09

2914 Words
Perhatian : Bab ini masih menjadi bagian kilas balik cerita ini. Mohon cermati dengan seksama setiap kalimat dalam bab agar tidak terjadi kesalahpahaman. Pembaca bisa mengulang ke bab sebelumnya apa bila masih tidak mengerti. Terimakasih. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Hari yang ditunggu-tunggu Dava pun tiba. Saking semangatnya cowok itu, Dava yang biasanya tidak pernah bangun pagi, kini pukul tujuh saja ia sudah mandi. Padahal penerbangannya dengan Gisel masih pukul setengah dua. Mengenai koper yang berisi perlengkapannya untuk dibawa ke Singapur, ia sudah menyerahkan seutuhnya pada Gisel untuk mengurus. Nyatanya tak butuh waktu lama, kemarin Gisel sudah melipat semua pakaian Dava dan menaruhnya rapi di kotak besar tersebut. Sekitar pukul setengah sembilan pagi, Gisel datang ke rumahnya. Tak banyak membawa pakaian memang, mengingat ia akan kebingungan jika ditanya orang tuanya mengapa ia membawa baju sebanyak itu. Demi menghindari hal tersebut terjadi, Gisel memilih tidak mendekati resiko. Gisel mengecup pipi Dava usai ia menaruh plastik bubur ayam di hadapan cowok itu. Dava mengangkat kepalanya sejenak, mengalihkan atensinya dari ponsel yang berkali-kali terdapat pesan masuk dari sana.   Agas and The Monkeys (4) Agas Zidane A Cie udah hari Jumat Cie Dava mau bulan madu Cie ke Singapur berduaan   Andi Pramana Berisik Main hape mulu lo Gas Noh Pak Dendi perhatiin   Deril Ardito Zain Tau lo Gas Tapi btw Oleh-oleh dong sabi kali Dav   Agas Zidane A Gue juga mau oleh-oleh Perempuan cantik dan semok ya Satu aja gak papa, tapi kalau dua ya makin gak papa   Deril Ardito Zain cocotmu nak   Agas Zidane A Btw lagi Dav Mau denger kabar buruk sebelum lo berangkat ke negara tetangga gak?   Dava Garda Erlangga Paan   Agas Zidane A Lo PKN dapet 38 Jadi remidi Dan Hari ini ada UH Matematika Lo susulan berarti minggu dpena *depan HAHAHA GUE KETAWAIN   “Bangke.” umpat Dava lirih usai membaca pesan dari Agas di grupnya tersebut. Sebenarnya ini bukan pertama kali, sih, bagi Dava untuk mendapat nilai jelek dan remidi. Mengingat otaknya ini emang pas-pasan, Dava jadi sering langganan mendapat nilai merah. Masalah yang membuat ia akhirnya menggerutu dan mengumpat adalah, kenapa harus susulan matematika sih dia? Ini, nih, yang bikin Dava sebenarnya malas untuk tidak masuk sekolah dengan alasan apapun ketika ada mata pelajaran yang mengadakan ulangan hari itu. Ujian susulan justru pasti lebih seram dari pada yang tidak susulan sekalipun bisa saja ia mendapat bocoran soal dari tiga temannya yang baik hati tersebut. Tapi bisa membayangkan juga, kan, kalau mengerjakan ujian susulannya di ruang guru yang mana ada CCTV selalu aktif 24 jam, belum lagi guru-guru yang di belakang punggung sesekali mengamati, dan ia pasti tak bisa menyontek apa lagi curang dengan membawa kertas jawaban. Gisel yang melihat wajah Dava seperti menahan kesal jadi bertanya. “Kenapa, sih?” Dava menggeleng, malas bercerita. “Enggak apa-apa.” jawabnya. Dava balik bertanya sekarang. “Dianter Pak Hendri?” Gisel mengangguk. “Makan dulu, Dav. Belum sarapan udah main HP aja.” Dava yang sedang duduk di kursi makan dengan kedua kaki bersila tersebut bergumam saja. “Ke bandaranya jam berapa?” “Jam dua belasan aja kali, ya, berangkat dari sini?” jawab Dava kemudian membuka mulutnya lebar untuk menerima suapan dari sang kekasih. “Enggak terlalu mepet emang kalau jam dua belas baru berangkat?” “Bandara deket kali, Babe.” Gisel mengedikkan bahu. “Terserah aja.” Dava baru menaruh ponselnya ke meja sekitar sepuluh detik sebelum layarnya hidup lagi. Menandakan pesan masuk yang beruntun. Cowok itu melirik sekilas namun tak peduli banyak. Gisel malah yang penasaran. “Dari siapa, sih?” “Anak-anak,” jawab Dava sambil menelan bubur ayam. “Dari pagi mereka rusuh banget tahu kalau aku sama kamu mau berangkat hari ini ke Singapur. Heran, dikira kita mau honey moon kali, ya?” Gisel tertawa. “Coba buka, Babe.” “Apanya?” “Chat di grup itu. Kayaknya Agas ngirim voice note.” Gisel menurut. Jemarinya menekan tombol play untuk pesan suara yang dikirim oleh kontak yang dinamai Dava dengan nama : Agus. “CIE MAU BULAN MADU!” seru Agas mengejutkan Dava dan Gisel. Suaranya sangat kencang. Dava bisa membayangkan cowok itu teriak-teriak di kelas tak tahu malu. “JANGAN LUPA BAWA KARET!” Dava menghela nafas lelah. “Bisa-bisanya gue temenan sama manusia kayak dia.” Gisel tertawa. “Ya cocoklah sama kamu.” “Mana ada cocok? Sifat aku sama dia aja beda seratus delapan puluh derajat loh, Babe.” “Maksudnya aku, kalian jadi bisa saling melengkapi.” “Halah aku gak butuh dilengkapi dia.” Gisel mendorong pipi Dava. “Ye, dasar. By the way Dav...” “Ya, Babe?” “Are we... gonna do... that... again... di Singapur? Soalnya Agas kan.... bahas soal...” Dava jadi menoleh. Senyum tipis muncul di wajahnya sebelum ia mencubit gemas pipi Gisel. “I’ll do it if you want to. Don’t worry too much, ah.” “Heheh, i am not, kok. Cuman tanya aja, pengin tahu jawaban kamu. Soalnya kalau kamu emang iya...” Gisel sengaja menggantung kalimatnya membuat Dava jadi mengangkat alisnya tinggi, penasaran. “Jangan lupa mampir minimarket dulu beli persediaan.” Mau tak mau, senyum Dava langsung mengembang. Ia tertawa kecil sebelum kembali bersuara. “Emangnya kamu mau kalau aku ngajakin?” “Hm-mm.” Dava gemas sekali. Kalau tidak ingat mereka akan berangkat beberapa jam kemudian ke bandara, pasti ia akan menggendong Gisel ke dalam kamar dan memberi gadis cantik itu pelajaran akibat menggodanya begini. Menggoda? Menggoda apanya? Dava saja yang otaknya rusuh. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * ** * * * * * * * * * * * * * * *  Hal pertama yang dilakukan Dava dan Gisel usai menginjak tanah negara singa tersebut adalah mencari taksi. Dava menguap ke sekian kalinya. Padahal ini masih sore. “Kamu ngantuk banget, Dav? Mulai dari naik pesawat sampai sekarang udah turun ada kali empat puluh kali nguap.” Dava mempercepat langkahnya ketika Gisel langsung jalan mendahului dirinya. “Emang ngantuk banget,” jawab cowok itu lalu kembali menguap. “Kamu enak tadi sempet tidur di pesawat. Aku boro-boro.” “Ya emang kenapa gak tidur coba?” “Ngeliatin kamu tidur lebih menarik, sih.” Gisel langsung berhenti melangkah dan menoleh ke belakang. Bukan untuk menunjukkan wajah tersipu, namun untuk memicingkan mata pada kekasihnya. “Basi banget, boooor.” “Hahahahah!” Dava langsung tergelak kencang. “Nah, nah, itu taksinya!” seru Gisel kemudian melambaikan tangan. Dava membukakan pintu untuk gadis itu agar masuk mobil lebih dahulu lalu ia menyusul. Beruntung, hotel yang mereka pesan letaknya tak terlalu jauh dari bandara. Jauh, sih, memakan waktu hampir satu jam. Dava menyerahkan semuanya pada Gisel minggu lalu soal hotel dan lain sebagainya. Kata Gisel, hotel yang ia pilih memang memakan waktu hampir satu jam jika berangkat dari bandara. Namun sisi posistifnya, perusahaan milik papa jadi lebih dekat lokasinya. Dava mengangguk-angguk saja. Baik Gisel mau pun Dava, sebenarnya sudah sama-sama pernah ke Singapura. Dava hanya sekali, sih. Itu pun karena liburan kelas ketika lulus dari Sekolah Menengah Pertama. Sedangkan Gisel memang sering diajak ibunya kesini atau ke negara lainnya dengan maksud pergi berlibur. Refreshing, katanya. Taksi berhenti tepat di depan hotel besar bertitel Elixeur Hotel dengan dinding yang didominasi warna kuning emas. Usai memberikan uang dan tips kepada supir taksi, mereka berdua langsung menuju lobi dan meminta kunci kamar. Jangan tanya apa mereka hanya memesan satu kamar karena jawabannya... pasti iya.  Bukan apa-apa, namun dari awal, mereka memang sudah sepakat untuk memesan satu kamar. Bahkan Gisel sendiri yang memaksa. Katanya biar lebih hemat pengeluaran Dava. Coowok itu iya-iya saja. Lagi pula dia malah senang, dong, bisa sekamar. “43,” Gisel membaca nomor salah satu pintu yang ai lewati. Sembari terus berjalan di lantai empat hotel tersebut, matanya mencari kamar nomor 49. “Nah, this is it!” seru Dava sembari menunjuk salah satu pintu. Gisel menoleh dan mengangguk. Ia membuka pintunya kemudian Dava langsung masuk. Cowok itu melemparkan badan ke sofa lebar disana tepat ketika Gisel mengunci pintu dari dalam. “Aaaah, astaga akhirnya, nyampe juga!” teriak Dava bicara dengan diri sendiri. Cowok itu mengkurap dan mencari posisi nyaman, hendak memejamkan mata dan langsung tidur tapi jelas Gisel tidak akan membiarkan itu terjadi. “No, Dava,” Gisel menarik sepatu kiri Dava hingga lepas. “Cepot dulu sepatunya, ganti baju, mandi, baru tiduran. Get up!” “Babe...” Dava merengek ketika Gisel menatapnya tajam. “Sumpah aku ngantuk. Suwer gak bohong!” “Tapi badan kamu, tuh, lengket. Kamu nyaman-nyaman aja emangnya tidur kayak gini? Di sofa lagi.” “Nyaman-nyaman aja, tuh.” “Terserah deh, yaaaa. Kalau abis itu badannya sakit karena tidur posisinya gak jelas, jangan ngeluh ke aku.” “Hmm, iyaaaaa.” Gisel menuju kamar utama dan mulai membongkar koper. Padahal mereka berangkat ke Singapura naik pesawat bukan kapal laut apa lagi jalan kaki. Tapi rasanya badan Gisel lelah sekali. Mungkin karena kelamaan duduk di pesawat dan taksi. Jadi usai ia menarik satu outfit pakaian sebagai baju ganti, Gisel melangkah ke kamar mandi. Cewek itu ingin berrendam air hangat di bath up. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *  * * * * * * * * * * * * * * * *  Gisel jadi sebal sendiri dengan kekasihnya itu. Mulai sampai di hotel, Dava langsung tidur hingga berjam-jam kemudian. Padahal Gisel sudah membongkar koper, sudah menata pakaian, sudah mandi, sudah memesan makanan untuk dirinya—karena kalau nunggu Dava kelamaan—dan sudah istirahat juga selama kurang lebih empat puluh menit. Tapi bahkan ketika ia bangun, Dava masih di posisi semula. Masih tidur di sofa dengan posisi yang sama. Gisel melirik jam dinding yang menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Astaga, apa kekasihnya akan tidur hingga esok hari atau bagaimana? “Dav,” Gisel menggoyang-goyangkan bahu Dava. Ia duduk di ujung sofa yang ditiduri cowok itu. “Dava.” Gisel iseng membuka kelopak mata Dava. “Dava, ih, bangun kek.” Dava bergumam tanpa membuka mata. “Hmm.” “Dav, sumpah ya kalau tahu kamu bakal hibernasi begini, mending aku ga usah ikut ke Singapur.” Dava membuka matanya sekilas sebelum kembali tertutup. “Lima menit, lima menit. Janji lima menit lagi bangun.” “Kamu udah tidur dari jam lima ya, Dav!”  Dava langsung duduk. Dengan mata yang berat untuk dibuka, cowok itu melirik jam dinding. “Ini jam sembilan apa, ya?” “Sembilan pagi!” jawab Gisel sebal. Dava terkekeh. Ia maju mengecup pipi Gisel. “Iya, iya. Nih, aku bangun nih.” “Mandi.” “Hah, gila? Ogah banget mandi malem-males.” Gisel membalik kalimat Dava kemarin. “Kan ada air anget. Gak usah alesan. Kamu bau gini mau mandi besok emang?” “Bau apanya?! Enak aja ngatain aku bau.” “Mandi bentar apa susahnya, sih? Kamu jangan tidur sama aku kalau gak mau mandi. Jorok banget jadi anak.” Dava mendengus. Padahal yang membayar sewa hotel, kan, dia. Kenapa jadi Gisel ebrani mengusirnya coba? Untung sayang. “Iya, iya. Aku mandi, deh. Tapi temenin, ya?!” Dava mendorong kening Dava yang sudah mendekat hendak mengambil kecupan di bibir. “Mandi sendiri.” * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *  Dava keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang d**a. Ia menggosok rambut basahnya dengan handuk. Gisel yang tadinya sedang menunduk bermain ponsel di tengah ranjang jadi menoleh. “Katanya dingin, kok keramas?” “Sekalian aja.” Gisel menggeser tubuhnya ketika Dava ikut bergabung di kasur. “Keringin dulu yang bener, ih, rambutnya. Netes, tuh, airnya ke sprei.” “Astaga, Gisel,” Dava mencibir. “Kamu ngomel mulu loh dari tadi perasaan. Gak capek apa?” “Bete, tau. Aku penginnya, kan, jalan-jalan malem berdua pas di Spore. Kamu malah tidur sampai jam segini.” Dava menarik kepala Gisel untuk ditaruh di pundak telanjangnya. “Iya, maaf. Kita bisa jalan-jalan besok, kan?” “Besok jadwalnya, kan, kita enmuin orang tua kamu, Dav.” “Maksudku sorenya.” “Loh,” Gisel jadi menoleh. “Kita enggak nginep di rumah mereka emangnya? Pagi berangkat sore balik apa gimana, deh?” “Nginep, Sayang. Cuman, kan, sorenya kita bisa jalan.” “Jalan sekalian aja bareng-bareng sama orang tua kamu.” Dava mengangguk saja. “Ya kalau mereka gak sibuk, ya?” Mereka saling diam beberapa saat. Gisel masih sibuk dengan akun instragram di ponselnya, menggulir halaman demi halaman disana, mengamati beberapa gambar model baju terbaru minggu ini. Dava mengusap lembut rambut halus milik kekasihnya. “Dav.” Dava menghentikan kegiatannya hanya untuk memberi kecupan di puncak kepala Gisel. “Iya?” “Aku jadi kepikiran.” “Kepikiran apa?” “Besok bakalan jadi hari pertama aku ketemu Papa sama Mama kamu, loh.” Dava mengangguk. “Terus kenapa?” “Kok kenapa?” “Loh, emang kenapa sih?” “Aku deg-degan lah. Takut sendiri jadinya. Gimana kalau mereka gak suka sama aku? Gimana kalau mereka mikirnya kamu gak cocok sama cewek kayak aku? Apa lagi kamu gak pernah ngenalin pacar atau temen perempuan ke mereka kan kata kamu. Besok yang pertama.” “Papa Mama bukan tipe orang tua yang kayak gitu, kok. Keep calm.” “Who knows, kan? “Beneran, Babe. Yang kamu takutin tuh gak bakal kejadian. Selama aku bahagia, pasti mereka setuju-setuju aja.” “Tapi—“ “Gak ada tapi-tapian, ya. Santai aja, serius,” Dava meraih ponselnya di nakas. “Dari pada mikirin hal gak penting, mending kita cari badut aja biar ketawa.” “Cari apa?” “Badut. Bentar,” Dava menekan kontak nomor seseorang dan memencet tombol hijau. Bunyi tut tut tut tut terdengar beberapa detik saja sebelum akhirnya panggilan video terangkat. “HEWLO MAS BROW!” sapa laki-laki berisik di seberang sana. Kenapa Dava menyebut Agas badut? Ya karena Agas memang paling bisa membuat orang tertawa. Sekalipun lebih sering jadi sosok menyebalkan, sih. “Lagi ngapain lo?” tanya Dava ketika dilihatnya kamera Agas berubah-ubah terus. Kemudian wajah Agas muncul lagi. Cowok yang kelihatannya sedang di apartemen itu menyengir. “Berasa kayak ditanyain pacar gak, sih, Dav pake lagi ngapain lagi ngapain?” “Ye, homo anjing.” “Cewek lo kemane, Dav?” “Ngapain lo nanyain cewek gue?” “Ya elah, tanya doang juga. Basa basi ini sama temen.” Dava mengarahkan kameranya ke arah Gisel yang duduk bersandar dengan kaki lurus di sampingnya. “Babe,” panggil Dava. Gisel menoleh, kemudian melirik ponsel di tangan Dava yang diarahkan padanya. Melihat wajah teman kekasihnya— Agas— yang terpampang disana, Gisel langsung tersenyum lebar dan melambaikan tangannya ramah. “Hai, Gas!” “Oi, Sel! Bisa-bisanya lo ke luar negeri pakai sekamar juga hotelnya sama Dava.” Gisel langsung mengerjap. “E-eh, itu...” “Ye, serah gue sih sirik amat lo.” Dava langsung menghadapkan mulut di depan kamera. Agas langsung terbahak karena kamera langsung gelap. Dava mematikan panggilan video mereka.  Gisel jadi terbahak. "Ih, kok langsung dimatiin, sih?!" "Bodo amat, deh. Punya temen nyebelin amat heran aku tuh sama Agas." "Mood boster tahu cowok kayak dia." "Hm?" Dava jadi menoleh dan menatap sang kekasih dengan tatapan curiga. "Kamu ngomong apa coba ulangin?" "Mood boster." Dava langsung mengapit kepala Gisel di ketiaknya. "Bisa-bisanya, yaaa, muji cowo lain di depan pacar sendiri." "Ih, Daaav lepaaaaas! Ya ampun sesek!" "Bilang maaf, gak?!" "Ih, orang aku gak salah kenapa harus minta maaf coba?" "Ih gitu." "Lepas dulu makanyaaa." Gisel memukuli paha cowok itu yang mana Dava masih mengapit kepalanya. Gila, btengkuknya terasa pegal hanya dipaksa menunduk begini. Dava menurut. Gisel menghembuskan nafas puas. Ia kemudian ganti mengapit kepala Dava di ketiaknya sampai-sampai Dava membungkuk ke bawah. Punggungnya sampai melengkung seperti posisi olah raga cium lutut. "Nih, nih, rasain, capek gak diginiin hah?!" "Aduh, aduh, ampun!" * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD