Lelaki itu berdiri di depan jendela, pandangannya jauh melintasi pasir-pasir dan tanah padat, mengawang jauh menembus kaca bening jendela. Sekejap kemudian ia berdiri siaga, mengenakan pakaian pelindung dan berdiri di atas puing-puing yang tersisa pasca ledakan. Memandangi mayat-mayat yang hangus. Tiba-tiba momentum lain bergerak, lelaki itu memandangi foto usang sepasang manusia yang saling tersenyum. Lalu terpampang kilasan-kilasan masa kecilnya bersama gadis lain yang bukan aku. Kemudian mereka yang terlihat lebih besar sedang berciuman di bawah naungan pohon besar. Kemudian gelap. Aku mengerjap beberapa kali begitu secercah sinar redup dari lampu di atas nakas menusuk netra. Aku masih terbaring di tempat tidurku, hari masih gelap—dan akan tetap gelap karena tempat ini berada jauh di

