01.perjodohan
Rania sedang membantu adiknya membuat tugas sekolah,adik laki laki nya yang bernama Agam telah berusia tujuh belas tahun,dan masih duduk dibangku SMA.
Rania kecil kini tumbuh menjadi anak yang baik,sholehah dan sangat lemah lembut,persis seperti janjinya kepada mendiang sang ayah.
"Ran,ibu mau bicara sama kamu"
Tuti tiba tiba berada diambang pintu,mengajak Rania ke ruang tamu,menginterupsi kegiatan kakak beradik itu.
"Bentar ya dek,kakak ada perlu sama ibu"ucapnya lembut sambil menepuk pelan pundak adiknya.
"Iya kak"jawab Agam seraya mengangguk.
Rania mengekori ibunya yang terlebih dulu pergi keruang tamu.
"Ada apa bu?"kini Rania duduk dikursi yang terbuat dari kayu jati peninggalan almarhum Bakri yang masih kokoh dan bagus.
"Begini,tadi pak Arjuna datang.Dia ingin melamar kamu untuk dijadikan istri nya Eros"ucap sang ibu tanpa basa basi.
"Astagfirullah,bu!"Rania terkejut dengan menampakkan kecemasan di raut wajah cantiknya
"Kenapa,Ran?ada yang salah?"sang ibu menatap wajah ayu putrinya yang cemas.
"Tidak ada yang salah bu,cuma Rania belum kepikiran untuk menikah,apalagi sama Eros"jawabnya penuh keraguan.Jujur Rania tidak pernah menduga hal ini akan terjadi.
"Memangnya kenapa jika menikah dengan Eros?dia laki laki baik ,nak"
"apa benar dia pria yang baik?Setau Rania dia tidak seperti yang ibu bilang"Rania,tak percaya.
"kamu bertanya seperti ragu begitu?kamu belum bertemu orangnya bagaimana bisa menebak seperti itu?"
"ibu salah,Rania pernah sekali bertemu waktu itu.Dia galak dan jauh dari kesan ramah,dia juga terlalu dingin,Rania nggak suka bu."Jelas Rania membuat Tuti meraih tangan sang anak kedalam genggamannya,kemudian tersenyum.
"mungkin karna kamu pertama kali bertemu ,jadi kesannya seperti itu.Kamu tidak bisa menilai sifat seseorang hanya dengan sekali bertemu,Rania."Tuti memberi pengertian seraya mengembangkan senyum hangat membuat rasa cemas di wajah Rania sedikit memudar.
"Benar juga sih ,tapi Rania belum ada kepikiran kearah sana bu.Rania masih punya banyak harapan besar"
"Usia kamu sudah dua puluh tahun.Mau nunggu sampai usia berapa tahun lagi kamu akan menikah?"
"ibu,mungkin memang belum waktu nya Rania menemukan jodoh,makanya belum diijinkan menikah "
"Bukan begitu maksud ibu,Ran!siapa tahu Eros jodoh yang tuhan kirimkan untuk kamu"Rania meragu,apa benar Eros adalah jodoh yang Allah berikan untuk dirinya?tapi jika benar,mengapa harus pria yang mengerikan seperti itu?
"Tapi bagaimana dengan dia?apa dia tahu tentang perjodohan ini ?"
"Ibu juga tidak tahu ,pak Arjuna tidak bicara apa apa selain hanya membicarakan tentang perjodohan kalian "
Rania menghela nafas panjang,kenapa hidupnya jadi mendadak rumit dengan adanya perjodohan ini,dan sejak kapan?tanpa sadar Rania memegang pelipisnya dan memijitnya pelan pelan.
"Ran,boleh ibu bicara sesuatu?"
"apa itu bu?"Rania menoleh kearah ibunya.
"sebenarnya,saat ayahmu terbaring dirumah sakit,sebelum ajalnya tiba.Ayah berpesan kepada pak Arjuna,supaya menjaga keluarga kita bila perlu menikahkan kamu dengan anaknya yaitu Eros,agar hubungan kita semua tetap terjalin dengan baik"
"a-apa ?ya Allah.."Rania menggeleng tidak percaya.
"ibu serius,Nak.Dan pak Arjuna menyetujui itu,kamu tahu sendiri kan betapa dekat hubungan persaudaraan angkat antara ayah dengan pak Arjuna?"
Rania mengangguk pelan,dia paham betul bahwa Arjuna sangat menghormati ayahnya, meski hubungan mereka sebatas saudara angkat.Arjuna tidak bisa menolak dengan alasan ingin balas budi atas jasa keluarga Bakri kepadanya.
"besok lagi di pikirkan!lebih baik sekarang istirahat,ibu yang gantian nemenin Agam"sambung sang ibu,ibunya sangat paham mungkin Rania sangat shock dengan ini semua.Namun,cepat atau lambat hal yang tak diinginkan anaknya itu akan benar terjadi.
Rania mengangguk lalu masuk menuju kamarnya,sebelum menyalami ibu nya terlebih dahulu
****
Dikamarnya ,Rania merenung sambil memeluk boneka tsum tsum favoritnya,dia tidak habis pikir akan di jodohkan seperti masa siti nurbaya begini,apalagi laki laki yang dijodohkan adalah Eros.
Eros bukanlah daftar pria yang tercantum dalam kriteria calon suami nya.
kesan pertama bertemu saja sudah buruk,apalagi untuk bertemu untuk kedua ,ketiga dan seterusnya.
terlihat betapa sangat jelek perangai pria itu,membuat Rania bergidik membayangkannya.
sangat jauh dari kata hangat dan lemah lembut,pria itu terkesan dingin dan angkuh plus sombong.
Dia menghela nafas,harus bagaimana sekarang?bukankah usia dua puluh tahun masih sangat muda untuk membina rumah tangga,kenapa harus buru buru?
apalagi Rania bukannya tidak laku sampai harus dijodohkan seperti ini,hanya saja dia belum siap memulai hubungan yang pastinya akan mengganggu pekerjaannya dan terganggu fokusnya meraih keinginannya, yaitu mengumpulkan uang yang banyak untuk menguliahkan Agam.
lalu,kenapa ayahnya mewasiatkan hal yang tidak masuk akal seperti ini,secara tidak langsung Rania dan Eros dijodohkan saat mereka masih anak anak?
karna saat itu Bakri meninggalkan dunia saat Rania masih berusia sepuluh tahun.
malam ini,Rania sukses kesulitan memejamkan mata,pikirannya masih berpusat pada perjodohan itu.
tiba tiba gawai nya berbunyi,ada pesan masuk dari sahabatnya,Salwa.Yang sekaligus pemilik butik tempat Rania bekerja.
From : Salwa my boss❤️
[Ran,besok jangan lupa bawa desain sketsa busana kaftan untuk kamu rekomendasikan ke customer]
"Astagfirullah"Rania langsung menepuk jidatnya,bagaimana dia bisa lupa dengan tugas yang diberikan atasannya itu?terlalu banyak menghabiskan waktu memikirkan perjodohan,hingga lupa dengan tanggung jawabnya.
ia pun langsung melompat dari ranjangnya lalu menyalakan laptop yang dia beli hasil menabung selama hampir setahun.
Rania ,dia tidak pernah menggunakan uang pemberian dari Arjuna untuk membeli barang barang kebutuhan miliknya,karna baginya lebih baik uang itu digunakan untuk kebutuhan sehari hari ibunya dan juga Agam.
Terpaksa Rania harus lembur malam ini demi menyelesaikan pekerjaannya untuk besok,karna dirinya tak ingin mengecewakan Salwa yang selalu puas dengan hasil rancangan Rania,karna kepuasan itulah yang membuat Salwa selalu mengandalkan Rania.
bukankah itu tanggung jawab yang besar ketika harus menjaga kepercayaan orang lain?
disela sela kesibukannya memikirkan konsep busana yang akan di buatnya,tiba tiba pikiran nya mengajak Rania berputar mengingat beberapa hari lalu saat pertama bertemu Eros.
"bu Tuti ,ada ?"tanya Eros kepada Rania yang sedang menyiram tanaman dihalaman,tentu saja suara yang tiba tiba datang itu membuat Rania terperanjat .
"astagfirullah"Rania mengelus dadanya,jantungnya berdetak kencang karna terkejut,selang dalam genggamannya terjatuh begitu saja.
"nggak usah lebai,saya bukan setan!" celetuk Eros tak suka melihat reaksi Rania.
"setidaknya mengucapkan salam dulu " ucapnya dengan lembut.
"ck,ribet banget.Assalamualaikum" dengan nada ketus
"Wassalamualaikum salam,nah kan lebih bagus"Rania tersenyum.
"jadi,kamu ini siapa?ada keperluan apa mencari ibu?"tutur kata yang selalu lemah lembut ketika berbicara menciptakan kedamaian dihati siapapun tak terkecuali Eros.
"saya ,Eros!"jawabnya singkat dan acuh,sepersekian detik mata Rania terpaku menatap pria didepannya.Tatapan begitu dalam manik mata coklat pudar itu bergerak gerak.
'oh..jadi,ini anaknya om Arjuna?'pikirnya.
"nggak pernah lihat pria tampan,ya?"dari situ Rania segera memalingkan wajahnya yang bodoh itu.
'astagfirullah'dirinya merasa berdosa karna menodai pandangan matanya,dan sialnya mata itu seolah tersihir untuk tidak beralih.
"maaf,silahkan masuk,ibu didalam"
dengan kepongahan nya,Eros masuk kedalam rumah tanpa mengucapkan terima kasih
"Masya Allah,nggak ada etika banget ini orang,minimal bilang makasih apa susahnya?"gumam nya dalam hati menggeleng kepala pelan.
lalu meraih kembali selang yang terjatuh tadi,melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
sementara dari dalam ruang tamu, Eros memperhatikan Rania yang sedang menyiram bunga bunga peliharaannya dengan telaten.
memindai lekat dari ujung kepala hingga kaki,tidak ada sesuatu yang menarik dari gadis itu,apalagi lekuk tubuhnya terhalang jubah panjang dan kebesaran itu.
'kenapa gadis seperti itu yang menjadi pilihannya ayah, dia terlihat aneh!'gumamnya.