Sebelumnya, Panca sudah mengatakan bahwa aku akan terkejut ketika mengetahui cara kerja dinding baja itu. Dan ya, bahkan setelah berjam-jam yang lalu, aku masih terkaget-kaget. Sementara itu, langit membentang luas di atas kepala. Dinding baja itu sudah berada bermil-mil jauhnya di belakang. Panca duduk bersandar di sebelahku, matanya terpejam. Namun, aku tahu ia tidak tidur sama sekali, sebab ia masih setia menjawab pertanyaan-pertanyaanku.
“Bagaimana mungkin kita menembus melewati baja itu, Panca?” Aku menatapnya, tanpa balasan. Tentu saja ia tak tahu itu, matanya masih terpejam rapat dengan kedua tangan menyilang di depan d**a. Apa ia selalu melakukan itu setelah bekerja seharian?
“Sudah kubilang, bukan? Kau akan terkejut,” katanya dengan nada angkuh, aku melotot.
“Ya, memang. Sekarang aku ingin tahu cara kerja dinding baja itu,” ujarku gemas.
“Kau dan teman-teman Menacer-mu yang mengaktifkan daya tembus baja itu. Itulah sebabnya kita bisa melewatinya dengan mudah. Biasanya hanya bisa dilalui dengan memanjat dan mematikan aliran listriknya terlebih dahulu. Tapi satu generasi Menacer bisa melewatinya dengan mudah hanya dengan menampakkan muka kalian. Ngomong-ngomong, mengapa kau tidak bergabung dengan rekan sesama Menacer-mu?”
“Aku tidak mengenal satupun dari mereka.”
“Hei, belajarlah membaur. Mulai sekarang kau akan hidup dengan mereka.” Panca bersingsut dari posisinya, kini ia sepenuhnya berbaring. Satu lengannya ia gunakan untuk melindungi matanya dari sinar matahari. Aku merengut.
“Malas. Tidakkah mengenalmu saja sudah cukup? Kau patron-ku, ‘kan?”
“Aku tidak tinggal di distrik utama. Kau akan tinggal dan berlatih bersama Menacer lain. Dan aku sudah jelas akan tinggal bersama patron yang lain. Kau harus bersosialisasi.”
“Ayolah, sosialisasi sama sekali bukan bagian dari diriku. Tidak bisakah kau menjadi pengecualian dan tetap tinggal di sini denganku? Atau, tidak bisakah aku jadi patron saja agar tak perlu repot-repot mencari kenalan selain dirimu?” Tunggu dulu! Mengapa aku berbicara seperti itu? Panca bisa saja berpikir aku sedang menggodanya.
“Hei!” Panca bangkit dari posisinya, matanya membelalak ke arahku. “Jika kau mengerti, kau pasti takkan mau jadi patron. Aku tidak mau mendengarmu berbicara seperti itu lagi, Nona. Aku hanya ingin jadi patron seorang Kanya Aleana. Nah, tetaplah jadi Menacer dan terimalah takdirmu.”
“Mengapa?”
“Tidak ada alasan khusus, itu semua terjadi karena memang sudah takdirku untuk melindungimu. Kumohon, berhentilah bertanya dengan mulut cerdasmu itu. Karena kau akan terkejut saat tahu apa yang bisa aku lakukan dengan mulut cerdasmu itu jika aku lelah mendengar pertanyaanmu."
Lagi, aku terkejut dengan ancaman itu. Aku tidak tahu orang seperti apa patron-ku ini. Aku tak bisa menebaknya sama sekali. Bunyi bip kecil meruntuhkan hening di antara kami. Ia merogoh sakunya, dan menggenggam sebuah benda bundar pipih seperti koin mata uang. Kuduga suara bip itu muncul dari sana.
"Panca Prasetya? Patron 18? Kau di sana?" Suara formil itu pastilah muncul dari koin itu. Aku tahu hidupku akan lebih membingungkan lagi setelah ini.
“Ya, aku di sini.” Sekilas aku melihatnya memutar bola mata. Sangat sekilas, sehingga aku tak yakin dia melakukannya atau tidak.
"Kembali ke distrik. Arahkan Menacer 18 ke distrik utama." Hei, apakah aku yang dimaksud dengan Menacer 18 itu? Aku benci angka 18. Angka itu mengingatkanku pada peristiwa yang tidak ingin kubicarakan lagi. Tapi mengapa justru aku mendapatkan julukan dengan angka itu?
"Perintah diterima." Terdengar bunyi bip sekali lagi sebelum Panca menyimpan koin itu. Aku mengernyit, ia mengangkat tangannya. "Cukup, tidak ada pertanyaan lagi, Menacer 18."
"Itu dia! Panca! Aku benci angka 18! Mengapa aku dijuluki Menacer 18?" Tanpa disadari aku berteriak. Aku tak suka membahas sesuatu yang kubenci, tapi aku harus bernegosiasi.
"Karena kau lahir setelah Menacer 17 lahir," katanya enggan. Oh, ini menimbulkan pertanyaan lain lagi. Aku tahu panca tidak akan suka jika aku bertanya lagi, tapi aku benci menjadi penasaran.
"Kalau begitu kau?"
"Menacer dan patron lahir dengan urutan yang sama, Nona. Aku tidak ingin pertanyaan lagi hari ini. Ayo! Kuantar kau ke distrik utama."
Aku mengangguk mengerti. Meskipun masih ada banyak pertanyaan yang berputar-putar di kepalaku, aku harus bisa menahan diri. Tapi aku tak tahan untuk tidak menggerutu. "Aku sudah bilang, aku punya banyak pertanyaan."
Aku baru saja berdiri di belakangnya saat ia berbalik sambil menatapku, "Tapi cukup untuk hari ini, Nona."
Lalu langkah tegasnya berdebum melewati sisi atap bunker yang sedari tadi menjadi tempat peristirahatan kami. Aku menyusulnya segera, sedikit kepayahan karena langkahku tak sepanjang langkahnya. "Tidak bisakah kau memanggil namaku, Panca?"
"Oh, patron tidak memiliki izin untuk itu, Nona," katanya tanpa berbalik. Betapa menyebalkannya lelaki di depanku ini.
"Tapi di sekolah kau menyebut namaku."
"Itu pengecualian. Aku tak mungkin bicara pada gurumu bahwa aku mencari Menacer 18." Aku yakin Panca sedang memutar bola matanya. "Kau juga seharusnya tidak memanggilku dengan nama. Kau harus mulai memanggilku patron 18."
Aku angkat alis, menantang egonya. "Tidak akan. Aku lebih suka memanggil namamu. Itu lebih sopan."
"Di sini tidak. Di sini berbeda," katanya singkat.
"Salah sendiri tidak mengingatkanku sejak awal. Aku sudah terbiasa dengan Panca. Jadi, aku akan tetap memanggilmu Panca." Aku berusaha keras untuk menunjukkan ekspresi keras kepalaku.
"Aku sudah mengingatkanmu sebelumnya. Jangan keras kepala atau kau bisa terkena detensi."
"Oh, aku terbiasa dengan detensi di sekolah. Tenang saja"
"Kau tak akan suka dengan yang ini. Percayalah."
"Aku tetap akan memanggilmu Panca."
Panca menghela napasnya, aku tahu dia akan mengalah. Dia takkan tahan berdebat denganku, tidak ada yang bisa menang dariku dalam debat.
"Hanya jika kita berdua saja."
"Kita lihat saja nanti." Aku menyeringai lebar. Berjalan mendahuluinya meskipun aku tak tahu pasti ke mana seharusnya aku pergi.
***
Panca mengantarku hingga hidungku berhadapan dengan pintu asrama di gedung lantai atas. Kutebak, sekarang sudah sekitar pukul delapan malam.
"Belajarlah membaur," pesan Panca saat aku memutar kenop pintu. Aku terkikik karena aksennya yang dipadukan dengan nada formal membuat caranya bicara jadi agak aneh.
"Mengapa kau tidak masuk?" Panca menunjuk pintu dengan dagunya.
"Tidak sampai kau hilang dari pandanganku," jawabku sama formalnya dengan nada yang ia pakai.
Panca segera merapat pada sisi lekukan dinding di dekat pintu, lalu berbisik, "Masuklah. Kau tak bisa melihatku ‘kan sekarang?"
Sesaat, aku berusaha mencerna apa yang ia katakan, lalu kemudian aku tertawa terbahak-bahak. "Bukan itu maksudku, Panca."
Panca keluar dari tempat persembunyiannya, dan berdiri lagi di hadapanku sambil menggaruk tengkuknya. "Aku tidak akan pergi sampai aku melihatmu masuk dengan aman."
"Ah Panca, kamu manis sekali." Aku mendengus dan kehilangan gaya formalku. Berusaha keras untuk tidak tertawa.
"Masuklah," katanya datar.
Aku tersenyum kecil sebagai pengganti tawaku. "Kau hati-hati, ya." Setelah anggukan kecilnya sebagai isyarat, aku segera masuk dan menutup pintu di belakangku. Aku harus bersyukur untuk semua kesialan yang kudapat hari ini, karena itu membawaku pada momen ini, momen di mana aku mengenal Panca.
Aku menghentikan aktivitas berpikir tentang Panca saat cahaya yang sangat redup mengganggu penglihatanku. Di luar sana jauh lebih terang daripada tempat ini. Aku menoleh ke sisi kanan dan kiri ruangan, mencari-cari sesuatu seperti sakelar lampu. Mungkin lampunya belum dinyalakan? Ruangan ini sangat sempit, lebih seperti sebuah lorong kecil. Dan kupikir memang sebuah lorong. Karena Samar-samar aku mendengar suara orang sedang berdiskusi beberapa meter di depanku. Pandanganku terhalang tirai tebal berwarna hitam.
Penderitaan mataku berakhir saat aku menyibakkan tirai itu. Sebuah ruangan besar dengan berderet-deret tempat tidur di sisi kanan dan kirinya. Di tengah-tengah ruangan itu, beberapa orang membuat sebuah lingkaran kecil. Aku yakin, merekalah yang kudengar sedang berdiskusi tadi. Mereka serentak menatapku, mau tak mau aku melangkah menghampiri mereka dengan kikuk. Apa yang harus kubicarakan nanti?
"Ah! Kau pasti Menacer 18. Kenapa kau terlambat?" Seorang laki-laki dengan mata cokelatnya menyapaku begitu aku sampai di antara mereka, aku cepat-cepat mencari celah untuk bergabung duduk bersama mereka.
"Kau melewatkan banyak hal." Seorang anak perempuan yang duduk di sebelah lelaki bermata coklat itu berbicara antusias. Mengulurkan tangannya. "Aku Wulan Imaniah, Menacer 20."
Aku mengangguk formal sambil menyambut uluran tangannya. Kupikir aku tak perlu menyebutkan nama, karena sepertinya mereka semua sudah mengenalku.
"Apa yang kalian bicarakan?" Aku teringat kata-kata Panca,belajarlah membaur. Dan kata-kata itu kedengarannya seperti semacam mantra yang membuatku menemukan beberapa kalimat untuk kuutarakan.
"Kami baru saja memilih ketua kamar kita, Iqbal. Dan wakilnya, Diah. Maaf kami tak menunggumu," jelas Wulan dengan aksen yang kupikir sedikit campuran antara beberapa aksen yang membuat gaya bicaranya menarik untuk didengar.
"Oh, tidak, tidak masalah." Aku tersenyum kikuk. Aku pikir setelah ini pembicaraan akan berakhir karena aku tak tahu akan bertanya apa lagi.
"Dan kupikir kau harus melihat jadwal latihanmu sendiri. Karena kau tidak ikut pada pertemuan sore tadi, Pak Inspektur menitipkan ini untukmu." Iqbal menyerahkan sebuah amplop berwarna abu-abu. "Kau harus membacanya. Semua informasi yang kau butuhkan ada di sana."
Bagus sekali. Aku benci membaca, ngomong-ngomong.
"Ada daftar Menacer dan patronnya. Kuharap kau dapat mengingat nama-nama kami. Karena inspektur akan menanyakannya saat sarapan besok." Kupikir kali ini Diah yang berbicara.
"Um, apa ada peraturan tentang Dilarang menyebut nama?" Aku bertanya ragu. Apakah mereka tahu jawabannya?
"Ada. Patron dilarang memanggil Menacer dengan nama. Begitupun sebaliknya. Tapi untuk sesama Menacer dan sesama patron, itu tidak dilarang." Iqbal menjelaskan padaku secara cepat, aku tidak yakin aku menangkap setiap kata-katanya, tapi aku kira aku cukup mengerti.
"Besok kita akan diberikan cocator. Kemudian kita akan memulai sesi latihan fisik dan mental. Aku Elsa, Menacer 15." Aku mengangguk. Meski tak tahu apa itu cocator, mungkin semacam koin yang dimiliki Panca. Entahlah. Tapi aku tak mau bertanya. Panca benar, aku terlalu banyak bertanya. Ada banyak informasi yang perlu kuserap.
"Sepertinya aku tertinggal banyak hal." Aku tersenyum minta maaf.
"Kau hanya melewatkan sesi perkenalan sore tadi. Darimana saja kau?" Aku tak tahu siapa yang bicara. Lagi-lagi aku tersenyum minta maaf.
"Aku membuat pusing patron-ku dengan bertanya banyak hal, aku sampai tidak tahu bahwa ada pertemuan." Aku nyengir. Mengundang senyum geli terukir di wajah para Menacer itu. Aku meminta diri untuk pergi ke tempat tidurku lebih awal, penasaran dengan isi amplop yang disodorkan oleh Iqbal tadi. Itu alasan yang kubuat-buat, padahal aku hanya merasa canggung berada di antara kelompok itu.
Bagaimana bisa aku ditakdirkan menjadi salah satu di antara mereka?
Aku naik ke atas ranjang dan membuka amplop besar yang disodorkan kepadaku tadi. Ada tiga rangkap dokumen di sana. Yang pertama, berlembar-lembar peraturan. Ya ya, mereka akan tahu nanti bahwa mereka salah memilihku. Aku jelas-jelas seorang rules breaker. Aku bukann individu yang suka diatur. Aku memilih untuk tidak membacanya. Karena kurasa belum perlu.
Rangkap kedua, jadwal-jadwal latihanku selama seminggu. Ada banyak daftar yang tidak aku mengerti. Kau harus tahu juga, aku tidak suka olahraga. Walaupun aku tidak membencinya sebesar rasa benciku terhadap ilmu pasti. Aku akan membawa jadwal ini ke mana-mana. Karena aku takkan bisa mengingatnya dalam waktu satu malam, dua malam, atau bahkan seminggu penuh sekali pun.
Rangkap ketiga, daftar nama Menacer dan patronnya. Ini satu-satunya yang ingin k****a malam ini. Dimulai dari Menacer satu sampai dua puluh tujuh, juga patron mereka masing-masing. Keren sekali. Aku takkan mungkin hafal mereka semua. Sepertinya aku akan dapat detensi pertama besok. Memikirkan ini ternyata lebih memusingkan daripada sekedar disuruh berdiri karena tidak bisa mengerjakan soal.
Aku terkejut karena mendadak aku merindukan Dylon. Di sekolah aku hanya perlu mengingat satu nama itu saja. Dan aku tidak akan banyak bertanya. Tahu-tahu aku sudah tertidur sambil mengingat hari-hari normalku yang pias.Apalagi sesudah ini?
***