Saka dengan gaya santainya membuka pintu mobil hitam mengkilap miliknya. Senyumnya lebar. “Silakan masuk, cantik,” ucapnya. Nadia mendengus pelan, matanya berputar malas. Ia kemudian melangkah masuk tanpa menanggapi perkataan Saka. Kursi empuk mobil membuat tubuhnya sedikit tenggelam. Saka menutup pintu dengan tenang, lalu berjalan ke sisi kemudi. Begitu duduk, bukannya langsung menyalakan mesin, ia malah menatap Nadia lama-lama. Tatapannya sulit diartikan. Merasa diperhatikan, Nadia mengeryit bingung. “Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanyanya datar. Alih-alih menjawab, Saka mendekatkan tubuhnya ke arah Nadia. Gerakan cepat itu membuat Nadia terperanjat, tubuhnya refleks menegang. “Hei, jangan terlalu dekat!” sergah Nadia sambil berusaha mendorong pria itu menjauh darinya. Tapi kek

