"Kubilang tiarap! Bukan merangkak!" Saat itu juga kaki Jill yang beralaskan sepatu bot ber-hak menginjak helm di kepalaku. Menyebabkan seluruh wajahku terbenam dalam lumpur hitam yang berbau amis. Kemudian kaki sialan itu berpindah ke pinggangku, memaksa seluruh tubuhku agar terbenam di lumpur hitam itu. Dalam hati aku mengumpat-ngumpat dan menyumpahinya. Entah di mana letak kemanusiaan yang dimiliki Jill sebagai anggota asosiasi perdamaian.
"Bagus! Tetaplah seperti itu," katanya dingin. Dari sekian banyak Menacer di area latihan ini, mengapa si setan itu harus membuntutiku? Ah ya, tentu saja karena ia ingin menyiksaku dan senang melihatku tersedak lumpur hitam di bawah kakinya.
Aku terus merayap melalui genangan lumpur seluas seribu meter persegi yang berpotensi membuatku mati terhisap apabila aku salah memilih tempat. Aku tak terlalu memperhatikan penjelasan pak inspektur sebelum pelatihan fisik ini dimulai. Namun, aku masih sempat menangkap kata-katanya mengenai titik-titik berbahaya di lokasi genangan lumpur. Karena di titik-titik itu ada semacam lumpur penghisap yang bahkan aku tak bisa membedakannya dengan lumpur biasa.
"Hahahahaha!" Aku terkejut mendengar suara tawa meledak di sampingku. Aku mendongak dan menatap ke atas. Tetapi aku tak menemukan tubuh menjulang Jill. Jadi perempuan itu sudah pergi? Baguslah. Kemudian aku menoleh ke asal suara tawa itu terdengar. Yusuf, salah satu Menacer, sedang tertawa mengejek di sampingku. Sementara aku memasang wajah cemberut.
"Berhenti menertawakanku!" teriakku kesal sambil menggenggam lumpur yang terjangkau oleh tanganku kemudian melemparkan lumpur hitam itu ke wajah Yusuf yang masih bersih. Sebab, ia lebih beruntung dariku. Ia tidak memiliki musuh seorang Restrain yang membencinya entah karena apa sepertiku.
"Hei!" serunya bernada protes. Lenyap sudah tawa mengejek itu, digantikan dengan gerutuan kesal.
"Itu akibatnya jika meledekku," balasku ketus. Lelaki itu menatapku dengan pandangan datar sambil membersihkan lumpur dari wajahnya.
"Aku akan menyusul Ryan," katanya kemudian. Setelah selesai dengan ritual membersihkan wajahnya dari lumpur, ia pun mulai merayap mendahuluiku. Mengejar Ryan yang berada sekitar sepuluh meter dari kami. Aku tak tahu bagaimana lelaki itu melakukannya seolah ia terbiasa merayap-rayap seperti itu seumur hidupnya. Apalagi lumpur hitam ini terasa menambah beban. Tanpa terasa aku sudah sampai di ujung rintangan lumpur. Badanku terasa berat sekali untuk bisa bangkit dari lumpur yang lengket itu.
"Butuh bantuan?" Dua suara terdengar sekaligus di telingaku. Bersamaan dengan dua tangan yang terulur di depan wajahku. Aku mendongak untuk melihat siapa pemilik tangan-tangan itu. Arya dan Panca. Aku menumpukan berat badanku di siku sambil berpikir; mengapa dua lelaki itu selalu muncul di saat yang salah? Aku mendongak sekali lagi, dan di belakang punggung mereka aku melihat seseorang sedang menatap tajam padaku. Siapa lagi jika bukan manusia berperangai setan itu?
"Tidak," sahutku dingin. Kemudian aku bangkit dari genangan lumpur itu dengan kedua kakiku sendiri, dan berlari menyusul rekan-rekan Menacer-ku yang lain tanpa menoleh lagi ke arah tiga sahabat itu.
"Aku tidak percaya bahwa besok kita sudah harus menjalani pertempuran yang sesungguhnya." Suara cempreng Vivi terdengar begitu aku berjarak sekitar beberapa meter dari kerumunan Menacer yang bau lumpur itu.
"Aku merasa seperti hidup dalam cerita-cerita action yang biasa kutonton." Terdengar suara lain yang menimpali. Kemudian aku sampai di antara mereka. Aku tahu bahwa saat itu, hanya diriku saja yang wajahnya terbenam dalam lumpur. Semua orang menatapku dengan pandangan aneh.
"Hahahahaha!!" koor mereka bersamaan. Mengapa semua orang selalu senang melihat kesialan orang-orang di sekeliling mereka?
"Jill lagi ya?" Sabrina yang pertama kali bersuara setelah tawa yang berderai itu mereda.
"Kau tahu jawabannya," dengusku kesal.
Aku mencari jejak-jejak air yang mungkin bisa kugunakan untuk membasuh mukaku. Namun, nyatanya, satu-satunya hal yang mengandung air di tempat ini hanyalah genangan luas lumpur yang menjadi penyebab tubuh kotorku saat ini. Ditambah lagi matahari yang bersinar dengan menyebalkannya di atas sana. Membuatku semakin terkesan dekil. Aku sendiri pun amat risih dengan semua ini. Dan agak sedikit muak dengan bau lumpur yang bercampur dengan keringatku sendiri.
"Sebaiknya kita kembali ke distrik utama, kemudian mandi. Bukankah lapangan lumpur itu tempat terakhir latihan kita?" Iqbal adalah orang pertama yang berbicara serius setelah aksi meledekku ramai-ramai tadi. Kemudian, pluk! lumpur hitam yang nyaris liat itu mendarat tepat di wajah Iqbal yang tadinya masih bersih.
Mari kita lihat siapa pelakunya ...
Yusuf!
Tentu saja. Siapa lagi Menacer yang paling usil di sini? Hanya dialah jawabannya. Kelakuan Yusuf ternyata berhasil menginspirasi seluruh Menacer untuk bersenang-senang dengan lumpur bau yang baru saja kuklaim sebagai salah satu hal yang paling kubenci di dunia ini. Dan terjadilah perang dunia ketiga yang melibatkan ke-26 rekanku yang bersenjatakan lumpur sisa latihan fisik kami barusan. Sungguh ini berlebihan.
Untuk pertama kalinya aku memutuskan untuk bergabung dengan orang-orang sinting yang gila lumpur itu. Tanganku baru saja meraup lumpur dengan sepenuh hati. Ketika terdengar suara melengking yang sangat kubenci seumur hidupku. Suara itu bahkan lebih mirip dengan suara anjing menyalak dibandingkan suara manusia. Suara Jill, pastinya.
"Berhenti!!!" serunya keras. Semua tangan berlumpur mendadak di-pause-kan oleh pemiliknya karena akan sangat berbahaya sekali jika sampai nekad melayangkan lumpur-lumpur itu. Kemudian aku membayangkan sesuatu yang pasti akan membuat Jill kalap. Sesuatu seperti melemparinya dengan lumpur di tanganku.
"Ups!" Dan apa yang kubayangkan baru saja terealisasi. Anehnya, pelaku pelemparan itu bukan diriku. Melainkan Mahardika. Aneh sekali mendapatkan sebuah fakta mengenai Mahardika yang notabene pendiam dan tak banyak tingkah aneh, malah sekarang menjadi pelaku yang berhasil mencampakkan wajah mengkilat Jill menjadi menjijikkan seperti itu. Aku tidak heran jika pelakunya selevel dengan Yusuf, si raja selengean. Namun, yang ini, Mahardika? Aku nyaris saja tertawa terbahak-bahak saat melihat adegan itu. Namun, lengan Sabrina yang menyikut lengan ku membuatku sadar situasi.
"Maafkan aku," ucap lelaki pendiam itu tanpa nada maupun ekspresi bersalah yang lazimnya ditunjukkan seseorang ketika ia meminta maaf. Mungkin benar dugaanku, bahwa saat masih di dunia arwah dulu, Mahardika terlambat datang untuk pembagian ekspresi. Maka saat ia sampai, stok untuk ekspresi normal sudah habis, jadilah ia yang pendiam dan wajah tanpa ekspresi itu sekarang.
"Cepat kembali ke distrik utama dan bersihkan diri kalian!" titah perempuan diktator itu. Ekspresi wajahnya tak lagi terbaca akibat tertutup dengan lumpur.
Mendengar seruan itu, kami semua tergopoh-gopoh naik ke tank-tank yang awalnya membawa kami ke area ini. Sebelum kami sampai ke tank, aku sempat melihat para Restrain naik ke dalam helikopter yang terbang menyisakan pusaran-pusaran debu di bawahnya.
Saat tiba giliranku untuk masuk ke dalam tank, telingaku mendengar suara letusan yang kembali mengingatkanku akan darah dan Dylon. Aku ragu untuk berbalik. Aku ragu untuk menyaksikan. Siapa gerangan yang telah memuntahkan peluru dari senjatanya? Dan tubuh siapa yang telah dihampiri oleh peluru itu? Siapa yang mungkin akan mati sebelum perang sesungguhnya dimulai?
"Iqbal!"
Oh. Aku. Sudah. Tahu.
Menyaksikan atau tidak, aku sudah tahu siapa yang tertembak. Maka aku berbalik untuk memastikan bahwa bukan Panca yang menembak ketua kami. Mataku menyipit saat melihat seorang gadis asing berwajah pucat sedang tersenyum miring di sana.
"Savage." Samar-samar aku mendengar para rekanku berbisik resah. Sayangnya aku sama sekali tidak mengerti jenis kata itu. Apakah itu sebuah kode, sebuah istilah lain lagi, atau apa? Entahlah. Gadis berwajah pucat itu menghilang melebihi kecepatan cahaya. Karena aku hanya berkedip setengah detik, kemudian aku mendapatinya hilang setelah aku memfokuskan pandangan lagi. Aku seperti pernah melihat gadis itu. Tapi siapa dia?
***