Bab 5

1138 Words
Hampir saja aku berteriak karena mendengar perkataan berat yang tidak seharusnya didengar. Beruntungnya kedua tanganku bergerak lebih cepat dan menutup mulut ini. Apalagi ketika dia berkata kalau orang tua Mas Darren juga yang tentang kehamilannya. Bukankah ini tanda mertuaku tidak setia padaku? Apa jangan-jangan karena aku tidak kunjung hamil mereka langsung berbelok kepada wanita lain? Dadaku berdetak lebih cepat ketika memikirkan hal-hal yang tidak seharusnya ada di kepalaku. Menikah di usia yang menurutku cukup muda, terlebih dijodohkan dengan orang yang tidak jelas asal-usulnya, ditambah dia ternyata tidak waras dan menghamili wanita lain yang bukan mahram. Semua ini membuatku seperti orang gila. Apa yang sudah aku perbuat hingga mendapatkan balasan yang setimpal? Apa yang harus aku lakukan sekarang? "Orang tuaku memang sudah tidak sabar menunggu waktu ketika aku menikah denganmu, hanya saja aku tidak bisa melakukan hal itu dalam waktu yang dekat. Kamu kan tahu sendiri perjanjianku dengan Anya, jadi sekarang kamu harus sabar," pungkas Mas Darren membuatku ingin melemparkan beberapa benda tajam ke arahnya. Katanya dia berpacaran untuk menumbuhkan cinta, tapi nyatanya semua hanya permainan dan kebohongannya saja. Persetan dengan pengenalan tentang cinta. "Tapi Mas janji tidak akan lama-lama, bukan?" Wanita itu menatap Mas Darren penuh harapan. Sayang menjadi untuk pria seperti dia yang terbiasa mengingkari janji, hal ini pasti bukanlah masalah yang mudah. "Secepatnya aku akan segera mengakhiri semuanya." Mas Darren mengecup tangan wanita itu, lalu mereka berdua pergi ke kamar. Entah apalagi yang akan mereka lakukan. Sekarang yang aku tahu hanya satu, aku tidak bisa lagi hidup sambil mengandalkan suami seperti dia. "Mbak mau mengikuti wawancara kerja, bukan? Sepertinya harus segera pergi ke ruangan yang ada di sebelah kanan setelah pintu masuk. Karena sebentar lagi waktunya akan berkahir." Seorang pria muda mendekat padaku dan mengingatkan aku tentang wawancara yang akan aku ikuti. "Baiklah, terima kasih banyak sudah mengingatkan. Saya undur diri." Aku segera pamit dan berjalan ke ruangan yang dia tunjuk. Kebenaran yang tidak sengaja aku dengar hari ini membuatku sadar bahwa aku harus segera hidup mandiri. Agar nanti aku tidak hanya bisa lepas dari Mas Darren, tapi juga dari ayah dan kakak yang hanya bisa menghakimi. Intinya aku hanya harus menyimpulkan punya uang yang banyak, lalu pergi. Sebagai pembalasan atas rasa sakit yang aku dapatkan selama ini sebagai istrinya, aku akan membuat pria itu bergantung padaku, hingga dia berkata tidak sanggup hidup tanpa diriku. Semuanya memang belum terwujud, tapi aku yakin Allah bersamaku, dan Allah akan mengabulkan doa orang-orang yang teraniaya. Apa yang dikatakan pria itu benar, para pelamar yang belum dipanggil hanya aku. Beberapa pelamar yang lainnya hanya tinggal menunggu pengumuman siapa saja yang akan diterima. "Lavanya!" Dadaku berdegup kencang ketika namaku juga dipanggil. "Tenanglah Anya, yakinlah kamu pasti bisa," batinku menyemangati. Aku memutar kenop pintu tempat namaku dipanggil dan ternyata Mas Darren tidak ada di sini. Dia sudah berbohong padaku. "Silakan duduk," pinta salah satu dari mereka. Jumlah orang yang akan mewawancarai aku saat ini ada tiga orang dan aku sangat gugup karena ini adalah yang pertama untukku. "Namanya hanya Lavanya?" "Iya." "Tahu perusahaan ini dari siapa dan apa alasan anda bekerja di sini?" tanyanya tanpa mempertanyakan surat lamaranku. Apa yang dikatakan Mas fotokopi itu benar? "Saya mendapatkan rekomendasi dari teman. Kebetulan hari ini akan ada tes wawancara untuk OG, jadi saya berniat untuk melamar," jawabku asal karena saat ini aku memang tidak tahu apa pun, tapi harapanku sangat besar untuk bisa diterima di sini. Tes wawancara berlangsung cepat dan mereka bertanya tanpa basa-basi. Tidak seperti tempat bekerjaku dulu. Anehnya mereka bahkan tidak menawarkan posisi yang lebih bagus setelah mengetahui riwayat pendidikan. Sebenarnya aku memilih perusahaan Mas Darren ini bukan karena memandangnya, aku bisa saja melamar di perusahaan lawan. Namun, hanya tempat ini yang paling dekat dari rumah. Jadi, aku tidak perlu takut ketika nanti mendapatkan bagian malam. "Nanti kami akan menghubungi nomor yang tertera di sini kalau anda diterima. Paling telat lusa. "Baik, terima kasih banyak." Aku langsung keluar dari ruangan dengan perasaan lega. Meski aku tidak tahu diterima atau ditolak, setidaknya aku sudah berusaha semaksimal mungkin. Hasilnya aku serahkan kepada Allah, sang pemilik takdir makhluknya. *** "Masak apa hari ini?" Selesai wawancara, aku langsung pulang dan memasak makanan enak karena perut terasa lapar. Sebelum sesi wawancara terlewati, aku tidak bisa makan dengan baik. Jadi, sekarang aku akan memanfaatkan momen bersantai sebelum waktu kerja tiba. Aku yang sedang mengaduk sup mundur beberapa langkah ketika pundakku ditepuk dari belakang. "Kenapa terlihat begitu kaget? Apa aku datang diwaktu yang tidak tepat?" tanyanya lagi. Dia adalah Dion, sahabatku sekaligus adik ipar. Dulu, aku tidak tahu kalau dia adalah adik Mas Darren. "Kenapa kamu datang tiba-tiba? Tanpa mengucapkan salam lagi." Aku menggerutu, tapi dia malah cengengesan. "Maaf, tadi aku sedikit panik karena melihat pintu luar terbuka. Aku takut kamu kenapa-kenapa," kilahnya beralasan. "Maaf, di sini hanya ada kita berdua. Jadi, sebaiknya kamu pulang saja. Lagi pula aku tidak apa-apa." Aku mengusirnya secara halus karena hanya akan menimbulkan fitnah kalau hanya berduaan di rumah. Kecuali ada mama atau Mas Darren. Bukannya pergi, Dion malah menarik kursi meja makan, lalu duduk dan menuang segelas air putih. "Aku mampir karena lapar dan haus. Jadi, aku baru akan pergi setelah perutku kenyang," lirihnya tanpa rasa bersalah, tapi aku juga tidak bisa menjawab apa-apa lagi. Aku langsung menyajikan beberapa masakan dan membawa dua piring. "Setelah ini harus langsung pergi!" Aku memberikan peringatan sambil mendelik tajam. "Tentu saja. Aku bukan kakakku yang suka ingkar janji," tandasnya. Selain Maya, Dion adalah satu-satunya teman yang bisa diandalkan untuk menjadi tempat curhat. Apalagi aku bukan tipe orang yang suka bercerita kepada sembarang orang atau media sosial. Jadi, keberadaan mereka benar-benar sangat berarti untukku. Dion makan dengan lahap, begitupun aku. Kami bahkan tidak mendengar suara mobil Mas Darren yang sekarang tengah berada di antara kami sambil melemparkan tatapan tajam. "Apa yang kalian lakukan berduaan seperti ini?" tanya pria itu dingin. "Makan, apalagi." Dion menjawab cepat, sementara aku hanya diam sambil menikmati makanan penutup. "Kenapa kamu makan di sini?" tanyanya lagi. "Apa kamu kehabisan uang sampai tidak bisa singgah di restoran yang biasa kamu datangi? Atau kakimu patah sampai tidak bisa pulang ke rumah?" "Tidak dua-duanya. Aku hanya merindukan masakan dari kakak ipar yang sangat cantik ini, bahkan kecantikannya mampu memikat pria yang enggan menikah seperti aku," ungkap Dion membuat aku dan Mas Darren sama-sama menatapnya tajam. "Apa yang kamu katakan?" Mas Darren berjalan mendekat ke arah adiknya. "Mau menjadi anak yang kurang ajar?" "Kenapa memangnya? Kalau Mas saja bisa ganti-ganti pacar, kenapa aku atau istrimu tidak bisa?" Dion malah semakin menantangnya. "Kamu!" Mas Darren melayangkan tangannya ke udara. "Kenapa? Mau tampar aku? Tampar saja. Lagi pula kalau cemburu itu bilang, jangan hanya diam seolah tidak ada apa-apa. Nanti kalau sudah ditikung orang, baru tahu rasa," bentak Dion, lalu bangkit dari duduknya. Seketika tawaku pecah. "Cemburu?" tanyaku tidak habis pikir kenapa Dion punya pemikiran seperti itu. "Dia saja tidak pernah cinta padaku, bagaimana bisa cemburu. Ada-ada saja."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD