Arjuna dan Widya menyambut kedatangan calon menantunya,dengan tulus wanita paruh baya itu memuji kecantikan dan keanggunan Rania.
tentu saja ,Rania hanya tersenyum kikuk karena mendapat tatapan intimidasi dari Eros.
Rania menyadari,Eros sangat tidak suka jika ayah atau ibunya dekat dengan Rania, dari tatapan mata Eros yang seperti menghujam ribuan panah kearahnya sudah sangat jelas pria itu menyiratkan kebencian.
Widya membimbing Rania menuju meja makan yang disusul oleh Eros dibelakangnya.
tatapan tajam pria itu tak sedikitpun bergeser kearah lain membuat Rania tak nyaman,dia merasa seperti terdakwa yang sedang berhadapan dengan hakim di ruang persidangan.
"Rania,ini ibu masakin khusus untuk kamu,kata ibumu kamu penyuka sup ayam"Widya menuang sup ke mangkok Rania.
"tante nggak perlu repot repot,Rania jadi tidak enak"
"kenapa harus nggak enak sayang?kan ibu yang undang kamu kesini,jadi nggak merasa direpotkan kok"
tentu saja hal itu menjadi bagian salah satu yang tidak disukai oleh Eros,jika kekasihnya saja tidak pernah dilakukan semanis itu oleh orang tuanya,maka Rania pun harusnya tidak pantas mendapatkannya.
"Rania,boleh ayah bertanya sesuatu?"celetuk Arjun.
Rania pun mengangguk seraya tersenyum,senyuman manis yang Eros sangat benci itu..
"kami belum tahu,alasan kamu menerima lamaran kami,nak" Rania mendadak beku,senyumnya menyurut tatkala mendengar pertanyaan yang harusnya tidak dia jawab .
"meski kami senang karna perjodohan ini tidak sia sia,tapi kami ingin sekali tahu alasannya"sambung Arjun.
Rania sedikit melirik kearah Eros yang tengah menatapnya dengan ekspresi dingin.
"jadi begini om,sebelumnya,Rania memang sudah tertarik dengan mas Eros.Tentu saja dengan adanya lamaran ini,kesempatan Rania terbuka lebar untuk berada disisi mas Eros"jawabnya dengan penuh kelembutan,kalimat yang membuat kedua orang tua yang duduk disana sangat senang mendengarnya.
begitupun dengan Eros,tak mengira Rania akan memberi jawaban yang sangat diluar dugaannya.
kendati demikian,ucapan Rania sangat lugas sehingga tidak ada yang curiga jika itu hanya pura pura saja.
"jadi itu alasannya kamu menerima begitu cepat lamaran kami?"Rania mengangguk yakin,
"pernikahan ini adalah hal sakral,jadi kami harap keputusan kalian menikah ,adalah untuk seumur hidup"
ucapan yang menohok hati keduanya,harapan besar dari seorang ayah yang ingin sekali melihat putranya bahagia dengan pernikahannya,tapi dengan tega mereka berdua membohongi itu.
"ayah,nggak usah khawatir meski kami masih dalam tahap pendekatan,tapi kami yakin hubungan pernikahan kami kelak bahagia"Eros menimpali terlihat sungguh sungguh
"alhamdulillah,jadi lega dengarnya,jawaban kalian membuat kami merasa lega.Beban berat di pundak kami seperti terlepas begitu saja"
jujur,jawaban itu membuat Rania bersedih.
"lanjutkan ,makan kalian!"titah Arjun setelahnya.
.
.
.
.
jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam,tidak ingin terlalu malam .Rania berpamitan untuk segera pulang,sebenarnya dia tidak ingin diantar oleh Eros.
tapi,Arjun memaksa Eros mengantarkannya,Rania merasa tidak enak hati karna posisi Eros sedang istirahat.
meski demikian,pria itu tetap mengantar Rania demi perintah Arjun.
selama diperjalanan,lagi lagi mereka hanya berdiam diri.Tiba tiba ketenangan didalam mobil itu terusik oleh benda pipih milik Eros diatas dashboard berbunyi.
Rania sedikit melirik kearah ponsel yang menyala. "Sayang" nama kontak yang melakukan panggilan dinomor Eros.Eros mengambil kasar ponsel itu ,kemudian tersenyum saat mengetahui siapa yang menelpon.
"halo?"
"....."
"iya,sayang.Aku lagi dijalan" Eros menoleh kearah Rania yang kebetulan Rania pun sedang menatapnya,mata mereka saling bertubrukan sampai akhirnya Rania segera mengalihkan tatapannya kearah lain.
"....."
"sekarang?tapi_"
"......"
"iya sayang,ya udah tunggu sepuluh menit lagi ya!"
sambungan nirkabel terputus setelah panggilan berakhir.
tiba tiba mobil menepi,dipinggir jalan.
Rania bertanya tanya ketika mobil tersebut berhenti begitu saja.
"kamu!turun sekarang!"titah Eros sedikit melotot.
"tu-turun?"tentu saja Rania terkejut mendengar perintah Eros
"iya,cepet!saya mau kerumah Aruna" akhirnya dengan terpaksa Rania segera turun dari mobil itu,meski Rania masih shock dengan tindakan Eros namun apa daya,dia tak punya pilihan lain.
Rania bukan gadis yang sepenuhnya akan terus bersabar menghadapi Eros,kali ini Eros benar benar berbuat diluar batasan,membuat Rania kehabisan kesabaran.Walau bagaimanapun dia hanya gadis biasa bukan manusia berhati malaikat.
jika saja,Rania tau bahwa akan seperti ini kejadiannya,tentu saja dia akan menolak undangan makan malam Arjun dan Widya.
berjalan sendirian menyusuri jalan lebar yang sepi tanpa lalu lalang kendaraan membuat dirinya takut,
jantungnya berdegup kencang karna kalut oleh pikirannya sendiri.
tin tin..
suara klakson dari belakang punggungnya membuat Rania terperanjat ,berkali kali dia mengusap d**a sambil beringsut mundur kala mobil itu mulai menepi kearahnya,
"Rania" Kepala Salwa keluar dari jendela mobil membuat Gadis yang semula menahan nafas takut,menghembuskan lega.
"ayo,naik!" titah Salwa ,Rania mengangguk lalu masuk ke mobil milik Salwa.
Salwa menatap Rania heran,bagaimana bisa gadis itu berjalan sendirian ditengah jalan sepi seperti ini.
"Ran?"Salwa mengintrupsi pergerakan gadis yang sedang memasang seatbelt.
"ya?" jawabnya singkat dan santai,raut wajahnya tak seperti beberapa menit yang lalu penuh dengan ketakutan.
"kamu kenapa bisa disini?" Salwa mulai menjalankan mobilnya menjauh dari jalanan yang gelap dan sepi itu
"ceritanya sangat panjang,Salwa"jawabnya seraya menghela nafas,sedetik setelah menghembuskan nafas panjangnya.
Rania mulai menceritakan semua yang terjadi,membuat Salwa menggeleng tak percaya.
"belum nikah aja dia begitu bagaimana setelah menikah nanti?"
"aku juga nggak tahu,keadaan nya begitu sangat rumit sekarang"
"ck,aku nggak bisa tinggal diam kalau dia menyakiti kamu"
"udah,jangan khawatir !aku yakin dia masih memiliki batasan untuk menyakiti lebih dari ini"
Salwa yang semula memerah karna menahan kesal,akhirnya mereda ketika tangan halus sahabatnya mengusap bahu nya pelan.
.
.
.
.
"Assalamualaikum"Rania mengetuk pintu rumahnya yang kini tertutup rapat.
cukup lama namun belum ada sahutan.Rania sudah menduga,ibu nya dan Agam pasti sudah tidur mengingat sekarang sudah pukul sepuluh malam.
setelah menunggu lama,akhirnya Agam membukakan pintu untuk Rania.
"kakak,sendirian?"tanya Agam sambil celingukan ke kanan ke kiri.Rania mengangguk membuat Agam heran.
"kak Eros?"tanya agam,Rania terdiam sejenak.
"langsung pulang barusan"sungguh dirinya merasa berdosa karna berbohong lagi.
Agam mengangguk paham,dan membiarkan Rania masuk menuju kamarnya,disusul oleh Agam setelah mengunci pintu kembali.
didalam kamarnya Rania merenung,menerawang beberapa hari kedepan setelah pernikahannya esok dengan Eros terjadi,bagaimana dia akan tahan jika diperlakukan seenaknya seperti tadi.
tidak menutup kemungkinan jika dia nanti tak tahan dan terluka,dan Rania tidak siap untuk itu.
Rania menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan yang terlihat lelah,memikirkan kejadian beberapa waktu tadi .
mengingat hal mengerikan tadi,Bagaimana jika dirinya tidak bertemu dengan Salwa?akan jam berapa dia sampai rumahnya dengan berjalan kaki?atau pulang dalam keadaan membawa kabar duka.
Rani masih bersyukur masih dilindungi oleh yang maha kuasa.
gadis itu segera membenahi letak bantalnya,lalu merebahkan diri untuk menyambut mimpi indah.
tidak butuh waktu lama ,Rania tidur lelap setelah membaca doa sebelum tidur.
****
"Dari mana saja kamu?"suara Arjun membentak Eros yang baru saja kembali setelah menunjukkan waktu dini hari.
"mengantar Rania!"
"oya?setelah hampir subuh begini?tidur dimana?rumah Rania?"sarkas Arjun,
"dari club?atau nginap di rumah Aruna?"sambungnya,membuat Eros menoleh tak suka kepada ayahnya.
"berhenti melibatkan Aruna,yah!"jawab Eros.
"kenapa?kamu tidak suka?dari dulu ayah sama ibu melarang kamu berhubungan dengan gadis seperti Aruna"
"kenapa?"tanya Eros untuk yang kesekian kalinya
"kamu belum sadar juga?"
"dia gadis baik ayah,cobalah ayah melihat sisi positifnya"
"gadis baik tidak pernah membiarkan seorang laki laki yang bukan muhrim menginap dirumahnya"jawaban Ayahnya membuat Eros tercekat.
"jadi apa benar,kamu menginap dirumah gadis itu?"tanya Arjun sekali lagi dengan penuh penekanan.
"Aruna sakit,Eros harus merawatnya,untuk itu baru kembali pagi ini"
"dia punya orang tua,kenapa ku harus repot repot merawatnya.Dia bukan siapa siapa kamu,Eros?"
Eros hanya mampu mengepalkan tangannya,percuma jika melawan Arjun.Semakin melawannya ,semakin besar kebencian ayahnya kepada Aruna.
"kalau tidak berniat menikah,lebih baik batalkan saja pernikahan kalian,dan pergi ke L.A"ancam Arjun tak main main.
"yah,mana mungkin Eros membatalkan pernikahan kami,Eros dan Rania saling menyukai"Arjun menyeringai, bagaimana bisa Eros menyukai Rania sementara dia cinta mati kepada Aruna,dasar penipu ulung pikir Arjun.
"baiklah!kabarkan segera pernikahan kalian kepada Aruna, agar dia berhenti mengharapkan kamu"