4. Detensi

1993 Words
Pagi itu, kekacauan terjadi. Seseorang yang bernama Diah telah mengalami kesialan besar karena harus pergi bersamaku. Dengan langkah tergesa dia menyeret-nyeretku sementara aku bersusah payah meluruskan kembali rambut yang kusut. Sirene peringatan berbunyi nyaring sementara kami bergerak tergesa hingga tiba di depan sebuah pintu yang tertutup.  "Kita akan dapat detensi,” gumamnya sedih. “Dan aku sedang membayangkan yang terburuk dari semua detensi yang kupelajari dari buku peraturan kita.” "Apa yang terburuk dari semua detensi itu?" tanyaku khawatir. Aku lebih khawatir pada kecemasannya daripada detensi itu sendiri. "Kita akan dilatih bersama para Patron." Kalau itu hukumannya, aku akan bersedia melakukan pelanggaran berkali-kali agar menjalani latihan bersama Panca. "Kau yakin itu yang terburuk?" "Aku membacanya! Apa kau sama sekali tak menyentuh peraturan-peraturan itu?" Aku menggeleng. "Aku tak pernah melanggar peraturan sebelumnya, dan aku harus merelakan rekor itu berakhir hanya karena aku terlambat menyuruhmu lebih cepat?" Diah mendesah frustrasi. Orang di hadapanku ini jelas hidup dalam keteraturan yang ketat, mungkin sangat ketat. Hal itu terlihat dari kerapian dan keteraturannya yang tak bercela. Sementara aku berada pada sisi yang bertentangan dengannya. Seperti putri dan babu, sepatu yang dipakainya bersih seperti baru. Sementara aku hanya memakai bot tua yang selalu kukenakan di sekolah. Kami memakai seragam yang sama. Tapi seragam itu memiliki daya tarik yang berbeda saat dipakai olehnya dibandingkan aku.  "Aku lupa mengecek jadwal, maafkan aku," ujarku sungguh-sungguh.  "Lupakan saja. Aku hanya terlalu tegang." Diah memamerkan senyum kikuknya, membuatku akhirnya ikut tersenyum lega.  Kemudian koridor bergemuruh karena derap langkah kaki  puluhan orang berhentakan tidak jauh dari tempat kami berdiri. Mereka semua menyerbu ke arahku. Oh bukan, ke arah pintu yang ada di belakangku dan Diah.  Mataku secara otomatis memindai mereka semua, mencari satu-satunya sosok yang paling aku kenal di antara Patron itu. Tapi kemudian tanpa sadar aku menghitung mereka satu-persatu. Mereka lebih dari dua puluh tujuh orang. Apakah ada beberapa Menacer yang memiliki dua Patron?  Sementara aku bergulat dengan isi kepala, mataku menemukan Panca. "Panca!" Lelaki itu segera mengalihkan pandangannya ke arahku, tapi kemudian memasang tatapan tajam. Diah menyikutku. Menyadarkanku akan kesalahan yang kubuat. Alas! Ini tentang peraturan sialan itu.  "Menacer 18." Panca berdeham penuh peringatan, sementara aku menggaruk tengkuk yang seharusnya tidak gatal. "Aku punya pertanyaan ...," ucapku ragu. Akhirnya aku memilih untuk tidak menyebutkan namanya.  "Satu sebelum pintu itu terbuka," katanya setelah memberiku satu anggukan setuju. "Mereka, yang berjalan bersamamu ... semuanya Patron?" Aku memberanikan diri mendongak untuk menatapnya. Aku berharap pintu tidak segera dibuka. Karena aku masih ingin menatap mata itu. "Lima belas di antaranya adalah Restrain," jelas Panca singkat. Restrain? Aku baru saja akan membuka mulutku untuk menanyakan istilah itu, saat Panca tiba-tiba mengangkat tangannya. "Aku hanya menerima satu pertanyaan pagi ini." Aku mendengkus, tapi tidak mencoba untuk protes. "Patron 18!" Panca kontan menoleh ke asal suara. Seseorang yang sedang memegang grendel pintu mengisyaratkan Panca untuk masuk dengan dagunya. Panca mengacungkan ibu jari tangannya kepada orang itu lalu menatapku lagi. "Kau terlambat?" "Sepertinya," jawabku sambil mengedikkan bahu. Sekilas Panca tampak sedang menarik napasnya. Aku jadi bertanya-tanya, apa dia memang sering menarik napas dalam-dalam ataukah dia baru punya kebiasaan itu sejak bertemu denganku kemarin?  "Patron 18!" Peringatan kedua, dan Panca segera berbalik meninggalkanku. "Hei, kau!" Aku rasa orang itu menunjuk ke arahku. Aku cepat-cepat menghampirinya sementara Diah sudah berdiri di depan wanita itu sedari tadi. Saat aku tiba di dekat wanita itu, Panca menahan langkahnya untuk masuk, dan aku mendengar suara samarnya yang mengatakan pada wanita itu untuk sedikit memberiku toleransi. Namun, garis wajah wanita itu bertambah keras. Panca melirikku sekilas sebelum ia masuk ke ruangan. "Namaku Jill. Aku Restrain." Aku menatap gadis itu dengan alis terangkat. Jill berdeham sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket. "Menacer 17 dan 18, kalian tahu kesalahan apa yang kalian lakukan?" Aku mengangkat alis lebih tinggi, menantangnya. Namun, Diah justru menunduk sambil memilin jari-jarinya. "Kalian terlambat untuk sarapan," kata Jill datar. "Bantah aku jika aku salah!" Suara Jill meninggi. Membuat siapapun yang mendengarnya tersentak. Termasuk Diah dan aku. Alih-alih menjawab kata-kata Jill, Diah menggeleng kuat-kuat. "Tidak. Kau benar," balasku datar. Aku melihat wajah Jill berubah merah padam. Ia mendengkus keras sebelum berkata, "Sayang sekali aku menjadi petugas kedisiplinan hari ini, Menacer 18. Aku bukan orang yang akan memberikan toleransi pada siapapun yang melakukan pelanggaran. Bersiaplah untuk menjalani hari yang berat bersama Patron.” Aku bahkan tidak membantahnya, aku membenarkan ucapannya! Setelah mengatakan itu, dia mendorongku masuk ke dalam ruangan yang kuyakini sebagai kafetaria. "Bagaimana denganku?" Aku mendengar suara lirih Diah di belakangku sebelum Jill menutup pintu. Ruangan itu diisi dengan tiga buah meja panjang. Aku melihat teman-teman satu kamarku berada di meja nomor dua. Panca di meja nomor tiga, dan aku yakin yang berada di meja nomor satu adalah tempat para Restrain. Aku berjalan setengah berlari menuju bangku kosong yang tersisa di meja nomor dua. Memilih duduk di antara Sabrina dan Debby, menunduk memandangi menu sarapanku yang tersedia di meja, roti isi. "Kau terlambat?" Debby berbisik di sebelahku.  Aku mengangguk. "Bagaimana dengan Diah?" Debby bertanya lagi, sementara aku menggigit roti isiku sambil menggumam tidak jelas. Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku makan. Diah masuk ke ruangan di waktu yang tepat, maka begitu dia mengambil tempat di kursi kosong yang tersisa, dia menyelamatkanku dari cecaran pertanyaan orang-orang karena pertanyaan itu dialihkan kepadanya. Saat itulah aku memandang melintasi bahu Mahardika—Menacer yang duduk berseberangan denganku—dan menemukan Panca sedang mengaduk-aduk cangkir tehnya tanpa minat. Aku memperhatikannya cukup lama, sampai kemudian mata hazel green  itu menemukann mataku. Aku segera membuang muka. Sepuluh menit kemudian, sirene sialan lainnya berbunyi dengan nyaring. Membuat Jill dan beberapa orang lain yang berada di meja yang sama dengannya berteriak memerintah kami untuk keluar dari ruang makan. Aku mengerang keras, aku tidak suka diatur, dan aku tahu aku berada di tempat yang salah sekarang. Tempat yang dipenuhi aturan. *** Diah terduduk di sampingku dengan napas yang tersengal-sengal tak beraturan. Sementara aku membungkuk, menumpukan kedua tangan di atas lutut dan membebaskan paru-paru, memompa udara sebanyak mungkin, sebanyak yang bisa diterimanya. Kedua kakiku nyeri luar biasa dan detak jantungku belum kembali normal. Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku melakukan sprint mengelilingi lapangan sebesar lapangan sepakbola. Kalau pun aku pernah melakukan sprint  sebelum ini, aku tidak pernah benar-benar berlari seperti yang baru saja terpaksa kulakukan. "Hei!" Teriakan diktator itu membuat Diah yang tadinya duduk lemas segera melompat berdiri. Aku meringis sambil berusaha berdiri tegak. Itu Jill. Tentu saja! "Apa yang kalian lakukan?!" Suara melengkingnya membuatku memejamkan mata. Sementara Diah menutup kedua telinganya. Jill memasang ekspresi tersinggung. "Aku haus," ucapku datar. Mengabaikan pertanyaannya tentang apa yang kami lakukan. Aku yakin dia cukup pintar untuk tahu apa yang sedang kulakukan sekarang. Jill mengabaikanku. "Sepuluh menit lagi, para Patron akan mengikuti kelas pertahanan diri. Kalian harus ada di sana paling tidak lima menit sebelum para Patron sampai." "Apa yang akan kau lakukan jika kami terlambat?" tanyaku getir. Jill menatap tajam ke arahku. Matanya setajam pisau, hampir membunuh nyaliku. Tapi tetap saja aku tak gentar. Usianya hanya terpaut sekitar dua atau tiga tahun dariku. Dan ia bukan guru-guru galak yang berkeliaran di sekolahku dulu. Aku tak punya alasan untuk takut padanya. "Kau tak akan mau mengulangi hukuman semacam ini, ‘kan? Berhentilah menantangku." Kata-katanya setajam caranya menatapku, Namun, itu tak membuat jiwa pemberontakku kalah. "Aku tidak menantangmu," balasku datar. Entah ke mana rasa nyeri yang mengganggu kedua kakiku tadi. Jill mengatupkan bibir. Ekspresi wajahnya menggambarkan kemarahan atas pemberontakan yang diterimanya dariku. Kulihat bibirnya berkedut. Tapi akhirnya ia hanya mendengkus keras lalu meninggalkanku. Seperti tahu bahwa aku baru terserang masalah, Panca menghampiriku dengan wajah merah penuh keringat. Aku bertanya-tanya mengapa ia masih hidup sampai sekarang. Bukankah ia pernah mengatakan padaku bahwa keluarga Patron melatih anak-anaknya sejak kecil? Aku baru mengalaminya hari ini, tapi aku rasanya sudah mau mati. Bagaimana dengannya? Matanya yang tersenyum dengan sinar teduh. Rahang kokohnya, hidung mancungnya, alis hitamnya, bibirnya yang selalu berbicara tak terduga, ekspresinya yang sulit ditebak, lengan kokohnya, bahu bidangnya. Segala yang ada dalam diri Panca ditempa dengan cara keras seperti ini. Ia hidup dalam kekerasan. Aku bertanya-tanya sekali lagi, apakah ia pernah merasa lelah? "Jangan menentang Jill." Bibirnya bergerak bijaksana. Membuatku berhenti berpikir tentang kerasnya hidup menjadi Patron. "Aku tidak menentangnya," ucapku tenang. Aku melihat Christian, Patron Diah, menghampiri Diah dan mengajaknya pergi meninggalkan padang rumput. Diah tersenyum minta izin padaku sementara aku mengacungkan jempol kananku padanya. "Wajahnya tidak akan sekaku itu jika tidak ada orang yang menentangnya." Panca mengajakku berjalan menuju tempat latihan selanjutnya yang aku tak tahu di mana. Sementara aku mengernyit mendengarkan penjelasannya. "Bagaimana mungkin kau tahu jika itu aku?" "Aku tahu. Kau tidak perlu tahu bagaimana caranya aku tahu kau yang menentangnya." Panca menatap lurus ke depan, sehingga aku memutar bola mataku sebal. "Kau tidak memberitahukanku mengenai Restrain? Kupikir hanya ada kita."  Panca mengerutkan dahi. "Kita?" Aku berhenti melangkah. Mengangkat sebelah alisku dan menantang matanya. Dia salah menafsirkan maksudku. "Maksudku Menacer dan Patron." "Kau harus membaca buku petunjuk dan peraturanmu, Nona. Di sana kau akan menemukan apa yang kau cari," katanya sabar.  "Mengapa aku harus membaca buku menyebalkan itu jika aku punya kau?" tanyaku kesal. Aku benar-benar tidak suka membaca. "Aku tidak selalu bisa menjawab pertanyaanmu, Nona." "Berhenti memanggilku seperti itu!" Aku cemberut sambil melipat kedua tanganku dan berjalan lagi. "Baiklah. Aku akan beritahu kau tentang Restrain. Kuharap setelah ini kau akan lebih menghargai Jill." Jill lagi! Ada apa dengan Panca dan Jill? Jill tidak menyukaiku. Tetapi mengapa Panca begitu ingin aku menghargai Jill? Aku memasang senyum terpaksa sambil menunggunya berbicara. "Aku melihatmu pura-pura tersenyum." Panca mengangkat alis. Membuatku mendengkus. "Oke oke. Menacer 18." Aku merengut saat ia memanggilku lebih formal daripada kata 'nona' tapi ia hanya mengangkat bahunya dan melanjutkan. "Kita dibagi ke dalam beberapa divisi. Divisi satu, yang paling tinggi, mereka berkuasa atas kita. Terdiri dari pak inspektur yang memimpin kita, tutor latihan dan pengawas umum. Kita tidak selalu bersama mereka. Divisi kedua, Restrain, mereka mengendalikan Menacer dan Patron. Mereka tidak terikat peraturan yang sama dengan kita. Mereka bebas hanya memanggil kita dengan nama. Jangkauan mereka lebih luas dan bebas dibanding kita, aku paling dekat dengan Jill. Karena kami dibesarkan bersama-sama di distrik rahasia. Mereka seperti Patron, hidup jauh dari peradaban. Divisi ketiga, kau, Menacer. Divisimu yang paling tidak dipersiapkan sedari kecil. Tapi kalian adalah petarung yang istimewa. Dan divisi terendah, Patron. Aku sendiri. Aku sudah menjelaskan tentang Patron 'kan sebelumnya? Itulah mengapa kau harus menghargai Jill. Dia berada di divisi yang lebih tinggi darimu." Panca membuka pintu perunggu di depan kami yang memperlihatkan sebuah ruangan besar di baliknya yang tersusun dari kayu halus yang dipelitur dengan warna coklat muda mengilat. Aku menatap Panca dengan sinis. "Penjelasan panjang itu demi Jill?" Ada nada sakit hati dalam suaraku. Aku tak tahu apakah Panca menangkap nada itu atau tidak. "Demi kau, Sebenarnya. Aku tidak ingin melihatmu latihan keras seperti ini lagi. Aku ‘kan sudah memperingatkanmu untuk menghindari detensi. Menacer seharusnya berlatih memegang senjata dan bela diri. Berjanjilah padaku kau takkan menyakiti diri sendiri lagi dengan melanggar peraturan." Aku memandangnya dengan ekspresi datar sebelum berjalan meninggalkannya dan menghampiri Diah yang sudah tiba lebih dulu. Aku melirik arloji dan bernapas lega saat mengetahui bahwa aku tidak terlambat. Panca menarik pergelangan tanganku. Membanting tubuhku menghadap ke arahnya. Matanya menemukan mataku, menenggelamkan. "Berjanjilah kau akan membaca buku petunjuk dan peraturan itu." Aku memutar mataku, dan Panca mencengkeram lenganku lebih erat. Menimbulkan rasa berdenyut yang perih. Aku menyerah dengan egoku. "Oke. Aku akan membacanya." "Sungguh?" Mata Panca bersinar seperti anak kecil yang dijanjikan mendapat mainan baru. "Sungguh." Aku hampir tersedak saat mengucapkan itu. Aku baru saja berjanji akan melakukan hal yang tidak pernah kusukai.  Panca melepaskanku sehingga aku tak lagi memiliki alasan untuk bertahan menatap matanya yang jadi tiba-tiba saja menjadi favoritku itu. Lalu, aku melihat rambut tembaga gelap berada tidak jauh dari pintu. Sinar matanya membakar setiap rasa aman yang kumiliki.  Sebelum berbalik meninggalkan Panca, aku melihat jari-jari kurus Jill menyentuh bahu Panca dengan bersahabat. Membuatku berbalik dengan cepat dan menghampiri Diah setengah berlari. Kupikir selama ini akulah yang istimewa. Ternyata Jill adalah yang paling mendekati definisi istimewa itu bagi Panca. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD