"Arya ingin bertemu denganmu." Aku sedang memakan sarapanku ketika Ryan tiba dan menyampaikan hal itu. "Hah?" tanyaku dengan mulut masih penuh makanan. Dia memberengut, tak menjawabku, dan terus saja memakan sarapannya dengan beringas. Mungkin benar-benar kelaparan, aku tak tahu. "Dia ingin bicara denganmu," jawabnya, masih dengan mulut penuh pula. Aku menatap ke sekeliling, mencari-cari sosok Arya yang dalam bayanganku sedang berdiri pada suatu sudut di kafetaria yang setengah penuh pagi ini. Tapi tak ada Arya. "Dia di atas." Seolah mengerti alasan mengapa kepalaku bergerak stereo, ia menjelaskan. Sembari menggerutu tentang sarapan sisa yang diperolehnya. Aku bangkit dan meninggalkan piring kosongku di atas meja kafetaria. Mengabaikan Ryan yang masih menggerutu di antara kunyahannya.

