11. Detonasi

1936 Words
“Savage. Manusia normal seperti kita. Hanya saja sekelompok perusak perdamaian dunia telah memanipulasi data dalam otak mereka, sehingga yang mereka kenal hanyalah membunuh. Membunuh siapa saja secara biadab dan tanpa kenal ampun. Savage sebenarnya tidak patut disalahkan. Meskipun jenis mereka adalah yang paling berbahaya untuk dihadapi hanya dengan tangan kosong. Bahkan dengan senjata. Mereka tidak bisa dikatakan salah. Karena secara emosional, mereka dipengaruhi oleh sesuatu yang tertanam dalam otak mereka. Mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan. Mereka tidak berbicara. Mereka tak kenal ampun. Mereka tak kenal belas kasihan. Agitator. Adalah dalang dari semua kekacauan yang kelak akan dihadapi oleh Fraegalite, selaku asosiasi perdamaian dunia rahasia. Agitator adalah otak dari segala tindakan Savage. Otak dari segala jenis pencemaran bumi, otak dari segala perang. Karena mereka adalah penghasut yang paling ulung di antara semua manusia yang pernah hidup di muka bumi ini”   Penjelasan panjang lebar itu seakan berlalu begitu saja bagai bisikan musim semi. Bahkan setelah aku bersusah payah melompati batas kemampuan daya pikirku, aku tetap saja tak mengerti. Savage, kemudian Agitator. Satu-satunya makna yang kutangkap dari kedua kata itu adalah musuh. Dua jenis makhluk hidup itu adalah musuh bagiku. Bagi kami yang sedang mendengarkan penjelasan panjang pak inspektur. Setelah itu, pikiranku kembali ke area latihan siang tadi. Samar-samar, aku melihat dendam dalam ekspresi gadis Savage itu. Apakah itu salah satu ekspresi yang ditanamkan oleh para Agitator dalam otak gadis itu? Rasanya tidak. Namun, jika mungkin gadis itu sadar sepenuhnya saat menyerang Iqbal tadi, apa motif yang melatarbelakanginya? Atas dasar apa gadis itu menyerang Iqbal seperti tadi? Melihat-lihat luka di lengan kiri lelaki itu tadi, sepertinya gadis itu berusaha membidik jantungnya. Namun, malah meleset ke lengan kirinya. Bicara tentang Iqbal, aku belum mendapat kabar apa-apa tentang dirinya setelah ia berhasil dibawa ke gedung kesehatan. Terakhir kali yang kudengar, ia kehilangan banyak darah. Untuk menghadapi ini, Menacer akan dibagi dalam tiga kelompok. Masing-masing sembilan orang didampingi oleh Patron masing-masing. 18 orang untuk setiap kelompok, kupikir itu jumlah yang cukup. Aku akan membagi-bagi kalian. Siapa yang akan melawan Savage, siapa yang akan menjebak Agitator, dan siapa yang akan menyerang markas mereka saat mereka lengah. Tunggu sebentar. Apa maksudnya akan ada yang menyerang markas mereka? Apakah menyerang di sini dalam artian merusak dan menghancurkan? Kupikir tadinya Asosiasi perdamaian dunia tidak akan menyerang sebelum diserang. Semoga saja aku tidak termasuk dalam kategori ketiga. Aku menatap jengah ke sekelilingku. Tidakkah mereka tahu bahwa ada yang salah di sini? Aku mencari-cari wajah yang mungkin akan sependapat denganku. Tapi mereka semua sedang sibuk dengan pikiran masing-masing. Saat itulah, namaku disebut untuk pertama kalinya. Dan aku masuk dalam tim yang dari awal tidak ku harapkan sama sekali. Aku akan jadi salah satu orang yang menyerang markas orang-orang itu. Aku berdiri dari dudukku dan berjalan menuju tempat yang sudah dipersiapkan. Samar, kudengar derap langkah tegas menyusul di belakang punggungku. "Ini tidak bagus." Aku menatap Patron-ku, meminta persetujuan. Namun, sisi misteriusnya yang datar dan menyebalkan itu sedang dominan menguasai ekspresinya yang sekarang. Aku menyesal telah mengajaknya bicara. Karena toh, akhirnya aku berbicara sendiri. "Irish." Sayup. Sangat sayup. Suara Panca terdengar di sampingku. Sehingga aku tak yakin apakah ia pernah mengucapkan kata itu atau itu hanya bagian dari ilusi yang kuvisualkan dalam bentuk nyata. Aku menoleh dan kembali mendapati mahakarya Tuhan terpahat nyata di garis tegas wajahnya. Sempat aku terpukau beberapa saat, sebelum akhirnya aku ingat kepada hal apa aku seharusnya berfokus. Dari sudut pandangku yang lebih pendek darinya sekitar beberapa inci, lelaki itu sedang menatap lurus ke depan. Tepat ke arah pintu aula gedung utama ini. Aku mengikuti arah pandangan Panca. Kemudian terkesiap tanpa persiapan. "Irish?" Aku hanya ingin mempertegas apa yang telah kudengar. Apakah aku hanya berhalusinasi, ataukah Panca memang pernah menyebutkan nama itu. Mengejutkan saat tiba-tiba saja aku mendengar Panca menghitung mundur dari tiga. Seolah menunggu sesuatu sedang terjadi. Masih tidak ada yang menyadari bahwa Panca sedang melakukan hal aneh di sampingku. Pak inspektur masih sibuk membagi kelompok p*********n. Tidak ada yang menyadari. Dan saat bibir Panca menyentuh angka satu, hal mengejutkan terjadi. Suara dentuman keras terdengar. Semua orang tersentak, termasuk diriku. Seharusnya aku sudah mengantisipasinya sejak awal. Panca sudah memperingatkanku, hanya saja ia tak benar-benar mendesakku menyusun sesuatu agar tidak kaget. Jantungku berdetak di atas normal, berdebum jatuh ke perut. Membuatku berusaha mati-matian untuk bersikap tenang, meski nyatanya aku tak tenang. Kakiku. Entah kakiku atau lantai di bawah kakiku, atau tanah yang berada di bawah lantai ini yang bergetar hebat. Membuatku nyaris menekuk lututku dan meringkuk di sudut ruangan. Tapi aku tak melakukannya.  Aku melirik ke arah pintu lagi, dan sosok yang sebelumnya ada di sana sudah lenyap. Entah bagaimana mekanismenya, ketika Pak Inspektur turun dari podium dan melangkah ke sisi kanan aula yang berdinding kaca, kami semua mengikutinya. Bagaikan tersengat arus hipnotis yang sengaja diciptakan Pak Inspektur, langkah kami teratur dan konstan. Barulah berbagai reaksi timbul saat kami sampai di depan dinding kaca yang menampakkan panorama distrik di sekitar aula. Ada api yang menyala buas mengelilingi gedung kendali. Aku merasakan tangan besar Panca meraih tanganku yang paling terjangkau olehnya. Tangan besar itu menggenggam tanganku, seakan butuh kekuatan. Maka aku menyalurkan kekuatan itu untuknya. Kubiarkan saja ia menggenggam tanganku seerat yang ia butuhkan. Sementara tanganku yang bebas meraih punggung tangannya dan memenjarakan tangan itu di antara kedua tanganku. "Jill." Aku mendengar suara lemah yang mengandung keputusasaan itu. Alih-alih bertahan dengan posisi seperti seharusnya, tanganku lekas menarik diri dari genggaman tangan besar itu. Dan kehangatan yang menjalar di tubuhku seketika hilang. Barulah aku sadar, bahwa tangan Panca-lah yang mengalirkan kehangatan itu. Jujur saja, aku merasa kehilangan. Namun, rasa menyengat yang timbul di hatiku saat mendengar Panca menyebut nama perempuan itu jauh lebih besar. Secepat diriku menarik diri darinya, secepat itu pula ia seolah tersambar petir. Matanya yang tajam bak elang menusukku, sehingga aku tak yakin masihkah aku akan peduli pada kecemburuan tak berdasarku, atau bertahan tanpa mengubah pilihan. Pada akhirnya aku memilih bertahan pada nyala api di dadaku yang perlahan membakar namanya dan Jill dalam ingatanku. Aku harus marah. Sekali lagi mataku menemukan bayang-bayang kobaran api di gedung kendali itu. Satu nama telah menyusup dan tercetak dalam ruang ingatanku, "Arya." Setelah menyebutkan satu nama itu, aku kalap. Tidak akan kubiarkan Arya meninggalkanku teraniaya di bawah kaki Jill. Satu-satunya manusia yang bisa dan sukarela menyelamatkan diriku dari Jill hanyalah Arya. Bahkan Panca yang notabene adalah pelindungku, masih kalah divisi darinya. Keluar dari barisan itu, aku menerobos pintu besar perunggu yang merupakan satu-satunya jalan yang menghubungkan aula dengan dunia luar. Jantungku berirama cepat, tak beraturan, dan menyedihkan. Perpaduan antara rasa cemas dan adrenalin yang mengalir deras dalam diri, terpikir olehku bahwa masih ada kemungkinan serangan lain yang akan terjadi selama perjalananku menuju gedung kendali itu. Beruntungnya, tidak ada serangan lagi sampai aku tiba di depan gedung kendali yang sekarang dikelilingi nyala api besar. Jangan berharap akan ada pemadam kebakaran yang akan datang dan memadamkan api. Jangan berharap gedung kendali akan terselamatkan. Karena sekalipun api berhasil padam, ledakan itu telah membuat gedung kendali bermetamorfosa menjadi sebatas puing-puing baja yang tak kan bisa diperbaiki. Satu pertanyaan. Jika gedung itu pun menjadi puing, bagaimana Arya? Katakanlah, para Restrain yang bersemayam di sana. Lupakan dulu Jill—yang kuharap satu-satunya orang yang tertinggal di gedung itu. Tapi percayalah, Jill—entah bagaimana caranya—akan tetap hidup. Bukankah tokoh antagonis tidak pernah mengalami nasib malang? Tuhan telah menuliskan kodrat tentang si antagonis dan si protagonis. Aku tak tahu bagaimana cara menjelaskannya. Intinya, Jill pasti masih hidup di suatu tempat. Pasti. "Serangan Savage?" Suara itu seolah menarik paksa nyawaku dari ubun-ubun. Aku tak merasakan kehadiran orang lain sedari tadi. Dan tiba-tiba suara itu terdengar amat dekat di telingaku. Aku mengalihkan pandangan dari kobaran api di depanku ke asal suara. Saat itu juga aku merasa gravitasi bumi kembali merengkuh massa tubuhku. Kutemukan wajah bingung dengan kedua alis tebal bertautan itu. Seragam navyblue yang melekat ditubuhnya menjelaskan siapa dirinya, Restrain. Mengetahui lelaki yang sedari tadi kucari masih menapak tanah dan hidup di sebelahku membuatku bernapas lega. Tarikan napasnya yang nyata membuatku yakin, Arya baik-baik saja. Aku egois. Memang. Katakanlah begitu. Tapi nyatanya, aku lega mengetahui Arya baik-baik saja. Yang artinya, aku masih memiliki tameng untuk menghadapi Jill. "Menurutmu?" Aku balik bertanya. "Kami sudah tahu akan ada serangan, tapi mereka melakukannya lebih cepat dari dugaan. Untunglah di waktu-waktu seperti ini, ruang kendali sedang kosong," jelas Arya santai. Secara tidak langsung, Arya telah memastikan bahwa tidak ada korban dalam serangan kali ini. "Baguslah. Tidak ada lagi pengintaian." Aku tersenyum puas. "Itu sisi baiknya. Kau bisa meneruskan hobimu melanggar peraturan itu miss rulesbreaker. Dan berbahagialah karena rekaman-rekaman cctv itu turut diledakkan oleh serangan tadi." "Tidak ada bukti yang bisa membuatku dihukum," potongku puas. Arya mengangguk. "Benar. Tapi kabar buruknya adalah, kita tidak akan bisa memantau situasi di perbatasan. Ini buruk sekali. Karena Savage-Savage itu bisa menyusup ke area distrik dengan mudahnya." Arya mengembuskan napas lelah. "Well, the war is begin." Aku tersenyum kecut. "Waktu istirahat bagi Restrain. Nikmati waktu istirahatmu." "Menikmati pertumpahan darah kalian dari sudut aman distrik? Yang lain akan sangat bernapas lega. Tapi aku mungkin tidak," sahut Arya datar. "Sudah seharusnya kalian bernapas lega 'kan?" "Mungkin memang seharusnya. Tapi aku mengetahui satu hal, Menacer 18," ucap Arya misterius. "Apa?" "Aku tidak bisa tinggal diam saat mengetahui ada seorang gadis keras kepala yang bodoh yang suka menantang bahaya dan suka mendebat musuh dan juga ceroboh akan ikut terlibat dalam perlawanan ini." Arya menyeringai jahil. Aku tahu siapa yang dia maksud. Alih-alih cemberut, aku merasa harus berpura-pura penasaran. "Oh ya? Bisa kau beritahu siapa gadis itu? Aku akan menyampaikan padanya bahwa kau khawatir padanya." "Oh. Jangan salah, aku tidak khawatir padanya. Aku khawatir lawannya akan mati karena kesal menghadapi gadis itu." "Kalau begitu dia takkan mati dalam perang, 'kan?" Aku menggigit bibirku ragu saat menanyakan hal ini. Seringai jahil di wajah jenaka itu lenyap. "Semoga tidak. Aku berharap tidak. Karena aku mengharapkan kau kembali dengan selamat, sehingga aku tak perlu marah pada diriku sendiri jika nantinya kau tak bisa bertahan." "Oh, jadi gadis itu diriku?" Aku memasang tampang terkejut paling natural yang kubisa. "Eh, dan mengapa kau harus marah pada dirimu?" "Karena aku tak bisa ikut bertarung bersamamu. Jika sampai kau mati, aku akan marah pada diriku yang pengecut ini." Oh. Pembicaraan ini menjadi lebih serius dari yang pernah kuduga. "Oh, oke. Aku akan berusaha tetap hidup. Selagi ada rekan-rekan Menacer-ku dan Panca bersamaku, aku yakin aku akan baik-baik saja." Aku menepuk lengannya dua kali, mencoba meyakinkannya. "Aneh sekali mengetahui bahwa diriku mengkhawatirkan dirimu. Tapi harusnya kau tidak menertawakan kejujuranku ini." "Aku tidak menertawakanmu!" Aku protes. "Tidak, aku tahu," katanya sambil angkat bahu. "Aneh sekali mengetahui ada orang yang peduli terhadapku," gumamku pelan. "Aku orang pertama yang peduli padamu, eh?" Ia mengangkat salah satu alisnya dengan bibir terkatup. "Sepertinya begitu," sahutku muram. "Mungkin aku orang pertama yang secara kebetulan mengungkapkannya padamu. Tapi aku percaya bahwa di dalam hidupmu, ada banyak orang yang peduli padamu. Ayahmu, Ibumu, lelaki yang terbunuh beberapa minggu yang lalu, dan entah siapa lagi. Mungkin Panca, mungkin para Menacer yang lain." "Bagaimana aku tahu? Mereka tidak menunjukkan kepedulian mereka," sahutku getir. Bukannya mereka tidak menunjukkan, tapi memang nyatanya mereka tak peduli. "Dengar, kepedulian itu tidak harus ditunjukkan. Terkadang mereka peduli padamu dalam diam. Dan kepedulian dalam diam itu jelas lebih manis, lebih berarti, dan lebih tulus daripada yang ditunjukkan, Kanya." Kata-kata Arya membuatku lepas dari ragaku dalam hitungan detik. Aku tidak pernah berpikir se-intens dirinya. "Kau menunjukkan bahwa kau peduli. Berarti kau tidak tulus." Aku mengangkat sebelah alisku penuh ego untuk menantang dirinya. "Tidak selalu tidak tulus." Ia mengusap wajahnya frustrasi dan aku tertawa geli. Mudah sekali memancing pendirian Arya. "Kupikir kau sendiri yang harus memutuskan, tulus atau tidaknya kepedulianku. Jika kau bertanya padaku, aku pasti akan mengatakan bahwa aku tulus." "Aw. Aku tersentuh sekali dengan kepedulianmu." Aku tersenyum jahil, menggodanya. Namun, lelaki itu memilih mengabaikanku dan menengok arlojinya. "Satu jam sebelum makan malam. Mau ngobrol denganku sebelum perang?" "Pastikan obrolan kita akan bermutu," sahutku yang secara tidak langsung menerima ajakannya. Satu lagi orang yang akan ada dalam daftar terima kasihku.   ***    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD