Bab 6

1287 Words
Riyanti memindai seluruh isi kamar yang baru saja ia tata rapi. Kamar yang bersebelahan dengan kamar yang dulunya milik Reina, kini digunakan sebagai tempat barang-barangnya. Seandainya disana ada ranjang, ia akan memilih tidur di sana daripada di kamar Avan. Menghindari tidur satu ranjang dengan Avan, Riyanti kembali menghubungi supirnya untuk mengantarkan beberapa selimut tebal untuknya. Lagi-lagi, saat supirnya datang tidak ada yang menghiraukan, apalagi membukakan pintu. Baik Riyanti ataupun supirnya cukup tahu bagaimana sikap Avan dan keluarganya. Dan ketika tiba waktunya untuk tidur, Riyanti membawa dua selimut tebal. Satu digunakan sebagai alas dan satunya lagi sebagai selimut. "Siapa yang menyuruhmu untuk tidur di lantai?" bentak Avan. Saat melihat Riyanti ingin membentangkan selimut di lantai. Gadis itu menggelengkan kepalanya. "Tidak ada. Ini hanya inisiatifku saja. Agar tidurmu tidak terusik karena tidurku yang banyak bergerak," tuturnya. Mencegah dirinya tidur satu ranjang dengan Avan. Alih-alih setuju dan percaya apa yang dikatakan oleh Riyanti, Avan justru geram karena perkataannya di bantah. Hasilnya, ia menarik paksa tangan Riyanti agar tidur satu ranjang dengannya. "Lepas seluruh pakaianmu dan tidur di sini bersamaku. Ingat point me dua. Apa yang aku perintahkan harus kau turuti Seandainya masih ingin memiliki kuasa atas perusahaanmu." Riyanti menepis tangan Avan yang mencengkeram erat tangannya. Sebelum membuka pakaian hingga tubuhnya polos tanpa sehelai benangpun menutupi. Riyanti beringsut naik ke atas ranjang. Dengan membawa selimut tebal yang ia miliki untuk menutupi tubuh polosnya. Melihat Riyanti menuruti keinginannya, Avan tersenyum tipis dan di dalam hatinya ia mengatakan ini adalah awal penderitaan Riyanti sebagai istrinya. Mencoba abai dengan apa yang dilakukan Avan padanya, Riyanti memilih tidur saja dan menganggap ini semua hanyalah mimpi buruk yang akan segera berakhir. Tidak terlalu buruk. Hingga pagi menyapa, Riyanti bisa tidur dengan nyenyak. Meskipun sedikit tidak nyaman tidur tidak mengenakan pakaian sama. Entah karena ia kelelahan atau sudah mampu menerima nasib buruk yang menimpa dirinya. Yang jelas Riyanti bisa beristirahat dengan baik. Saat gadis itu terbangun dari tidurnya yang begitu lelap, sudut matanya menangkap Avan yang tengah memperhatikan dirinya. Tidak ingin sang suami salah tingkah karena ketahui memandangi dirinya, Riyanti memilih berpura-pura tidur dan mengubah posisi menghadap ke samping. Membuat Avan bisa melihat ada dua benda yang menyembul di balik selimut. Ia meneguk ludahnya. Dua benda yang berada di puncak gunung tersebut masih berwarna merah muda dengan ukuran yang kecil. Menandakan belum pernah disentuh oleh pria manapun. Tidak tahu kenapa hati Avan menghangat. Untuk bagian atas saja Riyanti belum tersentuh. Apalagi bagian bawah. Avan menggelengkan kepalanya Mengusir jauh-jauh pikiran kotor yang bisa membuatnya bergantung kepada Riyanti. Ia juga merutuki ide gila sang ibu mertua yang memintanya menghukum Riyanti seperti saat ini. Ingin rasanya Avan membantah. Karena dengan begini bukan hanya Riyanti saja yang sakit hati diminta untuk polos akan tetapi tidak disentuh sama sekali. Namun, ia juga merasakan sakit di pangkal pahanya, karena bisa melihat tidak diizinkan untuk menyentuh. Kasihan …. Tidak mampu menahan hasratnya, Avan beringsut turun dari ranjang. Mendinginkan kepala di bawah kucuran air shower adalah pilihan yang tepat saat ini. Daripada kepalanya semakin sakit karena tidak mendapatkan pelepasan. Begitu Avan masuk ke kamar mandi, Riyanti terkikik pelan. Senang sudah berhasil mengerjai suaminya itu Dan berharap setelah ini Avan tidak memintanya lagi untuk tidur dengan tubuh polos. Setelah cukup puas menertawai wajah tampan Avan yang tampak menderita karena ulahnya, Riyanti beringsut turun dan meraih pakaiannya Menggunakan dengan cepat dan membereskan ranjang mereka yang berbeda dengan pengantin baru lainnya. Jika pengantin baru ranjangnya berantakan dan banyak pakaian yang berserakan, ranjang yang dimiliki Riyanti tampak biasa saja dan hanya kusam karena bekas ditiduri. Namun, nasibnya sedikit beruntung karena Avan tidak keluar untuk mencari wanita lain dan bermain agar memuaskan hasratnya. Begitu semua selesai dan rapi, Riyanti keluar dari kamar dan berpindah ke kamarnya untuk mandi. Agar setelah ini ia bisa turun dan melihat apa yang bisa dibantu. Setidaknya memasak di dapur dan bertanya apa makanan kesukaan Avan. Di saat Avan berusaha menekan Riyanti, ia justru memutar otak agar bisa meluluhkan