Khairan mendapati istrinya mencebikkan bibir, sebuah ekspresi merajuk yang manis. Dengan sedikit canggung, ia menarik tangannya sambil berharap Ayunda tak akan semakin murka. “Jangan!” Suara Ayunda menahan, saat jemari Khairan mengambang di udara. Khairan membeku. “J-jangan?” tanyanya ragu. “Lakukan lagi,” pinta gadis itu pelan, malu-malu, menunduk. Senyum lega merekah di bibir Khairan, diiringi helaan napas yang tak tertahankan. Diturutinya keinginan Ayunda, sekaligus membangkitkan keberanian dalam dirinya untuk mengusap kepala sang istri sekali lagi dengan kelembutan. “Umma bilang aku tidak boleh lama. Kita masih dihukum karena ‘tidak beretika’.” Khairan menarik utuh tangannya dan kembali duduk tegak seperti semula. “Percayalah. Rindumu tidak sendirian, Ayunda.” Ayunda suka.
Download by scanning the QR code to get countless free stories and daily updated books


