"Tubuh ini akan melayaniku," bisik Avan. Tepat di telinga Riyanti.
Gadis itu menutup matanya. Pasrah dengan apa yang dilakukan oleh Avan padanya.
Semakin lama, Avan semakin menjelajahi tubuh polos Riyanti. Membuat gadis itu menggigit bibir bawahnya untuk menahan desahan yang telah sampai di ujung tenggorokan. Malu dengan Avan, ia semakin keras menggigit bibir bawahnya. Sampai-sampai bibir bawahnya sedikit berdarah dan membengkak.
Namun, saat Riyanti menikmati sentuhan Avan, pria itu justru mendorong tubuh rampingnya hingga jatuh ke ranjang. Ia menyeringai. Memandangi tubuh polos Riyanti.
Riyanti meneguk ludahnya. Saat Avan mulai merangkak naik ke atas ranjang. Dalam pikirannya, hari ini ia akan menunaikan tugasnya sebagai seorang istri. Akan tetapi, Riyanti salah besar untuk yang satu itu.
Tujuan Avan merangkak naik adalah, untuk berbisik kepada Riyanti.
"Untuk tidur, kau harus selalu seperti ini. Namun, jangan pernah bermimpi aku akan menyentuhmu!" Avan menyeringai. Ia langsung beringsut turun dari tubuh Riyanti. Diiringi dengan tawa yang begitu menggelegar.
Puas. Avan sangat puas melihat Riyanti hanyut dalam sentuhannya dan merasa kecewa tidak jadi disentuh dalam waktu yang bersamaan.
Mata Riyanti terpejam. Marah atas sikap yang ditunjukkan oleh Avan. Seenaknya saja menggodanya tapi tidak ada niat sedikitpun untuk menjadikannya istri yang sempurna.
Riyanti beringsut duduk. Meraih selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Lalu ia melihat ke seluruh sisi kamar. Mencari sesuatu yang bisa dipakai setelah mandi nanti.
Beruntung tatapan Riyanti bertemu dengan sebuah jubah mandi yang ada di belakang pintu kamar mandi.
Tanpa berpikir panjang ia langsung beringsut turun dan mengambil jubah mandi tersebut untuk menutupi tubuh polosnya.
Namun, baru saja Riyanti selesai, tangannya sudah di tarik oleh Avan.
"Apa yang kau lakukan? Bukankah sudah kukatakan, yang boleh kau sentuh hanyalah ranjang ini!"
Kemarahan terpancar dari kedua mata Avan. Rahangnya mengeras dan genggaman tangannya begitu kuat di pergelangan tangan Riyanti.
"Van, aku …"
"Jangan banyak bicara! Cepat lepaskan karena ini milik istriku! Kau tidak layak memakainya!" sergah Avan. Seraya menarik paksa jubah mandi yang melekat di tubuh Riyanti.
"Sia'lan! Kau menghilangkan aroma istriku dan menggantinya dengan aroma tubuhmu yang begitu menjijikkan disini!" Melempar jubah mandi tersebut ke dalam tempat sampa'h yang berada tidak jauh dari mereka.
Riyanti tergugu. Sekuat apapun ia menahan kesakitan ini, tetap saja dirinya hanyalah seorang wanita. Hatinya begitu rapuh dan tidak sanggup menahan perlakuan Avan.
Sehingga tubuhnya merosot terduduk di atas dinginnya lantai. Tanpa mampu di tahan, Riyanti menangis di sana. Mengabaikan Avan yang mulai terpancing emosi lagi karena tangisan pilu darinya.
"Aarrgghh!! Tutup mulutmu itu ja'lang! Aku jijik mendengar suara tangisanmu. Ck, seharusnya kemarin aku menambahkan poin tentang tangisanmu yang menjijikkan ini," gerutu Avan. Sebelum pergi meninggalkan Riyanti.
"Ayah …" lirih Riyanti.
Langsung terbayang bagaimana hangatnya sosok sang ayah. Dan ingin rasanya ia mengadu kepada sang ibu yang tengah terbaring di rumah sakit, melawan penyakit jantung yang ia derita.
Sepeninggal sang suami, kehidupannya tentu berubah seratus persen. Belahan jiwa yang begitu hangat kepadanya kini telah tiada.
Hatinya semakin sakit saat mengingat di ujung usia sang suami, mereka tidak akur karena khusus Riyanti dan Jesi. Membuat rasa rindu tersebut menyesakkan dadanya. Bertahun berlalu, tubuh ibu Riyanti semakin ringkih dan penyakit jantungnya langsung kumat. Sudah lebih satu bulan beliau berjuang di rumah sakit untuk sembuh. Tentu saja untuk sembuh ia membutuhkan biaya yang sangat besar.
Selama ini hidup mereka bergantung pada perusahaan. Dan sayangnya Riyanti tidak tahu sedikitpun tentang perusahaan yang telah puluhan tahun dirintis dengan susah payah oleh sang ayah.
Dan takdir mempertemukannya dengan Avan. Seorang pria yang begitu cekatan dalam bekerja, ramah, dan tidak mudah marah.
Namun, khusus untuk Riyanti. Dalam kurun waktu lima tahun ke depan ia harus kuat menghadapi sikap keras Avan, demi perusahaan dan kesembuhan sang ibu.
Menepis ketakutan yang menghimpit dirinya, kesembuhan sang ibu menjadi kekuatan bagi Riyanti. Ia bangkit dan meraih selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
Dengan tangan yang masih bergetar, ia meraih ponsel dan menghubungi supirnya agar segera mengantarkan pakaiannya ke rumah Avan.
Belum hilang badai yang tadi, ia harus mendengar sang supir mengatakan, Avan meminta orang untuk mengacak isi rumah mencari surat-surat penting yang akan menjadi miliknya seandainya Riyanti ingkar pada janji.
Riyanti tersentak. Tidak habis pikir dengan perbuatan Avan padanya. Membuatnya berpikir bahwa yang menikahinya bukan manusia tapi binatang.
"Biarkan saja, Pak. Terserah dia ingin apa. Ini hanya untuk lima tahun ke depan. Sekarang Bapak bantu saya untuk mengantarkan pakaian saya ya, Pak!" pinta Riyanti. Langsung disanggupi oleh pria paruh baya, yang ada di ujung panggilan tersebut.
Begitu panggilan berakhir, buliran bening yang telah menggenang di matanya luruh juga. Kembali meratapi kebodohannya sendiri. Namun, di sela tangisannya, Riyanti berjanji akan kuat dan ini merupakan kali terakhir ia menangis.
Tidak lama kemudian, ponselnya berdering. Supir yang ia minta untuk mengantarkan datang. Namun, pria paruh baya itu mengatakan tidak ada yang membuka pintu rumah untuknya.
Riyanti menghela nafas berat. Sampai-sampai untuk urusan ini Avan juga mengerjainya. Tidak ingin pusing, Riyanti membawa selimut tebal tersebut ke bawah untuk menjemput pakainya.
Dan tentu saja melihat Riyanti turun dengan menggunakan selimut saja, sopirnya keheranan. Akan tetapi, beliau tidak ingin banyak bertanya dan cukup tahu saja apa yang terjadi dengan sang majikan di rumah barunya.
Riyanti tersenyum tipis. Melihat banyak asisten rumah tangga yang lalu lalang, bahkan Avan sendiri tengah duduk menonton televisi. Tidak mungkin rasanya tidak mendengar ada orang yang mengetuk pintu. Keadaannya yang hanya mengenakan selimut, Riyanti memutuskan untuk mengambil baju yang akan dikenakan saja terlebih dahulu. Selesai berpakaian nanti barulah ia kembali dan mengambil kopernya.
Melihat apa yang dilakukan Riyanti, menyentuh sisi baik Avan di hatinya. Namun, karena dendam yang selalu dipupuk oleh mertuanya, kembali menepis rasa tersebut.
Hai...
Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE.
Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB.
Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH AKU IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilanku?
Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan.
Walaupun karyaku tidak sebagus milik penulis lain, setidaknya ini adalah hasil karyaku sendiri. Dari hasil kerja keras memeras otak dan tenaga.. Dan aku berharap, kalian semua menyayangiku seperti aku menyayangi kalian semua.
Salam
Desi Nurfitriani