suasana pagi yang canggung,pertemuan mereka secara tidak sengaja itu memang kerap kali terjadi,namun berbeda dengan hari ini.
meski demikian,Rania berusaha tampak acuh seperti biasanya.
"Rania"seru Eros yang membuat gadis itu sejenak memejamkan mata,lalu berbalik kearah suara Eros dibelakangnya.
"ada apa?"jawabnya sambil menunduk
"apa kamu punya waktu?"tanya Eros sebelum mengajaknya berbincang
sejak semalam,setelah berdiskusi dengan pikirannya,rupanya Eros memutuskan untuk mengajak Rania membicarakan mengenai Eros dan Aruna.
sepertinya dia harus menjelaskan kepada Rania mengenai apa yang gadis itu lihat kemarin,dia harus meluruskan hal itu,agar Rania tidak memiliki spekulasi buruk kepadanya.
"cuma dua puluh menit"jawab Rania singkat.
Eros menghela nafas lalu mulai berbicara "yang kamu lihat kemarin siang,sebenarnya tidak terjadi apa apa antara saya dengan Aruna"
"sepertinya kamu tidak perlu menjelaskan itu kepada saya"jawab Rania
"saya hanya ingin menjelaskan kebenaran sama kamu,saya takut kamu berasumsi yang enggak enggak"
Rania tersenyum samar "apapun yang ada dalam pikiran saya,itu tidak begitu penting untuk kamu,jadi nggak usah cape cape menjelaskan apapun kepada saya"Eros terdiam,benar juga!untuk apa dia Harus menjelaskan sesuatu yang Rania tidak butuhkan?
"apa pembicaraan kita sudah selesai?"sambung Rania.
"sudah"jawab Eros singkat,jujur dia sangat kecewa mendengar jawaban Rania barusan,entah mengapa ketidak pedulian Rania membuatnya sakit.
"saya pergi dulu,assalamualaikum"pamit Rania.
"waalaikumsalam"jawab Eros pelan.
*****
Rania tampak memainkan penanya sambil menopang dagu.
tatapan matanya menatap monitor,entah sejak kapan pikirannya mulai kosong,setelah menyelesaikan pekerjaan nya tiga puluh menit lalu,pikirannya mengajak Rania berkelana
"assalamualaikum"sapa seorang pria yang datang menghampirinya.
Razan menggoyang goyangkan kelima jarinya didepan wajah Rania.
"ah. ya,maaf .Ada apa mas Razan?" Rania baru tersadar dari lamunan yang mengurung konsentrasinya sejak tadi.
"mau makan siang bareng?"tanya Razan kepada Rania.
Razan berharap agar Rania menerima tawarannya ,dan beruntung,setelah menimbang nimbang cukup lama akhirnya Rania menyetujui ajakan Razan
gadis itu bangkit dari kursinya mengikuti langkah Razan didepannya.
"Sal,pinjem Rania dulu,ya "Razan meminta ijin kepada Salwa seketika kebetulan sedang menerima pelanggan.
Salwa pun mengangguk menandakan telah menyetujui nya.
.
.
.
.
plak
satu tamparan keras mendarat ke pipi mulus Rania yang polos tanpa riasan.
entah mengapa Aruna sangat berniat menamparnya dengan keras seperti melihat Rania meringis membuatnya puas
pipi itu memerah akibat bekas tangan putih milik Aruna.Rania hanya mampu mengusap jejak yang terasa nyeri sambil menangis.
"kalau jalan hati hati,lihat!bajuku basah,sialan!"bentak Aruna lantang,sudut bibirnya terangkat saat menyadari banyak pasang mata melihat nyalang kearah mereka.
Razan yang mendengar ribut ribut di antrian kasir segera mendekat lalu mengusap air mata Rania yang tumpah"kamu nggak apa apa?"tanya Razan lembut ,yang hanya mendapat respon gelengen kepala.
sedangkan Eros hanya terpaku menyaksikan kejadian yang begitu singkat itu,dia bingung harus bagaimana.
sekali lagi,Aruna menyeringai melihat pipi Rania yang memerah,tentu saja dia tahu pasti itu sangat perih dan panas.
rasakan!"batin Aruna.
"kita pergi dari sini,"Razan menggenggam erat tangan Rania menjauh dari sana,melewati seluruh pasang mata yang menatapnya.
Razan membawa Rania kembali ke butik,rasa bersalah menyergap dalam dirinya karna makan siang ini adalah idenya,dia berjanji akan segera memberi perhitungan pada dua sejoli tidak tahu malu itu.
bisa bisanya Eros hanya diam saja melihat Rania ditampar sekeras itu oleh Aruna.
'dasar pria pecundang'batin Razan
"pipi kamu masih sakit?"tanya Razan setelah menghentikan mobilnya tepat dihalaman butik.
"aku nggak apa apa mas,udah baikan "Rania berusaha tersenyum meski dipaksakan.
"maaf ya,karna aku_"
"nggak apa apa mas,jangan merasa ini salah mas,ini hanya musibah "jawabnya tulus.
Razan tersenyum,betapa mulianya hati wanita disampingnya ini.Dia tak sedikitpun memiliki rasa marah kepada Aruna meski memperlakukannya sangat buruk tadi.
dia juga tak habis pikir kenapa Aruna sangat bengis seperti itu?padahal dulu dia sangat penyayang dan baik hati
apa kekuasaan Eros yang merubah kepribadiannya menjadi angkuh dan sombong?
Razan menggeleng pelan seraya tersenyum miris.
"saya turun ya mas,makasih udah antar saya"Rania berpamitan lalu turun dari mobil Raza
.
.
.
.
didalam kamar,Rania merapatkan kaki menopang dagu diantara dua lututnya.
sesekali gadis itu menyeka air mata nya
'bagaimana kabar ibu dan Agam?'pikirnya.
Rania menghela nafas,ternyata nasib nya sangat buruk lebih dari ekspetasinya.
"kamu tunggu disini,saya pesan makanan dulu!"
"mas,biar saya yang pesan.Mas duduk aja disini"
Razan pun mengangguk patuh .Rania berjalan mendekat kearah kasir,lalu memesan dua gelas es jeruk.
Setelah pesanannya siap,Rania berbalik membawa gelas tersebut.
Namun kakinya tersandung lalu menumpahkan gelas berisi minuman ke baju seseorang.
dan yang tak dia inginkan justru seseorang itu adalah Aruna.
"Ran,buka pintunya!"Rania terperanjat ketika suara ketukan pintu dari luar terdengar nyaring,Rania beranjak dan memutar kunci pintu kamar dan menarik knop agar pintu terbuka.
"ada apa ,Eros?"
"hm..bagaimana dengan pipimu?"dari sekian kalimat yang telah Eros rangkai untuk di ucapkan ,namun entah mengapa justru sebuah pertanyaan ini yang terlontar.
"sudah membaik,terima kasih"
"maaf,karna Aruna sudah nyakitin kamu"
"iya,nggak apa apa,saya yang salah udah numpahin minuman ke baju nya"
"mm..Eros,boleh saya minta ijin?saya ingin menginap dirumah ibu.Saya rindu ibu dan Agam" Rania menggigit bibir bawahnya takut jika Eros memarahinya.
"berapa hari?"
"sekitar seminggu,apa kamu memberi saya ijin?"tanya Rania.
Eros mengangguk,mungkin dengan ini cara dia dapat mengobati sakit Rania akibat segala perbuatannya.
"saya antar!"
"baiklah"
****
suara ketukan pintu terdengar dari balik pintu,Rania yang tengah membawa tas berisi pakaian membuka kan pintu,diikuti oleh Eros dibelakangnya.
Rania segera menundukkan wajah setelah melihat siapa yang berada diambang pintu ,
Aruna.
"apa setelah kejadian tadi,kamu mengusir gadis kampungan ini,sayang?"tanya Aruna kepada Eros.
"dia cuma ingin berkunjung kerumah ibu nya,sayang"jawab Eros.
"oh ..terus kamu mau kemana?"
"mau nganter dia"
Aruna segera mencekal tangan Eros.Menahan agar pria itu tidak pergi,Aruna sangat keberatan jika Eros hanya berduaan dengan Rania.
"dia udah besar ,bisa pulang sendiri kan?"
Eros tampak menghela nafas,melirik kearah Rania yang masih setia menundukkan kepala.
"ya udah"jawaban Eros yang sangat menyakitkan ditelinga Rania.
"saya permisi,assalamualaikum"Rania bergerak pergi dari sana ,menjauh dan berjalan mendekat pintu lift,menekan tombol berbentuk lingkaran yang berpanah turun.
meski dia tahu dua orang itu masih memperhatikan kepergiannya,namun Rania enggan menoleh kebelakang.
dalam pikirannya,harusnya sejak awal dia menolak diantar oleh Eros,agar tidak banyak berharap seperti ini pada suami nya itu dan lihat,dia patah hati setelah mendapat harapan palsu.
pintu lift terbuka,gadis itu membawa kakinya melangkah masuk lalu menutup pintu itu dengan menekan tombol kembali.
"Rania"saat pintu lift terbuka lebar,gadis itu terkesiap ketika berpapasan dengan Razan.
Razan melirik kearah tangan gadis itu yang tengah menggenggam tas besar yang dia yakin itu berisi pakaian.
"kamu mau kemana?"
"mau kerumah ibu,mas"
"saya antar,ya?"
"tidak usah mas,saya bisa sendiri"
"enggak enggak,kamu nggak bisa pergi sendiri"Razan segera meraih tas dalam genggaman Rania dan menggiring Rania kedalam mobil yang diparkir di basement,mau tidak mau gadis itu menurut dan mengikuti ayunan kaki lebar Razan.
"Eros nggak antar kamu?"seketika Rania menoleh kearah Razan,lalu mengernyitkan dahi,memperhatikan Razan yang memutar kunci mobil lalu menyalakan mesin.
"saya tahu suami kamu itu Eros,pas waktu itu saya sedang berkunjung ke apartemen kamu"sambung Razan.
Rania kembali memfokuskan diri kedepan setelah berdehem.
"dia sibuk mas"
"dengan pacarnya?"Rania terdiam,dalam benaknya banyak pertanyaan yang muncul salah satunya dari mana Razan tau Eros punya pacar?
"mungkin kamu kaget,tapi saya kasih tau ,kami saling mengenal"Razan berkata jujur pada Rania,namun gadis itu hanya mendengarkan dengan seksama.
selama diperjalanan Razan banyak bercerita tentang kehidupannya sedangkan Rania hanya menjadi pendengar setia,sesekali gadis itu melayangkan pertanyaan.
Pembahasan mereka bukan lagi tentang Eros maupun Aruna.