Jesi berdiri persis di belakang Riyanti. Mereka berdua sama-sama memandangi wajah mereka di cermin.
"Aku akan selalu berdoa yang terbaik untukmu, Ri," ucap Jesi. Seraya menyentuh pundak Riyanti.
Gadis itu mengangguk pelan. Mengulas senyum dan membawa tangannya untuk mengusap punggung tangan Jesi.
Riyanti tahu dan bisa merasakan Jesi sangat khawatir padanya. Karena tiba-tiba saja Avan ingin mempercepat pernikahan mereka. Dan anehnya lagi, tidak ada pesta ataupun undangan yang disebar. Yang diperbolehkan hadir hanyalah keluarga besar saja.
Riyanti sudah mencoba untuk protes. Akan tetapi Avan berdalih setelah ia menandatangani perjanjian di antara mereka, itu artinya hidupnya sudah ada ditangannya.
Mau atau tidak. Riyanti harus menerima itu semua. Dan setuju saja atas permintaan dari Avan yang sama sekali tidak masuk akal tersebut.
"Terima kasih, Jes. Aku berharap badai yang akan datang tidak terlalu besar agar aku tidak tumbang dan kehilangan perusahan." Mata Riyanti terpejam. Dadanya begitu sakit saat melihat tiba-tiba saja ada poin baru di surat perjanjian antara ia dan Avan.
Demi Tuhan. Riyanti sangat menyesal, hari itu setelah menandatangani surat perjanjian tersebut ia langsung membawa Reina ke tempat Jesi dan meninggalkan surat perjanjian tersebut.
Begitu ia kembali untuk mengantarkan Reina, surat tersebut sudah memiliki poin baru yaitu, 'seandainya Riyanti menyerah di tengah jalan, perusahan dan segala aset kekayaan Riyanti akan jatuh ke tangan Avandy William.'
Jesi tertegun. Untuk yang satu ini Riyanti tidak pernah bercerita padanya. Poin yang awal saja sudah membuat perasaannya tidak enak, apalagi tambahan yang terakhir. Semakin menunjukkan bahwa Avan memiliki niat buruk dengan menikahi Riyanti.
"Kamu tidak perlu khawatir untuk yang satu itu. Okta akan meminta bantuan kepada Adnan dan Marcel untuk menyelesaikannya, seandainya Avan tidak bisa dikendalikan," tutur Jesi.
Riyanti mengangguk lemah. Hatinya begitu hangat karena keberadaan Jesi di sampingnya. Padahal dulu ia selalu berusaha untuk merebut Okta darinya. Dan sekarang Riyanti sadar apa yang membuat Okta begitu mencintai Jesi. Di balik sikap ketusnya ada hati yang begitu baik.
"Terima kasih, Jes," lirih Riyanti. Ia memaksakan untuk tersenyum agar Jesi tidak tahu betapa kini dadanya sesak dan takut untuk menghadapi Avan, yang tengah mengucapkan ijab kabul untuknya di lantai bawah.
"Mama … kata om Okta, Mama bisa turun!" seru Reina. Begitu memasuki kamar pengantin, di mana kini Riyanti dan Jesi berada.
Riyanti tersentak mendengar suara Reina yang memanggilnya. Ia juga menuntun tangannya untuk turun menemui Avan, yang telah resmi menjadi suaminya.
Dengan langkah berat dan hati yang berkecamuk, Riyanti perlahan menuruni satu persatu anak tangga di dampingi oleh Jesi dan Reina. Matanya mengabur saat melihat hari pernikahannya yang diharapkan dihadiri banyak orang dengan pesta meriah, seperti impiannya dan sang ayah dulu, kini hanya dihadiri oleh segelintir orang saja.
Petugas KUA, saksi dari kedua belah pihak, mantan mertua Avan, Okta dan tiga orang pria yang tidak ia kenal. Persis seperti pernikahan siri bukan pernikahan resmi yang diketahui oleh banyak orang.
Namun, Riyanti cukup lega ada sepasang buku di depan Avan. Itu artinya pernikahan mereka terdaftar di negara. Sehingga pernikahan ini memiliki kekuatan hukum setidaknya ada cara bagi Riyanti untuk merebut perusahan seandainya Avan melewati batas.
Layaknya pasangan suami istri lainnya, Riyanti duduk di samping Avan. Meraih tangan dan mencium punggung tangannya.
Begitu Pula dengan Avan. Ia meraih tengkuk Riyanti dan mencium keningnya. Sesudah itu, mereka berdua menerima kata selamat dari tamu yang datang.
Saat tiba giliran ibu mertua Avan, Riyanti tersentak ketika bersalaman dengannya. Wanita berusia enam puluh tahun tersebut meremas kuat tangannya dan berkata. "Selamat datang di kehidupan yang akan membuatmu merasakan apa yang dirasakan oleh putriku. Mati mengenaskan saat hamil. Akan tetapi, dendam yang akan aku balaskan akan lebih parah dari itu."
Sabar. Satu kata yang ditanamkan oleh Riyanti di dalam hatinya. Karena wanita yang kini menatap tajam padanya hanyalah orang luar. Setelah ini mereka tidak akan bertemu lagi. Karena dalam pikiran Riyanti mereka akan tinggal di rumahnya atau di rumah Avan yang berdekatan dengan rumah Jesi.
Namun, Riyanti salah. Avan justru membawanya pulang ke rumah sang mertua. Tanpa persiapan dan membawa apapun. Yang dibawa oleh Riyanti hanyalah tas yang berisi barang penting. Seperti ponsel, dompet dan sedikit alat make up.
Sisanya akan diantarkan oleh supirnya. seperti pakaian dan surat-surat penting lainnya. Entah apa maksud Avan melakukan ini semua.
"Mama … malam ini Reina tidur sama Mama dan ayah, ya …" rengek Reina. Begitu mereka sampai di rumah mertua Avan.
Riyanti ingin mengajak menyetujui. Karena cukup aman rasanya tidur bersama Reina daripada berdua dengan Avan.
Akan tetapi, sebelum kepalanya mengangguk, ibu mertua Avan sudah lebih dulu menggendong Reina dan membujuk anak itu untuk tidur bersamanya Dengan iming-iming seorang adik yang menggemaskan.
Mendengarkan akan diberi adik, tentu saja Reina bersorak gembira. Ia langsung berpamitan dengan Riyanti untuk tidur bersama omanya.
Riyanti hanya tersenyum tipis. Yakin ada rencana lain yang telah disiapkan oleh Avan untuknya.
"Sampai kapan ingin berdiri disitu?" tegur Avan. Seraya berjalan melewati Riyanti dan naik ke atas tangga.
Sadar Avan memintanya untuk mengikuti, Riyanti langsung mengekor di belakang Avan. Menuju kamar yang akan mereka tempati. Tepatnya kamar yang dulu ditempati Avan dengan istrinya.
Benar saja. Saat Riyanti memasuki kamar yang dituju, melihat banyak foto Avan dan istrinya tersusun rapi di kamar tersebut.
"Jangan sentuh apalagi mengubah isi kamar ini. Disini kamu hanya boleh menyentuh ranjang. Untuk barang-barangmu nanti diletakkan di kamar yang ada di samping kamar ini," ucap Avan. Seraya memeluk Riyanti dari belakang.
Riyanti mengangguk. Menurut saja apa yang Avan inginkan. Karena ia tidak ingin hal buruk terjadi padanya.
Melihat respon Riyanti yang biasa saja, tentu saja membuat Avan kecewa. Merasa gagal memberikan pelajaran pertama untuk Riyanti. Hingga detik selanjutnya ia menarik turun resleting kebaya biru langit yang dikenakan oleh istrinya itu.
"Menjadi istriku itu artinya harus melayaniku." Secara perlahan Avan menarik turun kebaya Riyanti. Memperlihatkan tubuh mulusnya yang begitu indah dipandang mata.
Cukup tertarik, Avan semakin terdorong untuk membuka satu persatu pakaian yang melekat di tubuh Riyanti hingga tak ada lagi yang menutupinya.
Begitu selesai, Avan menuntun Riyanti berdiri di depan sebuah lemari yang memiliki cermin yang cukup besar. Tangannya terulur untuk meraba halus perut Riyanti hingga kedua gundukan kenyal miliknya.
"Tubuh ini akan melayaniku," bisik Avan. Tepat di telinga Riyanti.
Gadis itu menutup matanya. Pasrah dengan apa yang dilakukan oleh Avan padanya.