Rania segera menarik kembali pikirannya ,dia beristighfar berulang kali,karna tiba tiba memikirkan Eros.
Di liriknya jam yang menempel pada dinding,ternyata sudah menunjukkan pukul satu dini hari,Rania segera menyelesaikan tugasnya atau dia akan dimarahi oleh Salwa.
tiga jam berlalu,suara kumandang adzan subuh mulai terdengar,Rania bangun dari tidurnya yang hanya sebentar.Jujur dia masih mengantuk,dengan langkah malas,dia beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri lalu berwudhu,air dingin yang terasa segar mengenai wajahnya membuat kantuk itu hilang seketika.
Setelah selesai menunaikan ibadah wajib,tak lupa Rania berdoa kepada tuhan.Untuk kali ini,dia berdoa agar diberi kemudahan dan petunjuk.
jika memang Eros adalah jodohnya,maka dekatkan lah!dan jika bukan ,maka,jauhkanlah!
melipat mukenahnya kembali,kemudian bergegas membantu ibunya memasak didapur.
Rumah sederhana itu hanya memiliki tiga kamar,dapur kecil ,ruang tamu ,dan kamar mandi.Meski tidak seluas rumah orang kaya,namun rumah itu bersejarah dan menjadi saksi bisu perjalanan Bakri dan Tuti hingga Rania dan Agam tumbuh besar .
"Bu"seru Rania yang sudah rapi dengan hijabnya.
"Rania?sudah bangun?"jawab sang ibu sambil memotong tempe.
"Sudah,ibu masak apa hari ini?"
"Sup ayam,sama goreng tempe"
"Wah...pasti enak,apalagi ibu yang masak"puji Rania antusias.
"Kamu itu,bisa aja"
"kan emang bener bu"goda Rania.
"dari pada cuma ngerayu,sini!bantu ibu cuci sayurnya"
Rania mengangguk patuh,lalu meraih potongan sayur didalam baskom yang siap dicuci
****
Pagi-pagi sekali Eros sudah bersiap untuk pergi ke kantor,dengan menjinjing tas kerjanya.
"Eros"
"Iya,yah!"
pria itu menghampiri Arjun yang sedang minum kopi di ruang tamu besarnya
"Ada apa,yah?"Eros bergerak mendekat.
"Nanti,ayah mau ajak kamu kerumah Rania"
"Eros nggak bisa yah,sibuk!"
"Ayah nggak mau ada penolakan ya,Eros.Selama ini, ayah berusaha menerima segala alasan kamu,sekarang tidak lagi!"
"Tapi,Ayah.."
Arjun melotot ke arah Eros,membuat nya tidak dapat lagi berkutik,
"Baiklah!kalau begitu Eros berangkat dulu,nanti Eros akan pulang lebih awal."
"Hmm"
.
.
.
.
Selama perjalanan,pria itu merenungi nasib nya setelah ini,mau sampai kapan ayahnya berhenti membujuk dirinya menikah dengan Rania,dengan alasan balas budi .
bukankah harta yang diberikan selama ini pada keluarga Rania sudah lebih dari cukup?kenapa harus dirinya yang dikorbankan,apa apaan ini?
bagaimana dia bicara dengan Aruna nanti,pasti wanitanya itu sangat kecewa mendengar Eros dijodohkan dengan wanita lain.
's**t' tangan pria itu mengepal kuat diatas pahanya
Sungguh dia penasaran, sebesar apa peran gadis itu?,sehingga ayahnya bersikukuh menikahkan dia dengan gadis kampungan yang tidak menarik sama sekali itu.
"Mas,sudah sampai"suara mang Ujang membuyarkan lamunan Eros.Tanpa menunggu lama,pria itu segera keluar dari mobil seraya membanting pintu itu cukup kencang,mang Ujang tidak heran dengan tingkah anak majikannya yang arogan,dirinya seperti sudah bebal.
"Sayang!" Sapa seseorang yang menyambut Eros di lobby kantor,dengan pakaian yang ketat dan super minim.
"Kamu ngapain disini? kan udah aku bilang,jangan ke kantor,kalau ketahuan, ayah bisa marah"tukas Eros,matanya melirik sekitar.
"Abisnya nomor kamu nggak aktif,sih"wanita itu merajuk.
Wanita seksi yang bernama Aruna,dia adalah kekasih Eros.
meski hubungan mereka terjalin cukup lama,namun tak kunjung mendapat restu dari keluarga Eros. orang tua nya sangat menentang jika dia berhubungan dengan wanita itu.
Sebab Aruna selain suka menghambur uang milik Eros dengan gaya belanjanya yang selangit,juga suka berpenampilan terbuka dan terlalu seksi.
Tidak cocok sama sekali dengan kriteria orang tua Eros.
"Ayo,masuk!"
Wanita itu pun bergelayut manja di lengan kokoh pria itu.
"sayang,jangan begini!nanti dilihat karyawan nggak enak"
"Terlalu banyak aturan banget sih ,kamu!"Aruna melepaskan lengan Eros sambil mencebik kesal
membuat pria itu geleng geleng kepala.
***
Menjelang sore,Eros sudah tiba dirumahnya,seperti yang dia janjikan kepada ayahnya tadi pagi.
Dia segera bersiap siap,karna orang tua nya sudah menunggu di ruang tamu.
lihatlah!betapa antusiasnya Arjun dan Widya saat mereka akan mendatangi kediaman calon menantunya,Eros hanya berdecak sebal.
Mobil pun berangkat,melaju pelan meninggalkan pekarangan rumah mereka, untuk membelah jalanan panjang . Perjalanan yang ditempuh hanya memakan waktu kurang lebih dua jam ketempat tinggal Rania.
"Bersikaplah baik,selama disana!"titah Arjuna,sambil menoleh kesamping ,Eros yang mengendalikan kemudi pun berdecak.
"Ck,yang benar saja yah, menasehati ku seperti itu,aku ini sudah dewasa,tidak perlu ayah beritahu juga aku tidak akan bertingkah seperti anak anak."jawab Eros kesal.
sementara Widya hanya menanggapi dengan kekehan saja.
Tepat pada pukul lima sore,mereka tiba didepan rumah Rania.
Mobil berhenti didepan pekarangan rumah sederhana yang sejuk dan Asri,bangunan minimalis dengan cat berwarna telur asin,ditumbuhi dua pohon mangga besar disisi kiri kanan nya,mendominasi kesejukan rumah tersebut.
"Assalamualaikum,"
"Wassalamu'alaikum"Tuti tergopoh gopoh membuka pintu.
"Eh ,ada pak Arjuna,bu Widya ,silahkan masuk!"Tuti dengan sopan mempersilahkan masuk tamunya,tak terkecuali dengan Eros.
"mohon maaf,ada keperluan apa bapak dan ibu,sehingga berkunjung kerumah kami?"tanya Tuti dengan nada sopan.
terus terang saja,kedua orang paruh bayah itu tidak sabar menyampaikan maksud dan tujuannya datang kesini.
sebelum orang lain yang mendahului mereka,maka mereka akan bertindak secepat kilat,menjadikan Rania bagian dari keluarganya.
Mereka sangat yakin seratus persen,bahwa Rania adalah pilihan yang tepat untuk Eros,terlebih lagi mengingat pesan Bakri yang kala itu.
tidak ada orang tua yang akan menyodorkan anaknya pada wanita yang hanya bisa berfoya foya dan mementingkan penampilannya saja.
akan seperti apa Eros nanti?
"Kedatangan kami kesini,ingin melamar Rania ,seperti yang sudah saya katakan jauh jauh hari kepada bu Tuti"jawab Arjuna,jawaban yang mampu membuat Tuti terkesiap.Bahkan Rania belum memberi jawaban apa apa perihal pembicaraan mereka tempo hari.
raut wajah Tuti berubah gelisah,bagaimana jika kedatangan keluarga besar Arjun ini malah tidak membawa hasil baik karna penolakan Rania?
Tuti merasa bingung sekarang.
"Rania,kemana bu?"tanya Widya setelah puas mengedarkan pandangannya.
"belum pulang,bu,sebentar lagi mungkin sampai,saya menyiapkan minum dulu."Tuti segera kebelakang menyiapkan tiga gelas berukuran tanggung dengan piring kecil dibawah nya ,lalu memanaskan air diatas kompor.
pikirannya kembali melayang pada anak gadisnya,terlihat bagaimana Rania tidak menyukai Eros dihari pertama mereka bertemu dulu.
pasti lah setelah pertemuan ini,tak merubah keputusan Rania untuk tetap tidak menyukai Eros.
setelah selesai membuat teh,Tuti membawanya keruang tamu lalu duduk kembali.
"silahkan diminum!"yang disambut senyuman dan anggukan oleh Arjun dan Widya.
"biasanya Rania kembali jam berapa?"
"biasnya sudah pulang bu,mungkin karna masih ada pekerjaan jadi terlambat pulang"jelas Tuti.
"wah...sangat mandiri ya gadis itu,bahkan memiliki sifat pekerja keras.Begitu harusnya menjaga emansipasi wanita bu,jadi tidak hanya tahu foya foya saja"Widya melirik kepada Eros yang mulai cemberut.
pria itu jengah,bukannya tak peka dengan sindiran ibunya Namun dia sudah cukup kebal karna sering disindir.
"Nah,itu dia"mereka menoleh serentak kearah sepeda motor matic yang berhenti dipekarangan.
"Assalamualaikum,"
"Wassalamu'alaikum,baru pulang Ran?"tanya Widya yang membuat Rania terkejut,
"Eh iya ,tante ,om "Rania menyalami Arjun dan Widya bergantian.
"Sini,Ran, duduk dulu!"pinta Tuti,membuat hati Rania bercampur aduk tak karuan,dugaannya mantap mengarah pada perjodohan itu.
"karna disini sudah ada Rania,maka saya ,akan mengutarakan maksud tujuan saya kesini.
Bismillahirrahmanirrahim,saya selaku ayahanda dari ananda Eros, ingin melamar Rania menjadi menantu kami dan istri untuk putra kami,apakah Rania bersedia dengan lamaran ini?"
Rania terkejut,bahkan, dia tidak pernah mengira bahwa akan secepat ini Arjuna datang melamarnya langsung,dengan membawa Eros sekaligus.
Sekilas,Rania menoleh ke arah Eros,kemudian Eros menganggukkan kepala tanpa ekspresi,membuatnya ragu untuk mengatakan iya
"Ran"Tuti menyenggol lengan Rania untuk tidak melamun.
"ah..iya maaf"katanya,sambil menundukkan kepala.
"Saya,bersedia menerima lamaran om Arjuna untuk mas Eros"ucapnya gugup dan ragu,entah ini keputusan benar atau salah.Dirinya merasa menyesal setelah mengucapkan kalimat barusan.
"Alhamdulillah" ucap mereka serentak,namun tidak dengan Eros dan Rania mereka masih tenggelam dalam pikiran masing masing.
.
.
.
.
"Ran,ibu boleh masuk?"Tuti mengetuk pintu kamar Rania,
"Masuk saja bu,tidak di kunci"
Tuti pun masuk ,dan duduk ditepi ranjang,mengamati raut wajah putrinya yang tengah duduk bersandar diranjang
"Kamu kenapa?muka mu kok ditekuk seperti itu?"tanya Tuti seraya mengusap lembut punggung tangan Rania.
"Rania bingung bu,sepertinya keputusan Rania akan menjadi bencana besar ke depannya"jawabnya penuh kekhawatiran.
"Kenapa kamu bilang begitu ?tidak baik mendahulukan tuhan,kamu nggak tau seperti apa yang akan terjadi kedepannya,Ran"
Rania hanya menghela nafas,mengingat ucapan Eros satu jam lalu
Saat orang tua mereka sedang sibuk membicarakan rencana pernikahan ,Eros dan Rania memutuskan untuk bicara berdua.
"Kamu,jangan berfikir yang engga engga dulu!saya menyuruh kamu nerima perjodohan ini,karna sebenarnya saya terpaksa"Rania terus menunduk tanpa menatap Eros sedikitpun,masih diam belum menjawab pertanyaan Eros.
"ck..kalau orang ngomong diliat orangnya,kamu lagi ngomong saya bukan sama sandal.Nggak capek nunduk melulu?"entah mengapa gerak gerik Rania membuatnya selalu ingin marah marah.Apa karna ada kaitannya perjodohan ini?entahlah.
Rania menghela nafas pelan "Kalau terpaksa,lebih baik jangan!"
"Kamu pikir menolak permintaan Ayah itu gampang?kalau saya nolak,nanti saya dikirim keluar negeri.Ya saya nggak mau lah"
"Jadi,itu alasan sebenarnya mas Eros menerima perjodohan ini?"
"Iya" Rania tersenyum getir,sepertinya hubungan ini tidak akan berjalan baik jika diawali dengan keterpaksaan.
"Astagfirullah,padahal pernikahan itu sakral mas,bukan untuk main main,saya tidak mau melakukan nya, jika memang ini hanya sekedar pura pura"
"kamu ingin pernikahan ini sungguh sungguh biar kamu nggak membatalkannya,begitu?"
"jangan mimpi!saya punya kekasih"sambungnya
"kalau punya kekasih,kenapa mas nggak lamar saja kekasih mas"
"ck,cerewet banget sih kamu!itu urusan saya dan kamu, hanya turutin aja kemauan calon suami kamu ini"
"maaf mas,saya nggak_"
"kamu harus bisa!harus tetap menikah dengan saya.Atau akan menanggung akibatnya"potong Eros cepat
"akibat apa?saya tidak ada urusan sama mas Eros"
"Agam,Agam yang akan menanggung akibatnya,kalau kamu berani membatalkan perjodohan ini"
ancaman Eros membuat Rania tercenung,apakah begini garis takdirnya ,direnggut haknya sebagai seorang gadis yang dipaksa menikah tanpa memiliki kesempatan mencari sendiri pria pendampingnya kelak?
"Ran?"Rania menoleh kearah ibunya dengan tatapan sendu.
"jangan terlalu dipikirkan!insya Allah,semua akan baik baik saja,percaya sama ibu!" meyakinkan Rania agar gadis itu tak lagi cemas.