hati dan membuatnya bertekuk lutut. Dengan cara tersembunyi, akan tetapi bisa membuat Avan luluh dan rumah tangga mereka bisa berakhir bahagia seperti rumah tangga Okta dan Jesi. Namun, baru saja satu titik terang ditemukan, Riyanti dikejutkan dengan tangan seseorang yang menyeretnya keluar dari kamar. "Tante," gumam Riyanti. Matanya membesar melihat ibu mantan ibu mertua Avan menyeretnya ke ke kamar mandi paling belakang. "Selesaikan ini semua dan jangan berharap kamu bisa keluar dari sini sebelum ini semua selesai!" sergahnya. Membuat Riyanti tersentak dan mengitari kamar mandi tersebut dengan pandanganya. Ia diminta untuk mencuci banyak pakaian, akan tetapi, disana tidak ditemukan mesin cuci. "Cuci dengan tangan, agar kamu tahu susahnya hidup! Karena Avan bukanlah orang kaya seperti yang kau pikirkan!" Suara lengkingan itu kembali terdengar. Diiringi dengan suara dentuman pintu yang begitu keras. Bukannya takut Riyanti justru tersenyum. Tahu di mana letak sumber masalah yang sedang dihadapi. Ibunya Zahra. Gadis itu tersenyum tipis. Ibunya Zahra yang notabenenya adalah orang luar saat ini, ia anggap sebagai target utama yang harus dilenyapkan. Belum tahu caranya, setidaknya Riyanti paham siapa dibalik semua ini. Lima tahun bekerja sama dengan Avan, membuatnya yakin biang masalah yang sebenarnya adalah mantan ibu mertua suaminya. Bukan Avan itu sendiri. Mengabaikan isi pikirannya, Riyanti cepat-cepat menyelesaikan cucian yang telah ditumpuk di kamar mandi tersebut. Mencucinya secara manual dengan tangannya yang sama sekali tidak pernah menyentuh pekerjaan rumah tangga. Entah berapa lama ia berada di kamar mandi tersebut, karena saat ini seluruh cucian tersebut sudah selesai dan kini perutnya terasa sangat perih. Dari semalam hingga detik ini belum pernah dimasuki oleh makanan. Tidak ingin maagnya kambuh, Riyanti cepat-cepat menjemur seluruh pakaian tersebut dan pergi ke dapur. Untuk mencari keberadaan makanan untuk mengganjal perutnya. Namun, ia harus kecewa karena tidak ada apa-apa di sana. Sampai seseorang menggenggam pergelangan tangannya dan berucap. "Non, mari ikut Bibik. Di kamar ada makanan untuk Non makan. Akan tetapi, tolong jangan sampai ada yang tahu kalau Bibik memberi Non makan." Riyanti mengangguk cepat. Ingin rasanya ia memeluk wanita paruh baya yang kini menuntunnya keluar dari dapur. Menuju kamar paling belakang dari rumah tersebut. Kamar yang tidak begitu besar, akan tetapi tampak begitu rapi dan bersih. Di sana sudah tersedia sepiring nasi dan sepotong ayam goreng. Serta sambal dan segelas air hangat. "Buk, terima kasih banyak. Aku tidak tahu harus berkata apa. I--ni, sangat berarti bagiku. Dan aku tidak menyangka ada yang berpihak padaku disini," lirihnya. Seraya memeluk wanita paruh baya yang biasa disapa Entin tersebut. Entin yang dari semalam dilarang untuk membuka pintu dan bertegur sapa dengan Riyanti, begitu iba melihat nasibnya. Apalagi saat majikannya meminta Avan untuk menyiksa Riyanti agar cepat-cepat pergi agar seluruh harta kekayaannya jatuh ke tangan mereka. Semalam Entin melihat Avan begitu berat saat menganggukkan kepalanya. Saat menyetujui apa yang diminta oleh sang mantan mertua. Karena Entin tahu, Avan adalah orang yang begitu baik dan hangat. Sedangkan majikannya, begitu kasar dan tamak dengan harta. Dulu. Saat Zahra dilamar oleh Avan, banyak hal yang diminta oleh majikannya sebagai mahar. Beruntung Avan bisa memenuhi dan Zahra bisa keluar dari jeratan ibunya sendiri. Karena ia dulu dijual kepada om-om tua untuk mendapatkan banyak uang. Dan saat Avan menikahinya, lepas sudah Zahra dari belenggu ibunya. Dan Reina, bukanlah anak kandung Avan. Melainkan anak pria yang selalu memakai jasa Zahra. Anak yang meninggal di dalam rahim Zahra, itulah anaknya Itu sebabnya luka yang begitu dalam hinggap di hati pria berwajah tampan tersebut. Kenyataan Reina bukanlah anak kandung Avan hanya diketahui oleh pasangan suami-istri itu dan Entin, yang tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka berdua saat membersihkan lantai di depan kamar Zahra. Malam itu Zahra terdengar menangis tergugu mengakui ia tengah hamil, padahal malam itu adalah malam pertama mereka. Bukannya marah Avan malah menerima keadaan tersebut. Karena ia mencintai Zahra, bukan sekedar tubuhnya saja. Tiba-tiba saja disini mati lampu. Padahal bab ini masih panjang rencananya. Insyaallah kalau ada waktu nanti siang aku update satu lagi. Jadwal setelah ini Om Me'um dan Cahaya. Mohon bantu spam di kolom komentar. Terima kasih, sayang ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD