* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Perhatian : Bab ini masih menjadi bagian kilas balik cerita ini. Mohon cermati dengan seksama setiap kalimat dalam bab agar tidak terjadi kesalahpahaman. Pembaca bisa mengulang ke bab sebelumnya apa bila masih tidak mengerti. Terimakasih.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Setelah semalaman beristirahat, paginya Gisel bangun terlebih dahulu. Gadis itu juga tak tahu mengapa kali ini bisa bangun pagi sekali tanpa harus ada bunyi alarm yang berdering berkali-kali atau pun orang lain yang membangunkannya.
Biasanya, jika ini hari Sabtu atau Minggu, bisa dipastikan Gisel tak akan melepas selimut dan turun dari ranjang jika belum pukul delapan. Maklum, sebagai anak tunggal dan kesayangan, gadis itu memang tak pernah punya kewajiban untuk bangun pagi apa lagi membantu pekerjaan rumah. Sekecil apapun.
Tapi kali ini, ketika matahari masih malu-malu untuk menunjukkan diri, gadis itu sudah mengerjapkan mata beberapa kali. Rengkuhan erat di pinggangnya sudah tak perlu ditanyakan siapa pemilik tangan tersebut. Gisel mencoba meraih ponsel di dekat lampu tidur tanpa banyak bergerak dan sampai membangunkan sang kekasih.
Di layar ponsel yang ternyata milik Dava dan bukan miliknya, tertera pukul 05.30 disana.
Gisel kembali menyamankan posisi tidurnya. Tak berniat bangun sekarang. Apa lagi kemarin malam, Dava bilang bahwa mereka akan berangkat menemui orang tuanya sekitar pukul 09.00 saja. Gisel melingkarkan tangan kanannya memeluk pinggang Dava. Karena matanya tak merasakan kantuk sama sekali, Gisel memilih untuk menghabiskan waktu menunggu cowok di hadapannya bangun dengan mengamati wajah lelap dan tenang Dava yang sedang tidur.
Senyuman tipis muncul tiba-tiba. Dava dengan mata terpejam serta bibir sedikit terbuka membuat Gisel tampak sangat ingin mengambil ponsel untuk mengabadikan wajah cowok itu. Tapi menghindari resiko dimarahi Dava, Gisel mengurungkan niatnya. Jemari-jemarinya lentik mulai bergerak lembut ke pipi Dava, meraba da mengusp, menghantarkan rasa hangat dari tangan ke pipi Dava. Telunjuknya naik megusap alis Dava, turun untuk memainkan bulu matanya.
Apakah Gisel sudah pernah bilang bahwa dia snagat menyukai bentuk wajah Dava?
Alih-alih memiliki wajah garag seperti watak dan karakter aslinya, Dava sebenarnya malah tak memiliki tatapan yang mengintimidasi. Entah ini hanya perasaannya saja atau bagaimana, tapi bagi Gisel, garis wajah cowok itu tak sekeras kepribadiannya.
Belum lagi wajah bersih dan pipi yang lebih lembut dari pada pipinya sendiri. Astaga, bagaimana bisa Gisel tidak terpukau sejak pandang pertama dengan cowok setmpan ini. Atau pertanyaan yang lebih besar adalah, bagaimana bisa laki-laki setampan Dava Garda Erlangga menyukainya? Giselle Afreea Wicaksana tidak lain dan tidak bukan hanyalah seorang perempuan manja dan tidak bisa mandiri. Ia selalu menggantungkan seluruh hidupnya pada orang-orang disekitarnya. Orang tuanya yang selalu menentukan ke sekolah mana Gisel akan didaftarkan, profesi apa yang harus digelutinya, ekstrakulikuler apa yang harus gadis itu ikuti, bahkan sosok laki-laki yang mana yang harus ia nikahi saja sudah ditentukan oleh orang tuanya.
Tapi Dava datang secara tiba-tiba, tanpa salam apa lagi mengetuk pintu, menggonjang-ganjingkan hatinya dalam sekejap mata, membuat Gisel menambahkan nama laki-laki itu sebagai tambahan ciptaan Tuhan yang Gisel sayangi. Dan Gisel siap untuk menggantungkan dirinya pada Dava. Hidup dan matinya.
Mungkin, di alam bawah sadar sana, Dava tahu bahwa ada seseorang yang mengamatinya. Apa lagi kini Gisel memainkan bibir Dava. Perlahan tapi pasti, Dava adi bangun. Ia membuka matanya. Tak perlu menunggu beberapa saat hingga lengkung bibir Dava naik secara otomatis kala perempuan yang ia cinta langsung menjadi objek pertama yang ia lihat setelah membuka mata di pagi hari.
“Good morning.” sapa Gisel sembari membalas senyum Dava.
Cowok itu maju untuk memberi kecupan singkat di bibirnya. Tak peduli dengan fakta bahwa mereka baru bangun tidur dan bahkan belum menyikat gigi.
“Good morning, sun shine.”
Gisel menahan bibirnya agar tak melebarkan senyum kala ia menangkap Dava yang tak berhenti menatapnya. “Kenapa, sih?” tanyanya.
“Hm? Kenapa apanya?”
“Kamu ngeliatin aku kayak gitu banget,” tutur Gisel. Kemudian tangan kanannya yang tadi berada di leher Dava, kini ia pindahkan untuk menutup wajahnya. “Jangan-jangan aku belekan, ya? Apa ileran?”
Dava terkekeh singkat. “Enggak, kok.”
“Terus?” Gisel menuntut jawaban. “Jangan gombal bilang aku cantik kalau pagi begini apa lagi bangun tidur karena itu adalah sebuah kebohongan besar.”
Kali ini, Dava tak lagi hanya terkekeh. Ia terbahak di depan wajah Gisel. “Hahahaha, apa sih kamu tuh?” katanya. “Ini kamu minta dipuji begitu jangan-jangan nih?”
“Ih, enggak! Bukan gitu.”
“Terus gimana, dong, kalau bukan begitu?” tanya Dava. Sengaja.
Dava paling suka membuat Gisel marah-marah dan ngambek begini. Ia akan sengaja menggoda gadis itu sampai Gisel cemberut dan tak mau ebrbicara dengannya karen sebal setengah mati. Mungkin ini yang namanya bahagia di atas penderitaan orang lain. Karena ketika medapati Gisel akan cemberut menahan kesal, Dava malah akan senang bukan main. Wajah gadis itu akan berubah menjadi sangat lucu dan menggemaskan.
“Biasanya tuh di drama Korea yang aku tonton, kalau bangun tidur terus cowoknya ngeliatin begitu kayak kamu tadi, gak lama cowoknya pasti bakal bilang kamu cantik banget kalau bangun tidur begini, look so natural and i like it. Begitu.”
“Eum... jadi kamu nungguin aku bilang begitu?”
“Ih, dibilangin enggak juga! Gak percayaan, dih.”
Dava tertawa lagi. Kini tawanya menguar di ruangan seiring dengan gerakan tangannya yang merengkuh Gisel masuk ke dalam pelukannya. “Aku tuh ngeliatin kamu tadi karena...”
“Karena?” tanya Gisel sembari mengusap punggung lebar Dava.
“Seneng aja pagi ini bangun-bangun langsung ngeliat kamu. Kayak dreams come true, you know?”
Memang.
Berbulan-bulan keduanya berpacaran, Gisel dan Dava tak pernah sampai menginap bersama seperti sekarang. Ini pertama kalinya. Dan walaupun mereka sudah pernah melakukan hubungan intim dan berbagi dosa, tapi Dava dan Gisel tak pernah melakukannya lagi setelah itu. Benar-benar hanya satu kali.
Jangan tanya mengapa emreka tidak pernah melakukannya lagi, apa lagi katanya, menurut rumor yang beredar, melakukan sebuah dosa hanya akan membuat kalian kecanduan. Dava tentu saja juga ketagihan, ia senang bisa bermain dengan Gisel, tapi bukan berarti ia harus egois dan memaksakan kehendak Gisel. Bukan juga karena Gisel tidak mau ketika Dava mengajanya, tapi cowok itu memang tak pernah meminta lagi. Ia takut Gisel slaah paham atas hubungan keduanya jika Dava selalu meminta gadis itu untuk melakukan hubungan seksual.
“Ngaco banget,” jawab Gisel. “Ya kali cuman ngeliatin aku di pagi hari setelah kamu bangun tidur adalah your dream you wish to come true?”
“Serius.”
“Gak percaya pokoknya.”
“Loh, kok gak percaya? Bukannya aku udah pernah bilang kalau aku, tuh, kepingin bisa kayak gini setiap hari. Aku pengin nanti nikahnya sama kamu so scene like this will be my everyday view after i open my eyes in the morning.”
Dan, blush.
Gadis yang dikenal galak itu tak bisa menahan pipinya untuk tak merah dan memanas. Astaga, padahal Gisel bukan tipe perepuan yang bisa salah tingkah karena kata-kata receh dan gombalan laki-laki. Tapi mengapa kalimat Dava berhasil membuatnya tersipu malu? Darahnya berdesir kencang dan ia merasakan ada kupu-kupu yang berterbangan di perut.
“Loh, kamu malu? Dih, sumpah ini kamu lagi malu?” tanya Dava dengan wajah sumringan serta tak percaya yang bercampur aduk menjadi satu. Gisel benar-benar tak pernah seperti ini. Sekalipun Dava mencoba merayu memakai jurusan buaya darat level sembilan puluh, Gisel tak pernah salah tingkah. Tapi ini?
Astaga, saking gemasnya, Dava sampai langsung beranjak dari tidurnya, duduk tegak bersila di atas ranjang dengan Gisel masih berbaring dengan wajah yang sengaja ditutupi dengan selimut.
“Gemes banget, sih, pacar gueeeee.” ujar Dava sembari memaksa selimut untuk terbuka, menampilkan wajah Gisel dengan bibir bawah maju ke depan.
Cowok itu menunduk untuk memberi kecupan berulang kali di seluruh wajah Gisel. Di dahi, di hidung, di pipi kanan, di pipi kiri, mata kanan, mata kiri, di dagu, di bibir, lalu diulangi lagi.
“Aduh, udaaaaah, jangan diciumin!”
“Hahaha, lagian siapa suruh gemes banget, haaaaaaah?”
“Siapa juga yang suruh ngomongin nikah-nikah, haaaaaaaah?” balas Gisel kemudian ikut bangun, duduk ebrsila tepat seperti gestur sang kekasih.
Cewek itu mengambil kuncir rambut di pergelangan tangannya, menguncir rambutnya tinggi-tinggi menjadi satu. “Kita ngapain, ya, kok bangun pagi banget?” gumam Gisel.
Dava terkekeh. “Iya juga. Masih jam enam lebih lima belas. Padahal kemarin malem aku ngiranya kita bakalan bangun kesiangan. Minimal jam sembilan, kek. Soalnya capek, kan, di jalan dari Jakarta ke Singapur?”
“Iya, sih, capek. Tapi kalau kamu yang ngomong jadi kayak alay banget seakan-akan kita dari Jakarta ke Singapura, tuh, jalan kaki.”
“Hehehe. Jadi sekarang mau ngapain, nih?”
Gisel mengedikkan bahu. Tapi kakinya mendekat pada koper, hendak mncari outfit pakaian yang akan ia gunakan nanti. “Kalau aku, sih, mau mandi. Eh, kamu udah nelepon orang kantor? Nyanyin Papa kamu.”
“Oh, right. Untung kamu ingetin.”
Dava langsung mengotak-atik gawai yang ia gapai dari kasur. Tangannya cekatan mencari nomor asisten Papanya dan segera menekan tombol hijau.
“Selamat pagi, Mas Dava.” sapa asisten Papanya yang memang asli Indonesia. Om Herdan namanya.
“Iya, selamat pagi, Om. Aku lagi di Singapur sekarang, baru sampai kemarin, sih. Maaf baru ngabarin.”
“Loh, really?!”
“Iya, hehe,” Dava menggeleng tengkuknya yang tak gatal. “Kenapa kok kaget gitu, Om?”
“No problem, bukan apa-apa. Cuman gak biasanya aja nyamperin Papamu sampai ke luar negeri begini.”
Dava mengangguk samar. Matanya sekilas melirik Gisel yang kini memasuki kamar mandi.
“Rencananya aku mau nemuin Papa sama Mama hari ini. Mungkin jam sembilan atau jam.. sepuluh. Kira-kira aku ke kantor aja langsung atau kemana, ya?”
“Eum, bentar biar Om cek dulu jadwal Papa kamu, ya?”
“Sure, Om.”
“And, any way, how are you, Mas Dava? Sudah lama tidak bertemu.”
“Begini-begini aja, Om. School still sucks but thanks to God i can handle it. Hahaha.”
Om Herdan ikut tertawa. “It is.”
“Om sendiri gimana, nih, kabarnya? Emang kita udah lama banget gak ketemu gak, sih, Om? Kangen banget sama si kembar Caca dan Cici.”
Di seberang sana, Om Herdan bersuara lagi. “Baik, kok, baik. We’re all good. Nah, ternyata Papa Mama kamu gak ada jadwal meeting, kemungkinan besar gak ke kantor hari ini. Biasanya setelah hectic day, mereka akan ambil libur sehari.”
“Glad to hear that,” Dava tersenyum. “Niatnya aku emang pengin kumpul sama mereka without talk any business topic, Om. By that way, Papa and Mama, they are all good juga, kan?”
Butuh beberapa detik untuk Om Herdan menjawab, sampai Dava mengernyitkan dahinya, bingung. “Om?”
“Oh, yeah, sure. Mereka sehat dan baik-baik saja. No need to worry, Mas.”
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
“Udah selesai mandi?” tanya Dava mengabaikan sejenak ponsel di tangannya saat dari arah pintu kamar mandi, kekasihnya keluar dengan wajah yang lebih segar dan rambut yang basah.
Gisel mengangguk. “Gimana tadi teleponnya? Kita langsung ke kantor atau kemana?”
“Langsung ke apartemen aja katanya. Papa sama Mama lagi libur.”
“Okay. Ya udah kamu mandi, gih, sekarang. Biar aku yang cariin makanan buat sarapan.”
“Babe, bukannya bentar lagi kita dianterin makanan sama hotel?”
“Iya, sih. Tapi aku lagi pengin fast food yang kriuk-kriuk.” jawab Gisel sambil meringis.
Alis Dava terangkat. “And what is that?”
“Chicken spicy or what so ever.”
Dava berdiri, kini ia mengambil pakaiannya yang sudah disiapkan Gisel di dekat cermin. “No no no. Udah gak sehat makanannya, minta pedes-pedes lagi. It’s too early to eat something like that, Baby.”
“Yah, Dav...”
Dava berdecak ketika Gisel langsung merangkul pinggangnya. Gisel menampilkan wajah sedih, tatapannya mengiba, berusaha agar Dava kasihan. Tapi jangan harap Dava memberi izin.
“No means no.”
Gisel tak menyerah. Ia memberi kecupan pada kedua pipi Dava. “Udah boleh?”
Dava hampir tertawa. Gadis di depannya ini benar-benar imut sekali. Dava hampir gila dibuatnya. “Still no.”
Kali ini Gisel memberinya kecupan di bibir Dava. “Still no?”
“Still no.”
Gisel cemberut sesaat sebelum langsung melompat ke badan Dava. Ia mengalungkan kedua tangannya di leher Dava sedangkan kedua kakinya berada di pinggang cowok itu. Bibirnya kembali memberi kecupan berkali-kali sebelum menjauh.
“Please, udah boleh, ya?”
Dava memajukan bibirnya dan memberi satu kali kecup di bibir Gisel. “Give me longer kiss and i will say yes for that kriuk-kriuk food but no spicy. Get it?”
“Loh, aku lebih pengin pedes-pedesnya dari pada kriuk-kriuknya.”
“Am i not hot enough for you, Giselle Afreea Wicaksana?”
Gisel mencebik kesal. Dasar Dava Garda Erlangga.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Gisel harap pakaian yang ia kenakan hari ini sudah sopan dan tidak akan membuat orang tua Dava, kekasihnya, berpikir bahwa ia memakai pakaian yang terlalu terbuka.
Dengan setelan kemeja kotak - kotak berwarna hijau tua, dan bawahan celana kulot berwarna putih polos, ditambah sepatu boot hitam yang tidak terlalu tinggi kemudian rambutnya yang diurai rapi adalah gaya pakaian yang ia putuskan setelah ia mencari tips menarik perhatian calon mertua.
Bukan apa-apa, ia hanya berusaha tampil sebaik mungkin mengingat ini adalah kali pertama kekasihnya mengenalkan seorang perempuan di depan orang tuanya langsung.
Beda lagi dengan Dava Garda Erlangga yang memakai setelan santai berupa kaos yang dibalut jaket dan celana panjang.
Mengingat mereka berdua tidak membawa mobil sendiri, keduanya memutuskan untuk menaiki taksi yang sudah di sel pesan sejak 10 menit yang lalu dan sedang dalam perjalanan menjemput mereka di hotel. Sebenarnya Om Her sudah menawarkan jemputan untuk Dava agar laki-laki itu tidak kesulitan mencari kendaraan ke apartemen orang tuanya. Tapi Dava menolak.
Di sepanjang perjalanan usai keduanya masuk ke dalam mobil taksi yang mereka pesan, Gisel tak berhenti memastikan riasan wajahnya di cermin yang ia bawa dalam tas. Tak bisa berbohong, ia merasakan detak jantungnya berdegup lebih kencang daripada biasanya. Dava di sampingnya jadi menoleh dan terkekeh kecil.
"Kamu ngaca dari tadi udah ada dua puluh kali loh, Sel." ujarnya bergurau. Pandangannya kembali ke depan ketika Gisel tak menjawab pertanyaannya, hanya mencibir saja.
"Semoga orang tua kamu bisa nerima aku dengan baik, ya. Beneran deh, aku nggak bohong, ini lagi deg-degan banget."
Dava tertawa mendengar kalimat sang kekasih. Tangan kanan Daffa yang menganggur sudah terangkat hendak mengacak rambut gadis itu tapi dengan cepat Gisel langsung menepisnya. Jelas saja ditepis. Rambut yang sudah ditata sejak 1 jam yang lalu itu tidak akan ia biarkan rusak begitu saja hanya karena tangan nakal Dava.
"Aku udah bilang kan ke kamu, nggak perlu khawatir dan hati-hati banget kayak gini. Orang tuaku bener-bener baik. Mereka gak bakal gigit kamu."
“Iya, tahu, kaalu gak bakal gigit. Yang suka gigit mah kamu.”
Dava tertawa. “Tahu aja, si Cantik.”
Gisel mencebik kesal karena Dava tidak pernah serius menanggapi kalimatnya padahal ia butuh ditenangkan. Bahkan rasanya, kini bulu kuduknya berdiri karena merinding sendiri. Takut dengan segala kemungkinan terburuk yang akan ia hadapi nanti jika saja Papa dan Mama Dava tidak bisa menerimanya dengan baik seperti yang ia harapkan selama ini.
Usai memberi uang ongkos taksi dan tips untuk supir, Dava membukakan pintu untuk mempersilahkan kekasihnya keluar. Apartemen yang menurut informasi Om Herdan adalah milik kedua orang tuanya itu sudah berada di depan mata. Langkah kaki Dava dan Gisel berjalan beriringan memasuki pelataran luas dan mewah tersebut. Gisel dengan cekatan menanyakan kepada resepsionis yang berada di depan untuk mengetahui lantai ke berapa tempat tinggal apa Dava karena Om Herdan dan hanya memberikan nomor apartemennya saja.
"Lantai berapa katanya?" tanya Dava ketika Gisel menghampirinya yang dari tadi menunggu di salah satu sofa untuk tamu.
”Lantai 11." jawab Gisel singkat kemudian berjalan mendahului Dava ke arah lift yang tersedia. Ketika sudah berada di dalam tempat persegi tersebut yang kebetulan sedang ramai orang keluar dari sana Gisel segera menekan angka yang sesuai dengan informasi resepsionis tadi. Perempuan itu melirik Dafa yang terlihat santai saja padahal tidak bertemu dengan orang tuanya yang sudah hampir setengah tahun tidak pernah bertemu dengannya. Tangan kanan Dava penuh dengan plastik bawaan yang berisi makanan untuk oleh-oleh dari Gisel kepada Papa dan Mama Dava, lelaki itu malah asyik bersiul, tidak seperti gisel yang sudah tampak layaknya cacing kepanasan karena kakinya tidak bisa diam.
Tak butuh waktu lama untuk mereka berdua Akhirnya sampai di lantai yang dituju. Karena nomor kamar apartemen Papa Dava tidak jauh dari arah lift, mereka tidak terlalu kesusahan mencarinya.
Tepat ketika Dava Garda Erlangga hendak memencet bel apartemen usai kedua kakinya menapak di depan pintu, Gisel menahan tangannya. Dafa jadi menoleh, alisnya terangkat tinggi dan dahinya mengernyit. Dilihatnya Gisel meringis. "Bentar, aku mau tarik nafas dalam-dalam dulu. Biar nggak terlalu grogi."
"Kamu tuh kayak mau ketemu sama presiden aja. Dari tadi gak bisa diem. Tuh hidungnya sampai keringetan." ujar Dafa. Kemudian tangan kirinya terangkat untuk mengusap beberapa titik keringat di hidung Gisel.
"Udah, pencet belnya sekarang." titah Gisel yang diangguki oleh cowok jangkung di sampingnya.
Butuh waktu sedikit lebih lama untuk Dava akhirnya mendapati pintu yang terbuka dari dalam. Sosok papanya yang terakhir kali ia temui 6 bulan yang lalu itu muncul dengan senyuman lebar menyambutnya. Bohong jika Dava bilang ia tidak senang. Hatinya bahkan berbunga-bunga kini, seperti remaja putih biru yang baru merasakan jatuh cinta. Tanpa basa-basi terlebih dahulu, Papanya alias Irfan Erlangga itu memeluk tubuh sang putra dengan erat.
"Astaga, betapa Papa sudah lama sekali tidak bertemu kamu."
Dengan balasan rengkuhan sama eratnya, Dava mencoba untuk tidak meneteskan air mata saking senangnya, kemudian ia bersuara. "Lama banget. Papa nih betah ya di luar negeri nggak ngajakin anaknya sampai gak pulang-pulang hampir setahun sendiri?"
Irfan tertawa.
Keakraban dan kehangatan yang ada di depan mata Gisel membuat perempuan itu sedikit terenyuh dan terharu. Apa lagi jika mengingat bagaimana kemarin sang kekasih sampai menangis karena merindukan orang tuanya, kini akhirnya mereka berhasil bertemu.
"Mama mana, Pa?" tanya Dava usai ia dan ayahnya saling melepas pelukan mereka.
"Masih di kamar mandi," jawab Papanya singkat. Lalu tatapannya bergerak menuju perempuan cantik di samping Dava yang baru ia sadari kehadirannya karena asik sibuk sendiri menatap sang putra tadi. Gisel langsung tersenyum canggung. "Loh, siapa ini perempuan cantik yang kamu bawa?"
Dava ikut menoleh. Kali ini tangannya menarik lembut lengan Giselle, menyuruhnya mendekat. "Ini Gisel. Pacar Dava. Cantik, kan?"
Gisel melotot kecil mendengar pertanyaan Dava tersebut. Ia melirik Papa Dava lalu mengulurkan tangan menjabatnya. "Gisel, Om." ujar ia memperkenalkan diri. "Maaf jadi ikut ke sini, ya."
"Saya Irfan Papanya Dava," jawab pria yang usianya hendak menginjak angka tiga puluh delapan tersebut. "Gak papa, dong. Om malah senang kalau Dava akhirnya berani memperkenalkan pacarnya ke saya dan istri."
"Pa, ini aku sama Gisel nggak disuruh masuk? Apa kita ngobrol aja di sini sambil berdiri sampai malem?"
Irfan terkekeh sebelum menyampingkan badannya mempersilahkan kedua muda dan mudi tersebut untuk masuk ke dalam apartemen. "Sini, masuk."
Sama seperti orang tua Gisel yang mana— bukan mau sombong tapi memang apa adanya— mereka berdua sama-sama dari kalangan orang berada, jadi tak heran mengapa ruang apartemen ini begitu luas, belum lagi barang-barang yang ada di dalamnya merupakan produk dari merk ternama, warna dinding yang didominasi kuning emas dan putih tersebut sangat menggambarkan bagaimana karakter sang pemilik apartemen yang penuh dengan keeleganan.
"Papa kemarin udah dikasih tahu sama Om Herdan kalau kamu mau ke Singapur nyusulin. Tapi gak tahu kalau kamu sepagi ini udah dateng kesini," ujar Papanya ketika mereka baru mendudukkan p****t di sofa lebar yang tersedia di ruang utama. "Udah sarapan, belum? Mamamu biasanya gak masak, beli-beli mulu."
"Udah, kok. Udah sarapan tadi." jawab Dava. "Sel, kamu laper lagi, enggak? Kalau iya, ya kita join sarapan aja sama Papa Mama."
Gisel memberikan gelengan kepala kepada Dava dan papanya yang sama-sama menoleh meminta jawaban kepada dirinya. "Enggak, kok. Gak laper. Baru juga sejam yang lalu makan nasi."
Gisel, Om Irfan, dan Dava kembali berbincang mengenai segala hal yang terjadi belakangan ini ketika mereka berdua tidak saling bertemu. Mengenai Jakarta, sekolah Dava, pekerjaan Irfan yang begitu-begitu saja, dan beberapa kali Om Irfan juga menanyai Gisel. Hanya saja, percakapan seru mereka terinterupsi ketika tak lama kemudian, Mama dari Dava Garda Erlangga alias wanita cantik yang memiliki nama lengkap Shinta Indriyani tersebut keluar dari kamar mandi dengan daster sederhana. Pakaian yang benar-benar membuat wanita tersebut terlihat sangat kontras dengan pakaian Om Irfan yang rapi walau hanya dengan kaos dan celana panjang. Tapi tetap saja, wanita cantik walaupun memakai pakaian dari kardus bekas atau botol, akan tetap terlihat cantik.
Di usia yang tidak bisa dikatakan masih muda, Ibu dari Dava tersebut terlihat sangat cantik. Yang mana karakter keibuannya sangat terlihat dari wajah dan mata yang menatap lembut ke arahnya.
"Loh, kalian sudah datang?" tanya Shinta Indriyani dengan wajah berbinar mendekat ke arah mereka bertiga.
Gisel dan Dava otomatis berdiri menyambut. Seperti bagaimana pertemuan antara Dava dan Om Irfan tadi, begitu pula dengan kali ini. Dava dan tante Shinta saling memeluk erat menyampaikan rindu antara anak dan seorang ibu yang baru bisa lepas hari ini, detik ini.
"Ya Tuhan, Mama kangen banget. Kamu apa kabar, Nak?"
Sembari melepas pelukannya, Dava bersuara. "Baik, kok. Mama sendiri gimana disini? betah? Sehat?"
Entah hanya sekedar gerakan otomatis saja atau apa, tapi tante Shinta terlihat melirik sekilas ke arah Om Irfan sebelum kembali menatap sang putra. "Kamu bisa melihat sendiri. Mama masih sehat dan baik-baik, kan?"
Dava berpura-pura menggesturkan tangannya untuk bertopang di dagu sok berpikir, matanya memicing, lalu bergumam pelan. "Tapi kelihatannya Mama kayak lebih kurus dari pada pas kita terakhir ketemu."
Untuk yang kedua kalinya, tante Sinta kembali melirik Om Irfan. "Iya, Mama kan diet, Sayang. Harus jaga badan walaupun udah bukan anak muda lagi. Eh, tapi umur tiga puluh tujuh tetap muda, dong, ya?” canda Shinta. “Omong-omong, maaf Tante keasikan ngomong sama Dafa jadi lupa kenalan sama kamu. Namanya siapa, Nak?"
Gisel yang merasa diajak berbicara jadi maju untuk mengulurkan tangan, kembali mengulang percakapan perkenalan diri dengan senyum ramah di bibirnya. "Gisel, tante."
"Cantik sekali." puji tante Shinta.
"Tante Shinta juga cantik banget, aku sampai iri.”
Sinta terkekeh kecil. "Kalau bohong hidungnya makin panjang, loh."
"Ih, beneran tante."
"Tante mah udah tua, gak bisa ada yang dibanggain," Shinta beralih kepada sang putra, ia menjawil punggung tangan Dava. "Kamu pinter banget kalau suruh cari pacar. Sekalinya dapat perempuan bisa sampai secantik Gisel."
"Loh, jelas dong. Bakat nyari perempuannya dapet dari keturunan Papa. Papa aja bisa dapat yang secantik Mama, masa aku nggak bisa? Ya gak, Pa?"
Irfan mengangguk kecil. "Hm. Iya."
"By the way, Ma. Tadi Giselle bener-bener takut banget mau aku ajakin ke sini. Katanya takut kalau Papa sama Mama gak suka sama dia, erus jadinya kayak sinetron di Indosiar yang hubungannya nggak direstuin karena orang tuanya nggak suka sama calon menantu." adu Dava yang sebenarnya dari arah belakang, telunjuk dan jempol Gisel sudah berusaha menghentikan celotehan tersebut dengan cubitan kecil di belakang punggung Dava. Tapi nihil, usahanya tak berhasil.
Gisel jadi heran sendiri kenapa sang kekasih suka sekali mengumbar-umbar aibnya apa lagi kali ini di depan orang tuanya sendiri, yang mana adalah calon mertua Gisel. Kalau begini terus caranya, bisa-bisa ia malu dan memilih menenggelamkan wajahnya di rawa-rawa.
Irfan dan Sinta jadi tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. "Om sama Tante gak garang, kok."
Gisel mengangguk sungkan, merasa tidak enak. "Iya, Om, Tante. Maaf, ya. Soalnya tadi aku emang grogi banget, kan ini pertama kalinya dibawa ke sini ketemu sama kalian, jadi mikir macem-macem, negative thinking duluan. Padahal mah nggak kalian baik banget."
Percakapan di antara mereka berempat berlanjut hingga berjam-jam kemudian. Dava melepas rindu nya di hari itu, merasakan bahagia yang tak bisa ia ucap dengan kata-kata karena kembali melihat wajah Papa dan Mamanya. Begitu pula yang dirasakan Giselle Afree Wicaksana. Ia ikut senang apalagi pertemuan kali ini membuat ia jadi dekat dengan keluarga kekasihnya. Kemudian melihat Dava yang tak berhenti menyunggingkan senyum, membuat Gisel turun tersenyum.
Semoga panjang umur hal-hal yang bisa membuat mereka semua bahagia seperti ini.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *