31

2016 Words

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Malam minggu, kafe pinggir jalan raya, ramainya kendaraan lewat, asap rokok, serta live music yang kini jadi gambaran bagaimana empat laki-laki tersebut menghabiskan waktu. Andi datang usai tiga puluh menit tiga teman lainnya sudah berkumpul. Ditemani jagung bakar dan kopi hitam seharga lima belas ribu, ke empatnya berbincang asik. Tak sadar bahwa tak satupun pasang mata perempuan selalu menyempatkan untuk melirik ke arah mereka. Mengangumi dari jauh, berbisik penuh tuai puji, dan sesekali gadis-gadis disana memotret diam-diam. Mungkin untuk bahan gosip di grup sosial medianya. Entahlah, empat laki-laki tersebut tak peduli banyak. “Kenapa katanya?” t

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD