Arjuna,Widya dan Tuti,sudah menetapkan tanggal dan bulan pernikahan mereka,para orang tua sepakat mengadakan pernikahan kedua anaknya pada bulan depan ,itu artinya tinggal sebulan lagi terhitung dari sekarang.
mengingat itu Rania tersenyum getir,sambil mengamati selembar kertas berisi rancangan gaun pernikahannya kelak.
Sudah sangat lama dia mendesain sendiri gaun impiannya.Namun, apa boleh buat,dia tak memiliki harapan untuk mewujudkan mimpinya.
"Ran,kamu kenapa?bengong aja dari tadi sambil natap tu kertas,why?" Salwa sambil duduk disamping Rania,menyodorkan segelas creamy latte yang masih mengepul.Rania yang semula terpaku menerima gelas tersebut.
"makasih"jawabnya,menghirup aroma khas yang terendus oleh hidungnya membuatnya sedikit rileks
"Aku bingung,Sal.Bulan depan aku harus menikah"jelasnya seraya menatap gelas yang masih berasap,hidupnya tak jauh berbeda dengan isi gelas itu,nampak gelap dan suram.
"me-ni-kah?OMG,gerak cepat banget gitu.
Siapa calon kamu?"
"Eros"jawabnya singkat tanpa semangat.
"apa?kamu serius?Subhanallah, kamu akan menjadi istri pria setampan itu,Ran ?Masya Allah," mata Salwa berbinar saat memuji Eros,suaranya melengking membuat gendang telinga Rania serasa ingin pecah.
Rania menghela nafas,ketampanan bukan sumber kebahagiaan buat nya saat ini.
Boleh lah wajah nya yang rupawan dapat dibanggakan,tapi bagaimana dengan sifatnya?galak dan dingin,suka mengancam?apa bisa dibanggakan juga?
"cie...lagi happy dong,bentar lagi nikah"sambung Salwa sambil menyenggol bahu Rania,seraya memainkan kedua alisnya naik turun.
"gimana mau happy,aku aja bingung menggambarkan perasaan aku sekarang"jawab Rania lesu,lalu menyesap kembali latte di gelasnya hingga tersisa setengah.
"lah,kenapa, bisa begitu?"tanya Salwa penasaran,dia begitu tertarik mendengarkan kisah asmara Rania.Mengapa bisa tiba tiba akan menikah,bahkan selama ini gadis itu tidak pernah dekat dengan laki laki apalagi pacaran
"Ya,karna pernikahan ini atas dasar perjodohan,bukan karna cinta."
"serius?"mata Salwa membulat sempurna
"kenapa nggak nolak aja,kalau memang kamu nggak ada feel ?"seloroh Sandra.
"maunya sih gitu,tapi nggak semudah itu Salwa.Banyak alasan untuk tetap bertahan dalam perjodohan ini"
"Eros ngebet banget sama kamu,ya?"
"nggak gitu,posisi dia sama kayak aku.Tapi dia memanfaatkan pernikahan ini hanya untuk membuat dia bertahan di Indonesia"
"maksudnya?"
"dia itu sebenernya punya pacar.Kalau dia nggak mau nikah sama aku,om Arjuna bakalan ngirim dia keluar negeri sana,otomatis dia LDR dong sama pacarnya,karna itulah dia nerima pernikahan ini,biar tetep deket ama pacarnya"
"jadi?astagfirullah...aku paham kenapa kamu lesu gitu meski dijodohin sama pria setampan Eros,ternyata ini alasannya"
"ya begitu lah ."jawabnya pasrah.
"Ran,kamu tau kan dari awal pernikahan ini hanya sebatas status diatas kertas.Jadi,aku mohon jangan sampai melibatkan perasaan"
"ya,aku tau.Insha Allah,aku nggak akan jatuh cinta sama Eros"
"good"Salwa mengacungkan kedua jempol ke udara yang disambut dengan senyum samar Rania.
"tapi aku nggak tahu kedepannya"batinnya
****
Eros memijat pelipisnya,dia tidak fokus sama sekali dengan pekerjaan nya hari ini,seharian penuh bahkan dia kehilangan konsentrasinya.
dia bingung, dari mana akan memulai menjelaskan kepada Aruna mengenai ini,bagaimana jika wanita itu kecewa lalu memutuskan hubungan mereka secara sepihak?
Eros tidak ingin kehilangan Aruna yang begitu sangat dia cintai dari dulu hingga sekarang ,rasa itu tak pernah berubah untuk wanitanya.
Meski orang tuanya mengatakan bahwa Aruna tidak baik untuknya,
tapi,apa boleh buat?dia bahkan sudah tutup mata dan telinga tentang pendapat buruk mengenai kekasihnya,karna terlalu besar cintanya untuk Aruna dia menjadi seakan buta dan tuli.
"Sayang!"Aruna, menyembul dari balik pintu ruangannya,membuat Eros terhenyak.
"astaga ...Aruna"Eros segera menarik tangan wanita itu masuk, lalu menutup pintu rapat rapat .
"kamu kenapa masih kesini ?"tanya Eros dengan semburat wajah yang khawatir.
"aku kan, kangen"
"kita bisa ketemuan diluar sayang,nggak harus dikantor.Kalau tiba tiba ayah dateng gimana?"tanya Eros gusar.
"kamu nggak cape ya,backstreet terus gini?"
