Musim dingin baru saja dimulai. Aku sendiri baru menyadari bahwa kalender telah berpindah ke bulan-bulan yang berakhiran dengan ber. Lagipula orang bodoh mana yang masih sempat memperhatikan kalender saat hidupnya sendiri begitu berantakan? Yang jelas bukan diriku. "Kau masih marah padaku?" Suara itu membuat pekerjaan yang sedang kulakukan sambil melamun menjadi kacau. Tanganku yang entah melakukan apa sebelumnya tiba-tiba saja menyenggol cerek yang masih terjerang di atas kompor. Gerakan refleksku parah sekali sehingga luka bakar itu tak terelakkan. "Maaf. Maafkan aku." Apa? Untuk apa dirinya mengucapkan kata-kata klise seperti itu? "Tidak. Bukan salahmu," jawabku seraya terus meniup kulit lenganku yang mulai keunguan. Kemudian meninggalkan area dapur tanpa aba-aba. Kami tidak dibawa

