Suara tepuk tangan meriah mengakhiri penampilan sempurna dari seorang balerina.
“Penampilan yang bagus,” puji sang manajer ketika balerina itu menuruni tangga panggung.
“Bagus apanya, jangan terlalu memujiku hanya untuk membuatku tenang. Aku yakin kamu pasti tahu kalau tadi aku telah membuat kesalahan pada gerakan kedua,” dumel balerina itu, wajahnya terlihat sangat tidak bersahabat.
Namun, ketika keluar dari area pentas, beberapa wartawan asing mendekatinya, seketika raut wajah balerina itu berubah, ia langsung berkamuflase, mengurai senyum manisnya di depan kamera.
“Aku lelah, bisakah kamu urus para wartawan ini?” bisik balerina itu pada sang manajer.
“Tentu, Bella,” ucap si manajer.
Isabella Calista—si balerina cantik yang saat ini tengah mengikuti Jineè International Ballet Competition yang diadakan di Inggris.
Sebenarnya Bella sudah cukup sering melakukan banyak lomba dan tur di manca negara, dia juga beberapa kali memenangkan banyak kompetisi dan tak sedikit orang mengenal sosoknya. Selain parasnya yang cantik, Bella juga memiliki tubuh yang molek, hal itulah yang membuat banyak kalangan laki-laki menyukainya, termasuk para bule hidung belang.
Beberapa saat kemudian, Bella akhirnya tiba di ruangan yang disediakan untuknya, ia langsung duduk di kursi, kakinya terasa kebas usai menari balet di atas panggung.
Penampilannya kali ini Bella merasa kurang puas, pasalnya ia telah melakukan kesalahan pada beberapa gerakan.
Bella mendesah kesal, ia sampai memekik pelan saking geramnya pada dirinya sendiri yang ia rasa bodoh karena telah melakukan kesalahan.
Sang manajer yang melihatnya pun langsung sigap memberikan Bella minuman dingin, biasanya air dingin selalu mampu meredakan emosi Bella yang meradang.
Namun, saat manajer itu menyodorkan minuman tersebut ke arah Bella, Bella justru mengabaikannya.
“Mana handphone-ku,” ujar Bella, alih-alih minuman dingin, Bella lebih memilih ponselnya.
Sang manajer yang tidak pernah bisa membantah Bella langsung menyerahkan ponsel perempuan itu tanpa banyak bicara.
Saat ponsel itu sudah berada di tangannya, Bella mengernyit ketika ia tidak mendapati satu pesan teks pun dari kekasihnya, bahkan tak ada juga panggilan masuk dari pria itu.
“Aneh,” gumam Bella.
“Aneh kenapa, Bel?” tanya si manajer, panggil saja dia Elga, seorang laki-laki yang sudah menjadi manajer Bella sejak sepuluh tahun lalu. Tapi sebenarnya, Elga lebih pantas disebut sebagai babunya Bella ketimbang manajer, karena Elga selalu saja patuh ketika disuruh-suruh oleh perempuan itu.
“Zayn sama sekali tidak menghubungiku, Ga,” ucap Bella, raut wajahnya mendadak berubah muram.
“Mungkin dia sedang sibuk, aku dengar dia baru saja dijebak oleh temannya dan terpaksa pulang ke Indonesia karena dipecat secara tidak hormat dari perusahaan lamanya,” cakap Elga, mencoba menenangkan Bella yang tengah menggalau.
Helaan napas Bella terdengar berembus berat, perempuan itu lantas bangkit dari duduknya.
“Kita ke Indonesia sekarang,” ujar Bella.
“Ha?” Elga tentu saja kaget. Bella memang suka sekali meminta sesuatu secara mendadak, tapi perihal pergi dari satu negara ke negara lain adalah perihal yang sulit jika dadakan seperti ini, karena belum tentu tiket penerbangan hari ini masih ada.
“Kenapa malah diam saja? Cepat siapkan semuanya, kita pulang ke Indonesia hari ini,” omel Bella.
Elga menghela napasnya, pada akhirnya ia menuruti permintaan perempuan itu, Elga langsung berlari terburu-buru untuk membeli tiket dan mengambil barang-barang Bella yang masih ada di hotel.
***
Faisal membuka pintu kamarnya, sebelum masuk ke dalam kamar tersebut, pandangan Faisal terlebih dulu menelisik ke dalam, ia mencari keberadaan Nada yang anehnya tidak terlihat di kamar itu.
“Ke mana dia?” gumam Faisal sembari melangkah masuk ke dalam kamarnya.
Setelah menutup pintu kamar, Faisal pun berjalan menuju ranjangnya, ia merebahkan tubuhnya telentang menghadap ke langit-langit kamar.
“Tempat yang paling nyaman emang bener kamar sendiri,” ujar Faisal.
“Mas, kamu udah mandi?” Suara Nada tiba-tiba terdengar, membuat Faisal langsung melompat dari atas kasur, dia berdiri, menatap Nada dengan raut kagetnya.
“Lo apaan sih bikin kaget aja,” oceh Faisal, matanya memandang tajam sang istri.
Nada diam tak memberikan respons apa pun ketika Faisal tampak kesal padanya.
“Lagian lo dari mana sih, tiba-tiba muncul kayak demit aja lo. Perasaan tadi pas gue masuk ke sini, lo enggak ada,” ujar Faisal sambil bersungut-sungut kesal.
“Aku dari kamar mandi, Mas,” jawab Nada, kemudian ia mendekat ke arah Faisal, lalu tangannya secara tiba-tiba mengecup punggung tangan suaminya itu. “Maaf ya udah buat kamu kaget, Mas,” ucapnya, lembut.
Deg!
Jantung Faisal bergemuruh.
Sialan.
Sikap Nada yang lemah lembut telah berhasil membuat hati Faisal berdesir.
Namun, Faisal langsung menarik tangannya, dia tak mau perasaannya semakin larut terbuai oleh asmara yang tak seharusnya.
“Lo apaan sih pegang-pegang tangan gue, ngapain juga lo cium, jijik banget,” omel Faisal sambil mengelap bekas kecupan singkat bibir Nada di tangannya.
Nada hanya diam saja ketika Faisal sibuk memprotesnya, seolah hatinya kebal dan mulai terbiasa dengan ocehan Faisal yang terkadang terlalu menohok untuk didengar.
“Mas.” Nada memanggil dengan lembut, dia menatap Faisal serius.
“Apa?” Faisal menanggapinya ketus, dia bahkan hanya melirik Nada sekilas.
“Kamu masih belum mau menyentuhku? Bunda udah berharap banget aku hamil,” cakap Nada.
“Apa lo bilang? Sentuh lo, idih amit-amit, gue tidur satu ranjang sama lo aja udah bikin mental gue break down, apalagi ....” Faisal tak melanjutkan perkataannya, ia bergidik sendiri.
Nada menghela napas pelan, ia sebenarnya juga tak mengharapkan hal itu. Nada terpaksa membicarakan perihal itu karena memikirkan perasaan orang tua Faisal yang sudah sangat berharap dirinya cepat hamil. Tapi bagaimana dia bisa hamil jika Faisal saja enggan menyentuhnya.
“Ya sudah, aku juga bukannya memaksamu untuk menyentuhmu, aku hanya tidak mau orang tuamu kecewa karena mereka sudah sangat berharap kalau aku cepat hamil,” jelas Nada.
“Masalah itu biar nanti aku urus, kamu enggak perlu khawatir,” cakap Faisal.
“Tapi aku enggak mau kamu bohong seperti pagi tadi, kamu tahu kan bohong sama orang tua itu—”
“Dosa,” sela Faisal. “Iya, aku tahu, lagian kamu enggak usah sok bawa-bawa agama deh, gatel telingaku dengernya,” komentarnya, ketus.
Nada kembali diam, ia tak mungkin membantah perkataan suaminya. Mungkin Nada harus membesarkan rasa sabarnya agar tetap kuat menghadapi Faisal yang selalu saja bersikap ketus dan dingin padanya.
“Aku mau tidur,” ucap Nada kemudian. “Kamu bantu aku buka cadarku?” imbuhnya, lagi-lagi perempuan itu menawarkan suaminya untuk membuka cadarnya.
Awalnya Faisal ingin menolak, tapi karena kali ini rasa penasarannya sangat besar, akhirnya Faisal pun memutuskan untuk menerima tawaran istrinya itu.
Tangan Faisal perlahan melepaskan tali cadar yang terikat di belakang kepala Nada, setelah tali itu lepas, Faisal pelan-pelan menarik cadar itu menjauh dari wajah Nada, sampai akhirnya cadar yang selama ini menutupi sebagian wajah Nada pun terlepas sempurna.
Saat melihat wajah Nada untuk pertama kalinya, jantung Faisal kembali bertabuh kencang, lonceng asmaranya seakan ikut berdenting, membuat hatinya berdesir, kalut dengan wajah Nada yang ternyata—cantik.
Bak gadis Arab yang digemari para sultan Dubai. Nada benar-benar salah satu keindahan dunia yang perlu diabadikan.
Faisal sampai terbengong-bengong melihatnya.
Sial. Dia cantik, benar-benar cantik.
Batin Faisal tak henti-hentinya memuji, dia mengakuinya, Nada memang sangatlah cantik, sungguh tak seperti yang ia bayangkan.
“Mas?” Nada menyentuh pelan lengan Faisal, membuat pria itu tersentak dari lamunannya. “Aku jelek ya?” tanya Nada. “Kamu kok lihat aku kayak lihat hantu?” timpalnya.
Faisal Zayn—pria itu memalingkan mukanya sembari berdehem pelan. “Iya, kamu jelek. Wajahmu itu buat aku inget sama hantu di jembatan merah deket rumah,” ujar Faisal, asal bicara karena sebenarnya dia sedang salah tingkah, hingga membuatnya gugup.
Nada langsung menyentuh mukanya. Helaan napasnya kemudian terdengar, komentar Faisal terdengar cukup menjengkelkan, tapi sebagai istri—Nada tak berani memprotes komentar suaminya barusan, Nada hanya bisa diam saja mendapatkan komentar palsu dari suaminya itu. Padahal sebenarnya Faisal terpukau dengan kecantikannya.
“Emang wajahku sejelek itu ya?” tanya Nada, dengan polos ia menatap sedih ke arah Faisal.
“Iya, jelek,” jawab Faisal, ia kembali memalingkan wajahnya ketika melihat wajah sedih Nada yang menurutnya sangat imut dan menggemaskan.