Eros menghela nafas panjang seraya memegang kedua bahu terbuka Aruna,dia merasa bersalah karna gagal memperjuangkan cinta mereka.
"aku juga cape,sayang.tapi mau gimana lagi?"
"ck"Aruna berdecak,raut wajahnya cemberut membuat Eros gemas.
"kamu sabar ya,aku akan terus berusaha membuat orang tuaku membuka hati mereka untuk menerima kamu"bujuk Eros agar kesedihan kekasihnya itu mereda.
"dari dulu kamu selalu bilang begitu,Ros"
"maafin aku ya sayang,aku janji untuk kali ini aku benar benar akan berusaha"
"beneran ya?aku juga cape punya komitmen sama orang yang nggak memperjelas status aku kedepannya"
"iya sayang,aku janji"Eros merengkuh tubuh Aruna kedalam dekapannya.
.
.
.
.
Sepulang dari butik,Rania mampir ke toko kue,dia membeli beberapa kue kesukaan ibunya dan juga Agam.
Sesampainya dirumah,Rania dikejutkan oleh kedatangan Eros disana,pria itu tengah mengobrol ringan dengan Tuti.
"Ran,kok malah bengong ,ayo,sini!"
Eros ikut menoleh ke arah Rania yang berdiri mematung diambang pintu,gadis itupun melangkah mendekat lalu duduk dikursi kayu yang keras itu.
"Ibu tinggal kedalam dulu ya,buat minum!"
"Terima kasih,bu"ucap Eros seraya tersenyum.
Ada perasaan aneh,saat melihat pria itu tersenyum,dia sangat tampan.
'Astagfirullah'segera Rania menundukkan wajahnya,
Eros yang melihat itu pun berdecak.
"kamu suka banget nunduk, ya?nggak punya tulang leher ?"sindir Eros membuat Rania terkejut.
belum sempat menjawab ucapan Eros yang pedas itu,Tuti datang membawa nampan berisi minuman.
"Silahkan di minum,nak"Tuti meletakkan secangkir teh diatas meja.
"Iya, bu"kemudian Eros meraih cangkir yang berisi teh,lalu meminumnya perlahan.
"Jadi,kedatangan Eros kesini untuk menjemput kamu,Ran"ucap sang ibu,
"Memangnya mau kemana?"tanya Rania mengerutkan keningnya.
"Kamu di undang makan malam,sama pak Arjuna dan bu Widya,siap siap dulu sana !"titah Tuti kepada Rania,
gadis itupun mengangguk lalu beranjak kekamarnya
di dalam kamar ,Rania masih mondar mandir sambil menggigit kuku.Tak bisa dibayangkan bagaimana berada satu mobil dengan pria arogan seperti Eros,
Rania mengambil nafas panjang lalu menghembuskan,kemudian beranjak kekamar mandi dengan langkah mantap.
Dua puluh menit berlalu,gadis itu telah siap dengan riasan tipisnya,terkesan natural,namun elegan.
Kontur wajahnya sudah sangat cantik tanpa harus repot repot mengaplikasikan make up tebal pada wajahnya.
gamis berwarna wardah dipadu dengan hijab yang menutup sebagian tubuhnya,membuat dirinya semakin anggun.
untuk pertama kalinya ,Eros memandang lama pada gadis yang kini berdiri didepannya.
Tuti turut memperhatikan tatapan Eros yang terkunci tanpa berkedip menatap putrinya .
"ekhem"Tuti berdehem,membuat Eros salah tingkah lalu memalingkan wajah kearah lain.
"Bu,saya permisi dulu"lalu menyalami Tuti.
"Hati hati dijalan!"
"baik,bu"jawabnya singkat lalu menuju mobil.
"Rania pergi dulu bu,Assalamualaikum"seraya mengamit tangan ibunya
"wassalamu'alaikum"
Eros yang melihat itu dari dalam mobil menyadari betapa sopan tindakan Rania ,bagaimana dengan dia yang tidak pernah takzim pada orang tuanya.
****
Selama dalam perjalanan,hanya terdengar suara audiocar yang memecah keheningan.
Eros tak berniat mengajak Rania berbicara,kentara sekali pria itu sangat tak menyukai gadis yang duduk disebelahnya
Rania hanya melirik sekilas lalu kembali menatap lurus kedepan,mengikuti kemana mobil ini akan melintas.
"kita akan kerumah ku"ucap Eros ,Rania hanya meresponnya dengan anggukan pelan.
"ekhem..."sontak Rania menoleh sedikit kearah suara yang berdehem.
"apa selain kamu tidak punya tulang,kamu juga bisu?"
Rania mengernyitkan dahi tidak mengerti dimana letak kesalahannya sehingga menyulut emosi Eros.
"maaf"Rania hanya mengucap satu kata meski dirinya sendiri tak mengerti apa masalahnya.
"ck,kalau ibu atau Ayah bertanya kenapa kamu mau menikah sama saya,kasih jawaban yang logis.Alasan apapun kecuali tentang saya dan pacar saya.Mengerti?"titah Eros.
hal yang mampu membuat kerongkongan Rania tercekat.
mana mungkin dia berbohong mengenai ini ,apalagi kepada Arjun dan Widya yang sudah banyak membantu keluarganya.
belum cukupkah dia dipaksa menerima pernikahan ini oleh Eros?lalu sekarang?Rania mendadak pusing meghadapi situasi ini.
"hei?kenapa diam saja?"
"iya,saya ngerti"jawab Rania pelan.