Avan tidak mampu mendekati Riyanti yang tengah bermain bersama Reina. Mereka berdua tampak akrab layaknya seperti ini dan anak kandung.
Dari kejauhan sana Avan juga bisa melihat bagaimana cekatannya Riyanti mengganti pakaian sekolah Reina dan dengan sabar menyuapi gadis kecil itu makan siang.
Hatinya menghangat. Namun, bayangan Zahra langsung muncul dan melenyapkan semuanya. Langsung saja ia kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaannya. Avan juga mengabaikan Wiwit yang tengah menyeru namanya.
Untuk sementara waktu Avan akan diam dan melihat saja apa yang dilakukan oleh Riyanti dan apa yang dilakukan oleh mertuanya, sisanya akan diurus nanti.
Kesal terhadap Avan, Wiwit mendatangi Riyanti. Namun, sayang. Karena wanita itu tengah berjalan menuju ke pintu utama dengan Reina di dalam gendongannya.
"Mau kemana?" tanya Wiwit. Dengan suara yang begitu lembut. Jauh berbeda saat Reina udah ada bersamanya.
"Ke tempat Joan," sahut Riyanti acuh. Tanpa berhenti sama sekali. Membuat wanita paruh baya tersebut semakin geram dan ia mulai memikirkan apa yang akan dilakukan untuk membalasnya.
Tidak sekarang. Nanti. Karena ia ingin Avan yang melakukannya.
***
Ketika Riyanti dan Reina sampai di teras rumah. Diluar dugaan. Gadis kecil itu meronta meminta turun saat ia melihat Ardan yang tengah memperbaiki tanaman yang ada samping kanan teras.
Reina tampak akrab dengan Ardan melebihi kedekatan antara tukang kebun dan anak majikan. Bahkan gadis kecil itu mencium punggung tangan Ardan sebelum kembali kepada Riyanti.
Begitu Reina kembali Riyanti langsung membawanya pergi untuk bertemu dengan Joan. Dan kali ini Riyanti kembali diherankan karena Jesi memintanya langsung ke kantor Okta saja.
Tidak biasanya saat diminta untuk bertemu, Jesi malah memintanya ke kantor Okta saja bukan di rumah. Cukup aneh. Akan tetapi, Reina yang tidak sabar untuk bertemu dengan Joan, menghapus semuanya keheranan tersebut.
Selama perjalanan Riyanti dan Reina tidak berhenti tertawa karena gurauan ringan mereka. Hingga terbesit di benaknya untuk bertanya tentang Ardan. Berharap ada sedikit titik terang karena anak seusia Reina tidak akan pernah berbohong.
"Sayang, Bunda lihat kamu sangat dengan om Ardan. Itu berarti dia sangat baik, ya, sama kamu?"
Reina yang sedang duduk di pangkuan Riyanti menoleh. Kepalanya mengangguk dua kali.
"Benar Bunda. Kata Bundaku dulu, om Ardan sama dengan ayah."
"Sama dengan ayah maksudnya?" Riyanti mengejar. Demi Tuhan. Informasi sepenting ini tidak pernah diketahui oleh Avan. Membuatnya bertanya-tanya ayah seperti apa sosok Avan ini sehingga tidak pernah mengetahui hal tersebut..
"Kata Bunda, aku harus sayang kepada om Ardan daripada ayah. Karena bunda lebih mencintai om itu."
Riyanti menggelengkan kepalanya. "Kamu salah, Sayang. Suami bunda kamu itu ayah Avan, bukan om Ardan." Meralat kembali ucapan Reina. Berharap gadis kecil itu mau membuka suara dan bercerita secara keseluruhan.
Lagi-lagi Reina mengangguk. "Tapi bunda bilang begitu, Bun. Reina juga sering melihat om Ardan masuk ke kamar bunda saat ayah pergi bekerja. Dan terkadang kami bertiga menginap di hotel saat ayah pergi ke luar kota." Dengan polosnya Reina mengatakan semuanya.
Membuat mulut Riyanti terkatup rapat. Otaknya tidak mampu berpikir apa yang sebenarnya terjadi.
Ke kamar? Hotel? Ardan dan Zahra memiliki hubungan apa, sampai-sampai mereka berdua bisa berduaan di kamar. Apakah Wiwit tidak tahu tentang hal ini? Seandainya tahu, kenapa dia justru tidak melarang ini semua? Kenapa kini dia seolah-olah menjadi mertua yang begitu baik dan menyayangi Avan.
"Bun …"
"Ya-ya?"
"Jangan bilang siapa-siapa, ya, Bun. Karena kata bunda ayah tidak boleh tahu. Nanti ayah pergi dan tidak kembali lagi. Reina sudah menutup mulut, akan tetapi malah bunda yang pergi dan tidak kembali lagi." Gadis kecil itu mulai terisak.
Riyanti membawa Reina ke dalam pelukannya. Tidak menyangka anak seusia Reina harus menyimpan rahasia sebesar ini. Dan use juga tidak habis pikir Zahra ternyata melakukan hubungan terlarang dengan Ardan.
Selama ini apa saja yang dilakukan Avan, sampai-sampai tidak tahu Istrinya menjalin hubungan dengan tukang kebunnya sendiri. Dan sepertinya Riyanti tahu harus melakukan apa untuk membongkar siapa Zahra dan ibunya.
Ia juga menerka anak yang ada di dalam rahim Zahra bukanlah anaknya Avan. Melainkan anaknya Ardan, mengingat dari cerita Reina mereka selalu berduaan saat Avan pergi.
"Nenek tahu hal ini?" Pertanyaan paling penting bagi Riyanti akhirnya ia ucapkan juga.
Reina lagi-lagi mengangguk. "Oma tahu juga Karena Oma mau uang ayah Avan saja."
Untuk yang satu ini Riyanti tidak terkejut. Karena tampak jelas Wiwit yang mengendalikan Avan dan tentu saja seluruh uang yang dimilikinya dikuras habis.
"Ya, Tuhan … ada apa ini sebenarnya?" gumamnya di dalam hati. Matanya terpejam dramatis karena tidak mampu membayangkan Avan ternyata selama ini menjadi boneka Wiwit dan Zahra.
Riyanti juga berpikir, kemungkinan ini semua sebuah jalan bagi Avan agar terbebas dari kuasa Wiwit. Dab bisa saja Tuhan menuntunnya masuk ke dalam hidup Avan, untuk membuka siapa Wiwit dan Zahra. Atau, membuka bahwa pernikahannya dengan Zahra tidak disadari cinta melainkan harta. Dan Wiwit adalah dalang dari pernikahan anaknya.
"Menurutku, Zahra mau menikah dengan Avan karena paksaan dari ibunya. Tadi kamu juga mengatakan Zahra adalah wanita yang dijual oleh ibunya sendiri. Ini maaf, ya, Ri. Menurutku ibunya menjual Zahra karena ketahuan menjalin hubungan dengan Ardan. Sudah rusak begini, ya, kan? Jadi tidak ada salahnya dijual saja. Dan untuk Reina, aku yakin dia anaknya Ardan bukan pelanggannya. Kenapa? Karena biasanya pria-pria yang nggak beres itu menggunakan pengaman saat berhubungan," terang Jesi. Mengungkapkan apa yang ada di pikirannya Setelah mendengar keterangan dari Riyanti.
Kini mereka berdua duduk di kantin kantor. Reina dan Joan mereka tinggalkan bermain di ruangan Okta.
"Tapi asisten rumah tangga yang bekerja di sana mengatakan Reina anaknya pelang9an Zahra," keluh Riyanti.
Jesi menyesap cappucino panas miliknya, sebelum lanjut berkata. "Jangan ada yang kamu percaya di sana selain dirimu sendiri. Dan untuk … siapa tadi yang asisten rumah tangga itu?"
"Entin," susul Riyanti.
"Nah, Entin. Kamu juga harus cari tahu siapa dia dan apa hubungannya dengan Ardan. Mana tahu dia adalah ibunya Ardan. Bukannya apa, Ri. Kalau dia memang baik seperti yang kamu katakan, sudah pasti dia membongkar ini kepada Avan. Karena selama ini dia yang memberinya gaji, bukan? Dan akut berani bertaruh padamu anak yang ada di rahim Zahra bukanlah anaknya Avan. Coba kamu cari tahu atau periksa di barang-barangnya Zahra, mana tahu ada petunjuk."
Riyanti tersenyum tipis. "Jangankan untuk memeriksa barang Zahra untuk mencari barang bukti, menyentuhnya saja aku tidak diperbolehkan. Kamu tahu, Jes? Di dalam kamar itu aku rasa tidak ada yang berubah sama sekali. Masih seperti saat Zahra masih hidup dan di sana yang boleh aku sentuh hanyalah benda yang ada di ranjang saja. Bayangkan!" ungkapnya.
Tidak masuk akal. Akan tetapi, Jesi berpikir tidaklah mungkin Riyanti berbohong untuk hal yang satu ini.