"Sekarang katakan apa tujuanmu mengajakku bertemu disini. Aku yakin ada hal yang sangat penting sehingga kita berada disini saat ini." Riyanti menyipitkan matanya. Akhirnya, ia memiliki kesempatan untuk bertanya.
Jesi menganggukkan kepalanya. "Kamu benar sekali. Dan … mumpung jam makan siang sudah masuk, ayo ikut aku. Setelah ini, kita akan pergi makan siang dan berjalan-jalan sejenak Karena kamu berhutang penjelasan tentang luka cakaran itu." Meraih tangan Riyanti dan membawanya keluar dari kantin. Menuju ke ruangan Adnan karena ada beberapa hak yang harus dibicarakan.
Waktu yang dimiliki Adnan dan Marcel sangat terbatas. Sehingga Jesi harus bersabar lagi untuk mencari tahu darimana Riyanti mendapatkan luka cakaran di pipinya.
Saat pertemuan Riyanti dengan Marcel dan Marcel, Jesi yang ditugaskan untuk menjaga Reina dan Joan. Karena setelah ini mereka akan membahas masalah perusahaan, bukan rumah tangga.
"Duduklah!" ajak Okta. Menunjuk sofa kosong di hadapan mereka bertiga. Kini Riyanti tengah di hadapkan dengan Okta, Adnan, dan Marcel. Mereka akan membahas tentang perusahaan Riyanti, yang kini berada di bawah kekuasaan Avan.
"Sekarang katakan secara lengkap bagaimana cara surat perjanjian kalian bekerja?" Kali ini Adnan yang berbicara.
Okta menoleh kepada Riyanti. Meminta gadis itu untuk menceritakan semuanya. Karena mereka bertiga ada di pihaknya saat ini.
Memahami kode yang diberikan oleh Okta, Riyanti menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskan secara perlahan.
"Awalnya, surat perjanjian diantara kami hanya melarangku untuk ikut campur dalam urusannya, akan tetapi dia boleh mengaturku. Dan usia pernikahan kami sesuai dengan berapa lama kontraknya di perusahaan. Namun, saat dia resmi menjadi suamiku, tiba-tiba saja ada poin tambahan di kertas yang telah aku tandatangani," tutur Riyanti.
"Tunggu dulu! Setelah surat perjanjian tersebut kamu tanda tangani, kamu meninggalkannya pada Avan?" Marcel memburu. Kelicikannya di masa lalu membuat pria itu tahu apa saja pergerakan Avan.
Riyanti mengangguk lemah. Terburu-buru ingin pergi membawa Reina hari itu, ia lupa membawa surat perjanjian yang baru saja di tanda tangani.
"... dan tiba-tiba saja ada poin tambahan yang menyatakan, saat kamu melanggar kontrak maka perusahaan dan seluruh aset akan jatuh ke tangan Avan. Benar?" lanjut Marcel.
Lagi-lagi Riyanti mengangguk. Tidak tahu darimana Marcel bisa tahu tentang poin tambahan tersebut.
Marcel tersenyum tipis. Sudah tahu kemana arah yang harus ditempuh. Begitu otaknya bergerak mencari solusi, ia menoleh kepada Adnan. Yang dibalas dengan anggukan oleh suami dari Adara tersebut.
"Baiklah, Riyanti. Mulai saat ini kamu jangan pikirkan lagi tentang perusahaan. Cukup kirimkan salinan data penting perusahaan kepada Okta. Karena perusahaan ini sedang berkembang pesat, jadi aku dan Adnan tidak bisa mengambil alih. Akan tetapi, kami berdua akan mengasah kemampuan Okta dan dia nantinya yang akan menggantikan Avan. Dan satu lagi. Melihat dari reputasi suamimu itu dan latar belakangnya, tidak ada satupun yang menjadi alasan dia mampu melakukan hal selicik ini. Itu berarti, dibalik Avan ada orang lain dan aku yakin kamu sudah tahu siapa orangnya. Cari tahu kelemahannya supaya mempermudah jalan kami," terang Marcel.
Riyanti tertegun. Tidak tahu dengan siapa kini ia berhadapan. Yang diketahui hanyalah, pria berparas tampan, beralis tebal tersebut bernama Marcel. Suami dari Rere, yang tinggal persis di samping rumah Adara. Mereka sesekali pernah bertemu walaupun tidak bertegur sapa.
Tapi kenapa Marcel bisa tahu segalanya tanpa harus diberikan keterangan secara rinci.
"Baiklah. Kita akan bekerja sama untuk mengembalikan keadaan seperti semula. Aku dan Adnan akan menyerang melalui kerja sama antar perusahaan, sedangkan kamu bantu kami memisahkan Avan dari biang masalah yang sebenarnya. Percayalah ini tidak akan lama. Dan setelah ini kamu tinggal memilih, tetap Okta yang menjalankan perusahaan atau kamu sendiri yang akan menjalankannya. Karena setelah ini Avan tidak akan bisa menyentuh apapun di perusahaan ayahmu," sambung Marcel lagi.
Apalagi yang bisa dilakukan oleh Riyanti selain mengangguk. Meskipun belum terlalu paham bagaimana caranya Marcel akan mengambil alih perusahaan dari Avan dan menggantinya dengan Okta.
Demi tuhan. Riyanti benar-benar menyesal dulu tidak ingin belajar mengelola perusahaan ketika ayahnya masih hidup. Akan tetapi, secercah cahaya kini muncul karena ia memiliki orang-orang hebat di sekitarnya.
Riyanti tidak pernah menyangka memiliki teman baik seperti Jesi dan Okta. Yang memperkenalkannya kepada Marcel dan Adnan. Dua orang pria yang ia anggap begitu hebat dalam menjalankan perusahaan.
Padahal dulu ia selalu mengacaukan rumah tangga Jesi dengan Okta. Berusaha merebut pria itu dan tidak terima melihat mereka berdua berbahagia karena cinta yang tumbuh harus musnah begitu saja.
Sebelum pulang, Riyanti diajak oleh Jesi makan siang bersama di sebuah restoran cepat saji. Barulah ia mengantarkan Riyanti dan Reina pulang ke rumah untuk sekedar tahu di mana kini mereka tinggal. Tidak lupa Jesi mengingat dengan baik setiap perempatan yang dilaluinya. Untuk berjaga-jaga seandainya saja suatu hari nanti Riyanti membutuhkan bantuannya.
Bukannya apa, terkadang melacak lokasi menggunakan sebuah aplikasi chat tidak terlalu akurat.
Begitu mereka sampai Jesi langsung berpamitan saja. Tanpa berniat sedikitpun untuk mampir sejenak di rumah tersebut. Namun, ia sempat menangkap sosok pria dan wanita paruh yang tengah berbincang di samping rumah tersebut.
"Apakah pria itu yang bernama Ardan?" gumam Jesi. Meraih ponselnya dan mengambil gambar pria tersebut. Tiba-tiba saja hatinya berkata Ardan akan menjadi kunci dalam kasus ini.
**
Reina yang telah lelah bermain dengan Joan kini jatuh tertidur. Terpaksa Riyanti menggendongnya untuk masuk ke rumah. Namun, saat Ardan melihat kedatangan mereka, pria itu langsung berlari dan meninggalkan Entin, yang sedari tadi menjadi temannya berbicara.
Layaknya seorang ayah, Ardan membawa Reina ke kamarnya yang baru supaya bisa beristirahat dengan baik.
Riyanti yang semakin heran melihat tingkah Ardan, hanya bisa tersenyum tipis. Ia begitu miris dengan kehidupan yang dimiliki oleh Avan. Harus hidup di tengah-tengah orang-orang yang sedang memainkan drama mereka dengan baik. Dan Riyanti tidak bisa membayangkan bagaimana ketika Zahra masih hidup. Wanita itu melayani Avan dan Ardan secara bergantian. Dan bodohnya Avan tidak tahu selama ini Zahra membagi tubuhnya dengan pria lain.
Lelah berpikir dan bermain dengan Reina, Riyanti memutuskan untuk mandi supaya tumbuhnya kembali segar dan berharap bisa berpikir dengan jernih bagaimana caranya membuka mulut mereka satu persatu. Lagipula sebentar lagi Avan pulang karena jam sudah menunjukkan pukul setengah lima sore.
Sebelum berdiri dibawah guyuran air dingin yang mengalir dari shower, Riyanti tiba-tiba saja teringat kepada Wiwit. Kedua alisnya nyaris bertaut mengingat wanita paruh baya itu acuh saja waktu ia dan Reina pulang. Perasaannya langsung tidak enak karena yakin Wiwit telah menyiapkan satu pembalasan untuknya.
Benar saja. Saat Riyanti keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang melilit di tubuhnya, tiba-tiba saja Avan menarik tangannya dengan kasar menuju ke kamar mereka.
