"Kayaknya nggak usah aja, deh." "Ssst ... apa-apaan lo bilang nggak bisa gitu? Ini tuh kesempatan bagus." Rashi menyanggahnya. "Gue harus ikut ke sana nggak sih? Kalau iya, otomatis nggak bisa, secara gue lagi dirawat intensif. Dan gimana kalo nyatanya itu orang cuman penipu. Kan berabe." "Ah, bener juga lo." "Ya udah, tunggu bentar." Rashi mengambil ponselnya, kemudian mulai mengetik nama laskar itu di pencarian. Rashi membelalakan matanya begitu melihat hasil pencarian. Ia kemudian membuka situs web resmi dari laskar itu. Semua sudah resmi dan memiliki jaringan yang banyak di seluruh Indonesia. Bahkan mereka juga memiliki koneksi dengan organisasi pengamat seni di seluruh dunia. Rashi tak ragu menunjukkan hasil pencariannya pada Barra dan Xavier. "Woah, Bar ... Bar ... gue setuju

