Bad Number Brings Bad Luck

1727 Words
Laura. Bola itu mengarah kepadaku. Aku harus mengambilnya! Aku sudah siap dengan kuda-kuda dan tanganku untuk memberikan umpan pada temanku yang berada di posisi tiga, dan dia membalikkannya padaku dan aku pun... "Laura, bangun Laura!" "Laura, bangun Sayang." "LAURA! BANGUUUUN!" Aku membuka mataku yang berat perlahan-lahan. Ugh! Aku masih ngantuk. "Iya Laura bangun, Mom," kataku, "Ini baru jam enam pagi, Mom!!!" "Tapi kamu harus bangun, Laura sayang. Hari ini hari pertama kamu jadi co-ass!" Oh, jadi yang barusan mimpi. Aku tidak benar-benar main voli tadi? "Bentar lagi Laura juara tuh Mom di mimpi. Kenapa Mom harus bangunin Laura sih?" Dengusku sebal, sudah dalam keadaan duduk. "Kamu masih mimpi main voli?" Tanya Mom tidak percaya. "Bangun sekarang. Kamu nggak mau telat di hari pertama co-ass kamu kan?" Dialihkan lagi. Tiap kali aku membahas soal voli, olahraga, pertandingan, dan yang lainnya pasti malah dialihkan menjadi pembahasan yang lain. Huu! Mom nggak asyik! Selesai mandi, aku memakai pakaianku yang apa adanya, dan tak lupa membawa jas putih kebanggaan setiap orang yang menyandang gelar dokter di depan namanya. "Calon dokter udah turun nih," goda Jessica, kakak keduaku yang sedang menyuapi anak kakak pertamaku, Cella. "Pagi, Tante Laula!!" Seru Cella yang baru berusia empat tahun. Dia belum bisa mengucapkanya huruf 'r' jadinya, ya dia masih cadel. "Pagi Sayang," balasku. "Lucia dimana Jess?" Aku menanyakan keberadaan kakak pertamaku. Biasanya pagi-pagi begini, Lucia sudah menyuapi anaknya. Tapi ini tumben-tumbenan Jessica yang menyuapinya. "Katanya hari ini dia mau kerja di restoran gitu," jawabnya, "Sepertinya dia sudah mulai pulih. Kamu doain aja supaya lancar." Semoga. Ya semoga saja memang benar Lucia sudah pulih. Empat tahun yang lalu saat melahirkan Cella, dia langsung depresi karena ditinggalkan oleh pacarnya—seorang pemain bola yang andal di lapangan hijau—Simon Corazo, pemain timnas Brazil yang sempat membuat kakakku jatuh hati, menghamilinya, lalu meninggalkannya. Dua tahun lalu Lucia sudah dinyatakan sembuh. Tapi walaupun begitu, tetap saja dia malu akan dirinya yang punya anak diluar nikah. Seolah pengalaman sudah membuktikan kalau tidak ada lelaki yang akan menikahi keluargaku ini. Ibuku, memang menikah dengan ayah dari Lucia dan Jessica diusia sembilan belas tahun. Namun pernikahan itu hanya berjalan dua tahun, dan kemudian kandas. Lalu, ibuku bertemu dengan Santiago Wilson Muñoz, pemain senior timnas Brazil, yang kini menjadi pelatih. Hasilnya? Aku. Aku adalah anak di luar nikah yang Mom miliki dengan Santiago Muñoz. Aku mengetahui fakta itu sejak sepuluh tahun dan karenanya, aku berjuang untuk menjadi atlet nasional. Setidaknya, agar aku memiliki cukup uang untuk terbang ke Brazil dan bertemu dengan Santiago. Hanya untuk sekedar bertemu dengannya, dan mengatakan kalau aku ini anaknya. Itu saja. Tapi, alih-alih menjadi atlet, aku banting stir, dan menjadi dokter. Bukan karena aku mau menjadi dokter, tapi karena aku mendapatkan beasiswa dari universitas yang menerima esai yang kutulis mengenai tujuan, alasan dan keadaan keluargaku. Beruntung, otak yang kumiliki cukup memadai untuk menghapal, dan mempraktikkan semua teori kedokteran yang kupelajari. Tidak buruk, namun juga tidak luar biasa. Standard saja. "Kamu masuk jam berapa hari ini?" Tanya Jessica, "Kok nyantai aja sih buat co-ass hari pertama?" "Jam delapan, Jess," sahutku, "Aku jalan dulu ya kalau begitu sekarang. Cella makan yang banyak ya biar cepat besar, pintar, dan jadi dokter." "Siap Tante Laula! Cella mau jadi doktel kaya Tante!" Aku mengusap puncak kepalanya lembut lalu keluar dari rumah--rumah kontrakan. Di rumah kontrakan inilah tempat aku, Mom, Lucia, Jessica dan Cella tinggal. Kami tidak punya rumah sama sekali sendiri. Mom bekerja sebagai pemain musik di restoran dan kafe-kafe dan dibayar per jam. Lucia baru saja akan memulai pekerjaan barunya di restoran, Jessica adalah guru les yang mengajar murid-muridnya privat dari rumah ke rumah. Uang yang dihasilkan pun habis untuk membiayai kebutuhan sehari-hari dan bayaran kontrakan tiap bulannya. Jadi, mana mungkin kita bisa beli rumah? Aku yang kuliah kedokteran saja sudah megap-megap karena biayanya yang sungguh mahal jika bukan karena beasiswa yang aku dapat. ----- Sebelum masuk di dalam lobby, aku sudah mencium aroma steril khas rumah sakit. Aku suka bau steril itu. Dari pada mencium bau kambing yang sering berkeliaran di dekat kontrakan, lebih baik aku di rumah sakit dan menghirup aroma sterilnya yang sudah jelas. Para co-ass pagi ini dikumpulkan di aula rumah sakit sebelum kami dikirim ke departemen-departemen lain untuk pelatihan. "Araaa!" Seru Anggun saat melihatku masuk. "Sini, sini! Gue udah simpan tempat duduk terbaik di sebelah gue buat lo. Kurang baik apa coba gue?" "Dih. Orang Laura maunya duduk sebelah gue," timpal Lukas, "Iya nggak?" "Sotoy lo! Sebelah gue kan, Ra?" Tanya Lucky—kembarannya Lukas. Ini kembar emang paling ngeselin. Dibilangin aku nggak suka sama mereka dari dulu, masih aja ngotot. Tapi, walaupun begitu, mereka berdua adalah sahabatku, sama seperti Anggun dan Sarah. Kebetulan juga, kami berlima berada di satu grup untuk co-ass di rumah sakit ini. "Gue sebelah Sarah ajalah. Kalian berempat ngeselin sih!" Seruku diiringi dengan tawa. Tak lama, dokter kepala yang mengurusi anak-anak co-ass pun masuk ke dalam aula rumah sakit. Dokter itu masih muda, mungkin sekitar tiga puluh tahunan. Wajahnya menarik sekali, dan terlihat tampan. Sangat tampan. Aku akui, aku memang anti dengan laki-laki karena pengalaman buruk yang dimiliki Mom dan Lucia dengan makhluk berjenis laki-laki. Namun bukan berarti aku tidak bisa melihat dan menilai cowok ganteng. "Selamat pagi semuanya!" Serunya. "PAGI!" "Kenalkan, saya Han Jae Soo." Jae Soo? Orang Korea? "Itu nama lahir saya, nama lain saya adalah Jason Han. Jadi kalian bisa memanggil saya Dokter Jason selama co-ass di sini. Saya adalah dokter penyakit dalam di rumah sakit ini sekaligus dokter kepala untuk co-ass. Selama kurang lebih dua tahun kalian akan co-ass di sini, jadi selama itu pula kalian akan menjadi tanggung jawab saya." Wih! Di tanggung jawabin sama dokter ganteng model dia mah aku juga mau dong... "Kalian sudah di bagi dalam kelompok-kelompok kecil. Jadi, kalian harusnya juga tahu kelompok kalian akan digilir, sampai kalian mendapatkan semua stase. Paham?" "PAHAM DOK!" "Oke, khusus untuk forensik, rumah sakit ini bekerjasama dengan rumah sakit pemerintah. Jadi, kelompok yang mendapat forensik segera melaporkan anggotanya kepada saya untuk saya urus." Yailah. Ribet banget ya? Denger boleh denger dari senior yang kena jatah co-ass di rumah sakit ini, katanya sih setiap stase kena jatah dua bulan rata-rata. Hanya untuk UGD... Walaupun tidak termasuk stase besar maupun kecil, tapi departemen itu memiliki alasan tersendiri untuk meminta anak co-ass harus masuk departemen tersebut. Dan, bukannya dua bulan, tapi tiga bulan. Tiga bulan berturut-turut harus berada di UGD! "Untuk mempersingkat waktu, saya langsung bagikan saja jadwal kalian. Pada perwakilan kelompok, boleh maju untuk mengambil jadwal yang sudah saya susun sesuai nomor kelompoknya!" Aku, Lucky, Lukas, Anggun dan Sarah main tunjuk-tunjukkan karena tidak mau menjadi perwakilan. Jujur ssja saja sih, kami berlima takut kalau saat membuka jadwalnya, dan kami berada di UGD untuk tiga bulan pertama. Belum lagi nomor kelompok kita adalah angka sial. "TIGA BELAS! KELOMPOK TIGA BELAS TOLONG MAJU SECEPATNYA!" Setelah main tunjuk-tunjukkan dan nggak selesai-selesai, akhirnya aku yang kena getahnya saat Dokter Jason menarik telingaku. "Ini punya kelompokmu," katanya dengan santai setelah melepaskan tarikannya. "I-iya Dok. Maaf," kataku. "Semoga kelompok kalian tidak seperti nomor kelompok kalian ya," katanya. Aku yakin dia sedang meledek kelompokku karena angka tiga belas. Gah! Aku benci ini. Sepeninggal Dokter Jason, beliau pamit, dan mengatakan kalau ada hal-hal yang ingin ditanyakan seputar co-ass, boleh langsung menemuinya di departemen penyakit dalam. Barulah setelah itu setiap kelompok membuka jadwal yang sudah disusun oleh Dokter Jason. Jadwal tersebut di masukkan ke dalam amplop semoga kita harus membukanya perlahan. "Apapun deh! Asal bukan UGD," pinta Sarah. "Kepalanya galak banget katanya!" Aku membukanya perlahan-lahan sampai saat kertas itu keluar, aku dan teman-teman satu kelompokku langsung pucat seketika. ----- "Jadi kalian kelompok tiga belas?" Tanya dokter perempuan yang rambutnya dikuncir kuda. "Kalian kelompok dengan angka sial rupanya. Tapi semoga saja kalian tidak benar-benar sial ya." Dia mulai menjelaskan soal hal ini dan itu. Bagaimana cara menjawabnya jika dia bertanya, dan bagaimana kita harus bersikap. Layaknya di militer, dokter ini meminta kita untuk menjawabnya dengan satu kata pembuka yaitu, 'Siap.' "Ini UGD. Unit gawat darurat. Pasien yang dibawa kemari adalah pasien yang dalam keadaan gawat dan darurat untuk ditolong. Kalau kalian tidak siap untuk bekerja, menjadi dokter, lebih baik kalian mundur! Saya punya banyak surat pengunduran diri co-ass di laci saya, dan saya siap untuk menerima surat pengunduran kalian juga kalau kalian mau." Jleb! Serem juga ya kepala UGDnya. Hiiyyy... serem! "Kenapa diam saja? Tadi saya sudah bilang kalau setiap kalimat saya harus di jawab seperti apa bukan?" "IYA. SIAP DOK!" Senyuman terlukis di wajahnya. Senyuman yang dapat kuartikan sebagai senyuman yang meremehkan. "Nama saya Abby Natania, kepala UGD di sini, dan saya juga dokter bedah. Bedah plastik." Aku mengamatinya. Dia memang cantik, tinggi semampai, kulitnya mulus. Pantas saja dia menjadi dokter bedah plastik. Pasti uangnya juga banyak tuh, pasiennya banyak. Belum lagi, sekarang lagi ngetren banget operasi ubah muka. Eh, maksudnya operasi jadi matanya lebih besar, hidung lebih mancung dan sejenisnya. "Pertama, kalian harus datang ke UGD sebelum saya sampai disini, yaitu jam setengah tujuh setiap harinya! Paling telat jam tujuh. Kedua, yang jaga malam tolong pastikan melapor pada dokter jaga yang bertugas tiap malamnya dari departemen umum. Ketiga, tidak boleh ada kata terlambat. Baik terlambat datang ke UGD, maupun terlambat menolong pasien. Kalian akan tahu sendiri sanksinya jika kalian melakukan pelanggaran!" Serunya, "Keempat, pastikan kalian memakai pakaian yang layak! Tidak ada kaos, celana jins, atau sandal jepit, sepatu hak tinggi dan sejenisnya!" Aku melirik Sarah yang memakai wedges. "Kamu, yang pakai baju merah!" Kata Dokter Abby, menunjuk Sarah, "Lepas sepatumu dan ganti dengan sepatu kets yang ada di loker co-ass setelah ini. Mengerti?" "Ss-siap Dok!" Jawabnya sedikit takut. "Dan kelima—yang terakhir—kalian tidak boleh mengambil tindakan pada pasien. Ingat status kalian disini adalah co-ass! Bukan dokter, bukan residen spesialis apalagi konsulen. Bahkan kalian belum menyandang gelar dokter di depan nama kalian. Mengerti?" "Siap mengerti Dok!" "Baiklah. Kalian boleh siap-siap dan segera bertugas." Dokter Abby berlalu. Dia berjalan menuju bilik yang tertutup. Kami berlima menarik napas panjang karena sikap Dokter Abby yang mengerikan tadi. Jadi kita berlima harus berada dalam tekanan dokter itu selama tiga bulan? "Gue kira angka tiga belas nggak seburuk itu," kata Lukas. "Tahunya apa?" Sahut Sarah. "Lebih buruk dari itu. Sial banget malahan bisa kena di UGD tiga bulan pertama begini!" Balas Lucky, seolah menyambungkan kalimat Lukas tadi. "Udah yuk. Kita siap-siap. Biar nggak kena semprot lagi," kataku. "Angkat tiga belas nggak seburuk itu kok. Asal kita nggak mikir buruk mulu." Yang lainnya pun tersenyum. "YUK!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD