Bab 7

1049 Words
Entin menarik nafasnya dalam-dalam. Hatinya sedikit lega bisa menceritakan tentang masa lalu Avan dengan Zahra. Serta bagaimana sikap Wiwit Suhendri, mantan mertua Avan yang sesungguhnya. "Setelah ini akan ada banyak rahasia yang akan terungkap. Dan begitu banyak pula drama yang akan terjadi. Satu hal pesan Bibik kepada Nona, tetap bertahan demi Reina. Reina adalah satu-satunya kunci disini. Gadis kecil yang tidak tahu apa-apa itu, adalah sumber kekuatan Wiwit. Satu lagi. Ada rahasia besar yang disembunyikan oleh almarhumah Zahra." "Rahasia?" Entin mengangguk seraya menepuk-nepuk punggung tangan Riyanti. "Untuk rahasia yang satu ini Nona harus mencari fakta dan buktinya sendiri. Agar tidak ada fitnah yang tertuju pada Almarhumah. Karena untuk persoalan ini harus ada barang bukti untuk menguatkan. Setidaknya, Nona mencari barang bukti tersebut dan saya akan menceritakan secara keseluruhan." Riyanti tersenyum tipis. "Bagaimana caranya aku bisa mencari bukti dan fakta tentang Zahra, sedangkan aku saja tidak boleh menyentuh isi kamar tersebut." "Nona benar. Itulah sebabnya hingga detik ini rahasia tersebut masih tersimpan dengan rapi." Melepaskan genggaman tangannya pada Riyanti. Entin langsung membereskan bekas makan gadis itu karena matanya menangkap jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Itu artinya Wiwit akan segera pulang dari arisan. Entin tidak ingin ketahuan memberi makanan kepada Riyanti, yang akan berujung pada pemecatan terhadap dirinya. "Nona keluarlah. Setelah ini jangan bertegur sapa dengan saya. Dan ketika nyonya Wiwit tidak berada disini, disitulah kita akan saling bertegur sapa." Sebuah anggukan diberikan oleh Riyanti. Menunjukkan ia mengerti dengan peringatan yang diberikan oleh Entin padanya. Selesai sarapan pagi yang kesiangan itu, Riyanti memilih untuk berkeliling di rumah yang cukup besar tersebut. Pemandangan disana cukup menarik. Di belakang rumah terdapat kebun bunga, yang begitu indah dan tampak dirawat dengan baik. Buktinya saja tidak ada satu lembar pun daun yang menguning. "Kebun ini nona Zahra yang membuatnya. Dia begitu mahir dalam menata bunga-bunga ini, mulai dari warna hingga jenisnya," terang seorang pria, yang berpakaian layaknya seperti tukang kebun. Berjalan mendekat dengan sebuah gunting khusus di tangannya. Seandainya Riyanti tidak salah menilai, pria inilah yang menjaga kebun bunga yang ada di hadapannya kini. "Ternyata Zahra memiliki selera yang sangat tinggi untuk urusan keindahan. Buktinya bunga-bunga ini sangat indah di pandang mata," timpa Riyanti. Membenarkan ucapan pria bernama Ardan tersebut. Pria itu mengangguk. Sebelum menatap lurus ke depan, seakan ada seseorang di hadapannya. Dari tatapannya, Riyanti bisa melihat ada luka yang begitu dalam yang tengah ia rasakan. Luka yang sepertinya sama dengan luka di hati Avan. Tatapannya sama-sama seperti baru saja kehilangan orang yang sangat dicintainya. "Apakah kamu baru saja kehilangan orang yang dicintai? Dari matamu aku melihat ada luka yang begitu besar." Ardan menoleh sejenak kepada Riyanti, sebelum kembali menoleh ke arah bunga-bunga tersebut. "Bukan kehilangan orang yang dicintai. Melainkan kehilangan kasih tak sampai." "Kasih tak sampai?" Riyanti membeo. Menyadari Riyanti adalah wanita dengan rasa ingin tahu begitu tinggi, Ardan memilih melenggang pergi. Tanpa berpamitan sama sekali kepadanya. "Lah, kok?" protes Riyanti. Mencoba mencegah langkah Ardan, agar tidak pergi. Karena masih banyak pertanyaan yang akan diutarakan. Namun, saat Riyanti hampir menjangkau lengan baju Ardan, ia dikejutkan dengan kehadiran Wiwit, yang menatap tajam kepadanya. "Selain pembunuh, ternyata kau juga seorang wanita mu'rahan. Sampai-sampai tukang kebun pun kau goda." Mata Wiwit menyipit. "Aku hanya bertanya tentang kebun ini, tidak lebih," tutur Riyanti. Melenggang pergi masuk ke dalam rumah. Wiwit tersentak. Melihat Riyanti yang mulai berani menjawab perkataannya, wanita paruh baya itu menggeram. Ia langsung menjangkau rambut panjang Riyanti dan menariknya. Hingga terjatuh ke lantai. "Lepaskan tanganmu dari rambutku!" sergah Riyanti. Mencoba untuk melepaskan diri dari Wiwit. "Tidak! Aku tidak akan pernah melepaskanmu dari genggamanku! Karena rasa sakit ini, belum seberapa dibandingkan dengan sakit yang kau torehkan karena membunuh putriku!" Wiwit semakin menjadi. Dengan seluruh kekuatannya yang ada, ia menggulung rambut Riyanti dan menariknya. Bukan hanya itu, kuku jari Wiwit yang sangat panjang ikut melukai pipi kanannya. Lelah diam dan menahan sakit, Riyanti memaksakan diri untuk berdiri dan mendorong Wiwit hingga tangannya terlepas dari rambut Riyanti dan tubuhnya terjatuh ke lantai. "Ari!" sergah Avan. Nafasnya memburu melihat ibu mertuanya didorong sekasar itu. Riyanti menoleh. Matanya berputar malas. Setelah ini ia yakin akan ada drama yang akan diperankan oleh Wiwit. "Sebelum marah kepadaku, lebih baik cari tahu dulu apa yang sebenarnya terjadi. Sebelum kamu menyesali semuanya," tutur Riyanti seraya melewati Avan begitu saja. Beruntung. saat ia ingin pergi ke kamar untuk menenangkan diri, Reina yang baru saja masuk ke rumah berlari menghampiri. Sepertinya gadis kecil itu berbincang sebentar di teras dengan Ardan, sebelum masuk untuk menghampirinya. Dan hal itu membuat Riyanti bersyukur, karena Reina tidak melihat apa yang ia lakukan terhadap Wiwit. "Bunda kenapa rambutnya berantakan begini? Dan lihat ini, ada luka goresan di pipi Bunda," cecar Reina. Begitu Riyanti menggendongnya. "Bunda tidak apa-apa, Sayang. Hanya saja tadi ada kucing jahat yang menyerang. Tapi, kamu tidak perlu khawatir. Mulai hari ini Bunda akan melawannya. Agar dia tahu siapa itu Riyanti Alexandra." Reina yang tidak paham kemana arah pembicaraan Riyanti, Reina memilih bungkam dan memandangi wajah cantik ibu sambungnya itu. ** Seperti yang dikatakan oleh Entin tadi, Akan banyak drama yang akan dihadapi setelah ini. Salah satunya adalah, Wiwit yang tampak langsung menangis tergugu begitu Avan mendekatinya. "Untung kamu datang, kalau tidak semuanya akan berakhir. Aku bisa mati di tangannya,* lirih Wiwit. Berpura-pura menjadi korban dalam kejadian ini. Melihat ibu mertuanya terlihat kesakitan, Avan menggeram. Bersiap untuk menggemakan nama Riyanti dan memberikan pelajaran yang setimpal untuk gadis itu. Namun, saat ia ingin membuka mulutnya, Avan melihat beberapa helai rambut yang berceceran di lantai. Rambut yang diyakini milik Riyanti karena bentuknya yang panjang. Berbanding terbalik dengan rambut Wiwit yang hanya sebahu saja. "Sudahlah, Ma. Nanti aku urus dia. Lagipula ngapain, sih? Pakai acara jambak-jambakan begini? Dia itu lebih muda dan tentu saja tenaganya lebih kuat. Jadi, untuk yang satu itu biar Avan yang melakukan. Mama cukup memberinya pelajaran lewat perkataan saja." Menuntun Wiwit untuk berdiri. Wanita itu mendengus. "Kenapa malah membela dia? Apakah secepat itu kau melupakan putriku? Katanya kau sangat mencintai Zahra, tapi kini kau mulai berpaling. Kalau begitu, lebih baik pergi dari sini dan bawa istri barumu itu. Tapi ingat … jangan bawa Reina!" sergah Wiwik. Mengacungkan jari telunjuknya kepada Avan dan pergi begitu saja. Avan mengusap dengan kasar. Seandainya bukan janjinya terhadap Zahra dan cintanya kepada Reina, sudah lama ia pergi dari Wiwik. Namun, karena dua hal itu, ia harus menjadi boneka sekaligus pria yang pendendam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD