Suasana rapat petang itu benar-benar kondusif. Cahaya jingga yang samar-samar menembus kaca jendela gedung tingkat delapan itu mulai meredup. Sebagai gantinya, lampu-lampu besar mulai dinyalakan, sehingga tampaknya gedung itu kembali cerah seperti siang hari. Sepi beberapa saat setelah ada perdebatan-perdebatan kecil. Salah satu dari enam pemimpin itu duduk muram, melirik langsung ke arah langit yang masih diselingi semburat kemerahan, dan ia yakin sekejap lagi warna biru kelam akan menggantikan semburat itu. Frustrasi, ia mengalihkan pandangannya dari panorama di luar jendela kaca itu, untuk kemudian kembali mengamati satu-persatu orang dalam ruangan. Ia mendongak lagi setelah sebuah suara tak sabar terdengar dari sudut ruangan. "Mengapa kau harus berpikir lagi? Ataukah kau tidak sanggup