Dengan nafas yang memburu Avan menghempaskan tubuh Riyanti ke atas ranjang. Dengan susah payah ia mempertahankan handuk yang melilit tubuhnya agar tidak terlepas.
"Kau tuli atau bagaimana, hah? Sudah kukatakan jangan pernah sentuh barang-barang istriku!" sergah Avan seraya menunjuk meja rias yang sedikit berantakan dan pintu lemari pakaian secara bergantian.
Riyanti membalas tatapan tajam Avan kepadanya. Avan marah karena kesalahannya ia bisa terima. Akan tetapi, kini Avan marah bukan karena kesalahannya, tentu saja membuat Riyanti melawan dan menantang balik.
"Demi tuhan!! Aku tidak pernah menyentuh barang-barang istrimu. Setengah jam yang lalu aku dan Reina baru saja pulang dari tempat Joan. Aku langsung masuk ke kamar sebelah untuk mandi. Dan seperti yang kamu lihat, aku …"
Aku Avan yang semakin marah atas perlawanan Riyanti semakin marah. Otaknya yang baru saja dicuci oleh Wiwit begitu ia pulang dari kantor, membuatnya gelap mata dan lupa dengan larangan untuk tidak meniduri Riyanti.
Dalam keadaan emosi dan kondisi Riyanti tidak menggunakan pakaian, mengundang hasrat menggebu yang telah tertahan dari semalam. Avan gelap mata dan memilih cara lain untuk menghukum Riyanti.
Ia langsung naik dan melumat bibir ranum Riyanti, sehingga ucapannya terputus begitu saja. Dengan kasar Avan menyesap dan menggigit bibir ranum tersebut.
Riyanti meronta dan berusaha mendorong tubuh Avan. Akan tetapi, tenaganya tidak cukup untuk menghentikan suaminya itu. Riyanti mau dan rela memberikan hak Avan sebagai seorang suami, akan tetapi bukan begini caranya. Dilakukan secara paksa dan penuh dengan kemarahan.
Rahang Avan mengeras. Merasakan rasa yang begitu baru baginya saat melakukan penyatuan dengan Riyanti. Sempit dan hangat. Bahkan ia harus mengulang beberapa kali agar bisa memasukinya.
Riyanti terisak. Bukan hanya karena sakit di bawah sana yang seakan membelahnya menjadi dua bagian, hatinya pun terasa sakit kesuciannya direnggut dengan kasar. Memang Avan suaminya. Namun, ia ingin melakukannya dengan dasar suka sama suka, meskipun tidak ada cinta diantara mereka.
Tapi kini tidak ada gunanya lagi menginginkan hal tersebut. Semuanya sudah terlambat dan Avan kini tengah menikmati setiap jengkal tubuhnya. Pria itu begitu menggebu saat melakukannya. Seakan ini adalah pengalaman pertama dalam hidup.
Tentu saja Avan sangat menggebu dalam melakukannya. Saat menikahi Zahra, wanita itu sudah tidak gadis lagi. Bahkan ia tidak bisa langsung menyentuhnya karena Zahra tengah hamil saat mereka menikah.
Avan harus menunggu Reina lahir dan melakukan akad nikah ulang ketika masa nifas selesai. Barulah ia bisa menikmati malam baginya, tapi tidak untuk Zahra.
Tapi sore ini. Avan bisa merasakan apa itu malam pertama yang sesungguhnya. Meskipun reputasi Riyanti buruk karena digosipkan ingin merebut suami orang, akan tetapi ia masih mampu mempertahankan kegadisannya. Buktinya ia adalah orang pertama yang melakukannya dengan Riyanti.
Bukan hanya rasa yang berbeda. Avan juga melihat bercak darah di alas kasur berwarna putih gading tersebut. Persis di bawah Riyanti yang terbaring pasrah atas kekakuannya.
Begitu Avan turun dari ranjang, ia menarik selimut untuk menutupi tubuh polos Riyanti. Barulah ia meraih handuk yang kenakan oleh Riyanti tadi dan menggunakannya untuk pergi ke kamar mandi.
Sebelum benar-benar beranjak, Avan berucap. "Istirahatlah. Pulihkan tenagamu."
Tidak ada jawaban dari Riyanti. Matanya yang mulai membengkak karena menangis selama melayani Avan terpejam. Nafasnya mulai teratur meskipun tubuhnya masih terasa sakit karena Avan yang begitu kasar padanya. Perlahan Riyanti jatuh tertidur dan pasrah atas apa yang akan terjadi saat membuka mata nanti.