Avan membiarkan air dingin yang mengalir dari shower, membasahi tubuhnya. Matanya terpejam mengingat tentang masa lalu bersama Zahra dan masa kini bersama Riyanti. Tidak ada sedikitpun Avan berniat untuk membandingkan mereka berdua, hanya saja ada rasa bangga baginya karena mendapatkan istri yang masih suci seperti Riyanti.
Masih segar di ingatan Avan, bagaimana dulu ia dan Zahra bertemu dan langsung merasakan getaran cinta di hatinya. Meskipun saat itu Zahra tengah menemani seorang pria, yang dikenal sebagai pria pecinta wanita satu malam.
Semenjak hari itu Avan mencari tahu siapa Zahra. Sehingga ia menemukan di mana tempat tinggalnya dan siapa ibunya.
Hari itu, entah apa yang mendorong Avan untuk masuk dan bertamu ke rumah Zahra. Padahal mereka berdua belum pernah berkenalan sama sekali.
Di ruang tamu yang cukup luas tersebut ia melihat Zahra tengah memohon kepada sang ibu, agar memberinya kesempatan untuk hidup normal dan tidak lagi melayani para pria kesepian.
Avan tersentuh. Hatinya ikut sakit melihat dan mendengar rintihan hati Zahra. Sehingga ia nekat masuk dan langsung melamar Zahra.
Avan juga mengaku sebagai kekasihnya Zahra dan mereka saling mencintai satu sama lain.
Wiwit tersenyum tipis. Meremehkan keinginan Avan dan memberikan banyak persyaratan. Mulai dari sebuah mobil, rumah baru, dan belanja bulanan dengan nominal yang fantastis.
Avan menyanggupi dan memberikan apa yang Wiwit inginkan asalkan bisa menikah dengan Zahra.
Pernikahan berlangsung dengan sangat sederhana karena Wiwit tidak ingin mengeluarkan banyak uang untuk acara tersebut. Lagi-lagi Avan menyetujui dan mengikuti apa saja syarat dari ibu mertuanya asalkan bisa melepaskan Zahra dari belenggunya.
Untuk Zahra sendiri, semenjak Avan melamarnya, tidak pernah sekalipun ia membuka mulut. Apalagi untuk menolak lamaran pria itu karena ia pun ingin terlepas dari pekerjaan haram tersebut. Sehingga memanfaatkan cinta dan kebaikan Avan untuk bebas dari Wiwit.
Ketulusan yang dimiliki oleh Avan yang mau menerima segala kekurangan Zahra ternyata masih belum berakhir. Tepat saat malam pengantin mereka, Zahra datang kepadanya dengan membawa alat tes kehamilan, dengan dua garis terpampang di sana.
"Aku hamil. Jadi, seandainya kamu tidak bisa menerima anakku ini, lebih baik malam ini kamu talak aku," pintanya, begitu lirih dengan mata yang berkaca-kaca.
Avan tersentak. Tangannya terulur untuk meraih tes kehamilan tersebut. Tanpa banyak berpikir ia langsung memeluk Zahra dan mengucapkan janji yang masih ditepati sampai detik ini. Yaitu, menjaga Reina dari kekejaman ibunya.
Zahra juga meminta Avan untuk bersumpah. Akan menjaga dan melindunginya dan anak yang ada di dalam kandungannya dengan nyawanya sendiri. Serta menjaga anaknya dengan baik, seandainya anak itu kelak terlahir perempuan. Zahra tidak ingin anaknya berakhir sepertinya yang dijual oleh ibu kandung sendiri.
Demi cintanya yang begitu besar, Avan menyanggupi. Sampai detik ini cintanya masih utuh untuk Zahra dan Reina. Dan demi Reina pula, ia mau mendengarkan kebencian yang ditanamkan oleh Wiwit di dalam hatinya.
Wiwit mengatakan Zahra meninggal karena Riyanti. Seraya menangis histeris ia meminta Avan untuk membalaskan dendam Zahra kepadanya. Padahal semua tangisan itu palsu. Yang ditangisi Wiwit adalah, tidak akan bisa lagi meminta jatah bulanan kepada Avan, karena Zahra sudah tiada.
Dan saat Avan pindah bersama Reina, Wiwit semakin kelimpungan karena tidak memiliki masukan apa-apa lagi. Avan hanya mengirim uang seadanya, tidak sebanyak saat Zahra masih hidup.
Sampailah saat Riyanti memberikan tawaran untuk nikah kontrak. Avan meminta pendapat dari Wiwit, karena Reina memang membutuhkan figur seorang ibu dan ia membutuhkan pekerjaan yang menurutnya sangat menyenangkan dan gaji besar.
Tentu saja Wiwit setuju. Wanita paruh baya itu meminta Avan tinggal lagi bersamanya agar bisa membalas dendam Zahra dan mengajarkannya menguras habis harta kekayaan Riyanti. Seandainya tidak setuju, Avan boleh pergi dan meninggalkan Reina bersamanya.
Avan meninju dinding kamar mandi dengan kepalan tangannya. Saat kebersamaannya dengan Zahra, yang begitu hambar dan tidak ada warna sama sekali.
Zahra begitu acuh padanya, bahkan untuk menyentuh barang-barangnya saja tidak diperbolehkan. Dan itu yang membuat Avan tidak mengizinkan Riyanti untuk mengganggu barang peninggalan Zahra.
Avan mengepalkan tangannya. Kematian Zahra bukan sepenuhnya salah Riyanti. Namun, karena kelalaiannya dalam berkendara, atau mungkin karena sumpah yang ia ucapkan semalam sebelum kejadian nahas tersebut.
Avan menangkap basah Zahrad
dan Ardan yang tengah berduaan di taman belakang. Seandainya lampu dinyalakan dengan baik Avan yakin betul saat itu mereka saling melumat dan bertukar saliva. Karena sayup terdengar Zahra mendesah pelan, bukan meringis seperti pembelaannya.
Malam itu Zahra mengatakan Ardan membantunya membersihkan matanya karena kemasukan sesuatu saat ingin memetik bunga mawar untuk memenuhi keinginan bayi yang ada di dalam rahimnya.
Avan yang terlanjur emosi, membentak Zahra dan menuduhnya selingkuh dengan Ardan. Dan menyatakan anak tersebut bukanlah anaknya.
Zahra mengelak dan berani bersumpah itu adalah anaknya dan ia tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Ardan, selain majikan dan tukang kebun.
"Aku mengutuk kalian berdua, seandainya dia bukan anakku. Kau akan mati mengenaskan, seandainya dia bukan anakku!" sergah Avan. Tanpa mempedulikan keberadaan Ardan di sana.
Karena ucapannya itu Zahra memohon agar Avan percaya padanya. Bahkan Zahra rela meminta dilayani lebih dulu, bila biasanya Avan yang mengemis meminta haknya.
Dan malam itu kali pertama dan terakhir Zahra melayaninya dengan baik. Sehingga saat pagi menjelang seluruh amarah itu telah luntur melihat wajah cantik Zahra yang masih tidur di dalam pelukannya.
Avan kembali hangat. Ia juga meminta Zahra bersiap karena hari itu adalah jadwal untuk kontrol kandungan. Dan di dalam perjalanan Riyanti tiba-tiba saja mendesak agar ia segera ke kantor karena ada rekan bisnis yang tiba-tiba saja ingin membahas kontrak hari ini juga. Padahal seluruh jadwal sudah dikosongkan demi mengantarkan Zahra.
Disitulah kecelakaan tunggal terjadi.. Avan yang membawa mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi, menabrak pembatas jalan sehingga Zahra yang tidak menggunakan sabuk pengaman terpental keluar dari mobil.
Persis dengan sumpah Avan malam itu. Zahra akan meninggal secara mengenaskan seandainya mengkhianati cintanya dan anak yang ada di dalam kandungannya bukanlah anaknya.
Avan mengusap kasar wajahnya. Puing-puing kejadian masa lalu dan kecelakaan tersebut berputar kembali di kepalanya. Dan setiap ia melihat Riyanti, hatinya seakan berkata, gadis itu yang akan memberinya kebahagiaan. Dan lagi-lagi ucapan Wiwit mematahkan segalanya. Menghadirkan dendam dan benci secara bersamaan.
Usai dengan ritual mandinya, yang lebih mirip momen mengenang masa lalu, Avan menyudahinya. Meraih handuk dan mengeringkan tubuhnya sebelum keluar dari kamar mandi.
Dan saat ia ingin mengambil pakaian di dalam lemari, sudut matanya menangkap Riyanti yang tengah tidur terlelap. Wajah cantiknya tampak tenang dalam tidur.
Namun, ada satu hal yang menarik Avan untuk mendekat. Bekas cakaran Wiwit yang ada di pipinya tampak memerah seperti tidak diobati sama sekali.
Avan menggelengkan kepalanya. Bisa-bisanya Riyanti mengabaikan luka yang cukup besar tersebut.
Dan tiba-tiba saja ada yang mendorongnya untuk memeriksa luka bekas cakaran tersebut, setelah ia mengenakan pakaiannya. Tidak lupa Avan membawa kotak obat untuk membersihkan dan mengobatinya.
Saat Avan duduk di tepi ranjang, Riyanti terusik. Menyadari ada seseorang kini duduk di dekatnya, ia malah berpura-pura tidur dan ingin melihat apa yang akan dilakukan orang tersebut. Orang yang diyakini Riyanti adalah Avan, dari aroma maskulin dari parfumnya.
Tidak menyadari Riyanti sudah terbangun, secara lembut dan perlahan, Avan mengobati luka cakaran tersebut. Dan Riyanti berusaha dengan susah payah agar tak meringis karena rasa perih saat Avan mengolesi obat di pipinya.
Beruntung pengobatan tersebut tidak berlangsung lama, sehingga Riyanti bisa bernafas lega. Dan entah apa yang membuatnya nekat menangkap pergelangan tangan Avan, saat ia ingin beranjak.
"Aku tahu suamiku adalah pria yang baik Hanya saja dia dalam pengaruh seseorang dan masih terjebak di dalam misteri masa lalu," tutur Riyanti, seraya membuka kedua matanya.
Avan tersentak. Ia kelimpungan sendiri mencari balasan atas ucapan Riyanti.