton. "Dia ingin bicara padamu."
Ivory langsung mengambilnya. "Apa lagi, huh?"
"..."
Wajah Ivory tampak terkejut. Ia melihatku sebentar sebelum kembali ke jalan depan. "Kau serius?"
Aku tak tahu apa, tapi sepertinya mereka membicarakan sesuatu yang berhubungan denganku. Ada apa dengan mereka?
"..."
"Astaga, bagaimana mungkin?"
"..."
"Baiklah, baiklah, aku tak akan membawanya ke rumah!"
Aku tersentak pelan ketika Ivory memukul stir mobil dengan kesal. Ia memutar arah lalu berbelok di tikungan. Setelah mengumpat, ia menggeram, "Mereka benar-benar membuatku kesal!"
"Kita akan ke mana?" tanyaku sedikit takut.
"Mencari tempat yang aman untukmu." Ia menjawab tanpa repot-repot menoleh padaku.
"Memangnya ada apa denganku?"
"Tanyakan pada Easton nanti saja, astaga. Sekarang kau hanya perlu ...."
"Aaaaarrrghhh!"
Sesuatu tiba-tiba muncul di depan mobil. Ivory membanting stir, menukik tajam ke pembatas jalan. Semuanya berjalan begitu cepat hingga akhirnya sebuah pohon besar tepat berada di depan mobil kami.